Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 345_Pelit


Pagi hari setelah Yuna dan Mama sarapan. Yuna duduk di ruang tengah. Dia membuat panggilan Vidio pada Leo.


"Sayang, sudah minum obat?" tanya Yuna setelah panggilannya terhubung.


"Sudah," jawab Leo dengan senyum. Di layar ponselnya terlihat Yuna dan Baby Arai yang tengah berada di pangkuan Yuna. Mata bulat jernihnya menatap ke layar ponsel dan dengan lucu menggerakkan kaki dan tangannya secara bergantian.


Sementara Yuna, menatap Leo dengan dengan cemas. Disana dia melihat dokter dan beberapa perawat yang baru saja selesai mengecek kondisi Leo. Dia takut jika hasilnya buruk.


"Apa ada yang kau rasakan?" tanya Yuna pelan.


"Tidak ada," jawabnya. Lalu dia menyapa Baby Arai. "Hallo tampannya Daddy," Leo melambaikan tangannya. Baby Arai terlihat tertawa disana. Kemudian, Leo menghilang dan muncul secara tiba-tiba. "Ba ...." serunya. Dan langsung disambut tawa menggemaskan Baby Arai. Leo mengulanginya lagi dan lagi hingga Baby Arai tertawa terbahak-bahak bahkan berteriak. Hati Leo begitu hangat meskipun hanya bisa melihat anaknya lewat layar ponsel.


"Daddy ...." Yuna mengajari Baby Arai untuk bilang Daddy. Pasalnya Baby Arai sudah bisa bilang Momm.


"Appa ...." sahut suara Baby Arai. Yuna terkekeh. Dari kemarin bayi lucu ini masih belum bisa menyebut Daddy.


"Daddy," ulang Yuna.


"Oooo ...." sahut Baby Arai lagi semaunya. Yuna mengulangi lagi dan dijawab semaunya oleh Baby Arai.


"Daddy Lee," Mama ikut gemas dan ikut mengejakan Baby Arai.


"Paapp ... apaaa ... paaapp," Baby Arai masih dengan semaunya bersuara.


"Mommy," ucap Yuna.


"Momm mm mam," suara mungil itu langsung menyahut.


Yuna dan Mama tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Pun dengan Leo dan Papa di seberang sana.


"Oma ...." Mama mengajarinya. Mama tak mau kalah. Beliau juga ingin diucapkan oleh mulut manis nan imut milik Baby Arai.


Mereka saling bercengkrama lewat panggilan Vidio. Bahkan hingga lewat satu jam. Tuan besar Nugraha yang meminta menyudahi panggilannya, karena ada jadwal pemeriksaan lagi.


"Bye Daddy, lekas sembuh ya. Cepat pulang ...." tangan Baby Arai melambai ke arah ponsel.


"Baik sayang, Daddy sangat merindukanmu," ucap Leo. Kemudian panggilan berakhir.


Hati Leo dilanda kerinduan yang mendalam pada anaknya, teramat sangat dalam. Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana rasa rindu yang ia rasakan pada anaknya. Biasanya, setiap malam, dia yang rajin mengganti popoknya, menggendongnya, membacakannya dongeng, bercanda, dan kesehariannya yang tidak lepas dari anak dan istrinya.


Seharian hingga malam, tidak ada yang boleh menjenguk Leo. Itu karena jadwal pemeriksaannya sangat padat dan dia harus beristirahat dengan benar. Tidak boleh banyak menggerakkan tubuhnya.


______________


Malam hari di Ibu Kota.


Di ruang samping rumah keluarga Nugraha.


Neva dan Joe duduk berdampingan, mereka tengah membahas hasil rapat hari ini. Banyak sekali yang harus mereka kerjakan. Besok Dimas kembali ke Ibu Kota.


Ditengah keseriusan mereka dalam berdiskusi, ponsel milik Neva berdering. Panggilan masuk dari Vano.


"Belum tidur?" tanya Vano setelah panggilannya terhubung.


"Belum. Aku lagi berdiskusi sama Joe," jawab Neva.


"Aku kesana," sahut Vano cepat dan langsung mematikan ponselnya. Neva mengerutkan keningnya bingung. Dia meletakkan ponselnya lagi tapi kemudian ponsel itu berdering lagi.


"Ya," jawabnya setelah terhubung.


"Mau dibawain apa?" tanya Vano. Dia mengambil kunci mobil miliknya.


"Ummm apa ya?" Neva berfikir sejenak. "Kau sungguh mau kesini?" tanya Neva.


"Iya," jawab Vano. Dia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.


"Cemilan ringan sudah ada banyak disini. Umm ... pop corn dan bubur kacang hijau aja," jawab Neva setelah ia berfikir sejenak. "Hmm, Joe kau mau apa?" Neva bertanya pada Joe.


"Aku tidak menawarinya," Vano yang langsung menyahutnya. Neva mengerutkan keningnya lagi.


