
Tangan Neva mengulur untuk menerima jaket itu. Kemudian dia memakaikannya... aroma khas tubuh Vano tercium begitu memanjakan hidungnya. Tubuhnya menjadi sangat hangat setelah memakai jaket ini. Ini seperti... Vano tengah memeluk dirinya. Dia menjadi membeku dengan jantung yang rasanya ingin melompat keluar.
Vano melangkah maju untuk mendekat dan Neva segera melangkah mundur.
"Eit," ujarnya. Tangannya mengulur untuk memberi isyarat kepada Vano untuk diam di tempat. "Mau ngapain?" Tanyanya. Dia mendongak menatap Vano, mata itu seolah mengikat kuat pada matanya untuk tidak berpaling.
"Hanya ingin membantu mu saja," jawab Vano dengan maju satu langkah lagi, dua langkah dan langsung menangkap tangan Neva.
"Kak...," Neva memekik.
"Hanya menyentuh tangan mu saja. Kenapa kau harus memekik?" Vano memegang tangan Neva dan menariknya mendekat. "Diamlah Nona, aku hanya ingin membantu mu," ucapnya. Kemudian, dia melepaskan tangan Neva dan memegang jaket bagian tengah nya. Menyatukan bagian kanan dan kiri dengan kancing lalu merapikan kerahnya. Selesai. Vano menatapnya, Neva yang kebesaran memakai jaketnya. 'Kau terlihat imut, rasanya aku ingin mencium mu lagi,' batin Vano dengan senyum lebar. Namun, tidak... dia tidak akan melakukan itu, dia sudah berjanji.
"Ayo," ucapnya dan langsung menggandeng tangan Neva. Dia membawa Neva menuruni tangga untuk menuju danau dengan bunga teratai.
Hanya ada sedikit pencahayaan, lampu kuning yang bersinar bagai bulan purnama. Sinar lampu gedung-gedung pencakar langit yang turut menyoroti bak mentari yang tertutup awan. Tidak ada orang di danau teratai ini, hanya ada mereka berdua. Tentu saja, karena Vano sudah mengaturnya.
Tak lama, danau dengan bunga teratai itu terlihat. Bunga teratai berwarna merah muda.
"Waah...," gumam Neva dalam kekaguman. Neva menarik tangannya dari genggaman tangan Vano. Dia bertepuk tangan ringan.
"Bagus bukan?" Tanya Vano yang di jawab anggukan kepala oleh Neva. Kemudian, mereka duduk di atas rumput liar yang terpotong rapi.
"Kak Vano sering kesini?" Neva bertanya dengan pandangan mata yang memperhatikan bunga teratai. Angin menyapanya, membelai lembut wajahnya.
"Tidak," jawab Vano. Dia juga memperhatikan bunga teratai. "Baru sekali ini," lanjutnya.
"Oh ya?" Neva langsung menoleh ke arahnya, merasa tidak percaya.
Vano mengangguk, "Sekertaris ku yang tahu tempat ini," jawab Vano. Sekarang, Neva yang mengangguk, kemudian berpaling dan kembali memperhatikan bunga teratai.
"Apa kau tahu simbol Raja Angga Karna?" Tanya Vano dengan masih memperhatikan bunga teratai berwarna merah muda.
"Hmm? Siapa?" Neva balik bertanya. Dia sedikit asing dengan nama itu.
"Raja Angga Karna" jawab Vano. "Karna putra dari Kunti," lanjut Vano.
"Mahabharata?"
"Ya," Vano mengangguk. "Raja Angga Karna, salah satu kesatria hebat yang gugur dalam perang Bharatayuda," lanjut Vano.
"Apa hubungannya dengan bunga teratai?" Tanya Neva. Ya, dia tahu tentang Mahabharata dan tentang perang saudara di kuru setra tetapi dia tidak begitu jelas tentang kisahnya.
"Apa kau tahu filosofi bunga teratai?" Tanya Vano. Kali ini dia menoleh.
"Ya, aku tahu," jawab Neva dengan membalas tatapan Vano padanya. "Bunga teratai yang begitu indah meski tumbuh di air yang kotor," lanjut Neva.
