
Dalam temaram lampu tidur, Neva mengerjapkan matanya. Masih dalam batas antara sadar dan belum, dia menatap sekeliling. Ini ... di kamarku? Tanyanya tak yakin pada diri sendiri. Kemudian dia segera duduk dan membuka selimutnya. Tangannya yakin jika ini bukan selimut miliknya. Dengan terkejut dia segera melompat dari atas tempat tidur. Dia langsung membekap mulutnya untuk tidak teriak setelah sadar ia berada di mana. Tangannya mengulur ke tembok untuk menyalakan lampu utama.
Klik, ruangan itu terlihat jelas. Neva memuat pandangan ke sofa. Dia melihat Vano yang tidur disana dengan melipat kedua tangannya. Neva melangkah pelan menuju Vano dan jongkok di samping sofa dimana Vano tidur. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Kenapa kau tidur di sofa?" ucapnya pelan. "Kenapa tidak membawa ku ke kamar lain saja? Jadi kau bisa tidur di ranjangmu," Neva menggumam lagi. Matanya memperhatikan wajah wajah halus Vano yang terpejam. Ada bintik keringat di keningnya. Neva melihat ke arah pendingin ruangan. Alat itu menunjukkan angka 18Β° seharusnya ini cukup untuk membuat Vano tidak berkeringat. Apalagi, saat ini musim hujan.
Neva mengulurkan tangannya untuk menyeka keringat di kening Vano. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Neva memperhatikan wajah Vano lagi. Kemudian, ia mengatur suhu ruangan agar lebih dingin dan mengambil selimut.
Dengan pelan ia memakaikan selimut itu di tubuh Vano.
"Selamat tidur, sayang," ucapnya setelah mencuri cium di pipi Vano singkat. Dia tersenyum lucu melihat tingkahnya sendiri. Setelah itu, Neva kembali ke ranjang dan kembali memeluk guling. Dia menghadap ke arah sofa, menatap dari jauh, seseorang yang tengah tertidur di sana. Kemudian, perlahan kelopak matanya menutup. Namun, dia tidak benar-benar bisa tidur dengan nyenyak. Dia membuka matanya lagi dan tak membiarkan terpejam. Meskipun dari jauh, dia ingin memperhatikan wajah laki-laki yang mendebarkan jantungnya.
Tak lama, Vano mengerjapkan matanya dan langsung menyadari ada selimut yang menyelimuti tubuhnya. Dia segera membawa pandangannya pada gadis yang berada di atas ranjang. Mata mereka bertemu, lalu lengkungan bibir yang indah tercipta.
"Kau terbangun?" tanya Vano dari jauh. Neva mengangguk. Dia meletakkan telapak tangannya di bantal dibawah pipinya.
"Iya," jawab Neva.
"Apa karena terlalu dingin?" tanya Vano setelah ia memperhatikan pendingin ruangan.
Neva menggeleng. Vano membuka selimutnya dan beranjak. Dia melangkah menuju lemari, mengambil selimut dan kemudian memakaikannya di tubuh Neva dengan perhatian.
"Terima kasih," ucap Neva. Vano mengangguk dengan senyum. Dia duduk di sisi ranjang dan menatap Neva.
"Kenapa membawaku kesini?" tanya Neva rendah. Dia memiringkan tubuhnya dan membalas tatapan mata Vano.
"Dari awal aku sudah bilang, kau harus pulang kesini saja," jawab Vano. Dia membenarkan rambut yang jatuh di kening Neva.
"Itu tidak sopan. Aku menginap di rumah mu," ujar Neva Neva. Dia mengerutkan bibirnya.
"Apanya yang tidak sopan. Kau tunangan ku, sebentar lagi kita menikah. Lagi pula, aku tidak berbuat macam-macam padamu," jawab Vano.
"Hmm tetap saja tidak sopan. Saat seorang wanita datang menginap di rumah laki-laki. Mama bilang, seorang wanita harus menjunjung tinggi etika. Harus benar-benar menjaga harga dirinya, wanita adalah tiang negara. Akhlak adalah pondasinya. Hmmm aku ingin menjadi salah satu wanita yang indah dalam tutur dan perilaku. Aku ingin Papa dan Mama merasa tidak gagal dalam mendidik ku," jelas Neva panjang lebar. Dia sudah seperti motivator yang berbicara dengan bahasa yang tertata apik. "Ummm, aku juga ingin menjadi istri yang baik untukmu," lanjutnya dengan senyum tertahan dan rona dikedua pipinya. Dia sedikit mengalihkan pandangan.
Vano tersenyum dengan bahagia dalam hatinya. Tangannya mengulur untuk mengambil tangan Neva kemudian menggenggamnya dengan hangat. Matanya menatap wajah Neva dengan lembut. Dulu, dia sempat merasa tidak adil pada Tuhan karena memberinya perasaan yang teramat menyakitkan. Perasaan cinta dan patah hati secara bersamaan. Dia yang tersiksa akan perasaan indah tetapi mencabik hatinya. Namun, sekarang ia merasa Tuhan baik padanya. Memberi penawar pada luka hatinya dengan sangat indah. Seorang gadis yang mengetuk pintu hati dan membuatnya melepas masa lalu yang hampir menenggelamkannya pada kesedihan yang mendalam.
