Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 208_Jangan Menghindari Ku


"Apa dia bilang barusan? Kencan?" Tanya Leo pada Yuna, dan dijawab angkatan bahu oleh Yuna. "Dia suka cowok lain selain Vano?" Tanya Leo lagi. Kemudian, Yuna mengambil ponsel milik Leo dan membuka aplikasi pencarian.


"Ok Embah artis Raizel," ucap Yuna. Dan si Mbah langsung memberikan banyak sekali informasi tentang Raizel dan tentunya gosip tentang kedekatannya dengan Neva. Sebenarnya, Neva beberapa kali mendapat undangan dari acara gosip dan beberapa talk show tetapi dia menolaknya.


"Aku tidak tahu mereka sudah jadian atau belum tapi Raizel beberapa kali kesini dan mereka berdua jalan-jalan bersama," jelas Yuna setelah Leo melihat berita dan Vidio tentang Raizel dan Neva. Tentu, dia tahu dan kenal dengan orang tua Raizel.


"Bagaimana menurut mu?" Tanya Leo. Dia membaringkan dirinya di sofa dan meletakkan kepalanya di paha Yuna. Ini... agar dia dekat dan bisa mendengar degupan indah yang berada didalam perut Yuna.


"Emmm, menurut ku... mereka berdua hanya teman. Menurut ku, Neva masih mencintai Vano tetapi dia menghindar. Kau tau alasannya bukan?" Yuna menjawab dan juga memberi pertanyaan. Dia menunduk dan menatap Leo. Tangan Leo terangkat dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Aku sudah berbicara banyak dengan dia, malam itu. Aku sudah memberinya restu dan kita pasti bisa melewatinya dengan mudah tapi anak itu terlalu keras kepala," jawab Leo. Dia takut Yuna sedih dan menyalahkan dirinya.


Yuna mengangguk samar. Dia ingat apa yang Vano katakan padanya. Bahwa, Neva menolaknya


karena dia tidak ingin Vano hadir dalam sebuah hubungan yang didalamnya ada seseorang yang membencinya. Dia tidak ingin Vano terluka dan juga tidak ingin Leo terluka. Dua laki-laki yang sangat dia sayangi.


Yuna menghela nafasnya. Tangannya mengusap rambut Leo dengan perhatian. Dia tersenyum tipis.


"Sayang, apa kau masih membenci Vano?" Tanyanya pelan. Sepasang bola matanya menatap Leo dengan sendu.


"Benci?" Leo menyunggingkan bibirnya. "Sepertinya aku masih membencinya," jawab Leo. Wajah Yuna langsung berubah sedih mendengar jawaban itu. "Hei...." Leo langsung mengangkat kepalanya dan kemudian memeluknya. Dia mencium rambut Yuna penuh kasih, "Aku memang masih membencinya tetapi aku rela jika mereka bersama," Leo meletakkan tangannya di perut Yuna dan mengusapnya pelan. "Jangan pikirkan apapun okey," lanjutnya.


__Neva melangkah keluar gerbang menemui Raizel.


"Hai, kau menyetir sendiri?" Tanya Neva setelah berada di samping mobil Raizel.


"Bagaimana bisa aku membiarkan dua makhluk itu menganggu kita," jawab Raizel dan kemudian membuka pintu mobil untuk Neva.


Mobil melaju sedang melewati kepadatan lalu lintas Ibu Kota.


Neva menyarankan untuk ke pantai yang sepi pengunjung.


"Lusa kau wisuda?" Tanya Raizel dengan masih fokus pada jalanan.


Neva mengangguk, "Iya," jawabnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan membuat sebuah foto. "Hallo Artis Raizel...." ucapnya dengan senyum. Raizel segera menoleh ke arahnya dan Klik... satu foto telah terbuat.


"Aku akan mengirim ini ke ponsel mu," ucap Neva dan dia segera mengirim foto itu ke aplikasi pesan milik Raizel.


