Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 178_Apakah Ini Benar Atau Salah?


Pukul 18.30 di Ibu Kota. Neva bersama dengan teman-temannya berada di sebuah cafe untuk berdiskusi. Mereka mulai sibuk mempersiapkan skripsi.


Setelah beberapa jam berdiskusi dan telah menyelesaikan tugasnya. Teman-temannya mulai pamit padanya termasuk Lula.


"Eh, kenapa kau ikut-ikutan mereka?" tanya Neva pada Lula sambil menyedot minumannya, "Aku akan mengantar mu nanti," lanjutnya.


Lula nyengir memamerkan giginya, dia memutar bola matanya sebentar untuk mencari alasan yang tepat.


"Emm, ada yang harus ku beli bersama mereka Nona," jawab Lula dan langsung kabur. Dia tidak ingin berlama-lama dan dan banyak mencari alasan. Lula segera berlari menyusul teman-temannya.


"Eh, apakah mereka pacaran? Atau lagi PDKT?" seorang teman dengan rambut ekor kuda bertanya pada Lula. Lula menjawabnya dengan mengangkat bahu, ini rahasia, batinnya.


"Mereka cocok," tambah seorang teman lagi.


"Menurut ku mereka tidak cocok, Neva lebih cocok dengan ku," seorang teman cowok yang berkaca mata berkata dengan begitu PeDe.


"Apaan... urus dulu tuh peternakan sapi yang bener," Lula langsung meninju bahunya.


Di sana....


Ketika Neva mengangkat tangannya dan meminta tagihan, seseorang datang. Dia berdiri di depan Neva.


"Boleh aku duduk?" tanya seseorang itu dengan sopan.


Neva melempar senyum padanya dan mengangguk, " Silahkan," jawabnya. Mereka duduk berhadapan di sebuah cafe out door.


"Bagaimana kabar mu?" tanya seseorang itu. Dia menatap Neva dengan hangat.


"Baik," jawab Neva, "Kak Vano mau minum apa? Biar ku pesenin?" tanyanya, matanya menatap Vano sekilas dan kemudian segera mengalihkannya.


"Aku sudah memesannya," jawab Vano dan tak lama seorang waiters datang dengan minuman pesanan Vano.


Neva sedikit melirik ke atas untuk berfikir sejenak. Teman-temannya dan juga Lula... apakah mereka sepakat untuk pergi bersama karena tahu seseorang ini datang? Bagaimana mereka bisa tahu? Sedangkan dirinya tidak menyadari kehadiran seseorang ini? Ini juga yang terjadi di bioskop.


"Kak Vano kenapa ada di sini?" tanya Neva. Dia sedikit menatap Vano. Vano masih diam dan menyedot minumannya. "Apa Kak Vano membuntuti ku? Hhmm?" tanya Neva bergurau.


"Menurut mu?" Vano mengembalikan pertanyaan.


"Hmmm, aku berharap itu benar hahaa...," Neva terkekeh, "Jadi... apa itu benar?"


Vano tersenyum menatapnya dan menggeleng, "Tidak," jawabnya, "Aku kebetulan berada di sini dan melihat mu," lanjutnya yang langsung membuat Neva mengerucutkan bibirnya.


"Yechh, kau membuat ku kecewa Tuan muda," ujarnya dengan sedikit tawa. Tangan kanannya membenarkan letak rambutnya. Sebenarnya dia merasa grogi.


"Jadi kau berharap aku mengikuti mu?" tanya Vano.


"Hmm?? Tidak juga...," jawab Neva dengan sedikit mengangkat bahunya.


"Yeachh, kau membuat ku kecewa Nona," ujar Vano yang membuat Neva tertawa. "Ayo jalan," tawarnya setelah Neva menghentikan Tawanya.


"Kemana?"


"Ada festival lampion di dekat sini," jelas Vano. Itu artinya, dia ingin mengajak Neva ke festival itu.


Neva menunduk, jalan bersama? Apa ini baik? Bukankah seharusnya mereka saling menghindar saja?


'Bagaimana hubungan kalian dulu? Aku mengingat ketika keluarga kita makan malam dan kalian berbicara di pinggir kolam renang. Aku juga ingat bagaimana kau terus menatapnya ketika kita bertemu di toko alat lukis itu. Aku juga ingat... kalian bertemu di restoran cepat saji itu. Bagaimana Kakak ipar ku bisa memiliki hubungan dengan mu?'


"Apa kau tidak tertarik?" Vano bertanya pelan padanya. Neva mengangkat wajahnya pelan dan menatap Vano.


"Aku setuju," jawabnya. Biarlah... biarlah berjalan seperti apa adanya. Jika jalan ini tak mengarah padanya maka ada ribuan alasan untuk tidak bisa bersama. Jika... jalan ini membawa dua hati untuk bersama maka akan ada benang kecil yang akan menuntunnya pada jalan itu.


"Bagus," ucap Vano. Dia tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.


Setelah Vano membayar semua tagihan, kemudian mereka berjalan menyusuri trotoar untuk sampai di tempat acara festival lampion.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Dadanya berdebar, Neva mengigit bibirnya untuk mengurangi rasa groginya.


Mereka masuk setelah membeli tiket.


