Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 149_Teman Lama


Musik dansa berhenti dan di gantikan dengan petikan gitar yang sangat indah. Yuna tahun musik ini, dia tahu awalan petikan gitar ini adalah lagu dari band idolanya.


"Percaya, pada ku... ini bukan nafsu ku. Perasaan yang utuh dari dalam hati ku," Suara ini... Yuna sangat mengenalnya, suara yang sering dia dengar lewat televisi, suara yang sering dia dengar lewat earphone miliknya. Ia segera memutar matanya dan langsung menemukan sesuatu yang membuatnya terpaku. Sungguh itu mereka... band idolanya dari semenjak SMP hingga saat ini.


Masih dalam keterkejutannya, Leo berbisik di telinganya. "Bertemu mereka adalah bagian dari mimpi mu benar?" Leo memeluknya dari belakang. Yuna mengangguk pasti.


"Terima kasih," ucapnya penuh haru. Bertemu mereka adalah mimpinya yang masih sama seperti dulu.


"Percaya kata ku ini bukan akal ku. Keinginan yang tulus tuk dapatkan hati mu. Ini cinta... bukan yang lainnya. Ini cinta... bukan yang lainnya." suasana menjadi semakin riuh dan ramai dengan kehadiran band fenomenal satu ini.


Leo masih memeluknya dengan manis dari belakang. Pelan, dia mulai membuat suara dan hanya dia perdengarkan di telinga Yuna "Tatap jelas mata ku, jangan ragukan itu... lihat dalam mataku kaulah lamunan itu. Ini cinta bukan yang lainnya,*" suaranya tak kalah indah dari penyanyi aslinya. Yuna memegang lengan Leo dan menempelkan pipinya di pipi Leo.


"Kau hanya boleh memperhatikan mereka dan tidak boleh berjabat tangan dengan mereka, terlebih vocalisnya," ucap Leo. Mendengar itu, Yuna langsung membatu beberapa saat.


"Sayang...," Yuna memutar badannya dan menatap suaminya dengan menggoda, jurus sayang nun manja.


"Tidak boleh."


"Sayang, aku mencintaimu."


"Tidak boleh."


Jurus sayangnya keluar hingga dua puluh kali dan jawaban Leo masih sama. Di sisi lain Adel sudah berfoto bersama dan berjabat tangan, Yuna sangat cemburu melihat itu. Dari jauh... Adel menjulurkan lidahnya dan memamerkan tangannya yang habis berjabat tangan dengan artis idola Yuna.


"Sayang... hanya sekaliiiiiii saja dan tak lama."


"Tidak boleh," jawabannya tetap sama. Kemudian, semua personil turun dari panggung dan menghampiri Leo. Mereka menyapa dengan sangat sopan. Mata Yuna meleleh tak tertahan melihat artis idolanya dari jarak yang sangat dekat, dia lebih tampan dari yang sering dia lihat diTv dan YouTube.


"Selamat malam, Nona Yuna...," sang Vokalis menyapanya dengan senyum.


"Selamat malam," balasnya ramah dan mengucapkan kedua tangannya. Dia menahan untuk tidak teriak, dia sangat bahagia meskipun tidak bisa menjabat tangannya.


___Ke esokan harinya.


Mereka langsung terbang ke New York, Amerika Serikat. Tepatnya di Heart Island, kawasan Thousand Island, Negara Bagian New York. Iya... mereka mengunjungi Boldt Castle, monumen cinta dari George Boldt untuk istrinya tercinta Loose Kehrer.


_Karel menemani keluarga Yuna beberapa jam sebelum mereka kembali ke Kota K. Ayah juga tidak menyangka bahwa Chef terkenal ini adalah Er yang sering menemani putrinya ketika di hukum, adalah Er yang sering membantu putrinya untuk kabur dari rumah.


"Sampai jumpa lagi Del," Karel menjabat tangan Adel dengan senyum.


"Iya, sukses selalu Kak Er," jawab Adel. Ada rasa sedikit gelisah dalam suaranya.


"Nanti, jika ada waktu senggang, aku akan mengunjungi mu."


"Baik, aku akan selalu menunggu mu Kak," Jawab Adel dan kemudian melangkah meninggalkan Karel. Mereka berpisah di bandara. Karel segera kembali memakai kaca mata dan maskernya tapi media sudah mengincarnya sedari kemarin dan dia langsung di kerubungi para awak media.


"Chef, bagaimana anda bisa mengenal Tuan muda Leo J?"


"Kabar yang beredar adalah bahwa istri dari Tuan muda Leo J adalah teman masa kecil mu, apa itu benar Chef?"


"Chef, apa pendapat mu tentang souvernir yang mewah itu?"


Karel bersama asistennya memberikan jawaban sebentar menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka.


"Adalah benar bahwa aku adalah teman dari istri Tuan muda Leo J."


Setelah Karel berhenti berbicara, pertanyaan lain muncul lagi.


"Kabar yang beredar adalah mereka ternyata sudah menikah cukup lama, apa itu benar?"


"Maaf kalau itu saya tidak tahu. Terima kasih semuanya..." jawabnya ramah dan segera masuk ke dalam mobilnya, sebelum pertanyaan-pertanyaan aneh muncul.


__Di tempat lain, di sebuah cafe bernuansa Eropa.


Vano duduk dengan tenang, dia menyandarkan punggungnya dan menatap gadis yang baru saja duduk didepannya. Seorang gadis yang memberinya file yang dia inginkan. File untuk kembali bangkit setelah Leo menyerangnya. Tidak ada yang tahu jika itu adalah ulah Leo, termasuk gadis cantik ini.


