
Hari ini jam olahraga untuk kelasnya Tiara. Dan entah karena adanya perubahan jadwal sehingga jam olahraga mereka bersamaan dengan siswa kelas dua belas.
Tiara mengeluh dalam hati membayangkan harus olahraga bareng Ilham dan Nayla.
" Kenapa Ra? dari tadi diam aja". tegur Hesti melihat sahabatnya murung.
" Malas banget tahu nggak, kenapa sih harus samaan dengan kakak kelas?"
" Oh, lagi mikirin itu ya. Udah nggak apa-apa santai aja kali. Kan ada kak Zian juga yang bakal jagain kamu". hibur Hesti.
" Semoga nggak ada masalah lagi". ucapnya lirih seraya menghembuskan napas gusar.
" Ayo anak-anak, segera bentuk barisan sesuai dengan kelasnya!" ujar pak Hadi dengan penuh semangat.
Itulah ciri khas guru olahraga di sekolah itu. Walaupun usia sudah tidak muda lagi namun beliau masih terlihat enerjik.
Zian sengaja berbaris di samping Tiara.
" Kak Zian, kenapa di sini?" bisik Tiara melotot ke arahnya.
" Suka-suka gue dong mau baris di sebelah mana". balas Zian cuek.
" Ih dasar cowok gila!" umpat Tiara.
Zian hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Di barisan lain, nampak Ilham menahan geram melihat kelakuan Zian.
" Dasar Zian sialan!"
" Eh Zian ! kenapa kamu barisnya di situ?" tanya pak Hadi melihatnya berdiri di barisan yang salah.
" Nggak apa-apa kan pak? soalnya di sebelah sana udah penuh". kilahnya dan mendapat jawaban serentak dari teman yang lain
" Huuuuuuu !"
Yang disoraki cuek bebek saja.
" Sudah . . sudah. Sekarang lakukan pemanasan seperti yang bapak contohkan ya anak-anak!"
" Baik pak!" jawab mereka serempak dan mulai melakukan gerakan yang diminta.
Setelah beberapa menit kemudian . . .
" Nggak usah lama-lama pak muternya, entar pegel nih betis gue ". rengek Nayla.
" Nggak pake protes, kalau nggak mau lima putaran pak guru nambah lima putaran lagi, mau ?" ujar pak Hadi tegas.
" Eh jangan pak, ampun". Nayla kemudian berlari diikuti oleh Sandra dan Nina.
" Nayla lihat tuh si Tiara, cari perhatian banget sih". ujar Sandra mulai ngomporin sahabatnya.
Nayla hanya melirik tak suka. Ia lagi malas bikin keributan soalnya. Lari lima putaran ini saja sudah bikin kepalanya sakit apalagi harus nambah masalah lagi.
" Biar aku beri dia pelajaran, itung-itung buat melepas kangen aku yang udah lama nggak ngerjain dia". ucap Sandra seraya menambah kecepatan larinya.
" Eh, san . . .
Belum sempat Nayla melarangnya, gadis licik itu sudah keburu pergi mengikuti Tiara dari belakang.
Kebetulan banget Zian larinya sudah agak jauh di depan sana. Karena itu Sandra tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus kali ini.
Dengan gesit dia mulai berlari mendekati Tiara. Dan akhirnya. . .
Bruk !
" Aduh !" Tiara memekik tertahan saat terjatuh. Lututnya terbentur batu dihadapannya hingga berdarah.
" Eh, maaf nggak sengaja. Tadi badanku hilang keseimbangan dan akhirnya nggak sengaja nabrak kamu yang kebetulan ada di depan". ucap Sandra dengan wajah pura-puranya.
Kemudian ia melanjutkan larinya tanpa rasa bersalah.
Dari kejauhan, Zian yang melihat Tiara sedang berjongkok mempercepat larinya.
" Ada apa lagi dengan kucing nakal itu?" gumamnya sambil terus berlari mendekat.
Hesti juga melakukan hal yang sama ketika melihat sahabatnya yang tiba-tiba berhenti berlari.
" Kenapa Ara? lo terjatuh?" tanya Zian menatapnya cemas.
Tiara hanya mengangguk seraya meringis.
\*\*\*\*\*