"Diam di situ," Vano menahan Neva. Ia melangkah mundur beberapa langkah. "Senyuuum...," teriaknya memberi aba-aba setelah mengarahkan kamera ponsel miliknya. Saat ini Neva berada di tengah sebuah taman lampion dengan lampion yang menggantung seperti hujan meteor.


"Cukup bagus," ucap Vano memperlihatkan foto hasil bidikan kamera ponselnya. Neva mengangguk setuju.


"Maaf, Nona..." Vano mengehentikan salah satu pengunjung. Dia meminta tolong untuk memfoto dirinya. "Ayo," ujarnya setelah si nona menyetujui untuk menolongnya. Kemudian mereka melakukan beberapa pose, yang terakhir... Vano mengangkat tangannya untuk di letakkan dibahu Neva, ia merangkul Neva dengan lembut. Mata Vano melihat kearah kamera dengan senyum, sedang mata Neva menoleh untuk memperhatikan wajahnya. Sentuhan lembut tangan Vano pada pundaknya membuat jantungnya begitu berdebar, dia tidak membuat senyuman di bibirnya. Dia menatap wajah Vano dengan beribu kebimbangan dalam hatinya.


Sesi foto berakhir. Vano menarik tangannya dari pundak Neva dan berjalan untuk mengambil ponselnya kembali.


"Terima kasih Nona," ucapnya dengan ramah. Dia tidak melihat hasilnya, setelah menerima ponselnya kembali, benda itu langsung masuk kedalam saku.


Neva masih mematung di tempatnya. Dia menatap Vano dengan sendu. Apakah ini benar? Seharusnya dia menjauh atau mendekat seperti ini? Apakah ini benar? Atau ini salah? Bagaimana dengan Kak Lee? Bagaimana dengan Kak Yuna? Bagaimana dengan Vano? Dan bagaimana dengan dirinya sendiri?


Vano menghela nafasnya, ia tahu tatapan sendu itu. Kakinya melangkah dan menghampirinya. Ia berdiri di depan gadis kecil ini. Dia sangat imut.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.


"Tidak ada," jawab Neva dengan senyum yang dia paksakan. Kemudian, dia melangkah untuk menyusuri taman lampion. Vano membuntutinya.


"Aku punya tebakan?" Neva menoleh, ia membalik badannya dan melangkah mundur.


"Okey," Vano menyetujui. Belum tahu dia kalau master tebakan ada di hadapannya saat ini.


"Harus jawab dengan cepat," ucap Neva, dia masih melangkah mundur, dan Vano melangkah menujunya. "Jawab cepat," Neva mengulangi.


"Iya."


"Jawab Cepat. Cantikan mana bintang di langit dengan ku?"


"Kamu."


Neva menahan senyumnya.


"Jawab cepat. Lebih indah mana bunga sakura dengan diri ku?"


"Kamu."


Senyumnya mengembang.


"Lebih cantik mana lampion ini dengan ku?"


"Kamu,"


"Lebih cantik mana cewek itu... dengan ku," Neva menunjuk salah satu pengunjung.


"Kamu." Vano bahkan tidak menoleh untuk melihat seseorang yang Neva tunjuk.


"Lebih cantik mana bulan, dengan aku."


Dan... kaki belakangnya tersandung kabel yang melintang. Aaauu.... adegan slow yang membuatnya terjengkang ke belakang.


Vano dengan cepat meraih Neva, tangannya melingkar di pinggang Neva. Ia menahan tubuh Neva agar tidak terjengkang.


"Kamu...," jawabnya pasti menjawab pertanyaan terakhir Neva. Hembusan hangat nafasnya membelai wajah Neva. Mata mereka bertemu, degupan jantung semakin menjadi. Mereka berdua terdiam membatu beberapa menit dengan saling berpelukan.


"Ah, maaf Kak," ucap Neva segera mencoba untuk menyeimbangkan dirinya. Vano melepaskan pelukannya, ia menarik tangannya dari pinggang Neva.


"Jalan menghadap ke depan gadis," ucap Vano sambil mengetuk kening Neva pelan dan kemudian dia melangkah lebih dulu. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman merona. Dia memperhatikan telapak tangannya, sentuhan pada tubuh gadis itu masih terasa.


"Kenapa kau meninggalkan ku?" Neva berujar pelan membuntutinya dari belakang. Vano sedikit terlonjak kaget. Dia tidak mengira jika Neva berada tepat di belakangnya. Dia langsung membalik badan dan itu membuat Neva menabraknya.


Lagi... tubuh mereka saling bersentuhan. Uppss... saat ini... ada yang berada. Tabrakan ini... membuat sesuatu yang menonjol ditubuh Neva mengenai bagian tubuh Vano.


Astaga... Mata Neva terbelalak dan bahkan hampir melompat keluar. Dia sadar jika bagian dadanya menyentuh Vano.


Aaaaa.... tidak, dia berlari meninggalkan Vano begitu saja. Dia teramat sangat malu...


Sementara Vano tersenyum geli melihatnya. Tangannya terangkat dan mengusap dadanya. Apa itu tadi? Dia berpikir nakal.


"Gadis... kenapa kau meninggalkan ku?" dia berteriak pada Neva yang sudah berlari entah kemana.


Awas hilang, anak gadis orang... mari main Kuch-Kuch Hota Hai.