Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 156_Suka dan Rela


Mereka tiba di Ibu Kota sore hari dan langsung ke rumah orang tua Leo. Mama, Papa dan Neva sangat bahagia dengan kehadiran mereka. Leo sudah memberi tahu pada Mamanya untuk tidak menanyakan, kapan punya baby, kapan ngasih cucu dan pertanyaan sejenisnya yang membuat Yuna merasa bersalah dan akan memikirkannya berhari-hari, dia menjadi sangat sensitif dengan pertanyaan semacam itu.


Malam hari setelah makan malam, Leo dan Yuna menyaksikan Tv di ruang tengah dan Neva yang baru bergabung langsung menyentuh pundak Kakaknya.


"Kak Lee, apa kau lelah? Aku akan memijit mu," ucapnya sambil memijat pelan pundak Leo.


"Hhmm? Kenapa kau sangat manis? Apa kau habis melakukan kesalahan dan mencoba merayu ku?" Leo menoleh kearahnya.


"Aku adalah adik manis yang ada di dunia," jawab Neva dengan tawa ringan. Tangannya masih memijit pundak Leo pelan. Sejujurnya Neva ingin segera bercerita tentang perasaannya, tentang sesuatu yang indah di dalam hatinya, tapi dia menundanya karena Leo baru saja kembali dan pasti masih lelah.


"Aku tidak percaya, kau pasti menginginkan sesuatu dari ku."


"Kak Lee terlalu banyak berfikir. Aku hanya kangen sama Kak Lee," ucapnya.


Yuna memperhatikan wajah Neva, wajahnya sangat ceria dengan senyum yang mengembang. Neva sedang jatuh cinta, Yuna hanya menerkanya. Apakah itu Vano?


__ Ke esokan harinya.


Papa dan Leo bermain golf bersama. Sementara Yuna dan Neva memanjakan diri di salon.


Setelah beberapa jam menghabiskan waktu disalon. Mereka mampir di restoran fast food.


"Neva," seseorang memanggil nama Neva dengan nyaring dan melambai padanya. Neva membalas lambaiannya. "Sini...," seseorang itu melambai lagi.


"Teman mu?" Yuna berbisik.


"Teman Kak Lee," jawab Neva dan mengajak Yuna untuk bergabung bersama seseorang yang melambai. Arnis, dan ada seseorang di sebrangnya, dia sedang menyeruput minumannya. Neva senang karena ada dia juga di sini. Namun tidak dengan Yuna, dia menghentikan langkahnya.


"Neva... tidak bisakah kita tidak bergabung di meja itu?" Yuna menahan lengan Neva agar mengurungkan niatnya untuk bergabung. Namun Arnis segera berdiri dan menghampiri mereka.


"Nyonya Leo... hai... aku Arnis," sapanya ramah dan mengulurkan tangannya.


"Yuna, senang bisa berkenalan dengan mu Arnis," jawab Yuna dan membalas uluran tangan Arnis.


"Hai, adik kecil, kita ketemu lagi." Arnis menyapa Neva dan memaksa mereka untuk bergabung. Hari ini adalah hari terakhirnya di Ibu kota dan dia ingin merayakannya.


Dengan berat hati, akhirnya Yuna menyetujui untuk bergabung. Seseorang yang tengah duduk itu menoleh dan tersenyum menyapa.


"Kakak Vano...," Neva menyapanya.


"Hai..." balasnya untuk Neva.


Yuna hanya membungkuk untuk memberi salam pada Vano. Vano membalasnya dengan senyum yang masih bersahabat.


Arnis duduk di samping Vano, sementara Neva dan Yuna duduk bersebrangan dengan mereka.


Yuna memperhatikan tatapan mata Neva pada Vano, dan memperhatikan bahasa tubuhnya.


Kemudian, dia menatap Arnis dengan senyum, dia berfikir bahwa Arnis adalah wanita yang pada akhirnya bisa mengisi hati Vano. Arnis, wanita yang ramah dan bersahabat, rasanya siapapun bisa langsung akrab padanya. Yuna melirik Vano sekilas, dia ingin Vano bahagia dengan cinta baru dalam hatinya.


Arnis sangat cerewet menanyainya, dan bercerita bagaimana Leo ketika kuliah. Sementara Neva sibuk melirik Vano yang berada tepat didepannya.


"Mulut mu ada remnya nggak, membuat telingaku berdenging," Vano memprotesnya dan memberinya minum agar mulutnya beristirahat sejenak.


"Yuna...," Vano menatapnya dan Yuna membalasnya sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada Arnis yang menyedot minumannya. "Maaf untuk kecerewetan gadis satu ini." ucap Vano, tangannya menepuk pundak Arnis pelan. Itu membuat Neva semakin merasa mundur.


"Hei, bung... terkadang cerewet itu diperlukan. Bukan begitu Yuna?" Arnis mencari pembelaan pada Yuna.


"Haa, tentu saja. Dengan begitu, kita jadi mudah akrab bukan?" jawab Yuna dengan tawa kecil.


"Neva, apa kau setuju dengan mereka berdua?" Vano berbicara dengan Neva.


"Hhh?? apa? Iya...," jawab Neva kaku. Dia tidak tahu apa yang mereka bahas, ia hanya berfokus pada wajah Vano dan rasa dihatinya yang menciut.


