
Setelah selesai berdiskusi dengan Papa, Leo segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Yuna.
"Apa kau masih menginginkan makanan sepanjang jalan yang ku lalui?" Leo mengirim pesannya. Dan Yuna dengan segera membalasnya.
"Tentu saja," isi pesan dari Yuna.
"Baik," balas Leo.
"Apa kau masih lama?" Tanya Yuna dalam pesannya.
"Sudah selesai," balas Leo.
"Menunggu mu sayang," balas Yuna. Dan chat berakhir. Leo kembali memasukkan ponsel milik nya ke dalam saku.
"Bagaimana keadaan Yuna?" Tanya Papa. Beliau menyesap kopinya sedikit dan kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
"Baik," jawab Leo. "Dia sempat bersin-bersin karena hujan-hujanan, dia sangat susah untuk diberi tahu," lanjut Leo. Papa terkekeh. Beliau tahu, Leo memiliki tingkat kekhawatiran yang berlebih, dia memiliki tingkat kecemasan yang tinggi.
"Apa dia sempat demam?" Tanya Papa perhatian.
Leo menggeleng, "Tidak dan jangan sampai," jawab Leo. Papa mengangguk.
"Jaga dia dengan baik," perintah Papa dengan halus.
Leo tersenyum, "Pasti," jawabnya. Kemudian, dia kembali mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Dia memperlihatkan video yang dia rekam minggu lalu pada papa. Video ketika Yuna melakukan pemeriksaan kandungan rutin.
Papa langsung mengambil ponsel dari tangan Leo dan memperhatikan video itu dengan sangat bahagia.
"Sepertinya, baby ini akan lebih mirip kamu," ujar Papa dengan tawa kecil bahagia.
"Ya tentu saja," jawab Leo dengan bangga. Dia mendapat satu suara. Dia akan meledek Yuna nanti.
Setelah selesai menonton video itu, Papa mengembalikan ponsel milik Leo. Lalu memencet tombol pada ponselnya.
Cring, ponsel Leo mendapat pesan baru. Pesan pemberitahuan bahwa akun miliknya mendapatkan transferan sejumlah uang. Membaca ini, Leo langsung mengangkat wajahnya dan menatap Papa.
Papa tersenyum, "Jangan GeEr," ucap beliau mendapat tatapan mata penuh tanya dari Putranya. "Itu untuk Yuna dan calon cucu Papa," lanjutnya menjelaskan. Leo tersenyum. "Belikan apapun yang dia inginkan, penuhi apapun yang dia mau."
"Terima kasih Pa," ucap Leo.
"Ya, Papa hanya bisa memberikan itu untuk Yuna dan calon cucu. Rasanya Papa tidak sabar lagi ingin segera menimangnya," ujar Papa dengan hati yang bahagia. Beliau menatap Leo. Menatap putranya dengan kasih sayang seorang Ayah yang begitu tulus.
"Dia memesan semua makanan sepanjang jalan yang ku lewati," ucap Leo dengan tawa kecil. Dia membayangkan betapa banyaknya makanan yang akan dia beli. Dan dia membayangkan jika Yuna hanya akan memakannya sedikit.
Papa tertawa mendengar permintaan itu.
"Itu banyak sekali," ucap Papa. Pemikiran beliau sama seperti Leo. Dan mereka berdua saling tertawa bersama.
Pukul 20:15 dia keluar dari markas besar.
Dia meminta supirnya untuk berhenti di tempat makan dan toko cemilan yang mereka lewati. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah.
Mobil Leo melenggang masuk ke halaman rumahnya. Supir memelankan lajunya. Ada satu mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Dia mengerutkan kening, ada tamu? Pikirnya. Dia segera keluar setelah supir membukakannya pintu. Dia mengangkat tangannya dan Albar langsung melangkah menuju ke arahnya.
Leo memerintahkan Albar untuk membawa masuk semua makanan yang dia beli. Kemudian, dia melangkah menuju pintu utama. Tentu saja, Yuna sudah membukanya sebelum ia mengetuk. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kerinduan.
"Sayang," panggilannya pelan dan langsung mengusap perut Yuna yang semakin buncit. Yuna langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Leo.
"Kau merindukan ku?" Tanyanya genit. Dia memasang wajah imutnya. Leo menunduk dan langsung mencium bibirnya.
"Umm," Yuna berusaha sedikit mendorong tubuh Leo. "Umm," dia melepaskan ciumannya. "Sayang," ucapnya, dia menghindar. Namun Leo menyerbunya lagi. "Hei, hei ... Tuan suami," Yuna menahannya. Ini bahkan masih di depan pintu.
Albar sedikit melirik adegan itu, begitu juga dengan supir kantor Leo. Indahnya hidup ini, batin mereka.