Sepanjang perjalanan, mereka konser di dalam mobil. Mereka bernyanyi menirukan lagu yang Raizel putar lewat audionya.


Setelah hampir tiga jam perjalanan, mereka sampai di sebuah pantai yang sepi. Pantai yang tenang.


Langkah kaki dua remaja itu menapaki pasir yang langsung membuat langkahnya membekas di atas pasir.


Di pinggir pantai, Neva dan Raizel berdiri menatap jauh kedepan. Melihat ombak yang berkejaran dan langit biru yang cerah nyaris tanpa awan. Raizel tidak memakai kacamatanya lagi. Dia ingin bebas, sebebas burung elang yang terbang ke arah mana saja yang dia mau.


"Apa kau bisa melukis di atas pasir?" Tanya Neva. Matanya memperhatikan ke sekeliling.


"Bisa dong," jawab Raizel, "Apa kau mau ku lukis?" Tanyanya.


"Hahaa, aku tidak yakin," Neva tertawa ringan, dia menatap ragu pada Raizel. Kemudian, Raizel berlari menjauh darinya. Neva memperhatikannya. Memperhatikan Raizel yang berlari menjauh dan seperti mengambil sesuatu. Kemudian, Raizel segera membawa langkahnya kembali ke depan Neva.


"Siap?" Raizel memamerkan kayu kecil di tangannya. Neva tertawa dan mengangguk.


"Sungguh kau bisa melukis?" Tanya Neva dengan ragu dan dengan nada mengejeknya.


"Akan ku buktikan sekarang Nona...." jawab Raizel dan langsung menggerakkan kayu di tangannya di atas pasir. Neva memperhatikannya, setiap goresan kayu di atas pasir. Tangan itu seolah sangat lincah membuat goresan-goresan di atas pasir.


Dan.... inilah hasilnya....


Neva tertawa terbahak-bahak melihat hasilnya.


"Kau melukis Dora?" Tanya Neva dengan masih tertawa. "Ini bahkan sangat jelek," lanjutnya meledek.


"Aku melukis mu. Lihatlah, ini sangat mirip dengan mu" kata Raizel. Dia menunjuk wajah Neva dan lukisannya, meyakinkan bahwa mereka sangat mirip. Membuat Neva langsung berkacak pinggang. "Wajah mu sangat mirip dengan Dora, hahaaa.... bahkan lebih jelek lagi."


"Apa kau bilang?" Neva melebarkan matanya. Dia memelototi Raizel dengan galak. Dia bersikap untuk menghajarnya.


Kabur.... Raizel berlari dan Neva langsung mengejarnya. Seperti itulah pantai... bukan hanya tentang ombak, dan pasir tetapi juga tentang langkah kaki yang saling berkejaran.


"Berhentilah, kau...." Neva berteriak dengan kencang. Teriakan yang terbawa angin dan menyampaikannya pada seseorang yang sudah berlari lebih dulu darinya. Pada akhirnya... Raizel mengalah dan berhenti. Melihat Raizel berhenti dari langkahnya, Neva segera mempercepat larinya dan mempersiapkan bogemnya.


"Rasakan ini...." dia masih berteriak dan kemudian memukul punggung Raizel dengan kesal, memukulnya berkali-kali. Mendapatkan pukulan itu membuat Raizel tertawa terbahak-bahak. Menjadi bebas itu sangat membahagiakan. Ternyata sesederhana ini.


Setelah beberapa kali melayangkan pukulan pada Raizel dengan kesal, akhirnya Neva berhenti.


"Kau sudah puas?" Tanya Raizel.


"Belum, aku ingin mencekik mu," jawab Neva menatapnya tajam. Kemudian, mereka berdiri bersampingan, menatap lurus ke depan. Kembali memperhatikan ombak yang berkejaran.


Neva merentangkan tangannya dan merasakan terpaan angin pantai yang membelai wajahnya.


"Ikuti aku," ucapnya pada Raizel. Raizel menoleh ke arahnya. Menatap Neva dari samping. Gadis ini merentangkan kedua tangannya, menengadahkan wajahnya dan memejamkan matanya.


