Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 165_Membujuk


Neva melangkah dengan pelan bersama perasaannya yang bercampur. Dia menjadi takut melihat kakaknya. Ia berhenti melangkah dan hanya mematung memperhatikan punggung kakaknya.


Dia ingin menyerah tapi pertemuannya malam ini malah membuat dirinya berharap. Aku akan mencobanya.


"Tidak apa-apa," Yuna mengusap pundak Neva dan membawanya mendekati Leo. "Aku... keatas dulu," ucapnya dan memberi waktu pada Neva dan Leo untuk bicara. Neva duduk disamping Leo dengan sedikit ragu.


"Kak...," ia memanggil dengan samar. Tidak ada jawaban dari Leo, hanya ada helaian nafas yang terdengar berat. "Kak Lee... dia adalah laki-laki yang baik, kenapa Kakak tidak menyukainya?"


"Dia bukan laki-laki yang baik, dan aku tidak menyukainya."


"Itu karena Kakak belum mengenal dia dengan baik."


"Aku mengenalnya."


"Kak, kau pernah jatuh cinta bukan? Kau tahu rasanya seperti apa bukan? Aku mencintai dia dan juga menyayangi mu, tolong Kakak jangan gini dooong...," ia mencoba bernegosiasi dengan Leo. Tangannya terangkat dan memegang lengan Leo.


"Jika kau kesini hanya untuk membujukku, itu akan hanya sia-sia. Kau hanya membuang waktu mu."


"Kak Lee... aku menyukainya dan itu sudah lama bahkan sebelum Mama punya ide untuk menjodohkan ku dengan dia. Aku menyukainya secara diam-diam dan sekarang aku mulai berani memperlihatkan perasaan ku padanya."


"Apa sekarang kalian sudah jadian?" tanya Leo. Neva menggeleng pelan.


"Belum," jawabnya.


"Bagus. Sebaiknya lupakan dia dan jangan pernah lagi mencoba dekat dengannya."


"Kakak jangan egois dong. Sekarang bayangkan, aku menyukainya sedari dulu, dan ketika perasaan ku hampir mencapai finis, kau tiba-tiba menjegal langkah ku. Apa kau tega menghancurkan perasaan ku? Apa kau tega meredupkan pijar dalam hati ku? Apa kau tega mengambil kebahagiaan ku?"


Leo memutar pandangannya, ia menoleh untuk menatap adiknya. "Mengambil kebahagiaan mu? Kebahagian bersama dengannya? Jika kebahagiaan mu adalah bersamanya, maka silahkan saja, aku tidak akan menghalangi mu." Neva menatapnya dengan penuh harap.


"Tapi kau harus ingat... ingat apa yang ku ucap ini. Jika kau tetap memilih untuk terus menyukainya dan bahkan ingin bersamanya, maka lupakan jika aku adalah Kakak mu, lupakan jika kita punya hubungan darah. Mulai saat dimana kau memutuskan untuk tetap menyukainya maka saat itu juga... kita orang asing. Selamat malam, kau silahkan kembali," ucap Leo tegas. Dia menghela nafasnya dengan berat kemudian pergi meninggalkan Neva yang tidak mampu mengedipkan matanya. Ia menangis, ia terluka.


Kenapa menjadi seperti ini, kenapa menjadi sangat rumit. Air matanya berjatuhan tanpa bisa untuk menahannya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis, hatinya terasa sangat sakit. Kakak yang sangat dia sayangi, Kakak yang sangat dia dukung ketika terpuruk, Kakak yang selalu menyiapkan bahu untuknya kenapa saat ini begitu dingin.


Kenapa kau tidak mau mengerti perasaanku? Aku tidak pernah meminta apapun dari mu. Saat ini... aku hanya ingin kau mengerti perasaanku dan mendukung ku tapi kau malah melemahkan ku. Kenapa kau bahkan mengucapkan sesuatu yang sangat menyakitkan.