"Aku juga ingin menjadi suami yang baik untukmu," ucap Vano sepenuh hati. Tangan sebelahnya mengusap rambut Neva dengan kasih. "Pagi nanti, kita bicara dengan Papa," lanjut Vano. "Sekarang, tidurlah," Vano menunduk dan meninggalkan kecupan manis di kening Neva.
Kemudian, dia melepaskan genggaman tangannya.
"Kau kembali tidur di sofa?" tanya Neva.
Vano mengangguk pasti, "Ya," jawabnya. Vano segera berdiri, "Jika aku tidur satu ranjang dengan mu, aku takut ... terjadi sesuatu yang diinginkan," lanjut Vano yang membuat Neva membeku. Sesuatu yang diinginkan? Neva melebarkan matanya kemudian wajahnya menjadi merah. Dia segera menarik selimut.
"Huumm sana, jauh-jauh," usir Neva. Dia menggerakkan tangannya.
______________
Di negara A.
Di ruang tengah, Leo duduk di atas karpet halus bersama Baby Arai. Leo mengangguk, kemudian Baby Arai ikut mengangguk. Angguk dua kali, Baby Arai angguk tiga kali. Leo tertawa terbahak-bahak dengan kelucuan anaknya.
"Angguk-angguk," ucapnya seraya menganggukkan kepalanya dan sengaja. Baby Arai dengan tawanya yang lucu mengikuti gerakan Daddy-nya.
"Hamm, oeee umm," suara celotehnya nyaring. Mereka berdua saling tertawa dengan bahagia. Kemudian, Yuna bergabung. Dia duduk di samping Leo.
"Sayang, dia sangat lucu dan menggemaskan," ujar Leo pada Yuna. Dia lalu memamerkan jika Baby Arai mengikuti gerakannya dengan patuh. Yuna tersenyum lebar, dia bertepuk tangan dan Baby Arai langsung mengikutinya bertepuk tangan.
"Pintarnya," ucap Yuna gemas. Dia membungkukkan badan untuk mencium pipi gembul Baby Arai. "Muach, muach."
"Sayang, beri aku juga ciumanmu," Sang Daddy tak mau kalah. Dia menyodorkan pipinya untuk dicium Yuna.
Yuna mencubit pipi Leo terlebih dahulu sebelum menciumnya. "Mmmmuuach," bibir manisnya mencium pipi Leo. Melihat itu, Baby Arai langsung merangkak ke arah Leo.
Dia merangkak hingga berada di pangkuan Daddy-nya. Kemudian tangan kecilnya menyingkirkan wajah Yuna dari pipi Leo.
"Haummm," kini Baby Arai yang menggantikan Yuna. Dia mencium pipi Leo sekali, tapi kemudian mematuk-matuknya.
"Waah, Momm tidak boleh mencium Daddy," Yuna tertawa dan menepuk gemas pantat anaknya.
Tangan Leo memegang pinggang Baby Arai.
"Si pintar," puji Leo. Yuna kemudian dengan sengaja. Mencium pipi Leo sebelahnya. Dan Baby Arai langsung berteriak.
"Aaaaaa ... hamm, hmm," dia segera menyingkirkan wajah Yuna lagi lagi pipi Leo. Lalu dia yang menggantikannya. Leo tertawa terbahak-bahak dan semakin gemas.
"Sayang, beri aku ciuman," pinta Yuna pada Leo. Dia menyodorkan pipinya. Leo tahu itu untuk menggoda Baby Arai. Dia dengan sengaja segera mencium Yuna.
"Aaaa ... humm, aoooi," Baby Arai berteriak lagi. Dia segera menyingkirkan wajah Leo dari Yuna. Dan kini, dia menempelkan pipinya di bibir Leo.
"Muach, muach," Leo langsung mencium pipi gembul anaknya. Dia suka sekali menggoda anaknya.
"Humm Momm tidak dicium?" Yuna memanyunkan bibirnya.
"Bari Momm ciuman," ujar Leo pada Baby Arai. "Sini, Daddy bisikkin," Leo mendekatkan bibir di daun telinga Baby Arai. "Kita berdua akan celaka kalau sampai Momm ngambek."
Yuna tertawa dan memukul lengan Leo pelan. Pasalnya Leo berbicara dengan nada biasa saja, bukan berbisik.
"Ikuti Daddy," ujar Leo. Kemudian, dia mencium pipi Yuna. Lalu Baby Arai mengikutinya. Dia ikut mencium pipi Yuna.
"Emmmuach."
___________________
Catatan Penulis π₯°π
Jangan lupa like komen vote ya kawan tersayang π₯° Terima kasih. Padamu.
Bersambung. Nantikan Episode selanjutnya. π₯°π Yang punya poin lebih, dan berkenan ... yuukk Vote novel ini. Terima kasih π₯°π Sukses selalu kawan π