Menurut, Raizel mengikutinya. Dia merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.


"Kau merasakan angin yang membelai wajah mu?" Tanya Neva tanpa membuka matanya.


"Ya," jawab Raizel.


Neva tersenyum, "Sejuk bukan?" Tanyanya.


"Ya," jawab Raizel dengan masih mempertahankan posisinya.


"Apa kau mendengar suara ombak?" Tanya Neva.


"Ya," jawab Raizel.


Neva tersenyum, "Suara ombak sangat indah bukan?" Tanyanya.


"Ya," jawab Raizel lagi.


Neva tersenyum, "Apa kau melihat pantai?" Tanya Neva lagi.


"Tentu saja tidak, karena mata ku terpejam," jawab Raizel dengan terkekeh.


"Jadi... apa yang kau lihat dalam gelap pandangan mata mu?" Tanya Neva. Pertanyaan ini tidak langsung mendapat jawaban dari Raizel. Namun tak lama, dia segera memberi jawaban.


"Kamu," jawabnya dengan senyum mengembang dibibirnya. Neva terkekeh mendengar jawaban Raizel. Kemudian, dia merasakan jemarinya tersentuh dan di genggaman dengan erat. Dia membiarkannya.


"Neva," panggil Raizel padanya.


"Ya," jawab Neva. Mereka masih menengadahkan wajah dan masih memejamkan mata.


"Jadi... apa yang kau lihat dalam gelap pandangan mata mu?" Tanya Raizel menirukan pertanyaan Neva padanya.


Neva tertawa ringan mendengar pertanyaan itu kembali padanya. Dalam gelap pandangan matanya, dia melihat wajah Vano, melihat senyumnya, melihat tatapan matanya. Namun, dia juga melihat wajah Kakaknya, melihat bagaimana mata itu terlihat sangat tidak nyaman ketika bertemu Vano. Dia tidak mungkin menyakiti hati dua laki-laki itu.


"Tidak ada," jawabnya. Ujung matanya kembali berair. "Kosong dan gelap. Aku tidak melihat apapun," lanjutnya.


"Oh ya?" Tanya Raizel.


"Heem," Jawab Neva mengangguk samar.


"Jadi, biarkan aku mengisinya," ucap Raizel.


Neva membuka matanya dan kembali menatap jauh ke depan.


"Aku akan pergi, Raizel," jawabnya. Mendengar itu, Raizel segera membuka matanya. Dia langsung menoleh ke arah Neva.


"Apa? Pergi?" Tanyanya untuk meyakinkan. Dia berharap, dia salah dengar.


Neva mengangguk dan menoleh ke arahnya. Mereka berdua saling menatap.


"Iya, aku akan pergi setelah wisuda," jawab Neva.


"Kau melanjutkan kuliah di luar negeri?" Tanya Raizel. Neva mengangguk lagi dan kemudian berpaling. Dia kembali menatap pantai dengan ombaknya.


Begitu juga dengan Raizel, dia tidak bisa memikirkan apapun. Neva akan pergi? Mereka berdua saling diam. Menikmati terpaan angin yang lembut.


Kemudian, Raizel menarik Neva untuk lebih mendekat ke pantai dan bermain dengan ombak.


"Tidak, tidak...." Neva menolaknya dan berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Raizel. Namun, Raizel dengan kuat terus menariknya, hingga dia tidak bisa kabur.


"Aa... aku tidak bawa baju ganti okey," Neva mencoba menghentikannya. Raizel tetap mengajaknya bermain dengan ombak.


"Aku merasa iri dengan ombak," kata Raizel pada Neva setelah Neva berhenti berontak.


"Kenapa?" Tanya Neva.


"Ombak saling berkejaran dan tidak akan lelah untuk terus berkejaran. Namun, aku mulai ragu dengan perasaan ku ketika mengetahui kau akan pergi. Sanggupkah aku menunggu mu, sanggupkah aku jauh dari mu," ucap Raizel, matanya menatap Neva dengan sedih. "Kenapa kau harus pergi?"


