
Ketiga gadis itu masih asik ngobrol hingga akhirnya guru wali kelas mereka masuk ke dalam kelas dan membagikan Raport mereka.
Nampak wajah-wajah siswa berubah tegang saat satu persatu nama mereka dipanggil untuk maju ke depan menerima raport mereka masing-masing. Tak terkecuali ketiga gadis itu.
Betapa senangnya Tiara saat melihat hasil belajarnya selama satu semester ini.
Peringkat kedua.
Tak apalah menurun satu peringkat. Yang jelas dia tetap senang karena akhirnya bisa ikutan liburan ke Sorong.
Sedangkan Dhilla dan Hesti berada di urutan belasan.
Bagi mereka itu bukan masalah selagi nilainya tidak ada yang merah. Tiara pulang ke rumah dengan penuh semangat.
" Assalamualaikum !" teriaknya begitu sampai di depan teras.
"Waalaikum salam, apaan sih teriak-teriak?" balas tantenya dari dalam rumah.
" Maaf tan, hehehe . . " Tiara terkekeh melihat wajah cemberut tantenya.
" Tumben pulangnya cepat banget".
" Iya tan soalnya hari ini hanya pembagian raport".
" Oh iya tante lupa, kemarin kan udah dikasih tahu Nia. Trus, nilainya gimana, bagus nggak?"
"Alhamdulillah masih bagus".
" Syukurlah kalo begitu, kamu nggak kasih tunjuk raportnya ke mama kamu?"
"Maunya gitu tapi . . . Ara nggak mau ketemu sama papa ". jawab Tiara lemas.
Jujur dia kangen banget sama mama. Tapi ia juga masih kesal banget dengan papanya.
"Nggak boleh begitu Ra. Temui mama dulu sekalian kamu ijin mau liburan bareng Nia".
Nasehat tantenya dengan lembut.
" Oke deh tan, besok pagi aja baru ke sana". jawab Tiara akhirnya menuruti kemauan tantenya.
" Ya udah, ganti baju dulu sana".
Tiara mengangguk mengiyakan kemudian masuk ke dalam rumah. Tak sabar rasanya menunggu kak Nia pulang kerja.
Selesai mengganti bajunya, iapun merebahkan tubuhnya.
" Ngasih kabar kak Zian nggak ya?" gumamnya sambil menjangkau handphone yang ada di atas meja belajarnya.
" Ah nggak usah deh, kan bukan siapa-siapanya dia". jawabnya pada diri sendiri.
ting.
1 pesan masuk.
" Woy ! lo udah pulang?"
" Udah kak".
"Pantas gue cariin tadi nggak ketemu".
" hehehe. . "
" Ada rencana liburan nggak?"
" Hem . . ada sih cuma belum pasti gitu".
Jeda sejenak, tak ada balasan.
" Ya udah". balas Zian beberapa saat kemudian.
" Ara, bantuin tante di dapur!" panggil tantenya dari balik pintu.
" Oh, iya . . iya tan !" jawabnya lalu bergegas keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang sekaligus membersihkan semua peralatan masak yang kotor.
Hatinya semakin tak sabar menunggu kepulangannya kak Nia. Ya, ia tak sabar untuk menuntut janji kak Nia.
Hingga akhirnya sore tiba.
Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
" Assalamualaikum. . . " terdengar suara kak Nia di depan.
Tiara yang tadinya sedang menonton televisi, segera berlari ke arahnya sambil memeluk kakaknya dengan sayang.
" Eh . . tumben dipeluk segala". ujar Nia dengan wajah bingung.
" Hehehehe . . . " Tiara hanya terkekeh sambil melepaskan pelukannya.
" Pasti ada maunya nih, iya kan?" tebak Nia dengan benar.
" Tahu aja kak Nia, hem . . Ara mau minta hadiah yang kakak janjikan".
"Hadiah apa sih?"
" Waktu itu kakak bilang kalau ada yang dapat peringkat satu sampai lima bakalan diajak liburan ke Sorong".
" Ooo . . itu to, emangnya Ara dapat peringkat berapa kali ini?"
"Peringkat kedua kak".
" Oke, kakak bakal tepati janji kakak". ujar Nia terdengar merdu di telinga Tiara.
" Yes ! makasih kak".
*****