Yuna menggandeng lengan Leo untuk masuk kedalam. Dia memberi isyarat pada Albar untuk membawa semua makanan ke taman samping sebelah kolam renang.
"Ada Kak Er, disini," ucap Yuna. Leo menaikkan alisnya. Dia sudah lupa jika ada mobil yang terparkir di halaman..
"Jadi itu mobil Karel?" Tanya Leo.
Yuna mengangguk, "Ya," jawabnya. "Ada Alea juga," lanjut Yuna.
"Dia?" Tanya Leo heran. Bukankah Yuna sudah bilang jika dia tidak suka dengan cara pandang mata Alea padanya.
"Ya," jawab Yuna. "Aku memikirkan tentang makanan yang akan kau bawa pulang. Itu pasti sangat banyak jadi aku mengundang mereka," lanjut Yuna.
Leo mengangguk pelan.
"Apa kau keberatan?" Tanya Yuna.
"Selama kamu bahagia, tidak ada kata keberatan," jawab Leo.
"Umm, manisnya," ucap Yuna dan langsung mencubit pipi Leo dengan gemas.
Mereka menaiki tangga untuk ke atas menuju kamar mereka.
"Kenapa kau mencubit pipi ku? Harusnya kau mencium ku," ujar Leo dengan mengambil tangan Yuna yang seperti kepiting, begitu menempel di pipinya.
"Kau sudah mengambil ciuman mu, Tuan suami," jawab Yuna dengan terkekeh.
"Tapi kau belum mengambil ciuman mu, sayang," jawab Leo.
"Tidak ada bedanya, bibir kita bertemu."
"Tapi aku yang berinisiatif mencium mu lebih dulu."
"Tapi aku membalas ciuman mu, hayo ...." ucap Yuna. Leo terkekeh.
"Dimana mereka sekarang?" Tanya Leo.
"Di taman samping," jawab Yuna. Saat ini, mereka sudah berada di dalam kamar. Yuna dengan perhatian melepaskan dasi dan membuka satu persatu kancing kemeja yang Leo kenakan. Hmmm, kenapa aroma tubuhnya begitu menggoda. Yuna mengusap dadanya dengan lembut.
"Mandi, ku tunggu di bawah," ucapnya. Dia mengendus sebentar aroma khas tubuh Leo lalu menjinjit dan mencium pipi Leo. Tangan Leo dengan otomatis memeluk pinggangnya. "Sudah, ah."
"Lagi," Leo tersenyum menggodanya.
"Nggak," jawab Yuna dan langsung mendorongnya . "Ku tunggu di bawah," ujarnya. Lalu dia membalik badan dan melangkah untuk keluar dari kamar. Dia mengatur nafasnya yang sempat memburu. Mengatur irama jantung nya yang berdegup kencang. Astaga, Leo selalu membuatnya bergetar.
Di sana, makanan sudah di tata dengan rapi. Alea sedang menata sendok di meja panjang.
"Waah .... " Yuna memperhatikan makanan yang begitu banyak tertata di atas meja. Makanan yang berbeda-beda. Dia mengambil satu French Fries lalu memakannya. "Terima kasih Alea sudah menatanya," ucap Yuna pada Alea.
"Iya," jawab Alea dengan senyum. Kemudian, Yuna berjalan menghampiri Karel yang duduk di bangku samping kolam renang.
"Hati-hati," ujar Karel ketika melihat Yuna berjalan menujunya. Yuna mengangguk. Kemudian, dia duduk di bangku yang berbeda di sebelah Karel.
"Kak Er," panggilannya.
"Ya," jawab Karel. Dia menatap Yuna.
"Kau dan Adel, apa kalian sering berkomunikasi?" Tanya Yuna.
"Sudah jarang," jawab Karel. "Dulu sering, tetapi jadwal yang padat membuat kita jadi jarang chat," jawab Karel. Yuna mengangguk.
"Bulan depan mungkin dia akan main kesini," ucap Yuna.
"Oh ya?"
"Huum," Yuna mengangguk. "Aku tidak bisa perjalanan jauh, Leo tidak mengizinkannya, jadi mereka yang kesini," lanjut Yuna.
"Mereka? Ayah mu, nenek, dan yang lainnya?" Tanya Karel.
"Iya," jawab Yuna.
"Pasti bakal ramai," sahut Karel. "Jika tidak keberatan, bagaimana jika aku yang menjemput Adel di bandara nanti?" Karel menawarkan diri. Yuna menatapnya.
"Serius??" Tanya dengan senyum ragu dan tidak yakin.
"Serius," jawab Karel.