Neva melepaskan genggaman tangan Raizel. Dia melangkah menuju laut yang lebih dalam.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya Raizel mencoba menghentikannya.


"Kemarilah, ikuti aku," ajak Neva. Tangannya melambai meminta Raizel untuk mengikutinya. Dan Raizel segera mengikutinya. Neva terus berjalan ketengah dan Raizel mengikutinya.


Kemudian, Neva berhenti ketika ketinggian air tepat di atas pinggangnya. Raizel menyusulnya dan berdiri di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Raizel.


"Merasakan ombak," jawabnya. Raizel tersenyum mendengar jawabannya.


"Kau merasakan ombak?" tanya Neva.


Raizel mengangguk, "Iya," jawabnya. "Tapi lebih tenang," lanjutnya. Neva mengangguk.


"Seperti itulah sebuah ikatan hati Raizel," ucap Neva. Raizel menatapnya dan mengerutkan keningnya samar. "Dalam sebuah hubungan, ombak itu pasti ada, tetapi.... jika kau begitu dalam mencintainya maka ombak itu tidak akan begitu terasa," jelas Neva. Raizel masih menatapnya dengan pandangan matanya yang indah. "Namun, ada kalanya kau harus menyerah dan menepi ketika kau sadar bahwa semakin dalam, kau akan semakin tenggelam," lanjut Neva lagi. Raizel mengangguk mengerti. Dia meraih kedua tangan Neva dan menggenggamnya.


"Maukah kau menerima perasaan ku pada mu?" ucapnya. Dia berharap Neva mengangguk. Tidak masalah jika dia pergi.


Neva tersenyum mendengar ucapan cinta Raizel.


"Awalnya, kau adalah cowok yang menyebalkan, sangat menyebalkan menurut ku. Kau membuat hidup ku kacau dalam hitungan jam, kau juga cowok paling mesum, kau mengintip ku. Itu sangat memuakkan kau tahu," Neva terkekeh.


"Hahaa... aku tidak sengaja," jawab Raizel.


"Tidak sengaja?" Neva melebarkan matanya. Dia memelototi Raizel. Dan langsung menarik tangannya. Kemudian, mencubit lengan Raizel dengan kencang.


"Aaaaaahhhh, kau...." pekik Raizel.


"Kau sengaja mengintip ku," ucap Neva


"Aku tidak sengaja, suer....," jawab Raizel dengan mengacungkan dua jarinya.


"Okey," jawab Neva. Dia tidak ingin membahasnya lagi, itu akan membuatnya semakin malu.


"Raizel, mari tetap berteman," ucap Neva.


"Tidak, aku ingin kau menjadi pacar ku," jawab Raizel.


"Raizel...." Neva menatapnya. "Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan mu selain berteman."


"Jadi kau menolak ku?"


"Kita berteman, okey," Neva tersenyum dan meraih tangan Raizel. Dia menjabat tangannya. "Kita.... sahabat," ucap Neva.


"Hahaha...." Raizel tertawa dan membalas jabatan tangan Neva. "Okey," jawabnya. "Tapi kau harus tahu bahwa aku tetap akan mengharapkan kau menjadi jodoh ku. Kata orang... jika jodoh tak akan kemana," lanjut Raizel.


Neva mengangguk, "Okey, kita serahkan pada takdir," jawab Neva.


****@***


Raizel mengantar Neva kembali setelah senja menghilang.


"Kau habis pergi dengan Raizel?" Tanya Mama setelah mereka selesai makan malam. Mereka duduk di ruang keluarga.


"Iya," jawab Neva.


"Kau menyukainya?" Tanya Mama lagi. Neva menoleh ke arah Mamanya.


"Kita teman Mama. Aku hanya ingin membuat kenangan dengannya hari ini," jelas Neva. Mama mengangguk.


"Kau sungguh akan pergi?" Mama menatapnya dengan perhatian. Neva mengangguk pelan.


