Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 387_Jangan Bohongi Hatimu


Sesampainya di rumah besar keluarga Nugraha. Mereka berbincang-bincang ringan di ruang tengah, sementara Yuna langsung ke kamar Baby Arai untuk membuat anaknya tidur. Malam masih begitu dingin, Yuna menyelimuti anaknya dengan hangat. Kemudian, setelah memastikan jika Baby Arai tidur dengan nyenyak, ia meminta perawat untuk menjaganya.


Yuna langsung kekamarnya dan membersihkan dirinya. Tak lama, pintu kamar mandi di ketuk. Bibirnya tersenyum lebar, dia sudah sangat hafal ucapan yang akan ia dengar saat pintu kamar mandi diketuk.


"Sayang, apa kau di dalam?" tepat. Pertanyaan dan ucapan yang sama seperti biasanya.


"Ya," jawab Yuna. Sambil memakai jubah handuknya. Ya, dia sudah selesai mandi.


"Buka pintunya, biarkan aku masuk," pinta Leo dibalik pintu.


"Sebentar," jawab Yuna. Kemudian, ia membuka pintu kamar mandi dan tersenyum menatap Leo.


"Kau sudah selesai?" tanya Leo. Dia memblokir akses keluar.


"Umm sudah," jawab Yuna.


"Kenapa tidak menungguku?" Leo maju satu langkah untuk membuat Yuna mundur satu langkah.


"Aku menunggumu, kau saja yang terlalu lama kesini," jawab Yuna. Leo maju dua langkah, dan Yuna mundur dua langkah. "Biarkan aku keluar," ucap Yuna. Dia mendongak sedangkan tangannya mencoba menahan tubuh Leo.


"Keluar saja, jika bisa," jawab Leo. Dia semakin membawa Yuna masuk ke dalam.


"Aku ngantuk sekali," akting wajah lelah dan menguap pun terjadi. Yuna beberapa kali membuka mulutnya untuk menguap.


Leo menunduk dan menempelkan bibirnya di telinga Yuna, "Tidurmu akan semakin nyenyak setelah kita mandi berdua, sayang," bisiknya halus.


"Aku, baru saja selesai mandi," ucap Yuna. Dan ... air shower langsung jatuh menghujani tubuhnya. "Hei, kau," Yuna menatap Leo dengan tajam. Leo yang dengan licik membasahi handuknya. Tangan Yuna mendorong tubuh Leo, tetapi kedua tangannya langsung diikat dengan satu genggaman tangan Leo. Mengangkatnya keatas. Leo menunduk untuk mengambil ciumannya. Pada akhirnya, Yuna kalah untuk menghindar. Di bawah guyuran shower hangat, bibir mereka saling terpaut dengan mesra. Tangan Leo membuka jubah handuk Yuna dan ia mulai mabuk dalam kegilaan.


________


Pagi harinya setelah sarapan. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Papa menjelaskan tentang rencana pernikahan Neva. Mama dengan hangat memeluk putrinya dan sesekali mencium kepala Neva.


"Dimas tiga hari sebelum hari H, akan datang," ujar Papa. "Papa juga sudah menghubungi Ayah dan keluarga Yuna untuk hadir."


Yuna tersenyum lebar dengan bahagia, "Terima kasih, Pa," ucap Yuna yang di jawab anggukan Tuan besar Nugraha.


Kemudian, setelah selesai. Papa dan Mama pamit untuk berkunjung ke rumah rekan. Sekarang, tinggal Leo, Yuna dan Neva.


"Kak Lee," panggil Neva rendah. Dia harus menanyakan tentang ini. "Aku ingin bertanya sesuatu."


"Tanya apa?"


"Hmm sebelumnya maaf jika pertayaan ku menyinggung," ucap Neva. Leo dan Yuna menatapnya. "ini tentang Kak Alea," ucap Neva pelan. Leo dan Yuna langsung bertukar pandangan. Alea?


"Kenapa dengan dia?" tanya Leo.


"Apa Kak Lee dan Kak Yuna ada masalah dengan Kak Alea?" Neva bertanya dengan sangat hati-hati. Dia takut pertayaannya adalah sesuatu yang tidak disukai oleh kakaknya.


Leo ingin segera menjawab, tetapi Yuna segera mengeratkan genggaman tangannya. Isyarat untuk jangan menjawab. Biar aku saja.


Dengan senyum, Yuna memberikan jawaban, "Tidak ada. Kita baik-baik saja. Kau ingin mengundang dia bukan? Hmm kalian berteman dengan sangat baik dan aku tahu jika Alea adalah orang yang berjasa untuk mu."


Neva mengangguk samar. Dia tidak yakin dengan jawaban Yuna. Sementara Leo tidak setuju jika Neva mengundang Alea. Namun dia masih diam.


"Sungguh kalian tidak ada masalah?" tanya Neva lagi. "Apakah sungguh tidak apa-apa jika aku mengundangnya?" Neva menatap Leo.


Yuna mengangguk, "Ya, undang saja," jawab Yuna. Leo kecewa dengan jawaban itu. Dia berharap Yuna tidak mengizinkan Neva untuk mengundangnya.


"Kak Lee," panggil Neva. Dia ingin kakaknya memberi jawaban.


"Terserah kalian saja," jawab Leo singkat. Kemudian menarik tangannya dari genggaman Yuna. Dia beranjak. Namun tangan Yuna langsung menahannya. Yuna kembali menggenggam tangannya. Kemudian, Yuna menatap Neva.


"Neva. Sejujurnya memang ada masalah diantara kami. Mmm, jiika bisa, tolong jangan undang dia," ucap Yuna. Dia mengambil nafasnya dalam, "Alea mencintai Leo," lanjutnya pelan. Hatinya sakit.