Tangisnya tak terbendung. Sebenci apa Kakak padanya? Kenapa hingga ingin memutus ikatan darah dengan ku.


Yuna yang berjalan menuruni tangga segera mempercepat langkahnya ia sudah mengganti hot pant-nya dengan celana santai dibawah lutut. Ia duduk disamping Neva dan memeluknya.


"Kak Yuna, kenapa jadi seperti ini. Apa aku salah jika aku jatuh cinta padanya? Dia laki-laki yang baik, sebenci apa Kak Lee padanya? Kenapa dia bahkan ingin menghapus ikatan darah dengan ku, kenapa dia bahkan menyuruh ku untuk tidak menganggap dia sebagai Kakak lagi. Sebenci apa Kak Lee padanya?"


Yuna mengusap punggungnya dengan perhatian. Ia mengambil nafas dengan dalam. Dia yang salah, dia yang membuat Leo membenci Vano. Kenapa menjadi sangat rumit seperti ini. Kehadirannya disini, memberi luka pada banyak orang, kehadirannya disini memberi masalah pada orang-orang yang dia sayangi. Apa memang seharusnya dia tidak pernah keluar dari penjara Ayahnya. Jika ternyata... dia adalah akar dari semua masalah yang ada. Kehadirannya mengacaukan segalanya. Yuna menyeka air matanya yang mulai menetes.


Seandainya Leo tidak memilihnya dan tidak membawanya kesini maka tidak akan ada Vano yang begitu terluka, seandainya Leo tidak memilihnya dan membawanya kesini, maka Neva tidak akan patah hati dan hubungan dengan Kakaknya pasti baik-baik saja. Yuna berpikir dengan sangat terpuruk dalam hatinya, ia merasa sangat bersalah.


"Neva... jangan terlalu banyak berfikir, mungkin Kakak hanya emosi sesaat. Kau tahu dia sangat menyayangi mu. Aku akan mencoba berbicara padanya. Aku akan membantu mu semampu ku," ucap Yuna mencoba menenangkan Neva.


_Pelan, Yuna membuka ruang belajar. Leo sedang berdiri menghadap jendela kaca. Yuna melangkah menghampirinya, dan memeluknya dari belakang, kepalanya bersandar dipunggung Leo, menghirup aroma tubuh suaminya dengan dalam.


"Sayang, apa kau tidak terlalu keras pada Neva?" Yuna mencoba untuk membujuk Leo, tangannya melingkar di pinggang Leo dengan erat.


"Aku tidak punya pilihan lain," jawab Leo. Suaranya terdengar sangat dingin namun sedih.


"Kau mencoba untuk membujuk ku?" Leo memotong ucapannya.


"Aku hanya tidak ingin hubungan mu dengan keluarga mu memburuk karena masalah ini. Mama sangat terpukul, Neva sangat bersedih dan aku tahu kau juga sedih dan menderita dengan ini."


"Tidak masalah, asal Vano tidak hadir dalam kehidupan kita."


"Sayang, aku dan Vano sungguh tidak ada apa-apa. Itu kisah yang lalu. Ku mohon percayalah dan berikan restu mu pada Neva."


"Yuna. Apa kau tahu Nora? Apa kau ingat dia? Apa setelah dia menikah dengan Kak Dimas lalu dia berhenti mendekati ku? Apa dia berhenti menggoda ku? Apa dia berhenti? Hhh? Dia berhenti baru-baru ini bukan? Lalu... apa aku juga harus membiarkan Vano terus menatap mu penuh cinta, apa aku harus rela membiarkan dia berada di dekatmu? Aku aku harus membiarkan kalian ngobrol, bercerita dengan sangat bahagia?" Leo menjadi sangat gelisah, dia memejamkan matanya sejenak.


"Sayang, bukan seperti itu. Mereka berdua berbeda. Vano bukan seperti itu."