"Aku sudah di terima, jadi apa yang ku ragukan?" Jawab Neva. Sejujurnya, Mama kurang setuju dengan keinginan Neva untuk melanjutkan kuliah di luar negeri tapi dia tidak bisa memaksa Neva untuk tetap disini.


_Pukul 19.30 Neva keluar bertemu dengan teman-temannya. Mereka nongkrong dan membuat kenangan di salah satu restoran Korea.


Bercerita, bercanda, tertawa, bernyanyi dan saling berpegangan tangan.


"Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita.


Akan tiada lagi kini tawa mu tuk hapuskan semua sepi di hati.


Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala.


Ada cerita tentang masa yang indah saat kita berduka saat kita tertawa,"*


Dan tangan-tangan itu semakin berpegangan dengan erat, dan tangan-tangan itu seolah tidak rela untuk lepas. Banyak kisah yang terlalui bersama, banyak cerita yang tertulis bersama, banyak dongeng yang tercipta bersama. Mereka menunduk, dan sesenggukan. Ternyata, waktu begitu cepat berlalu, ternyata waktu begitu cepat terlewati.


Kawan... jangan pernah lupakan bahwa kita pernah tertawa bersama, kita pernah bersedih bersama, kita pernah bercerita bersama. Kawan... jangan pernah ragu untuk mengabari ketika kau nanti meraih apa yang kau impikan, jangan pernah ragu untuk mengabari ketika kau teramat bahagia, karena kita akan tertawa bersama menemani mu dalam rasa bahagia dan jangan pernah ragu untuk mengabari ketika kau sangat bersedih dan bahkan terpuruk karena kita akan menemani dan merangkul mu, membawa mu untuk menemui tawa kita kembali. Kawan... kita memang akan terpisah tetapi kita akan tetap dekat dalam hati.


Kemudian, mereka saling berpelukan dan saling tertawa kembali. Ini adalah proses, bertemu dan kemudian berpisah adalah hukum alam.


Setelah pukul 21.30 mereka kembali masing-masing. Neva membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari Vano.


"Aku menunggu mu di depan," isi pesannya membuat Neva melebarkan matanya. Bagaimana dia bisa tahu keberadaan ku. Batinnya.


"Baik, Kak," balasnya. Dia tidak bisa menghindar.


Kemudian, dia segera keluar dan langsung menemukan Vano yang menunggunya.


"Bagaimana Kak Vano tahu jika aku di sini?" Tanya Neva setelah dia sampai di depan Vano.


"Aku punya banyak mata-mata, hahaa...." jawabnya dengan tawa renyah. "Ayo," ajaknya sambil membuka pintu mobil untuk Neva.


Vano mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan santai.


"Kita mau kemana?" Tanya Neva. Dia menoleh ke arah Vano.


"Apa kau pernah melihat lampu yang seolah seperti bintang? Yang sering terlihat pada adegan-adegan film romantis," tanya Vano.


"Mmm, belum. Apa kita akan melihatnya malam ini?"


Vano mengangguk, "Iya," jawabnya. "Kau tidak ada acara bukan malam ini?"


"Tidak ada, hanya saja... ini sudah malam dan Mama pasti akan menghawatirkan ku," jawab Neva.


"Aku sudah meminta izin pada beliau," jawab Vano.


"Wawww.... sungguh??" Neva bertepuk tangan dengan ringan. Vano mengangguk dengan senyum. Kemudian, dia melajukan mobilnya dengan cepat.


Sampai, Neva mendongak untuk melihat bangunan di depannya. Bangunan tinggi yang megah. Vano mengajaknya untuk masuk. Sangat sepi.


"Apa ini hotel baru milik keluarga Mahaeswara?" Tanya Neva setelah memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya hotel ini belum resmi di buka.


"Iya," jawab Vano dengan anggukan. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam lift.


"Lantai 50?"


"Ya."


Lift itu membawa mereka berdua naik ke atas.


Sampai. Vano lebih dulu keluar dan di ikuti Neva di belakangnya.


"Sini," ucap Vano. Tangannya mengulur dan meraih tangan Neva. Membawanya ke tempat yang ingin dia tunjukkan. Genggaman tangan yang membawa debaran pada jantung. Neva mengigit bibir bawahnya. Dia mencoba menekan perasaannya dan tidak ingin lagi terbawa suasana, tak ingin lagi termanja oleh rasa yang di timbulkan kerena kebersamaan ini.


"Sampai, lihatlah," ujar Vano. Dia melihat Neva sebentar dan kemudian menatap ke bawah.


Mata Neva dipenuhi kekaguman melihat ini. Ini... bukan hanya seperti yang sering dia lihat di televisi tetapi lebih indah dari itu. Di bawah... matanya bisa melihat jalan tol berkelok dan bertingkat. Lampu mobil yang melaju dengan berlawanan membuat itu terlihat seperti bintang yang sedang berbaris dan menari dengan indah.


Tangan Vano terangkat untuk diletakkan di pundak Neva pelan. Dia merangkulnya dengan lembut. Neva langsung menoleh ke arahnya.


"Kau suka?" Tanya Vano. Dia menoleh dan membalas tatapan mata Neva padanya.


Neva mengangguk pelan, "Suka," jawabnya. Kemudian, kembali berpaling. Dia mengambil nafas dengan dalam.


"Apa kau sungguh akan pergi?" Tanya Vano rendah. Dia masih menatap Neva.


"Kak Vano tahu?" Jawab Neva kembali bertanya.


"Iya," jawab Vano. "Jadi, apa sungguh kau akan pergi?" Tanyanya mengulang.


Neva mengangguk, "Iya."


"Kau menghindari ku?"


"Sejujurnya, iya," jawab Neva dengan jujur dan kemudian ia menunduk. Tangan Vano berpindah ke pipinya dan membawa wajah Neva untuk menatapnya. Cupp... Dia mencium bibir Neva dengan lembut. Mata Neva langsung melebar dan tidak bisa berfikir apapun ketika bibir itu semakin menekannya. Dia hanya mampu merasakan degupan pada jantungnya yang berdebar begitu dahsyat.


Tangan Neva mencoba mendorong tubuh Vano tapi Vano segera mengambil tangannya dan menggenggamnya. Sementara tangan sebelah Vano menyusup diantara rambut Neva. Mencium bibirnya dengan dalam namun lembut. Pada akhirnya, Neva tidak lagi menolaknya. Dia memejamkan matanya.


Vano melepaskan tangannya dan memeluk pinggangnya, membuat Neva dalam dekapannya. Ketika bibir itu saling bertemu dan menyampaikan sesuatu yang tidak bisa tersampaikan oleh kata-kata maka degupan jantung yang menderu yang mampu merasakannya. Berada diketinggian 271,9 meter membuat angin terasa begitu dingin tetapi itu tergantikan dengan hangat ciuman dan pelukan ini.


"Jangan menghindari ku." ucap Vano setelah menyudahi ciumannya.


Soba ni Itai Yo Kimi no tameni dekiru koto ga Boku ni Aru Kana (Apakah aku masih bisa berada di samping mu)


___


Catatan Penulis. ( Curhatan πŸ₯° )


Ahaaiii... kenapa Thor yang merona yaπŸ₯°


Eit... siapa yang kemaren nanyain dan nungguin adegan ini. Mana orangnya mana....πŸ˜†πŸ˜†


Maaf jika ada yang tidak setuju dengan ini. πŸ™ Sebenarnya pilihan yang sulit, sangat sulit πŸ₯Ί Ini udah Thor pikiran berkali-kali dan berulang-ulang. Nyampe Up-nya telat lhoo...😣😁


Jangan lupa like, koment dan vote ya. πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜ Terima kasih pembaca kesayangannya Thor... muach muach πŸ˜˜πŸ˜‰


*Semua Tentang Kita_Noah