"Yuna... apa kau membawa lip blam? Uhh, bibirku terasa kering," Arnis berdiri dari duduknya dan menarik lengan Yuna sebelum Yuna mengeluarkan kata apapun. Dia mengajak Yuna ke toilet.


Arnis tersenyum didepan cermin setelah menerima lipblam dari Yuna tapi dia tidak memakainya.


"Iya"


"Aku sengaja mengajak mu kesini," ucapnya menatap Yuna dari cermin.


"Hmm?? kenapa?"


"Agar mereka memiliki waktu untuk berdua," jawabnya yang membuat Yuna menaikkan alisnya. Memberi waktu pada mereka berdua? Bukankah Arnis pacar Vano? Kenapa malah membuat Vano dan Neva memiliki waktu berdua?


"Apa kau tidak tahu sesuatu antara mereka?" tanya Arnis menyadari kebingungan Yuna.


"Apa ada sesuatu antara mereka berdua? Bukankah kamu pacar Vano?"


Arnis tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Yuna. Tapi kemudian, dia menatap Yuna dengan sedih.


"Aku ditolak...," ucapnya dan menepuk keningnya.


"Di tolak?"


"Hu'um, dia bilang... dia sedang berusaha untuk menata hatinya kembali setelah patah hati pada seseorang gadis. Sepertinya... gadis itu sangat spesial dihatinya. Hingga bahkan dia memilih tidak dekat dengan siapapun dan menyerahkan semuanya pada takdir. Aahh.... cowok satu itu mulai gila, banyak gadis yang mengejarnya termasuk aku hahaaa, tapi dia malah dalam mode menata hati. Menata hati? Kapan akan selesai untuk menatanya setelah hancur?" jelas Arnis.


Yuna menunduk mendengar ini... dia merasa sangat bersalah dan berdosa pada Vano. Betapa dia sangat menyakiti hati Vano, betapa dia sangat melukai Vano. Betapa Vano sangat tersiksa dengan perasaannya.


"Aku tahu, jika kita menjalani semua kehidupan kita di atas takdir, tapi....bukankah kita harus berusaha? Termasuk menemukan cinta. Bukan begitu Yuna?"


Yuna mengangguk pelan. Dadanya terasa sesak... dia kembali dibayangi rasa bersalah yang teramat pada Vano.


"Vano si gila tidak melakukan itu, dia apatis. Itu sangat menyebalkan. Jadi... ku harap adik ipar mu berhasil membuat Vano melupakan gadis sialan yang membuatnya patah hati."


Yuna mengangguk dengan senyum tipis, dan kemudian mengangkat wajahnya untuk menatap Arnis.


"Neva? Kenapa Neva?" tanyanya.


"Serius kau tidak tahu?"


Yuna mengangguk.


"Sepertinya Nyonya Mahaeswara menjodohkan mereka. Aku bertemu dengannya siang itu di kantor Vano, dia... mengantar makan siang untuk Vano. Dan apa kau tahu... itu bukan pertama kali dia datang, aku mengoreknya dari resepsionis." jelas Arnis.


Yuna terkejut mendengar ini, Vano dan Neva dijodohkan? Vano dan Neva... Dia sempat beberapa kali melihat mereka bersama tapi dia tidak menyangka jika Nyonya Mahaeswara menjodohkan mereka. Wajah Neva malam itu... apa dia sungguh telah jatuh cinta pada Vano? Bagaimana dengan Vano? Yuna memiliki banyak pertanyaan dan pemikiran. Apakah ini kabar baik? Atau kabar buruk?


'Vano dan Neva... jika mereka bersama, itu berarti Vano akan menjadi adik ipar ku? Hah? Itu berarti kita akan lebih sering bertemu? Aaaaa... kenapa rasanya malah membuat ku frustasi? Bagaimana aku akan menyapanya?'


Yuna sibuk dengan pikirannya dan tidak mendengarkan Arnis yang masih berbicara tentang gadis yang membuat Vano patah hati. Dia ingin menyuruh gadis itu ngaca, siapa dia hingga membuat Vano patah hati.


__Di meja


"Neva, terima kasih untuk makan siangnya kemarin," ucap Vano pada Neva.


"Oh, iya Kak. Sama-sama."


"Nanti, jika Mama meminta mu lagi, tolak saja. Kau berhak menolaknya, kau tidak harus selalu menurutinya, kau bukan bonekanya. Mamaku memang terkadang menyebalkan."


"Aku... melakukannya dengan senang hati Kak. Aku melakukannya bukan karena itu adalah suruhan Nyonya Mahaeswara tapi karena memang aku mau dan aku suka. Aku melakukannya bukan karena aku tidak bisa menolak permintaan Nyonya Mahaeswara tapi memang aku rela melakukannya untuk Kakak...," ucapnya dengan menunduk.


Vano menatapnya yang menunduk. Suka? Rela? Vano mencoba memahami semua yang Neva ucapkan. 'Dia menyukai ku?' pertanyaan itu sekilas terlintas dibenaknya tapi dia segera menepisnya. Suka antara laki-laki dan perempuan atau hanya suka antara adik pada kakaknya.


Vano tersenyum dan mengusap pundaknya pelan.


"Terima kasih Neva..., terima kasih untuk makan siang yang kau antar untuk ku."


Neva tersenyum dan mengangguk. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Vano.


"Apa Kakak keberatan jika aku yang mengantarnya?" tanyanya.


"Tidak," jawab Vano lembut dengan senyum.