"Ohh, mereka berbeda? Sungguhkah? Vano bukan seperti itu katamu?" Leo melepaskan tangan Yuna yang berada di pinggangnya. Ia membalik badannya dan menatap Yuna. Dia tersenyum dengan sinis.


"Sepertinya kau sangat mengenal Vano begitu dalam Yuna, sepertinya kau sangat mengerti bagaimana sifat Vano dengan baik. Aahh ya ampun, aku lupa jika kalian pernah dekat dan kau memiliki perasaan padanya. Kalian berdua saling jatuh cinta. Waawww," mata mereka beradu dengan sedih. Yuna menggeleng. "Ya... tentu saja Nora dan Vano berbeda. Karena aku tidak pernah jatuh cinta pada Nora, dan kau... jatuh cinta pada Vano. Bagus...," ucapnya sangat sinis dan menyakitkan. Menyakitkan dalam pendengaran dan hati Yuna dan menyakitkan dalam hati Leo sendiri. Air mata Yuna menetes, tapi Leo tak menghiraukannya, ia menyingkirkan Yuna kesamping dan melangkah dengan cepat untuk keluar. Dia mengendarai mobilnya meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi.


Yuna mengejarnya. Dia berlari mengejar mobil Leo namun mustahil, dia tak sanggup untuk mengejarnya. Ia menangis dipinggir jalan, ia merasa sangat bersalah, ia merasa sangat keterlaluan. Dia menyakiti hati Leo, lagi. Dia menangis dan memaki dirinya sendiri.


Bulan hanya separuh dan tidak menampakkan sinarnya, cahayanya yang hanya separuh tertutup awan. Yuna melangkah mondar-mandir di halaman rumahnya. Dia tidak masuk sedari tadi, ia menunggu Leo kembali. Kekhawatiran memenuhi hatinya, ketakutan merayap dalam fikirannya, rasa bersalah yang teramat menguasai dirinya.


Yuna menangis semalaman, ia memaki dirinya tanpa henti. Kenapa bahkan hingga hampir fajar, Leo tak juga kembali, ponselnya berada di rumah, Yuna tidak bisa menghubunginya.


Hingga... ketika waktu mulai menunjukkan pukul 05.25, pintu gerbangnya terbuka dan mobil Leo masuk dengan pelan. Leo segera keluar dari mobil setelah setelah melihat Yuna yang berdiri dengan mata sembab di halaman rumah. Yuna langsung berlari dan menghambur kedalam pelukannya, ia menangis sejadi-jadinya, tangisan lega karena Leo telah kembali, tangisan rasa bersalah karena membuat suaminya pergi dari rumah dan tidak pulang semalaman.


Leo mendekapnya erat. Wajah Yuna terasa dingin dan bahkan tubuhnya terasa dingin.


"Sejak kapan kau disini?" tanyanya. Tidak ada jawaban dari Yuna, dia masih terus menangis. Leo mengangkat dan menggendongnya untuk masuk kedalam. Ia menurunkan Yuna di sofa dan mengambil segelas air hangat untuknya. Namun Yuna menolak untuk meminumnya.


"Berhenti menangis, aku sudah kembali," Leo dengan perhatian mengambil tissue dan mengusap air mata Yuna yang bercucuran. Dia menjadi merasa sangat bersalah karena tidak pulang semalaman dan membuat istrinya menunggu diluar. Ia menatap Yuna dengan sedih dan langsung memeluknya. Mereka saling berpelukan dengan rasa bersalah dalam hati masing-masing.


"Sayang, maafkan aku," bisik Leo. Suaranya sangat dalam.


Yuna menggeleng. "Aku yang salah. Aku menyakiti hati mu, aku membuat mu tersinggung hingga kau tidak ingin pulang. Aku minta maaf," ucap Yuna terbata, ia masih terisak.


"Berhentilah menangis," Leo mengusap punggungnya.


