Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 372_Dokter William 2


****@*****


Sore itu di perpustakaan di negara A.


Leo bukan orang yang pandai bergaul, dia juga tidak suka berbasa-basi. Dia selalu diam dan tenggelam dalam buku yang ia baca. Dia tidak akan perduli dengan masalah orang lain.


Namun cowok yang duduk di lantai menarik perhatiannya. Cowok yang mungkin dua tahun lebih tua darinya, cowok itu hanya membolak-balikkan buku dan tidak membacanya, seperti itu ... setiap hari. Selama hampir satu minggu.


Hingga hampir dua minggu, Leo tidak menyapanya tetapi setelah cowok itu pergi, Leo akan mengambil buku-buku yang cowok itu pilih. Betapa terkejutnya saat dia mendapati buku-buku itu tercoret garis-garis abstrak. Orang lain mungkin akan mengira ini adalah garis biasa tapi tidak dengan Leo. Dia mengamati garis itu dengan teliti, lalu ia mengangkat tangan kanannya dan memperhatikan jari-jarinya satu persatu. Ya ... ini adalah susunan syaraf tangan manusia yang tersusun secara acak.


"Permisi, bisa lihat buku yang kau bawa?" tanya seorang petugas perpustakaan. Dia dengan tidak sengaja melihat banyak coretan di buku yang Leo bawa. Leo dengan tenang memberikan buku itu pada petugas. Dia tahu jika petugas ini pasti akan marah. Jadi ... sebelum petugas marah padanya, dia mengeluarkan kartu berwarna emas.


"Aku akan membayar kerugian ini," ucapnya. Dia hanya tidak ingin berdebat, apa lagi menjelaskan panjang lebar.


Hari berikutnya, Leo bertemu lagi dengan cowok itu dan masih sama seperti kemarin, dia hanya diam mengamati dan akan mengambil buku yang cowok itu ambil tadi.


Hingga pada suatu hari.


"Kau suka menggambar?" tanya Leo langsung. Dia duduk di lantai di sebelah cowok itu.


"Tidak juga," jawab cowok itu.


"Kenapa kau hanya membolak-balikkan halaman dan tidak membacanya?"


"Aku tidak bisa membaca," jawab cowok itu singkat. Leo sedikit terkejut mendengar itu. Tidak bisa membaca?


Kemudian setelah perbicangan itu, mereka saling bicara ketika bertemu di perpustakaan. Awalnya Leo yang menemaninya duduk di lantai lalu Leo mengajaknya untuk duduk di bangku yang telah disiapkan.


"Aku membaca buku-buku gratis disini, rasanya tidak pantas untuk duduk disana," jawab cowok itu.


"Siapa yang bilang tidak pantas, tidak akan ada yang mengusirmu saat kau duduk disana."


"Tapi itu tempat duduk eksklusif."


"Aku sudah membayarnya, ayo," ajak Leo. Dua laki-laki kecil itu berjalan kesana dan duduk dengan tenang.


"Namaku Willy," ucap laki-laki misterius itu. Leo mengangguk sebagai tanggapan. "Siapa namamu?" tanya Willy.


"Aku akan menuliskannya dan kau akan tahu namaku saat kau sudah bisa membaca nanti," jawab Leo.


Willy tertawa ringan. "Berarti selamanya aku tidak akan pernah tahu siapa namamu," ucapnya. "Aku tidak bisa membaca, guruku dan orang tuaku bahkan sudah menyerah. Aku ideot yang cacat, begitu yang orang-orang teriakkan padaku."


"Kau bisa membaca," ucap Leo singkat menanggapi. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Lalu dia diam kembali sambil sibuk menggambar pola dengan warna. Sementara Willy sibuk memperhatikan gambar kerangka manusia yang ada pada buku dimeja.


__________


Pada suatu hari, Leo bertanya pada Papanya. Tentang seseorang yang kesulitan untuk memahami huruf. Dan akhirnya dia tahu jika Willy menderita Disleksia.


