
Kaca jendela mulai berkabut menahan dinginnya udara sore yang berhiaskan hujan. Di jalan yang basah masih terlihat beberapa kendaraan berlalu lalang.
Kegelapan datang dengan cepat menyelimuti kota walaupun sebenarnya belum waktunya menampakkan wujudnya seolah memaksa mempercepat hari berganti malam. Begitulah semesta bekerja dengan polanya.
Tiara keluar dari perpustakaan umum di tengah kota. Berteduh di emperan perpustakaan, sambil mengamati keadaan di sekitarnya.
Disatukannya kedua telapak tangannya yang mulai dingin. Sesekali kepalanya mendongak ke atas berharap Sang Pencipta memberikan sedikit jeda pada tetesan air yang jatuh dari langit, agar ia bisa pulang ke rumah dengan mudahnya.
Tanpa dicegah waktu terus bergulir hingga adzan Maghrib mulai berkumandang dari toa mesjid yang letaknya tak jauh dari tempat itu. Iapun mulai terlihat gelisah saat memikirkan sepinya jalan setapak menuju ke tempat tinggalnya di saat malam menjelang.
"Ya Rabb mau sampai kapan aku berdiri di sini?" gumamnya mulai diliputi rasa takut.
Perlahan ia mulai memundurkan tubuhnya hingga mengenai dinding perpustakaan.
Sekedar waspada agar tak ada orang lain yang berdiri di belakangnya.
Syukurlah puluhan menit kemudian hujan mulai mereda menyisakan gerimis. Namun belum terlihat ojek yang melintas di depannya.
Ia hendak menelpon Hesti namun diurungkan kala tersadar handphonenya tertinggal di kamarnya.
"Duh, kenapa sih lupa melulu? sekarang gimana dong?" keluhnya.
Tak lama kemudian sebuah motor berwarna hitam memasuki pelataran perpustakaan. Namun tak terlalu diperhatikan siapa pengendaranya karena pikirnya itu adalah tempat umum jadi siapa saja bebas masuk ke sana.
Hingga akhirnya sosok yang mengendarai motor itu berjalan ke arahnya.
"Ra". sapa sosok itu sambil membuka penutup bagian depan helmnya.
"Kak Zian. . ?" Tiara tak menyangka bisa bertemu dengan Zian di perpustakaan.
"Tumben kakak ke perpustakaan". ucap Tiara.
Jujur dalam hati ia merasa lega.
" Siapa juga yang mau ke perpustakaan? gue ke sini buat jemput lo doang".
"Hah? kakak tahu dari mana Ara ada di sini?" tanya Tiara kepo.
" Oh, tadi gue telpon tapi lo nggak angkat trus gue coba telpon Hesti nanyain katanya coba cek ke sini karena waktu di sekolah tadi sempat dengar lo bilang mau ke perpustakaan sore ini". jelas Zian panjang lebar.
Tiara hanya manggut-manggut mendengarkan.
Tiara melotot mendengar kalimat terakhir Zian.
" Kok kucing sih?"
"Iya lo kan imut banget kayak kucing".goda Zian lagi.
Tiara hanya tersenyum malu.
Zian mengacak rambutnya lembut.
Ah, ada perasaan hangat yang terbersit kala tangan kekar itu menyentuh kepalanya.
" Mau pulang atau mau di sini aja?" Zian membuyarkan rasa yang tanpa sengaja diciptakannya tadi.
"Mau pulanglah, masak mau di sini terus".
jawab Tiara enteng.
"Yuk gue anterin".
" Beneran nih?"
"Iya, bawel ".
hehehehe
Zian segera berjalan menuju ke tempat motornya diparkir diikuti oleh Tiara di belakangnya.
Saat Tiara sudah duduk di belakangnya, Zian langsung menarik kedua tangan Tiara agar memeluk pinggangnya.
Gadis itu hanya terdiam dengan wajah bersemu merah menahan malu.
Motor hitam itupun mulai bergerak lambat melewati pertokoan yang berjajar di setiap sisi jalan kota.
Masih ada beberapa pengunjung yang masih berdiri di beberapa emperan toko. Mungkin masih menunggu gerimis pergi.
\*\*\*\*\*