
Mobil Leo melaju sedang. Mereka lalu mengunjungi alun-alun kota. Suasana di sore hari sangat ramai. Yuna dan Adel bergandengan tangan dan Leo dengan patuh membuntuti mereka berdua dari belakang. Mereka berdua membeli apapun yang mereka inginkan, gelang kembar, bando kembar, jepit rambut kembar dan semua yang menarik perhatian mereka berdua. Leo menjadi asisten dan membawa semua barang yang mereka beli. Hahaaa... kapan lagi punya kesempatan ini, menjadikan Direktur sebagai asisten. Yuna dan Adel toss.
Mereka menyusuri jalanan dengan bahagia. Mereka berhenti dan bertepuk tangan ketika ada seniman jalanan tengah bernyanyi dengan menggunakan gitar.
"Sayang... beri aku satu lagu," Yuna mendekat ke arah Leo.
"Aku tidak pandai menyanyi."
"Bohong," Yuna segera melangkah mendekat dan berbicara sesuatu pada seniman jalanan itu. Kemudian, dia melambai pada Leo.
Tidak menolak, Leo mendekat dan memenuhi keinginan istrinya. Dia duduk dan mulai memetik gitarnya. Sedangkan Yuna kembali bergabung dengan penonton lainnya.
"Aku tidak pandai bernyanyi tapi ini untuk istri ku. Semoga kau suka sayang...," ucapnya dengan memandang Yuna penuh kasih. Yuna tersenyum dan melambai dengan bahagia.
Baru sebuah ucapan yang keluar dari mulutnya saja sudah terdengar sangat indah, semua orang yang berada disitu langsung bertepuk tangan. Wajah Leo yang rupawan membuat mereka langsung mengeluarkan Hp masing-masing dan bersiap merekam.
Leo memetik gitar dengan wajah penuh senyum hanya untuk istrinya.
"I'am not a perfect person, there's many things i wish i didn't do. But i continue learning, i never meant to do those things to you. And so i have to say before i go, then i just want you to know. I've found a reason for me, to change who i used to be, a reason to start over new and the reason is you*" (Aku bukan manusia sempurna, banyak hal yang ku harap tidak ku lakukan. Namun aku tak berhenti belajar, aku tak pernah bermaksud menyakiti mu. Maka harus ku katakan sebelum aku pergi, bahwa aku ingin kau tahu, aku telah menemukan sebuah alasan untuk merubah diriku yang sekarang. Sebuah alasan untuk memulai dari awal dan alasannya adalah kamu.)*The Reason_Hoobastank.
Yuna sangat tersentuh dengan lagu yang Leo nyanyikan. Pandangan mata Leo tak pernah lepas darinya, irama pada jantungnya sangat indah.
Semua bertepuk tangan ketika Leo mengakhiri lagunya. Orang yang berkerumun menjadi sangat banyak, mereka mengabadikan moment ini di ponsel masing-masing, kemudian segera mengunggahnya diakun sosial media masing-masing dengan judul yang bermacam-macam.
"Sayang... aku mencintai mu." Leo seperti ABG yang tak tahu malu mengungkapkan cinta didepan banyak orang, dan memang dia tidak perduli pada siapapun. Tepuk tangan semakin bergemuruh, mereka yang menyaksikan ini menjadi sangat penasaran, siapa wanita yang memiliki laki-laki indah ini?
Leo berdiri dan memberikan kembali gitar pada pemiliknya, ia bahkan memberi beberapa lembar ratusan ribu pada seniman jalanan itu. Leo merasa sangat bahagia melihat Yuna yang terus tersenyum memperhatikannya, ia melangkah menghampiri Yuna dengan aura yang kuat dan mengagumkan, ia berdiri di depan Yuna dan meraih kedua tangannya. Para fans dadakan langsung merasa kalah dan menelan kekecewaan setelah tahu siapa pemilik laki-laki indah ini. Seorang gadis cantik yang mempesona.
"Aaahh... pemandangan apa ini?? Laki-laki yang tampan dan wanita yang sangat cantik... dunia sungguh tak adil," seseorang menyelutuk dengan tawa kecil.
"Sayang," Leo mengusap pipinya dengan kasih yang melimpah dari hatinya.
"Hmm," Yuna menjawab dengan senyum malu, namun penuh kekaguman.
"Apa kau suka dengan lagu tadi?"
"Hu'um," Yuna mengangguk dengan merona. "Sangat suka, hingga membuat ku tak bisa berkata-kata."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Yuna. Mereka masih saling menatap.
Leo sedikit membungkukkan badannya. "Aku akan meminta hadiah ku nanti malam," bisiknya menggoda. Memang itu diucapkan dengan berbisik, namun posisi Adel yang sangat dekat dengan mereka membuatnya mendengar semuanya, dia mendengarnya dengan jelas. Dia semakin teraniaya dengan semua ini, dia ingin segera kabur dari pasangan ini, mereka sangat menyebalkan. Mereka sungguh berdosa karena membiarkan jomblo merasa teraniaya. Adel bertekat tidak akan pernah mau lagi bergabung dengan mereka.
Setelah pukul 18.30 mereka kembali.
"Seru...," Yuna bersorak, namun Adel menekuk wajahnya. Dia kesal setengah mati dengan pasangan ini. "Oh iya Del... ada yang lupa ku ceritakan pada mu. Aku bertemu Kak Er...," ucap Yuna semangat dan ini membuat Adel bersemangat juga.
"Kak Er? Sungguh? Dimana? Apa dia sudah kembali?"
"Apa kau tahu Chef Karel?"
"Umm... pernah denger tapi aku tidak perhatian. Teman-teman kampus dan asrama sering membahasnya."
"Dia adalah Kak Er."
"Serius? Yang benar saja, dia jadi artis?" Adel segera mencari profil Chef Karel Erlangga.
"Gilaa... ini beneran dia? Ganteng banget daahh....," komentar Adel setelah melihat profil Karel.
"Tapi ada yang lebih ganteng dari dia, Del."
"Serius?"
"Hu'um. Dia ada di sebelah ku sekarang," Yuna melirik Leo yang langsung tersenyum karena ucapannya.
"Iya... iya, aku percaya," Adel mengangguk. "Na... sungguh ini dia?" Adel merasa tidak percaya. Yuna menjawabnya dengan anggukan. "Kak Er... rambutnya bisa rapi gini, keren. Dia yang dulu selalu gondrong, hahaa. Oh iya, dia bahkan sering menemani mu saat kau dihukum, dia yang selalu memayungi mu jika kau kehujanan, dia yang menggenggam tangan mu saat kau kedinginan. Uuuhh... masa kecil kalian sangat menyenangkan. Oh iya, bukankah dia adalah pangeran dan kau adalah tuan putri? Impian mu adalah menikah dengannya, memiliki istana dan tinggal bersama. Hahaa... indahnya, aku jadi ingin tertawa jika mengingatnya," Adel terus tertawa dan tidak memperhatikan tangan Yuna yang memberinya isyarat untuk diam. Yuna langsung membatu setelah melihat ekspresi Leo berubah. Dia ingin menjitak Adel saat ini juga.
'Adel... aku sungguh ingin melakban mulut mu itu. Kau pembawa bencana buat ku. Aku akan dalam masalah besar setelah ini.'
"Bye...," Adel melambai ketika mobil Leo perlahan meninggalkannya.
Yuna menarik nafasnya... "Sayang...," suaranya manja memanggil Leo. Tak ada jawaban.
'Ck... Aku sudah menebaknya, dia pasti akan diam.'