"Sejak kapan kau menjadi pelit," tanya Neva heran.


"Saya kenyang Nona, tidak perlu," jawab Joe. Neva menatap Joe.


"Tidak mau," jawab Vano dengan cemberut disana. Mobilnya mulai meninggalkan halaman rumahnya.


"Aiss kau pelit," ledek Neva.


"Biarin," jawan Vano cuek. "Kenapa harus sama dengan pesanan mu?"


"Dia juga menginginkan makanan itu," jawab Neva. "Kakak dimana sekarang?"


"Di jalan menuju ke rumahmu."


"Hati-hati. Aku matiin telfonnya ya. Jangan menyetir sambil telfonan," ucap Neva.


"Skillku dalam menyetir tidak diragukan lagi."


"Tapi kecelakaan tidak pandang bulu. Matiin telfonnya, fokuslah menyetir. Menunggumu," ucap Neva dan dia langsung memutus panggilan.


"Heheee maaf iklan sedikit," ucap Neva pada Joe. Joe mengangguk dengan senyum. Kemudian mereka kembali berdiskusi. Joe dengan pandai menerangkan pada Neva. Itu membuat Neva menjadi mudah mengerti.


"Nona hebat," puji Joe. "Nona dengan mudah memahami ini semua, hanya tinggal beberapa saja," lanjut Joe.


"Hahaa bukan aku yang hebat Joe tapi kamu," jawab Neva memuji Joe. "Kamu sangat pandai menjelaskan ini. Tidak salah jika Papa memilihmu untuk menemaniku. Aku yang belum begitu menguasai tentang ini semua," lanjut Neva.


Joe tersenyum. Dalam duduknya, ia membungkukkan badannya. "Terima kasih atas pujian Nona," jawab Joe.


Neva mengangguk dengan senyum. Diskusi malam ini sudah selesai. Dia dan Joe merapikan laptop dan berkas yang berserakan di meja. Tak lama, sebuah langkah kaki mendekat.


Neva sudah memberi tahu asisten rumah tangga untuk mengantar Vano ke ruang samping jika datang.


"Malam sayang," ucap Vano setelah sampai. Dia menatap Neva dan Joe secara bergantian.


"Selamat malam Tuan muda Vano," Joe yang menjawabnya. Bukan menjawab, tetapi dia memberi salam pada Vano. Namun, Vano menganggap jika itu adalah jawaban atas sapaannya pada Neva.


"Kenapa kau yang menjawab. Apa kau adalah sayang ku?"


Jawaban Vano membuat Neva tertawa.


"Aahh aku patah hati," gurau Neva sambil memegangi dadanya. Sementara Joe menunduk menyembunyikan tawanya. 'Apa Tuan muda cemburu padaku?' batin Joe.


"Patah hati apaan," Vano meletakkan tentengannya dan langsung menempatkan dirinya di tengah diantara Joe dan Neva.


"Yeey ... pesanku datang," seru Neva. Dia membuka pop corn lalu bubur kacang hijau, "Hanya satu?" tanyanya setelah menemukan pop corn dan bubur kacang hijau hanya ada satu. Vano mengangguk dengan senyum menang. Dia tidak mungkin membelikan Joe makanan yang sama dengan makanan Neva.


"Kau benar-benar pelit," ucap Neva. Dia menerima mangkok dari asisten rumah tangga yang baru saja datang.


"Pelit dari mananya? Joe ini saja ...." Vano mengambil bungkusan satunya dan memberikannya pada Joe. "Untuk mu ini saja," ucap Vano pada Joe.


"Terima kasih Tuan muda," jawab Joe sopan. Kemudian, dia membuka bungkusan itu. Saat perlahan bungkus itu terbuka, aroma khasnya menyeruak menggelitik hidung Neva.


"Martabak telor ...." seru Neva. "Joe, bagi dua dengan ku," ucap Neva. Vano menatapnya dengan kesal. Apa-apaan ini.


"Siap Nona," jawab Joe siap membagi makanannya pada Neva.


"Tidak boleh," sahut Vano. Dia langsung memeluk Neva. "Sana pergi Joe," perintahnya. "Makan dengan rekanmu yang lain."


"Eh, kenapa dia harus pergi," tanya Neva. Dia mendongak ke arah Vano.


"Pokoknya harus pergi. Joe buruan pergi."


"Joe bagi denganku ...." seru Neva. Dia mengulurkan tangannya dan Vano langsung menangkap tangan Neva.


Joe tertawa kecil dengan ini. Dia sadar diri dan segera beranjak.


"Terima kasih untuk ini Tuan muda," ucap Joe. Dia membukakan badannya dan meninggalkan mereka berdua.


_______


Catatan penulis πŸ₯°


Terima kasih udah dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini πŸ₯° Padamu kesayangan luv luv πŸ₯° Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Tengkyu. 😘😘😘