Neva terperangah mendengar itu. Mulutnya terbuka karena terkejut. Matanya melebar selebar lebarnya. Kedua tangannya terangkat untuk menutup mulutnya. Otaknya membeku beberapa saat mendengar apa yang Yuna katakan.


"Kak Alea, mencintai Kak Lee?" gumamnya. Dia menarik mundur ingatannya pada makan malam kala itu. Saat Alea menjawab bahwa Januar adalah nama seseorang yang berada di hatinya. Janur ... itu berarti, Januar yang Alea maksud adalah benar Januar Nugraha, kakaknya. Neva menggelengkan kepalanya. Dia sungguh tidak menyangka akan hal itu. Bagaimana bisa Alea mencintai kakaknya?


Yuna berdiri dan memeluk Leo dari belakang. Menempelkan pipinya di punggung Leo.


"Sayang," panggilannya.


"Jangan terlalu sering membohongi hatimu Yuna. Dan satu lagi, jangan menganggap bahwa dirimu dan hatimu sangat kuat," ucap Leo. Yuna mengangguk. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan membuat dirinya berdiri di depan Leo.


"Kau sudah rindu rumah?" tanyanya.


"Hu'um," Yuna mengangguk dengan imut. "Tentu saja, rindu rumah, rindu kastil ...." ucap Yuna.


"Aku telfon Albar dulu untuk menjemput kita," kata Leo.


"Neva, kita kedepan dulu," ucap Yuna dengan senyum.


"Iya, kak," jawab Neva mempersilahkan.


____________


Neva masih diam ditempat duduknya seperti patung. Dia masih memikirkan tentang Alea yang ternyata mencintai kakaknya.


"Jadi ... selama ini, Kak Alea diam-diam menyimpan rasa dengan Kak Lee?" gumamnya. Dia membuat panggilan pada Vano, memberi tahu keadaan yang sebenarnya. Vano pun sama terkejutnya dengan Neva.


"Jadi itu yang sebenarnya terjadi?" tanya Vano di seberang sana.


"lya. Jadi bagaimana?" jawab Neva sekaligus bertanya.


"Mungkin tidak perlu mengundangnya. Kau tahu sendiri bagaimana kakakmu," jawab Vano. Neva mengangguk. "Dari pada membuat Leo dan Yuna tidak nyaman, lebih baik tidak usah mengundangnya."


Neva mengangguk lagi membenarkan ucapan Vano.


"Kau sedang apa?" tanya Vano kemudian.


"Duduk santai saja di ruang keluarga. Kita baru saja membahas tentang konsep pesta nanti," jawab Neva. "Kau sedang apa?"


"Memikirkanmu," jawab Vano yang membuat Neva tersenyum lebar diseberang sana.


"Puffth, kau ...." ujar Neva malu. "Aku serius, kau sedang apa?"


"Aku juga serius, aku memikirkan mu," jawab Vano. "Sayang, aku merindukanmu," ucap Vano lagi.


"Ummm, merindukanmu juga," jawab Neva malu-malu.


_______________


Sore hari, supir Albar menjemput majikannya. Dia dengan semangat memarkirkan mobilnya di halaman rumah keluarga besar Nugraha.


"Selamat sore Tuan muda," sapanya sopan. Leo menjawabnya dengan anggukan. Sudah biasa, itu memang gaya bossnya. Kemudian, Yuna keluar dari dalam sambil menggendong Baby Arai. Albar menatapnya dengan bahagia. Dan dia semakin bahagia saat mendapat lambaian tangan dari Baby Arai. Albar segera membalas lambaiannya.


"Selamat sore Nyonya muda, Tuan kecil yang tampan," sapa Albar pada Yuna dan Baby Arai.


"Sore, Albar," balas Yuna.


Neva lebih dulu mencium pipi gembul Baby Arai sebelum keponakannya pamit.


"Bye bye," kata Neva. Yang langsung disambut lambaian tangan mungil Baby Arai. "Hmm beri Tante ciuman mu dulu," Neva menyodorkan pipinya dan Baby Arai dengan patuh mencium pipinya. Setelah itu, Neva membiarkan Yuna dan Leo membawa Baby Arai untuk pulang.


"Salam buat Papa dan Mama," ucap Yuna. Saat ini, papa dan mama belum kembali. Mereka masih sibuk dengan jamuan rekan-rekan. Sekaligus memberi tahu jika anak gadisnya akan segera melepas masa lajang.


"Hati-hati," ucapnya seraya melambaikan tangannya.


"Iya, Tante ...." jawab Yuna dengan merubah suaranya menjadi kecil. Baby Arai tidak diajarkan untuk kiss bye. Leo tidak menyukai gerak dan cara berpisah dengan itu. Menurutnya, Kiss bye adalah sesuatu yang genit. Jadi dia tidak mengajarkan itu pada anak laki-lakinya. Baby Arai juga tidak diajarkan untuk menumpuk tangannya meminta sesuatu. Jangan meminta tetapi memberi. Itu yang diajarkan turun temurun dari kakeknya.


Mobil Leo pelan meninggalkan rumah besar keluarga Nugraha.


Sementara Neva langsung menghubungi Lula. Dia bosan ada dirumah.


"La, bantu aku mencatat dan mengingat teman-teman yang akan hadir nanti," ucap Neva.


____________________


Catatan Penulis


Jangan lupa like komen vote ya kawan tersayang πŸ₯° padamu πŸ₯°πŸ™


Yang punya poin, poin, poin, yuukk... Kuy, Vote ya. Terima kasih. Ilupyu.


Bersambung. Nantikan Up selanjutnya ya. πŸ₯°πŸ™πŸ€—