Vano mengangguk. Kemudian, dia menceritakan perjalanan Karna hingga dia diangkat menjadi Raja Angga dan kemudian harus berperang melawan saudaranya sendiri, para Pandawa.
Malang, sedih, pilu, terluka, menyayat... semua emosi kesedihan bersatu, mengikat jiwa yang penuh kasih tetapi harus berperang melawan saudaranya. Raja Angga Karna tanpa senjata harus gugur di tangan Arjuna adik kandungnya sendiri. Tragis.
Neva terdiam dan menunduk. Kisah pilu tentang Raja Angga Karna yang baru saja dia dengar begitu menyayat hatinya. Saudara yang berperang dan pada akhirnya gugur di tangan adiknya sendiri. Dia menahan nafasnya. Sesak.
"Kenapa Ibu Kunti tidak jujur dari awal pada para Pandawa jika Raja Angga adalah saudara mereka. Andai saja, Ibu Kunti jujur lebih awal, mungkin__" suara Neva menjadi serak.
"Tidak ada mungkin Neva," sahut Vano. "Jika di tarik mundur... dan memiliki kata andai, maka... andai Ibu Kunti tidak melafalkan mantra itu maka tidak akan ada Karna. Bukankah itu tidak mungkin... takdir sudah menggariskan kehadiran Karna di muka bumi," lanjut Vano. Neva mengangguk. Kemudian, hening dan diam beberapa saat.
"Kak Vano mengacaukan suasana," Neva menoleh ke arah Vano. Dia memprotesnya, "Kenapa kau menceritakan kisah yang begitu sedih?"
Vano menoleh, ia membawa pandangannya pada Neva. Menatap mata indah itu dengan hangat.
"Aku hanya ingin bilang pada mu bahwa... aku tidak mungkin membuat mu jauh atau menjadi asing pada Leo. Dia kakak mu, kalian adalah saudara. Aku akan melangkah untuk mendapatkan mu dengan restu dan kerelaannya untuk memaafkan ku. Aku akan berhenti jika pada akhirnya dia tidak memberikan restunya," ucap Vano dengan suara yang lembut dan penuh kasih.
Mata Neva berkaca-kaca. Itu juga yang dia pikirkan. Itu yang membuatnya menyerah dan memutuskan untuk berhenti. Dia menyayangi Kakaknya, sangat menyanyinya.
Tangan Vano mengulur dan menyentuh pipi Neva. Mengusapnya dengan lembut. "Aku akan meminta maaf padanya, aku akan meyakinkan dia," ucap Vano. Dia menurunkan kepalanya agar lebih dekat dengan Neva. "Jadi, ku mohon... tetaplah tinggal, gadis," pada kalimat ini dia berucap dengan berbisik. Bisikan hati yang halus nan tulus, berbisik dengan penuh harapan.
"Aku akan memikirkannya," jawab Neva pelan. Vano tersenyum dengan puas dan kemudian menarik tangannya dari pipi Neva. Dia kembali duduk dengan benar dan menatap ke depan. Begitu juga dengan Neva, dia kembali duduk dengan benar dan menatap ke depan.
"Tadi siang, aku bertemu dengan Leo," ujar Vano.
"Oh ya? Kalian bertemu?"
Vano mengangguk, "Ya," jawabnya. "Aku mengundangnya dan dia mau datang," lanjut Vano.
"Lalu...,"
"Aku berterima kasih padanya," jawab Vano. Kemudian, dia mulai menceritakan alasan kenapa dia tidak bisa hadir di acara wisuda Neva dan hanya mengirimkan satu pesan permintaan maaf. Lalu dia juga bercerita tentang bantuan yang Leo kirim untuk perusahaannya.
"Kak Lee mengirim bantuan itu?" Tanya Neva dengan penekanan. Dia merasa tidak percaya. Kak Lee membenci Vano dan dia tidak mungkin melakukan itu untuk seseorang yang dia benci. Batin Neva.
"Iya, dia mengirim itu," jawab Vano. "Bukankah itu awal yang baik," lanjutnya. "Bagaimana menurut mu?"
"Hmm, iya sangat bagus," jawab Neva. Dia tersenyum.
