
Neva kembali dari rumah kakaknya setelah matahari tenggelam. Takut ingatannya melemah, dia segera mengambil pena dan menulis di bukunya nama obat yang tadi siang dia ingat. Kakaknya memang terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan terlihat pucat. Gerakannya bahkan lambat. Neva menyesal karena tidak membawa ponselnya. Andai ada ponselnya, dia pasti akan segera mencari tahu tentang obat itu. Apa ini ada hubungannya dengan raut sedih dan isak mamanya pagi tadi?
"Pak, bisa lebih cepat," pinta Neva pada supirnya.
"Baik Non," jawab Pak Supir. Kemudian, pak supir segera menambah lajunya.
Beberapa menit kemudian mobil parkir dengan pelan di halaman rumah keluarga Nugraha. Neva segera keluar mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Sepi. Tak ada Mama yang biasa sudah berada di depan televisi menyaksikan sinetron kesayangan. Neva langsung berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Neva duduk di bangku kamarnya, mengambil buku yang didalamnya tersimpan catatan tentang obat itu. Tangannya perlahan membuka laptop miliknya dan dengan segera dia serching tentang nama obat yang ia temukan dinampan itu.
Dan tak butuh waktu lama, semua informasi terpampang jelas dimatanya. Informasi yang ia baca dengan sangat hati-hati dan terbata. Kedua tangannya menutup mulutnya saat mengetahui jenis obat apa yang dikonsumsi kakaknya. Penyakit apa yang diderita kakaknya. Air matanya menetes tanpa permisi, mengalir dengan terus seiring dia membaca tentang penyakit itu. Isak itu perlahan berubah menjadi raungan. Dia menangis dengan kencang. Memegangi dadanya yang langsung sesak.
"Kak Lee," teriaknya. Dia tidak bisa membendung air matanya. Nafasnya tersengal karena tangisnya. Neva segera menyambar ponsel miliknya dan langsung berlari keluar kamarnya. Dengan kalut dia menuruni tangga dan berlari keluar rumah.
"Pak, ayo kembali ke rumah Kak Lee," ujarnya dengan masih menangis. Pak supir yang melihat Neva menangis langsung sigap dan segera memenuhi keinginan majikannya.
"Cepat Pak," pinta Neva tidak sabar. Pak supir mengangguk.
Jarak rumahnya dan rumah kakaknya rasanya sangat jauh, teramat jauh. Dia tidak sabar lagi. Tangannya pelan memencet tombol on pada ponselnya, dia tidak membuka chat tetapi langsung membuka internet tentang obat dan penyakit itu.
Beberapa menit kemudian, pak supir telah sampai setengah dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Leo menoleh ke arah layar kecil yang terpasang di dinding dengan mengerutkan keningnya.
"Dia kesini lagi," ucapnya mengomentari kedatangan Neva. Saat ini Yuna sedang berada di kamar Baby Arai. Anaknya baru saja tertidur.
Neva dengan langkah cepat masuk ke dalam setelah Bi Sri membukakan pintu untuknya. Dia langsung menuju ruang tengah. Dia dengan menahan air matanya. Menatap Leo yang duduk di sofa.
"Kenapa?" tanya Leo pelan. "Apa ada yang tertinggal?"
"Ini," Neva menekan ucapannya. Tangannya terangkat dan memperlihatkan ponselnya yang menyala. "Apa ini?" dia melangkah mendekat dan semakin menunjukkan ponselnya dengan artikel di internet. Leo membacanya sekilas, dan menatap Neva.
"Artikel macam apa itu?" ejek Leo untuk menutupi keadaannya.
"Aku bukan anak kecil," suara Neva tinggi dan sangat kesal dengan kakaknya.
"Ya, kau sudah dewasa. Sebentar lagi menikah," jawab Leo santai dengan mencoba bercanda.
"Obat itu ...." Neva menunjuk obat yang masih ada diatas meja. Ya, obat itu ada diatas meja. Itu karena Leo baru saja mengkonsumsinya beberapa detik yang lalu. "Kau bilang obat itu untuk demam biasa? Hhhh?" air mata Neva kembali tidak terbendung.
"Hei," Leo mencoba meraih tangannya. Namun Neva menepisnya.
"Sampai kapan kau berencana untuk menyembunyikan ini?" tanyanya sinis. Namun kemudian dia melempar ponselnya. Dia kesal, bahkan benci dengan apa yang dibacanya di internet. "Aku benci, aku benci," teriaknya. Leo berdiri dan langsung memeluknya. Memeluk adiknya erat. "Aku benci Kak Lee, sangat benci," Neva terisak-isak dan terputus dalam ucapannya.
