Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 368_Sembilan Belas Desember 2


Ya. Tanggal 19 Desember adalah hari ulang tahun Yuna. Namun juga hari dimana sang Ibundanya harus pergi meninggalkan dunia ini. Itulah kenapa, Yuna tidak pernah ingin merayakan ulang tahunnya.


Yuna tak kuasa membendung air mata kebahagiaannya. Dia kembali memeluk Leo dan menangis dalam pelukan suaminya.


"Terima kasih sayang," ujar Yuna di sela isaknya. Leo membalas pelukannya.


"Teruslah bahagia sayang," bisik Leo lembut di telinga Yuna. Yuna mengangguk. Kemudian, suara teriakan nyaring terapi imut membuat Yuna tersenyum dan melepaskan pelukannya. Dia segera menyeka air matanya.


Mama dan Baby Arai melangkah lebih dulu menghampiri mereka. Lalu diikuti semuanya.


Baby Arai dengan ceria dan semangat menuju Momm dan Daddy-nya. Baby Arai seolah tidak sabar ingin segera sampai pada mereka. Tangan dan kakinya bergerak dengan lincah. Kedua tangannya mengulur untuk meminta gendong Yuna tetapi ternyata bukan, mata bulat jernihnya tertuju pada seseorang yang duduk di kursi roda.


Sedari Baby hadir di atap gedung ini, mata Leo menatapnya dari kejauhan. Rindunya membuncah, kerinduan pada buah hatinya yang teramat dalam. Dia mengucap syukur dalam hati karena malaikat kecilnya baik-baik saja dan terlihat begitu lincah. Bibir Leo melengkung dengan lengkungan yang sempurna. Hatinya dibanjiri kebahagiaan melihat Baby Arai.


Yuna mengulurkan tangannya bermaksud untuk menggendong tetapi Baby Arai menolaknya, ia menyingkirkan tangan Yuna. Dan menggerakkan kakinya seolah ingin berlari saja menuju Leo.


Yuna dan Mama tertawa kecil melihat tingkah Baby Arai.


"Kemari," Leo mengulurkan kedua tangannya.


"Uwuuuu ... addd addd," Baby Arai berceloteh dengan semangat. Mama membungkukkan badannya. Untuk memberikan Baby Arai pada Leo.


"Hati-hati, jangan terlalu memaksakan untuk memangkunya. Dia sangat aktif," ucap Mama.


Kini Baby Arai ada di pangkuan Leo. Dia diam menghadap ke arah Leo, memperhatikan wajah Daddy-nya dengan seksama. Mereka berdua bertemu dan saling menatap dengan romantis, Leo mencium wajah anaknya secara menyeluruh. Dia rindu. Sangat rindu.


"Jagoan, kau tidak rewel bukan?" Leo kembali menghujani anaknya dengan kecupan bertubi-tubi. Sebelum akhirnya tangan mungil Baby Arai menepuk wajah Leo dengan keras hingga menimbulkan suara. Leo tertawa dan mengigit tangan mungil itu. Baby Arai berdiri. Mama segera membantu memeganginya.


"Amm amm add," dia berceloteh lagi. Mata beningnya menatap Leo. Kemudian ia mendekatkan wajahnya. Mulut kecil tanpa gigi itu mengigit pipi Leo dengan gemas.


Sementara itu, Yuna berpelukan dengan Adel. Ia mengucapkan terima untuk kedatangan Adel.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Tuan muda Leo yang membuat ku datang kesini. Dan ini gratis ooohhh. Ada banyak sekali cerita yang ingin ku sampaikan padamu. Ooooh aku sangat merindukanmu," ucap Adel.


"Hmm ceritakan semua padaku," jawab Yuna. "Aku juga sangat merindukanmu Adel," lanjutnya dengan bahagia.


Mereka melepaskan pelukan.


"Selamat ulang tahun," ucap Adel.


"Terima kasih, Del."


"Kadonya nyusul, hahaa."


Kemudian, Yuna menyapa Karel. Rasanya lama sekali mereka tidak bertemu.


"Kak Er, terima kasih sudah datang. Ini pasti sulit buat Kak Er," ucap Yuna.


"Tidak. Aku bahagia bisa hadir di ulang tahun mu," jawab Karel.


Kemudian, Yuna menyapa Papa, Kak Dimas, Nora, Neva dan Vano.


