Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 377_I Miss You So Much


"Lee ... o," suara halus itu menyebut namanya lagi dengan rendah. Dengan tatapan mata yang penuh kerinduan. Dan Leo langsung merebahkan tubuh Yuna di atas ranjang empuk mereka.


Seperti udara pada semesta tak dapat terpisahkan. Bagai cahaya dengan bulan, mereka sangat dekat. Sedekat jemari dalam genggaman erat.


Mata mereka bertemu, saling menatap penuh rindu, hidung mereka bertemu saling bergesekan bak biola hingga membuat jantung tak seirama.


Perlahan bibir mereka bertemu lalu bersatu dengan romantis. Berayun melekat lembut penuh candu. Menyesapnya bak manis madu.


Leo mengigitnya pelan membuat suara Yuna lolos dari daru nafasnya yang berat. Tangan kanannya dengan teratur menurunkan tali dipundak Yuna. Kemudian menari halus menggelitik di bagian-bagian tubuh Yuna.


"Umm, sayang," Yuna menghindar. "Hentikan," ujarnya. Tangannya mengambil tangan Leo yang berada di dadanya. Membawa tangan itu pada bibirnya. "Kau baru saja sembuh," Yuna memandang dengan penuh kekhawatiran. Dia mencium tangan Leo.


Leo mengangguk samar, dia terlanjur tenggelam dalam gairah yang hampir meledakkan jantungnya. Ibu jarinya mengusap bibir Yuna dengan lembut, sorot mata tajamnya tak lepas dari wajah Yuna. Jari itu membuka bibir manis Yuna dan Leo kembali mengambil ciumannya lagi. Menikmatinya dengan rakus penuh tuntutan.


"Ough ...." hanya ada desahan dari Yuna. Dia tidak lagi mampu untuk menghindar. Yang ada ... dirinya juga tenggelam dalam gelora gairah yang indah.


Mendekap merayu dan bersatu. Menciptakan alunan lagu yang merdu dari deru nafas bak gelombang ombak di lautan. Suara desah indah bak nyanyian alam yang bersatu. Kemudian berubah menjadi lelehan salju yang lembut.


Leo merebahkan tubuhnya di samping Yuna.


"Apa ada yang kau rasakan pada punggung mu?" Yuna bertanya dengan khawatir. Dia mengusap keringat di kening Leo.


"Tidak ada," jawab Leo dengan gelengan. Dia menarik Yuna dan membuat Yuna memeluknya.


"Kau bandel," ujar Yuna. Dia memukul dada Leo pelan. "Kau baru saja sembuh, baru saja kembali."


"Stttttt ...." Leo mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala Yuna. "Aku tidak bisa menahan untuk tidak segera memakanmu. Kau adalah hidangan terlezat yang ada di dunia ini."


Bibir Yuna berkedut menahan senyumnya.


"Lebay," ujar Yuna malu. Dia melepaskan pelukannya dan beranjak. Yuna segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia duduk di atas ranjang. "Yuukk," ajaknya.


"Kemana?" tanya Leo dengan polos.


"Bersihkan dirimu. Minum obat lalu istirahat," jawab Yuna. Dia menarik lengan Leo.


Mereka berdua membersihkan diri di kamar mandi, saling menyabuni penuh canda dan cinta.


Setelah selesai membersihkan diri. Yuna memberi Leo obat kemudian mereka berdua terlelap dalam tidurnya. Dekapan hangat membawanya terbang tinggi bersama mimpi-mimpi yang indah.


Pagi hari, pukul setengah lima pagi. Yuna terbangun dengan segera dan dia langsung melompat dari atas ranjang dan berlari ke kamar mandi. Lampu merah datang pada pagi ini.


Setelah memakai pengaman, dia kembali keluar dan naik ke atas ranjang. Yuna merebahkan dirinya dengan posisi menghadap ke arah Leo.


Leo merengkuh Yuna, ia menenggelamkan wajahnya di dada Yuna.


"Kenapa kau bangun seperti terkejut?" tanya Leo. Yuna tersenyum lebar.


"Lampu merah datang," jawabnya. Leo langsung mendongak menatap Yuna.