"Santai Bro. Meskipun kau menghubungi ku cuma saat kau butuh saja tapi aku tulus membantu mu haha...," Arnis tertawa renyah dan menyedot minumannya.


"Ma'a...,"


"Stop," Arnis mengulurkan tangannya dan memotong apa yang akan di ucapkan Vano. "Jangan bilang ma'af, kita kawan Bro...," dia menatap Vano dengan senyum.


"Okey," Vano mengangguk. "Oh, iya. Sejak kapan kau memanjakan rambut mu? Gadis tomboi?" tanyanya setelah memperhatikan penampilan baru Arnis. Arnis adalah teman SMA dan Kuliahnya jadi dia sangat tahu bagaimana Arnis. Cewek tomboi bermata sipit putri dari pengusaha batu bara.


"Ah, kenapa kau juga mengomentari ini?" Arnis segera memegang rambutnya dan berusaha untuk mengikatnya, tapi tangan Vano dengan lembut memegang tangannya, ia menghentikan Arnis yang akan mengucir rambutnya.


"Biarkan, kau terlihat lebih cantik begitu," ucapnya. Matanya menatap wajah Arnis yang memerah karena ucapannya. Arnis segera meninju lengannya.


"Menyingkirlah," tangan Arnis menepis pelan tangan Vano yang masih memegangi tangannya. Dia kemudian segera menguncir rambutnya, ia menguncir rambutnya dengan model bulat. Semenjak dia memutuskan untuk memanjangkan rambutnya, barang yang wajib ada dipergelangan tanganya adalah karet, iya karet... gadis ini sangat nyentrik, dia sangat cuek dengan penampilan. Ketika para wanita memakai perhiasan di tangannya, dia memilih mengenakan karet dipergelangan tanganya.


"Ucapan mu membuat ku risih, mulut mu masih manis seperti dulu Vano. Itu membuat ku merinding," lanjutnya setelah selesai membuat rambut panjangnya tak terlihat lagi. "Oh ya, kenapa kau tidak hadir ke pesta Leo kemarin? Aku mencari mu disana, ku pikir kau akan datang."


"Aku sangat sibuk."


"Ck, teman macam apa kau bung? Memilih sibuk dan tidak hadir di pesta pernikahan teman mu."


"Teman? Sejak kapan aku berteman dengannya?"


"Waww... kau arogan sekali. Okey, kita semua tahu jika Leo sangat-sangat pendiam tapi dia tetap teman kita Bro. Oh apakah kalian ada masalah?" Arnis langsung menyentil pada akarnya.


"Tidak ada" jawab Vano datar.


"Hmm, aku penasaran bagaimana akhirnya Leo lepas dari Kiara? Itu emejiiing banget-banget kan?


"Sejak kapan kau jadi tukang kepo?"


"Hahaha... mungkin ini karena rambut panjang ku. Mulut ku jadi ikut-ikutan panjang. Okey lupakan." ucapnya dengan tawa. Mereka lama tidak berjumpa dan bahkan tidak saling mengirim pesan. Arnis tinggal di Pulau A dan dia ke Ibu Kota untuk menemui Vano dan menghadiri pesta Leo. Selanjutnya dia akan jalan-jalan selama satu bulan di Ibu Kota sebelum kembali ke Pulau A.


"Okey Bro. Aku pamit. Aku ada janji sama Mama."


"Aku akan mengantar mu," Vano menawarinya.


"Stop jadi cowok manis. Sifat manis mu itu mengerikan, kau harus tahu itu. Sifat manis mu terkadang menimbulkan sesuatu yang ambigu di dalam hati. Bro... aku kasih tahu nih ya, simpan sifat manis mu hanya untuk wanita yang benar-benar kamu sukai. Okey... Bye Kawan," ucap Arnis dan langsung meninggalkannya.


Ya... Arnis adalah salah satu cewek yang baper dengan sifat manis Vano ketika masih SMA. Dia pernah mengharapkan laki-laki ini... namun ternyata dia salah, yang tampak manis tidak selalu berarti manis. Sikap manis dan perhatian Vano padanya bukan berarti Vano menyukainya.


Vano menggelengkan kepalanya. Dia hanya menawari untuk mengantarnya, apa itu berlebihan dan manis? Mereka saja yang mengartikan salah.


Ponsel milik Vano berdering... panggilan dari Neva, dia segera mengangkatnya namun tak ada suara yang berarti, yang ada hanya suara bising, kemudian, Vano segera memutus panggilan. Mungkin Neva tidak sengaja memencetnya.


"Kau sedang apa gadis kecil?" dia mengirim pesan pada Neva.


"Memikirkan mu..." balas Neva dengan emot tertawa, menandakan jika dia hanya bercanda. "Haha... kidding Kakak," balasan selanjutnya.


"Kau dimana?"


"Aku lagi jalan keluar perpustakaan,"


"Perpustakaan mana?"


"Pusat."


"Aku berada di cafe seberang perpustakaan itu, kemarilah."


Balasan Vano membuat Neva girang dan bilang Yess, Yess, Yess.. dia kemudian menyuruh supirnya untuk mengantar Lula kembali terlebih dulu.


"Sukses boss cantikque... muach muach. Aaaahh kalau jodoh nih ya... kemanapun bisa ketemu. Semangat, semangat." Lula bersemangat untuk Neva.