"Selamat ulang tahun, Yuna," ucap Vano.


"Terima kasih, Vano," jawab Yuna. Kemudian mereka membuat Foto keluaga. Dengan Yuna dan Leo yang duduk di kursi. Baby Arai yang duduk di pangkuan Daddy-nya. Dan barisan keluaga besar.


Sembilan belas Desember pada tahun ini tercipta satu kenangan. Tersimpan dalam bidikan kamera. Tak ada lagu ulang tahun, tak ada juga tiup lilin. Hanya ada do'a tulus dari hati untuk ibunda Yuna yang telah ada di surga. Dan ribuan do'a tulus untuk kebahagiaan, kesejahteraan, kesehatan dan umur panjang untuk Yuna. Do'a tulus untuk kesembuhan Leo dan orang-orang yang saat ini juga tengah sakit.


"Sekali lagi selamat ulang tahun Kak Yuna," ucap Neva setelah acara do'a selesai. Dia mencium pipi Yuna.


"Terima kasih sayang cantik," jawab Yuna.


Dan kini kue Rapunzel itu siap untuk dipotong. Yuna telah siap dan dengan senyum bahagia, ia membuat potongan pada kue itu. Namun kemudian sebuah tangan menghancurkan kue ulang tahun itu.


"Amm mamm mamm ummm," Baby Arai dengan bahagia mengambil kue itu lalu langsung memasukkan kedalam mulutnya. Tawa langsung menggema riuh dan penuh bahagia mengiringi hari ini, sore ini, di atap rumah sakit.


Tangan mungil itu mengambil kue lagi dan memberikannya pada Leo, "Amm mammm," ucapnya dengan lucu. Leo menerima suapan kue dari tangan anaknya dengan senyum bahagia.


"Thanks Baby," ucapnya.


Yuna segera mengambil tissue dan membersihkan kue yang menempel di bibir Leo. Kue itu bahkan mengenai pipinya.


Kini Baby Arai mengambil satu lagi dan memberikannya pada Yuna.


"Terima kasih sayang, pintar," ucap Yuna mencium anaknya.


"Buat Kakek juga boleh, sini," ujar Ayah yang langsung mendekat. Baby Arai menatapnya sebentar lalu memberi suapan pada Sang Kakek.


Perlahan satu warna putih lembut mengenai punggung telapak tangan Yuna. Yuna diam beberapa saat memperhatikan benda putih kecil di punggung telapak tangannya sebelum kemudian ia mendongak menatap langit. Dan butiran-butiran halus berwarna putih itu menyapa lembut wajah cantiknya. Sudut-sudut bibir Yuna terangkat membentuk senyuman.


"Salju," gumamnya. Tangan kanannya terulur untuk bisa menyentuh salju yang turun dari langit. Butiran-butiran lembut itu dengan pelan turun menyapa bumi. Indah.


Leo dengan segera memakaikan topi hangat pada putranya. Mama membantunya membersihkan telapak tangan Baby Arai yang kotor karena kue ulang tahun. Kemudian setelah itu, Leo memakaikan sarung tangan hangat pada Baby Arai.


"Sini, sama Oma," ujar Nyonya Nugraha mencoba mengambil Baby Arai dari pangkuan Leo. Beliau khawatir Leo lelah memangku Baby Arai. Baby Arai memperhatikan Omanya sebentar dan menolak ajakan Mama, dia juga menyingkirkan tangan Mama darinya. Tangan imutnya meminta tangan Mama menjauh darinya.


"Biarkan saja Ma," ucap Leo. Dia mengusap pipi anaknya yang mulai terkenal salju.


"Kau masih kuat memangkunya?" tanya Mama. Beliau khawatir.


"Masih, dia anteng," jawab Leo. Mama mengangguk.


Kemudian, Leo menoleh ke arah Yuna, memperhatikan wanita itu dari samping. Sudut bibirnya terangkat membuat senyuman.


Yuna masih terus memperhatikan butiran-butiran putih itu, kemudian ia membawa pandangannya pada Dimas dan Nora lalu Papa dan Ayah, Adel dan Karel, Neva dan Vano, Mama, Baby Arai dan ... Leo. Mata mereka bertemu dengan seuntai senyum manis di bibir.


Yuna mengusap rambut dan pipi Leo. Membersihkannya dari sapaan salju disana.


