
Dari rumah bunga... Leo membawanya menjauh dari Ibu Kota.
"Sayang, apa kita akan ke Kastil pinggir pantai?" tanya Yuna semangat. Leo mengangguk. Dia akan sibuk minggu-minggu ini, jadi sebelum itu... dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama Nyonya. Leo meraih tangan Yuna dan membawa tangan halus itu ke bibirnya, ia mencium tangan Yuna dengan sangat manis dan penuh perasaan.
Yuna menatapnya dari samping, matanya dipenuhi kekaguman dan kehangatan. Tangan sebelahnya menyentuh perutnya dengan lembut.
Beberapa jam kemudian mobil mereka memasuki gerbang utama yang menjulang tinggi. Lalu mereka berjalan dengan bergandengan tangan menapaki jalan menuju pintu utama.
Langit sudah berubah warna menjadi kemerahan, matahari tak lagi terlihat, digantikan rembulan yang mulai nampak dengan sinar teduhnya. Kemudian, Leo mengangkat Yuna dan menggendongnya untuk masuk kedalam. Yuna menyandarkan kepalanya di dada Leo dengan manja. Dia menjadi Nyonya manja saat ini. Leo membawanya menaiki tangga kelantai empat.
"Waww...," Yuna memperhatikan tangga yang dihias dengan begitu banyak bunga mawar disepanjang pegangan tangga, lalu bertabur kelopak bunga mawar pada pijakan tangga dan lilin-lilin kecil di pinggirnya. Dia memperhatikannya dengan pandangan haru. Tangannya melingkar di leher Leo, sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bahagia.
Leo membawa langkahnya untuk menapaki setiap tangga dengan menggendong Yuna.
Yuna mendongak untuk menatap wajah rupawan suaminya. Dia ingat bagaimana pertama mereka bertemu, ingat bagaimana awal mereka menikah, dia ingat bagaimana ia begitu bahagia ketika mendapat ciuman pertamanya dari Leo, meskipun Leo bilang itu adalah hukuman. Bibirnya menjadi melengkung indah mengingat ciuman pertama itu lalu tentang keusilan permen karet dipagi itu. Dia juga ingat ungkapan cinta dibawah purnama sempurna. Dia juga mengingat ketika ia memutuskan untuk menyerah pada harapannya dan memilih meninggalkan Leo.
Leo masih menapaki setiap tangga dengan kakinya, dia mendekap Yuna dengan kasih yang tak terukur di hatinya, apalagi saat ini dirahim Yuna ada buah cinta mereka. Hatinya dibanjiri kebahagiaan, cintanya melebihi apapun di dunia ini.
"Sayang," Yuna memanggilnya dengan pelan, sesuatu terasa dihatinya, begitu indah. Matanya terasa panas.
"Hmm," jawab Leo tanpa membuka mulutnya. Ia menghentikan langkahnya dan menunduk untuk menatap Yuna.
"Apa aku berat?" tanya Yuna tersenyum namun genangan air matanya menetes perlahan. Dia segera mengusapnya dan kembali bersandar di dada Leo.
"Sangat," jawab Leo yang membuat Yuna langsung memukul dadanya. Dia tahu Leo akan menjawab seperti itu. Leo kembali melangkah menapaki setiap tangga menuju lantai empat.
Leo sama halnya dengan Yuna, dia mengingat semuanya. Bagaimana dia menyakiti Yuna, bagaimana dia mengecewakan Yuna, mata sembab malam itu, tangisan didalam bioskop itu, dan ketika Yuna meninggalkannya.
Potongan-potongan kisah itu seperti berputar kembali diingatan mereka. Potongan-potongan kisah itu seperti puisi yang dibacakan untuk mereka, seperti gending yang mengalun mendayu pada hati mereka.
"Sayang, apa kau lelah?" tanya Yuna. Saat ini mereka telah sampai diujung tangga ke tiga.
Yuna memejamkan matanya dan menangis, ini sungguh menyentuh hatinya. Dia sangat bahagia, teramat sangat. Dia memiliki Leo seutuhnya, dirinya dan hatinya, Leo hanya untuknya. Betapa dia sangat bersyukur karena memiliki laki-laki indah ini.
"Sayang," Leo memangil dengan sendu, ia menghentikan langkahnya. Kakinya tepat berada diujung tangga di lantai empat. Dia menunduk menatap Yuna yang sesenggukan bersandar di dadanya. "Mari ciptakan banyak kenangan indah semasa kita muda. Mari ciptakan banyak memori indah tentang kita berdua. Mari menua bersama dengan milyaran kisah indah yang kita ciptakan. Dimasa depan nanti... kita akan menceritakannya dengan bangga pada anak-anak kita," ucap Leo. Dia mengecup rambut Yuna dengan lembut dan penuh kasih. Yuna mengangguk dalam isaknya.
Seperti dongeng bunga... bahwa ia tidak selamanya indah, akan ada masanya ketika dia harus layu, mengering dan kemudian menghilang.
"Yuna, aku ingin kau selalu bahagia bersama ku," suara Leo begitu dalam penuh cinta. Yuna mengangguk dan masih menyembunyikan wajahnya di dada Leo. Air matanya tak terbendung.
Kemudian, Leo membawanya kedalam kamar. Kamar ini... juga sudah di hias dengan bunga-bunga dan lilin. Leo membawa Yuna ke balkon kamar mereka dan menurunkannya disana. Ia memegang wajah Yuna dengan kedua telapak tangannya, membawa wajah itu untuk menatapnya. Tangannya yang hangat mengusap air mata bahagia di pipi Yuna, kemudian mengecup keningnya.
Diatas meja sudah ada buket bunga Juliet Rose. Bunga dengan warna yang lembut menyimpan pesona dan kecantikan yang luar biasa. Leo mengambilnya dan memberikannya untuk Yuna.
Tangan Yuna mengulur dan menerima buket bunga itu. Senyumnya merekah, melebihi keindahan bunga ditangannya. Sepasang bola matanya menatap Leo dengan kekaguman dan kelembutan.
"Sayang," Leo mengusap pipi Yuna dengan lembut, lalu perlahan beralih mengusap perut Yuna. "Aku mencintaimu," ucapnya. Mata mereka bertemu. Yuna menjinjitkan kakinya dan melingkarkan tangannya dileher Leo. Dia mencium bibir Leo dengan lembut. Selembut ice cream, semanis gulali, dan sehangat mentari pagi. Perasaan ini teramat indah, seindah sinar bulan diatas cakrawala atau mungkin lebih dari itu.
Cinta ini teramat indah, bahkan seluruh warna tidak mampu untuk menggambarkannya.
Cinta ini teramat indah, bahkan seluruh aksara tidak mampu untuk menuliskannya.
Cinta ini teramat indah, bahkan seluruh bait puisi tidak mampu untuk mengkiaskannya.
Cinta.
Kedua tangan Leo berada di pinggang Yuna, ia lalu mengangkat Yuna, membuat wanitanya sedikit lebih tinggi darinya. Mereka berciuman dengan romantis.