Setelah puas menikmati angin malam di danau teratai, kemudian Vano mengantar Neva pulang.
"Selamat malam, gadis," Vano tersenyum menguncupkan selamat malam untuk Neva. Mobilnya berhenti di depan gerbang rumah besar keluarga Nugraha.
"Selamat malam Kak Vano," jawab Neva. "Mmm, terima kasih untuk malam ini," lanjutnya.
Vano tersenyum lebar mendengarnya. "Apa kau mau lagi?" Tanyanya dengan menatap lekat mata Neva.
"Apanya yang lagi? Ice cream?" Tanya Neva dengan lugu.
"Kiss," jawab Vano dengan mengedip jahil.
"Aaaa...," Neva berteriak dengan wajah yang langsung berubah menjadi sangat merah. Kemudian, dia segera membuka pintu mobil dan langsung melompat keluar dan langsung berlari kecil masuk kedalam.
Dia membuka pintu dan langsung berlari menaiki tangga. Dia seperti seseorang yang tengah berada dalam istana awan dengan bunga-bunga dan air mancur yang indah, dengan keindahan pelangi yang melengkung sempurna.
Rasa bahagia apa ini?
Langkahnya terhenti ketika dia berpapasan dengan Mama di ujung tangga di lantai dua.
"Mama," Neva terkaget melihat Mamanya. Mama tersenyum bahagia melihat Neva kembali dengan wajah yang ceria dan cerah. Beliau memperhatikan Neva dengan seksama.
"Jaket Kak Vano Ma," jawab Neva dengan malu. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah. i
"Apa terjadi sesuatu yang romantis?" Tanya Mama dengan senyum menggoda Neva.
"Aahh, Mama kepo ah," jawab Neva dan langsung membalik badannya.
"Nona, dia ada di depan," ucap Mama yang langsung membuat Neva menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Mama.
"APPA?!" matanya melebar. "Ada Kak Vano di depan?" tanyanya merasa tidak percaya.
Mama mengangguk, "Ya," jawab Mama dengan yakin.
"Astaga... apa karena aku lupa mengembalikan jaketnya?" Ujar Neva lalu segera melepaskan jaket Vano yang dikenakannya. Kemudian, dia mendekati mamanya dan mengulurkan kedua tangannya yang menggenggam jaket. "Ma... tolong berikan ini untuk dia," pinta Neva meminta tolong pada mamanya. Mama melihat jaket yang di pegang putrinya lalu matanya tertuju pada sesuatu yang melingkar di jari manis sebelah kiri putrinya. Beliau tersenyum dan menahan rasa keponya.
"Sepertinya, mereka berdua memulai sesuatu. Itu bagus," batin Mama dalam hati.
"Kenapa tidak memberikan sendiri padanya?" Mama menolak untuk memberikan jaket itu pada Vano.
"Maa...," Neva mendekati Mamanya dan berusaha untuk merayu.
"Bukankah, dengan memberikannya secara langsung, kalian bisa bertemu lagi," ujar Mama dengan senyum.
"Hmm?" Neva menatap Mamanya. "Okey," lanjutnya dan kemudian dia melangkah untuk turun ke bawah tetapi tepat pada langkah ke tiganya. Seseorang datang dan membungkukkan badannya dengan sopan.
"Nyonya besar," ucapnya dengan sopan. Mama tersenyum dan melangkah mendekat, beliau berdiri di samping Neva.
"Ya," jawab Mama dengan lembut.
"Ini, dari Tuan muda Mahaeswara," ucap asisten rumah tangga pada Mama seraya menyerahkan bungkusan di tangannya. Tangan Mama mengulur dan menerimanya.
"Terima kasih," ucapnya.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Neva langsung. "Apa dia masih menunggu di ruang tamu?" Tanya lagi.
"Tuan muda Mahaeswara hanya memberikan ini lalu langsung kembali Nona," jawab asisten rumah tangga dengan sopan.
"Ohh," jawab Neva. Ada nada kekecewaan dalam suaranya.
"Permisi, Nyonya besar, Nona," asisten rumah tangga pamit untuk kembali. Nyonya besar mengangguk dengan senyum. Kemudian, asisten rumah tangga itu pergi.
