Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 89. Gelisah


Setelah selesai mendirikan tenda, ketiga gadis itu mulai mempersiapkan peralatan dan bahan makanan mentah yang mereka bawa dari rumah.


Maka mulailah kegiatan memasak untuk makan siang nanti.


Rio dan Wisnu tetap menemani mereka. Tanpa mempedulikan ocehan teman-teman lain.


Kesibukan yang sama juga terjadi di tenda kelompok lain tak terkecuali di tenda guru-guru yang sedang sibuk memasak.


Suasana siang yang ramai layaknya even bazar, semua penghuni tenda sibuk memperagakan keahlian memasak mereka.


Namun ada juga beberapa guru yang berpatroli dari tenda yang satu ke tenda lainnya untuk memantau seluruh siswa yang ikut serta.


" Wah, enak banget nih Rio sama Wisnu. Ngapain kalian di tenda cewek hah ?" tanya pak Dirman saat tiba di tenda mereka.


" Eh pak Dirman, gue bareng Rio cuma niat buat bantuin kok ". jawab Wisnu.


" Bantuin masak atau bantuin makan nih ?" tanya pak Dirman lagi.


" Yah dua-duanya pak, hehehe. . . " jawab Rio seenaknya.


Pak dirman hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua siswanya itu.


" Tapi ingat ya, nggak boleh tidur di tenda cewek !". ujarnya kemudian berlalu dari situ untuk melanjutkan pengawasan ke tenda lainnya.


" Siap komandan !" balas Rio dan Wisnu kompak.


" Hahahaha. . . mungkin pak guru terganggu ngeliat kalian dari tadi betah banget di sini ". ledek Tiara.


" Alah, bilang aja situ yang sirik karena nggak ada pawangnya ". Hesti balas meledek Tiara.


" Helloooo . . . siapa juga yang sirik ? justru gini yang bagus biar kalian nggak bisa nempel terus, soalnya ada aku yang bakal gangguin. Hahahaha!"


Ya ela . . . niat banget sih jadi obat nyamuk, hahahaha !". balas Hesti.


Dhilla hanya senyum-senyum melihat kelakuan kedua sahabatnya yang saling meledek.


" Tara . . . makanannya dah siap !" ujar Dhilla senang.


" Ya udah, ngumpul yuk kita makan bareng-bareng ". ajak Dhilla disambut dengan senyuman dari semua yang ada di tempat itu.


Kelima anak muda itu mulai menikmati makan siang mereka.


" Ternyata Dhilla pintar masak juga ya ". ucap Wisnu setelah mencicipi suapan pertamanya.


" Duh, mulai lagi nih bikin panas telinga aja !" ujar Tiara tak biasanya.


Sebenarnya, ia sedang kesal. Orang yang diam-diam diharapkan ada di tempat itu malah tak datang. Dan hal itu sukses membuat moodnya berubah drastis.


" Dih, masak gitu doang. Aku bareng Tiara juga bantuin masak tadi tapi Dhilla aja yang dipuji-puji. Dasar bucin akut !". seru Hesti.


" Ya, udah kalian bertiga memang the best ". Rio menengahi keributan kecil itu.


Ia menunjukkan jempol tangannya ke arah Hesti. Dan dibalas dengan senyuman senang dari gadis itu.


" Yah, sama aja dengan kak Wisnu. Yang dipuji ya ceweknya doang". Tiara cemberut namun tetap melanjutkan makannya.


Keempat sosok di depannya terkekeh geli melihat tingkahnya. Mereka seolah mengerti apa yang ada di dalam pikirannya.


\*\*\*


Sementara itu di rumah Zian.


Cowok itu sedang menonton televisi seorang diri seperti biasa. Namun pikirannya tidak fokus dengan apa yang ditontonnya.


" Argh sial ! bikin nggak fokus aja !" umpatnya seraya mematikan televisi dan melemparkan remote ke atas sofa.


" Dari pagi nggak bisa tenang nih otak. Apa gue nyusul aja ya ?" ia bertanya-tanya sendiri.


" Hem . . . oke bentar malam aja baru gue nyusul ". ucapnya yakin kemudian beranjak ke kamarnya.


\*\*\*\*\*