Disleksia adalah penyakit gangguan belajar yang menyebabkan penderitanya kesulitan untuk memproses bahasa mulai dari membaca, mendengar, dan menulis.


Kemudian, pada malam hari Leo hampir tidak tidur. Dia membuat tulisan terbalik dengan warna. Kemudian dia mengacaknya. Dia lalu menggambar kotak berhuruf lalu menjejernya.


Pada pertemuan berikutnya dia memberikan itu pada Willy.


"Jika kau ingin tahu namaku, maka kau harus bisa membaca," ucap Leo. Dia menjelaskan dengan caranya. Memperkenalkan huruf demi huruf yang ia tulis dengan tangannya pada Willy.


_____ Beberapa hari setelahnya. Sore hari kala itu, salju turun lumayan lebat. Jalanan mulai di penuhi salju putih lembut itu. Willy dengan jaket tipisnya berdiri di depan perpustakaan menunggu Leo. Dan saat sebuah mobil parkir di depan perpustakaan, dia tersenyum dengan lebar dan berlari kecil menghampiri Leo yang baru saja turun dari mobil.


Leo menatap Willy yang berlari ke arahnya. Dia diam saat temannya itu berlari dengan lincah melewati salju untuk sampai dihadapannya.


"Hai Leo," ucap Willy dengan bangga setelah ia sampai di depan Leo.


Leo tersenyum dengan lebar dan bahagia.


"Yes, i'm Leo," jawab Leo.


"Woooooo ...." Willy berteriak dengan bahagia. Akhirnya ... dia tahu nama sang sahabat. Dia membuat kepalan pada tangannya dan meninjukan ke langit. Dia tertawa dengan puas.


"Pakai ini," ucap Leo seraya memberikan jaket hangat dari dalam mobilnya. Dia memang selalu membawa jaket cadangan, takut jika ada insiden pembuangan jaket.


Willy menatap Leo. Dia berpikir jika jaket ini adalah hadiah untuknya karena bisa membaca nama Leo. Padahal sebenarnya bukan, Leo memberikan jaket miliknya karena dia melihat jaket Willy yang tipis.


Kemudian Leo mengajaknya ke sebuah restoran berbintang sebagai hadiah. Dalam kekaguman matanya, Willy bercerita jika ini adalah pertama kalinya ia masuk ke sebuah restoran. Dia juga memuji Leo karena bisa masuk ke restoran berbintang dengan sangat mudah.


"Ternyata pepatah itu benar," ucap Willy. "Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang tetapi hampir semua yang ada di dunia membutuhkan uang. Haahahaa. Bahkan hanya orang-orang kaya yang bisa menikmati hidangan lezat."


Leo hanya mengangguk sebagai tanggapan. Saat pesanan datang Willy dengan bahagia menghabiskan semua yang tersaji di meja.


"Papa pernah bilang padaku, jadilah orang sukses, jadilah orang yang bermanfaat dan kau akan mudah mendapatkan apa yang kau inginkan," ucap Leo pada akhir pertemuannya dengan Willy hari ini. Memang itu kata yang sangat biasa tetapi dari situ Willy bertekad untuk menjadi orang yang sukses dan bermanfaat.


Dia bisa melihat bagaimana Leo membereskan buku yang ia coret-coret di perpustakaan dengan kartu berwarna emas yang ia bawa. Leo yang bisa duduk dengan nyaman di tempat ekslusif di dalam perpustakaan. Leo yang memberinya buku-buku baru dan alat tulis baru. Sesuatu yang bisa dengan mudah Leo dapatkan.


_____


Pada pertemuan berikutnya, Leo datang bersama Kiara. Saat ini tahun sudah bertambah satu. Mereka bertiga duduk di cafe tongkrongan anak-anak muda negara A.


"Aku sudah bisa menulis," kata Willy.


"Kau baru bisa menulis? Baru bisa?" sahut Kiara. Dia menatap Willy dengan heran.