"Kenapa Nona?" Mama bersiap meledeknya. Neva langsung menoleh ke arah mamanya.
"Tidak ada," jawab Neva.
"Sampaikan terima kasih Mama pada Vano," ujar Mama sambil menepuk pundak Neva pelan lalu melangkah meninggalkan Neva.
___ Di jalanan lain.
Mobil Leo melaju dengan kecepatan sedang.
beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di depan gerbang yang langsung terbuka begitu mendeteksi siapa yang datang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Leo langsung membawa Yuna ke atas.
Yuna membuka pintu kamarnya dan menuju balkon. Dihirup nya udara malam yang dingin dengan dalam-dalam. Hmmm... dia merindukan aroma pantai seperti ini.
Tangan hangat memeluknya dari belakang.
"Di sini dingin. Kenapa malah keluar?" Tanyanya. Dia menurunkan kepalanya dan mencium pundak Yuna.
"Hhm, angin disini dan di Ibu Kota sangat berbeda," jawab Yuna dengan masih menghirup udara malam dengan dalam.
"Besok pagi saja, sekarang sudah malam," kata Leo mencoba mengajaknya kembali ke dalam. Yuna membalikkan badannya dan dengan manja melingkarkan tangannya di leher Leo.
"Sebentar lagi, okey," ucapnya.
"Tidak boleh," Leo menolaknya. Yuna semakin mendekat dirinya. "Apa? Kau mau merayu ku? Kali ini tidak akan mempan Nyonya. Ayo masuk," ujar Leo dan tanpa bernegosiasi lagi dia langsung membawa Yuna untuk masuk ke dalam. Dia menggendongnya. Yuna tertawa ringan karena Leo langsung membawanya begitu saja.
Leo menurunkan Yuna di ranjang. Merebahkan tubuh Yuna di kasur dengan hati-hati.
"Menurutlah Nyonya...," ucap Leo dengan mengetuk kening Yuna pelan. Yuna terkekeh. "Di luar sangat dingin, bagaimana jika kau kedinginan?" Tangan Leo dengan pelan membuka syal rajut warna putih di leher Yuna.
"Bukankah ada kamu yang akan menghangatkan ku?" Yuna menatap mata Leo dengan nakal. Dia menarik kerah Leo dan mendaratkan ciuman singkat di bibirnya. Ciuman singkat namun dalam dan menggelitik. Kemudian, dia langsung menarik selimut dan bersembunyi. Itu... membuat Leo menjadi sangat gemas padanya.
"Hei, gadis nakal...," bisiknya dari balik selimut. Yuna tersenyum lebar di balik selimut. "Jadi... setelah kau mencium ku dan membangkitkan sesuatu di diriku, kau mau kabur?" Leo mengigit daun telinga Yuna dari luar. Membuat Yuna berteriak dari dalam selimut dan langsung membuka sedikit selimutnya, hanya memperlihatkan mata dan pertengahan hidungnya saja.
"Tidak berani," ucapnya. Leo tersenyum menyeringai dan langsung menarik selimut Yuna. "Peace," Yuna segera mengangkat tangannya dan mengacungkan dua jarinya. Dia juga tersenyum memamerkan giginya.
"Kau nakal...," Leo langsung mempersiapkan kesepuluh jari nya dan menggelikitik Yuna, hingga membuat Yuna berteriak dan tertawa terbahak-bahak. Kemudian, Leo membuka bajunya dan membuang dengan acak.
"Hei, mau apa kau?" Yuna menahannya.
"Memuaskan mu," jawab Leo dan langsung menyerbu Yuna.
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Jika ada yang salah mohon koreksinya ya kawan...
Bab ini ada sedikit kisah tentang Raja Angga Karna dan Pandawa. Jika ada kesalahan mohon di ingatkan.
Terima kasih untuk like komen dan vote teman2 semuanya. pada mu...π₯°π
Yang suka tebar dan nerima kotak cinta... Yuuk gabung grup, kita ngerumpi manjah.
Yang pada nitip salam...
Ha... hai... salam balik dari Bang Lee dan Bang Vano.
Yukk goyang jempolnya cinta... terima kasih kesayangannya Nanas... luv luv π₯°ππ