Tangan Leo mengusap punggung Neva dengan perhatian. Dia merapatkan bibirnya untuk menahan sesuatu yang terasa nyeri dihatinya. Dia merasa bersalah karena membuat orang-orang yang dia sayangi bersedih.
"Kau jahat Kak," Neva menyandarkan kepalanya di dada Leo. Tangannya menggenggam baju Leo dengan erat. "Kau tidak tahu bagaimana aku terluka saat mengetahui dirimu kecelakaan saat itu, dan sekarang ... kau sakit, kau sakit dan tidak memberitahu ku. Apa kau pikir aku masih anak kecil? Apa kau pikir aku tidak menyayangimu?" Neva terus menangis.
"Sudah, jangan menangis," Leo melepaskan pelukannya. Dia dengan perhatian mengusap air mata Neva. "Aku tidak apa-apa," ucapnya pelan.
Wajahnya mendongak dan menatap Leo.
"Berjanjilah. Kau akan sembuh dan menemaniku nanti saat aku menikah," air mata Neva kembali menetes. "Berjanjilah, kau akan sembuh dan berkunjung ke rumah baruku. Kita akan makan bersama disana, kita akan membuat banyak foto disana," Neva terbata-bata dalam ucapannya. Dia terisak. Dia menunduk dan menempelkan keningnya di dada Leo. Membiarkan air mata membanjiri pipinya, menyakiti hati dan jiwanya.
"Berjanjilah Kak," ucapnya lagi.
Leo mengangguk. "Ya," jawabnya. Dia menunduk dan mencium rambut adiknya. "Aku berjanji untuk datang dan menemani mu berdansa saat kau menikah nanti. Aku berjanji," suara Leo serak dan tercekat. Dia memeluk Neva.
Yuna yang berdiri di ambang pintu menyeka air matanya. Dia menunduk dalam kesakitan dan kekhawatiran hatinya. Berjuanglah kita bersamamu.
Dan juga dua orang yang berdiri di pintu ruang tengah saling berpelukan dan menyeka air matanya. Mereka datang tak lama setelah Neva datang. Mereka berdua diam menyaksikan putra dan putrinya. Awalnya mereka memang tidak berniat untuk memberitahu Neva. Namun, setelah melihat malam ini, mereka sadar bahwa tidak ada yang harus dirahasiakan dari keluarga, apapun keadaannya. Sesedih dan semenderita apapun kondisinya.
Pelan, Papa dan Mama melangkah mendekati mereka berdua. Leo yang menyadari itu melepaskan pelukannya.
"Ma," ucapnya samar. Mama tersenyum untuk menguatkan putranya, tangannya mengusap pipi Leo dengan lembut khas sentuhan seorang ibu.
"Lee, kau akan baik-baik saja sayang," ucap Mama. Leo mengangguk. Dan Mama langsung memeluknya. Papa juga langsung memeluknya.
Tangis masih mengiringi hati mereka. Kesedihan masih saja bersemayam dengan dalam. Entah kapan ini akan berujung. Wahai luka, segeralah pergi. Rasanya hati ini tak sanggup lagi. Namun tidak, jiwa ini masih sangat kuat meskipun terbelenggu oleh kesedihan.
Setelah beberapa menit dibanjiri tangis. Mereka kemudian duduk di ruang tengah. Papa memberi tahukan jika besok mereka sudah bisa berangkat. Beliau sudah menyiapkan semuanya. Neva ingin ikut serta tetapi Papa melarangnya. Lebih baik Neva membantu disini.
Dengan ditemani asisten pribadi keluarga Nugraha dan asisten Dion selaku asisten Leo. Neva yang akan memegang perusahaan kakaknya.
Neva mengangguk dengan patuh. Dia berjanji akan memberikan yang terbaik, asalkan kakaknya bisa segera pulih.
"Jangan pikirkan perusahaan Tuan muda, adikmu ini bisa diandalkan," ucap Neva.
"Gadis pintar," ucap Leo dengan mengacak rambut Neva.
"Apa segala keperluan kalian sudah disiapkan?" tanya Mama pada Yuna.
"Sudah Ma," jawab Yuna. Yuna telah menyiapkan semuanya setelah Leo memberitahunya jika besok Leo mulai menjalani pengobatan.
"Besok pagi Kak Dimas sampai disini," ucap Papa.
______________
Catatan penulis 🥰
🥺🥺🥺🥺
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 padamu luv.
Gambar/ilustrasi diambil dari internet dan Aplk Pint jadi jika ada kesamaan dalam ilustrasinya, harap maklum.