"Pagi ini kau datang bulan?" tanya Leo memastikan. Yuna mengangguk pasti. "Untung saja semalam terjadi. Jika tidak, aku bisa gila satu minggu karena menunggu mu," kata Leo.


"Hahaa ok ok, kau beruntung Tuan suami," jawab Yuna.


_______________________


Pada pukul lima pagi Leo keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri. Dia melangkah ke dalam kamar anaknya.


Baby Arai baru saja terbangun, dia masih tengkurap di atas kasurnya dengan malas. Leo mendekatinya.


"Good morning baby," sapa Leo. Baby Arai langsung membawa pandangannya pada Leo.


Mata bulat indahnya menatap Leo dengan seksama. Memperhatikan wajah Leo yang tersenyum menyapanya.



"Hai, kau baru bangun sayang?" ucap Leo lagi dengan senyum menyapa anaknya.


Baby Arai diam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum dengan manis pada Daddy-nya.



"I miss you so much," ucap Leo penuh kerinduan. "Jagoan Daddy yang tampan."


"Ooo ... addd, aamm," Baby Arai dengan semangat mengangkat kepalanya lalu bersiap untuk merayap. Leo menyambutnya dan langsung menghujaninya dengan ciuman.


Baby Arai berceloteh dengan bahasanya yang lucu. Dia mengigit pipi Leo, menepuk-nepuknya, dan dengan bahagia dia melompat-lompat di pangkuan Leo.


"Aeaaa ... addd, umm," Baby Arai mencium hidung Daddy-nya.


Leo merebahkan tubuh anaknya diatas kasur dan menciumnya. Menggelikitik perutnya. Bermain gerak jari, ciluk ba dan semua yang ingin anak dan Daddy itu lakukan.


"Siapa yang masih bau aceem ...." ledek Leo sambil menggelikitik perut anaknya. Baby Arai tertawa dengan bahagia. Kedua kakinya bergerak bersamaan menahan geli.


"Mandi dulu Yuk. Setelah mandi nanti, Daddy bakal memberimu banyak hadiah," ucap Leo. Dia mempersilahkan perawat untuk memandikan anaknya. Sementara dia kembali keluar kamar dan menuju teras samping. Ada Vano disana tengah duduk bersama Papa. Leo mendekat dan ikut bergabung.


"Bagaimana keadanmu?" tanya Papa langsung.


"Sudah sangat baik, Pa. Tidak terasa apapun," jawab Leo. Masa pemulihan sudah di jalani di rumah sakit. William memang sengaja menahannya di rumah sakit agar dia bisa mengobrol dengan langsung kondisi Leo. Setelah benar-benar pulih, dia baru yakin untuk memperbolehkan Leo kembali kerumah dan menemuinya.


Mereka berbincang-bincang ringan tapi kemudian Papa pamit untuk masuk kedalam karena ada panggilan telepon dari asisten pribadinya yang ada di negara I.


"Bagaimana rencana pernikahan kalian?" tanya Leo pada Vano.


"Hanya tinggal menunggu hari dan waktu yang tepat," jawab Vano. Leo mengangguk.


"Apa kau sudah menceritakan semuanya pada Neva? Tentang mu dan Yuna," tanya Leo rendah. Hatinya sakit saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Sudah, aku sudah menjelaskan semua padanya," jawab Vano dengan suara rendah juga.


Leo mengangguk lagi, "Aku tidak ingin dia menyalahkan Yuna. Jika harus menyalahkan maka salahkan aku saja. Aku tidak ingin dia memandang Yuna dengan prasangka buruk. Aku juga tidak ingin memandangmu dengan prasangka buruk ku. Titik kesalahan awal ada padaku."


"Tidak hanya ada padamu," sahut Vano. "Kesalahan itu juga ada padaku. Tidak seharusnya aku masuk ke dalam hubungan kalian, bagaimana pun keadaannya waktu itu," ujar Vano.


"Semua telah terlewati. Semoga masing-masing kita saling mengerti dan menekan ego dengan semua emosi buruk yang ada," Leo mengambil nafasnya panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. "Aku sudah pulih, jadi ... tentukanlah hari dan tanggal yang kalian inginkan."


____________


Catatan Penulis 🥰🙏


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 padamu. Jempolnya digoyang ....


Luv Luv.