"Dia menderita disleksia," Leo yang menjawabnya. Suaranya pelan. Tangannya menggenggam jemari Kiara di bawah meja. Meminta Kiara untuk tidak membahas itu.


"Hmmm, aku turut prihatin," ucap Kiara.


__________


Pada pertemuan berikutnya di perpustakaan. Tentu Kiara turut ada disana. Duduk di sebelah Leo dengan manja. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Leo. Sementara Willy sibuk menulis apapun.


Dan disini. Gurauan itu tercipta.


"Tulisan tanganmu kacau dan sangat buruk Willy, sepertinya kau cocok menjadi seorang dokter."


"Dokter itu kan harus pandai membaca sayang," sahut Kiara menanggapi ucapan Leo.


Sementara Willy tertawa kecil dan masih terus menulis.


Leo mengangguk sebagai tanggapan.


__________


"Pa, apakah sukses itu hanya untuk orang-orang dari kalangan atas?" tanya Leo pagi itu sambil meninggalkan rumahnya. Ya, hari ini mereka pindah rumah.


"Tidak," jawab Sang Papa. Kemudian beliau menceritakan tentang beberapa orang sukses yang berawal dari nol, berawal dari keterpurukan, berawal dari kegagalan dan bahkan berawal dari orang-orang yang dianggap gagal dan bodoh. Kesuksesan milik semua orang yang berusaha.


Leo mengangguk dan meminta Papanya berhenti di perpustakaan.


Tuan besar Nugraha menuruti permintaan putranya. Beliau memerintahkan supir kesana.


Pada pagi hari, Willy tidak akan datang kesini, mereka akan bertemu pada sore hari. Tapi ... sore nanti Leo sudah meninggalkan kota ini.


Leo dengan sopan menyapa petugas perpustakaan dan menitipkan satu kardus yang ia bawa untuk Willy. Kemudian ia benar-benar pergi.


Kardus berisikan alat-alat tulis dan jaket hangat.


"Ku tunggu kau sukses kawan," pesan Leo pada sebuah kertas.


_______________________


William Dickson ... dokter syaraf yang menerima banyak penghargaan dengan kecerdasannya. Malam itu ... asisten pribadinya mengabarkan bahwa Perdana menteri meminta untuk melakukan operasi malam itu juga. Awalnya ia menolak. Ia tidak tertarik dengan orang-orang kalangan atas yang bisa menyewa dokter dari penjuru dunia selain dirinya. Namun ia berubah pikiran saat asistennya memberitahukan jika pasien berasal dari negara I.


William selalu berharap bisa bertemu kembali dengan sahabatnya dari negara I. Namun dia tidak berharap jika pasien itu adalah Leo. Dia ingin Leo selalu baik-baik saja meskipun entah dimana. Namun jantungnya berdetak kencang karena cemas saat asistennya memberitahukan jika pasien bernama Leo.


Dia segera menyambar jaketnya dan langsung menyetujui begitu saja saat nama itu disebut.


"Siapkan tim terbaik. Kita kesana," perintahnya.


Helikopter milik Perdana menteri sudah siap menjemputnya. Didalam helikopter dia masih berharap jika itu bukan Leo sahabatnya. Maka saat sampai di atap gedung ia ingin segera memastikan jika pasien bukanlah Leo yang ia kenal.


Dia memegang kedua pundak Yuna, dan menatap wajah cantik istri dari pasien yang akan ia tangani. Wanita yang bukan seperti wanita yang Leo kenalkan padanya dulu. Dia bernafas dengan lega karena pasien yang sakit bukanlah Leo. William menatap Yuna sekali lagi, tepat pada matanya. Dalam sorot lampu yang tidak terang, ia mampu menangkap sosok cantik di hadapannya. Dan dia menjadi terhipnotis dengan mata indah Yuna. Dia ingin menatapnya lagi dan lagi.


Saat kakinya melangkah ke dalam ruangan dan melihat seseorang yang tak berdaya di atas ranjang rawat. