Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 256_Teruslah Bersama ku.


"Ok, aku ada gantinya," jawab Leo. Kemudian dia beranjak dan masuk kembali dalam kamarnya. Dia mengambil cake yang tadi dia letakkan di atas meja lalu membawanya keluar.


"Tarra .... " dia memamerkannya pada Yuna. Mata Yuna langsung melebar dengan kekaguman. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Waahhh," ujarnya dengan senyum. Tangannya bertepuk dengan ringan. Leo duduk di sampingnya dan memberi Yuna satu sendok. "Hummm, ini bagus," ucap Yuna. Dia mengalihkan pandangannya pada Leo. "Kau yang menyelesaikan ini?" Tanyanya. Leo mengangguk pelan. Yuna tersenyum manis dengan hati yang tersentuh. Dia mengomel dan meninggal cake yang dari awal adalah dia yang ingin membuat itu lalu pada akhirnya Leo yang menyelesaikannya.


"Ini sama seperti dulu bukan?" Tanya Leo memastikan.


Yuna mengangguk, "Iya, sama persis," jawabnya. Ternyata memang benar bahwa Leo masih mengingatnya.


"Makanlah," ujar Leo. Yuna menyendok cake yang ada di tangan Leo lalu ia memberikannya pada Leo.


"Kau yang harus memakannya untuk yang pertama kali," ucap Yuna dengan tatapan lembut dari matanya. Leo membuka mulutnya dan menerima suapan cake Yuna. Yuna masih menatapnya, "Apakah itu enak?" Tanya Yuna.


"Ada yang lebih enak dari ini," jawab Leo dengan pandangan mata yang menggoda.


Yuna mengerucutkan bibirnya, "Tuan mesum," ucapnya.


"Nyonya penggoda," jawab Leo.


"Hei, kapan aku menggodamu," protes Yuna.


"Setiap hari, ah bukan setiap detik saat kau bersama ku," jawab Leo. Yuna tidak meresponnya, ia menyendok lagi dan menyuap untuk dirinya sendiri. Dia mengangguk menikmati cake lembut di dalam mulutnya. Pas, sempurna. Sangat lezat.


Dia menyendok lagi dan memberikannya pada Leo. Lalu menyendok lagi untuk dia. Rasa cake ini, sungguh membuat dia bernostalgia. Dia menyendok lagi dan memberikannya pada Leo, matanya mengikuti sendok itu. Lalu hanya berfokus pada wajah Leo, ia menatapnya dengan penuh cinta. Jika harus berterima kasih, sesungguhnya bukan pada Kiara, bukan juga pada Leo yang telah memilihnya tetapi pad Tuhan yang menakdirkan ini. Bertemu secara kebetulan lalu menikah.


"Kenapa?" Tanya Leo setelah menghabiskan cake dalam mulutnya. Ia membalas tatapan mata Yuna.


Yuna menarik nafasnya, "Boleh aku menanyakan sesuatu?"


Leo mengangguk, "Apa?"


"Saat kau di luar negeri, apa yang sebenarnya terjadi?" Yuna bertanya dengan serius. Dia mencium sesuatu yang tidak benar saat Leo ada disana. Leo ... sosok yang mementingkan istrinya lebih dari apapun di dunia ini, bagaimana bisa dia bahkan tidak menginginkan panggilan telpon dari Yuna.


"Tidak ada," jawab Leo. "Aku bekerja dan terus bekerja agar segera kembali," lanjutnya.


"Bisakah kau memberi jawaban lainnya?"


"Tidak ada jawaban lainnya,'"


Yuna mengangguk. Matanya menatap Leo dengan tajam. Dia tahu Leo berbohong.


"Aku menyatukan semua hal tentang mu selama aku memutuskan untuk kembali disisimu. Dan aku tidak menemukan saat dimana kau tidak perduli padaku. Apa kau pernah mengabaikan panggilan ku? Tidak pernah, kecuali saat kau ada di luar negeri saat itu. Apa wanita bule begitu bisa menggoda mu hingga kau bahkan tidak ingin menerima telpon dari ku? Entahlah. Aku tidak bisa berpikir tentang itu lagi," ucap Yuna. "Leo, bolehkah aku tidak percaya sepenuhnya pada mu?"


Leo menggeleng. Tentu saja, bagaimana bisa dia membiarkan Yuna tidak sepenuhnya percaya pada dirinya. Ia menarik nafasnya dengan dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia meletakkan cake diatas meja, lalu kedua tangannya mengulur dan mendekap Yuna. Mendekap wanita miliknya dengan penuh kasih. Ia meninggalkan ciuman ringan di rambut Yuna.


"Sayang, aku mencintaimu," ucap Leo. Yuna mengangguk tetapi dia tidak membalas pelukan Leo padanya.


"Apa yang kau sembunyikan dari ku," tanya Yuna lagi. Dia tidak ingin ada kebohongan sekecil apapun itu. Kebohongan tentang apapun, tidak boleh ada pada hubungan mereka.


"Aku .... " Leo menggantung ucapnya. Yuna langsung mendongak dan menatap Leo. Leo membalas tatapan matanya. Ia mengambil nafas dengan dalam. Memang seharusnya tidak ada yang ia sembunyikan dari Yuna, toh kejadian itu sudah berlalu dan dia baik-baik sekarang. "Aku mengalami kecelakaan," ucapnya pelan. Mata Yuna langsung berair mendengar itu, ia merasakan sakit dibagian hatinya, sedih. Ia langsung membalas pelukan Leo dengan erat dan menangis.


"Hei," Leo mengusap punggungnya. "Ini yang membuat ku tidak suka. Jangan menangis," ucap Leo penuh kasih. Dia mencium rambut Yuna. "Maafkan aku yang masih saja sering membuat mu menangis padahal aku sudah berjanji untuk menghapus setiap luka dan air matamu tetapi tetap saja aku masih membuatmu menangis."


"Kamu bodoh, sangat bodoh. Kau menyuruhku untuk selalu baik-baik saja tapi kau sendiri begitu ceroboh," kata Yuna dengan sesenggukan. "Kau semakin bodoh karena malah menyembunyikan itu dariku."


"Itu karena aku tidak ingin kau cemas."


"Aku minta maaf," ujar Leo. Yuna mengangkat wajahnya dan menatap Leo. Ia melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah Leo.


"Bukan hanya aku yang harus selalu baik-baik saja, tapi kamu juga harus," tutur Yuna. Kemudian dia mencium kening Leo dengan penuh kasih dan kembali memeluknya. Bagaimana jika kecelakaan itu sampai merenggut nyawanya, Yuna tidak bisa membayangkan itu. Ia memeluk Leo dengan erat. "Teruslah bersamaku."


***@****


Sore yang sama di Ibu Kota.


Langit sore Ibu kota begitu cerah.


Mobil Vano perlahan menjauh dari kantornya. Neva duduk di bangku depan disamping Vano.


Ponsel Neva bergetar, ada pesan masuk. Ia segera mengambilnya dan membuka pesan baru itu. Tak lama, ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Pesan dari siapa?" Tanya Vano.


"Dari Mama," jawab Neva.


"Apa beliau memintamu untuk segera kembali?" Tanya Vano. Dia mengurangi laju mobilnya.


Neva menggeleng, "Bukan," jawabnya. "Mama minta pulsa," lanjutnya.


"Pufffhh," Vano menahan tawanya. "Masih ada modus penipuan itu?"


"Hahaa, iya tuh, masih aja," jawab Neva. "Ada-ada saja. Kemarin Mama di kantor polisi, sekarang Mama minta pulsa," lanjut Neva dengan tawa ringan.


"Hmm, aku juga mendapatkan pesan dari Mama," sahut Vano. "Mama minta mantu, katanya."


Neva langsung tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Aigoo dia pikir Vano mendapatkan pesan menyebalkan itu.


"Wadoohh, permintaan Mama yang satu ini sungguh istimewa," jawab Neva.


Vano mengangguk, "Ya, seistimewa kamu dihatiku," jawab Vano dengan senyum. Wajah Neva langsung bersemu merah. Gombalan maut mulai lagi. Neva menunduk sebentar untuk menyembunyikan wajahnya yang yang merona. Lalu ia segera menguasai hatinya.


"Apa kak Vano tahu, kapan Upin dan Ipin jadi dewasa?" Tanya Neva.


Vano mengerutkan keningnya dan sedikit memicingkan matanya. Ia berfikir sejenak untuk mencari jawaban.


"Tidak tahu," jawabnya menyerah dengan mudah.


"Hmm, kau tidak perlu tahu itu. Kau hanya perlu tahu bahwa aku sangat mencintaimu," jawab Neva. Dan kini Vano yang tersipu. Gombalan receh sore hari yang membuat mereka merona dan tertawa bersama.


"Kau pandai menggombal juga Nona," ujar Vano.


"Hmm, aku tidak akan kalah darimu," jawab Neva dengan tawanya yang renyah.


___


Catatan Penulis.


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini 🥰 Padamu.


Like koment jangan lupa ya kawan tersayang. Luv luv 🥰🥰 Terima kasih SSC 🌹 🙏