"Sayang, berjanjilah padaku. Jangan pernah begini lagi, jangan meninggalkan rumah ketika kau sedang marah. Jika aku menyinggung mu dan kau tidak ingin melihat ku, maka aku akan menyembunyikan diri ku, aku tidak akan menampakkan diri ku sama sekali dihadapan mu. Aku sangat mengkhawatirkan mu ketika kau pergi dalam keadaan marah, aku sangat takut ketika kau tidak juga kembali. Sayang, maafkan aku, aku pasti sangat menyinggung mu, aku minta maaf," ucapnya masih terisak. Leo mendekapnya, sejujurnya ia tidak ada niat untuk mengungkit perasaan Yuna pada Vano.


"Yuna, apa kau tahu... aku bahkan rela kehilangan semuanya asal itu bukan kamu. Mungkin ini sangat keterlaluan untuk keluarga ku tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin Vano masuk dalam kehidupan kita. Aku tidak perduli apakah dia baik sebaik yang kau, Neva dan bahkan Mama ceritakan, aku hanya merasa sangat cemburu jika kau bertemu dengannya dan aku sungguh tidak bisa mengatasi itu," ujar Leo dari hatinya yang terdalam. Dia sangat mencintai Yuna, teramat sangat hingga dia merasa ketakutan sepanjang waktu, dia takut Yuna akan meninggalkannya, dia takut kehilangan. Cinta yang sangat dalam membawa sebuah ketakukan yang teramat pada pemiliknya, cinta yang teramat dalam bahkan membuat Qois menjadi Majnun. Kisah-kisah cinta yang melegenda adalah tentang kisah cinta yang teramat dalam.


"Yuna, Kau tidak tahu bagaimana aku sangat membenci Vano ketika dia bilang ingin mengambil mu dariku. Aku teramat membencinya ketika dia menyuruh ku untuk melepaskan mu dan dia akan menikahi mu. Bagaimana bisa aku membiarkan dia terus hadir dalam kehidupan kita," suara Leo menjadi sangat berat dan serak. "Yuna, aku minta maaf jika aku egois dan terlalu posesif pada mu. Aku hanya memiliki cinta untuk mu, aku tidak ingin kau meninggalkan ku."


"Sayang, aku tidak akan meninggalkan mu, bahkan jika seluruh dunia menjauhi mu aku tetap ingin bersamamu. Ku mohon jangan takutkan apapun, ku mohon jangan menghawatirkan sesuatu dengan berlebihan, ku mohon percayalah pada ku," Yuna melepaskan pelukannya. Ia menyentuh pipi Leo, menatap kedalam matanya dengan kelembutan dan kasih yang melimpah. "Kau harus yakin dalam hati mu, yakin akan cintaku padamu. Aku tidak akan meninggalkan mu. Ku mohon percaya padaku, ku mohon jangan sakiti hati mu sendiri dengan sebuah ketakukan yang kau pikirkan. Tuhan telah menyatukan kita, membawa ku pada mu. Ku mohon percayalah dengan cinta yang ada pada diri kita. Sayang, aku mencintaimu," Yuna mencium keningnya dan kemudian memeluknya lagi. Dia mengganti kecemasan Leo dengan sebuah cinta yang luar biasa. Hati Leo menjadi sedikit menghangat.


__ Di kamar Neva.


Kakak, dalam kehidupan ini tetap kamu adalah orang yang paling ku sayangi. Aku tidak mungkin menentang mu. Aku akan melupakan semuanya, tentang sesuatu yang indah dihatiku, tentang perasaan yang ku miliki dan tentang dia yang ku sukai.


Aku tidak tahu kenapa kau tidak menyukainya, tapi aku tahu kau menyanyiku.


Kakak... aku akan melupakannya saat ini juga. Saat dimana hatiku tersayat dan pilu kau akan membuat ku tersenyum kembali bukan? Kau adalah Kakak ku, kita lahir dari rahim yang sama jadi jangan pernah lupakan bahwa kita adalah saudara.