"Apa kau akan membuat gosip baru Chef Karel?" Tanya Yuna menggodanya. "Gosip mu dengan penyanyi itu belum reda bukan?" Lanjutnya.
Karel terkekeh, "Biar tambah panas," ucapnya dengan tawa kecil.
Kemudian, Leo datang dan melangkah ke meja panjang di taman. Ada Alea di sana. Dia sudah selesai menyiapkan semuanya ketika Leo datang ke meja itu.
"Selamat malam, Tuan muda Lee," sapanya dengan sangat lembut. Dia membungkukkan sedikit badannya. Sapaannya dijawab anggukan pelan oleh Leo. Alea sekilas memperhatikan wajahnya. Begitu tampan. Wajah Leo yang baru saja selesai mandi terlihat sangat berseri, hidung Bangir dan bibir seksinya. Mata Alea termanjakan oleh pesona laki-laki ini. Aroma wangi tubuh Leo bahkan tercium olehnya, begitu manjakan hidung nya, begitu mendebarkan. Dia menunduk. Dia mencoba untuk tidak menyukai apapun dari laki-laki ini, bahkan senyumnya sekali pun.
Karel yang menyadari kedatangan Leo segera berdiri dan melangkah bersama Yuna menujunya.
"Selamat malam, Tuan muda Leo," sapanya ramah.
"Malam," jawab Leo dengan anggukan. Yuna mengusap lengannya. Ada perubahan, batinnya. Kemudian, mereka bertiga duduk di bangku di meja makan. Leo duduk berdampingan dengan Yuna, lalu Karel duduk berdampingan dengan Alea.
Leo mengambil segelas air putih lalu menyesapnya.
__Sementara disana. Di depan gerbang, Supir Albar langsung membuka gerbang setelah sebuah mobil berpenumpang yang sangat dia kenal menghentikan lajunya.
Mobil itu melenggang masuk ke halaman rumah Leo. Neva melihat satu mobil yang terparkir dan itu bukan milik Kakaknya.
"Sepertinya ada tamu," ucapnya . Vano mematikan mesin mobil nya dan membuka pintu mobil. "Kak Vano," panggil Neva menahannya. Vano segera menoleh ke arahnya.
"Ya," jawabnya. Namun dia segera sadar dan langsung memprotes Neva untuk panggilannya.
"Aku belum terbiasa," jawab Neva menatapnya dengan sedikit merona.
"Okey," jawab Vano. "Kau mau bilang apa?" Tanyanya.
Neva menatapnya dan dengan malu dia bilang, "Di depan mereka, jangan panggil aku dengan sebutan itu ... " pintanya.
Vano mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Emm, jangan lakukan saja," jawab Neva mencoba membujuk agar Vano benar-benar tidak memanggilnya dengan sebutan sayang didepan Leo dan Yuna m
"Kau malu?" Tanya Vano.
"Bukan, hanya saja ... aku belum terbiasa," jawab Neva dengan pelan. Jawab yang sama yang ia berikan tadi.
"Okey," jawab Vano. Kemudian dia membukakan pintu untuk Neva.
"Terima kasih Kak Vano," ucapnya.
"Sama-sama, sayang," jawab Vano yang langsung membuat Neva tersipu. Dia memukul lengan Vano pelan.
"Kau sudah bilang okey, itu berarti, kau tidak akan memanggil ku dengan sebutan itu," Neva memperingatkan nya.
"Ini belum di depan mereka bukan?" Jawab Vano. Neva mengerucutkan bibirnya dan kemudian melangkah. Namun Albar segera menghampirinya dan memberi tahunya bahwa Leo dan Yuna ada di taman samping.
"Terima kasih, Kak Albar," ucap Neva pada Albar.
"Sama-sama, Nona Neva," jawab Albar.
Kemudian, Neva melangkah dan Vano langsung meraih tangannya, menggenggam jemari nya. Dengan refleks, Neva langsung menarik tangan tetapi dengan cepat, Vano meraihnya kembali.
"Kak .... " panggilannya, dia menoleh ke arah Vano dan menatapnya.
"Kenapa? Belum terbiasa lagi?" Tanya Vano. Neva tidak memberi jawaban tetapi dia masih menatap Vano, tatapan yang mewakili jawabannya. Iya, dia masih malu dan belum terbiasa. "Biasanya ... kita jadi jomblo teraniaya di depan mereka berdua, sekarang, ayo kita saingi," ucap Vano dengan semangat.
Neva tertawa ringan. Benar juga, batinnya.
"Yap, ide bagus," jawabnya.
"Okey."
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Terima kasih untuk semuanya, yang selalu merindukan Up.
Saaaayang kalian semua. Terima kasih yang dengan sabar menunggu Up.
Jangan lupa jempol di goyang ya gaes. Luv luv. πππ₯°