"Kau tidak memakai jaket hangat, ayo kembali kedalam," ucap Yuna.


"Salju baru saja turun, kenapa buru-buru masuk," jawab Leo.


Saat Yuna ingin menjawabnya, datang seorang perawat menghampirinya. Perawat itu memberinya selimut dan jaket tebal nan hangat.


"Thank you," ucap Yuna setelah menerima selimut itu. Ia memakai jaket itu dan kemudian dengan perhatian ia memakaikan selimut untuk Leo. Selimut yang juga bisa menyelimuti putranya sekaligus. Tangan Yuna masuk kedalam selimut untuk mengenggam tangan Leo.


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Yuna. Leo mengangguk.


Winter ... musim dingin tetapi hangat dalam hati. Kebersamaan keluarga yang indah. Keutuhan keluarga yang sempurna. Ya, inilah paduan semesta yang indah.


Dan entah kapan, Adel, Karel, Neva, Vano dan yang lainnya meninggalkan mereka bertiga. Kini, di atap gedung hanya ada Yuna, Leo dan Baby Arai.


"Kenapa kau begitu mengerti akan inginku. Padahal aku tidak memberitahu mu," ucap Yuna.


"Kau sering menceritakan tentang Ayah belakangan ini, tentang Adel dan Karel," jawab Leo.


Yuna tersenyum lebar, "Jadi dari situ kau tahu jika aku merindukan mereka?"


"Dari hatiku," jawab Leo sok puitis. Yuna terkekeh. "Hatiku yang selalu mampu memahami mu sayang," lanjut Leo.


"Ok, okey," Yuna mengangguk.


Sedari tadi tangan Baby Arai mencoba untuk keluar dari selimut tebal dan baru kini dia berhasil mengeluarkan tangannya. Baby Arai dengan bahagia menangkap salju di telapak tangannya lalu membawa tangan itu menuju mulutnya. Ia memakan salju.


"Hei," Yuna langsung memekik saat melihat putranya memakan salju. Dia segera membersihkan bibir dan tangan Baby Arai. "Ini bukan makanan okey."


Leo tertawa terbahak-bahak melihat anaknya makan salju.


"Mamm ... mmm. Amm mamamm amm mam," bibir imut itu berceloteh dengan bahagia. Dia ingin mengambil salju lagi di atas meja yang sekarang tertutup salju. Namun Yuna mencegahnya. Dan pada akhirnya Baby Arai yang mengalah. Dia menurut pada Yuna. Seperti dua laki-laki ini akan selalu kalah dalam berdebat dengan Nyonya cerewet.


Yuna kemudian membersihkan salju diatas meja. Pada genggaman terakhir, ia memperhatikan dan merasakan dengan seksama salju di tangannya.


"Ini lebih lembut daripada saat kita datang di festival salju waktu itu," ujar Yuna. "Yang waktu itu, seperti es lembut. Dan salju yang sesungguhnya ternyata lebih lembut."


Mereka pernah datang pada festival salju yang di adakan salah satu Mall ternama negara I.


Yuna membawa pandangannya lagi pada Leo. Menatap laki-laki itu penuh cinta.


"Sini," pinta Leo. Dia tidak bisa memegang pipi atau tengkuk Yuna karena kedua tangannya memegang Baby Arai. Yuna menurut, ia mendekatkan wajahnya pada Leo. Menyatukan hidung mancung mereka. Membuat wajah menjadi hangat oleh hembusan nafas dan kemudian kecupan lembut tercipta di pinggir bibir. Semakin dalam dan dalam lagi. Saling terpaut, melekat dengan penuh cinta. Mereka memejamkan mata. Hawa dingin salju begitu indah saat hati dan raga mulai menghangat.


Kemudian tangis nyaring membuat dua bibir itu terdiam dan saling melepas. Baby Arai menangis dengan memejamkan matanya. Yuna segera membersihkan wajah anaknya dan membersihkan salju yang mengenai bulu mata Baby Arai.


Tadi, Baby Arai menengadahkan wajah untuk menatap langit lalu salju dengan cepat mencium wajah tampannya, hingga butiran lembut itu masuk kedalam mata dan membuatnya perih.


___________________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih πŸ™ padamu.


Maaf jika ada typo-typo ya.


Bersambung ....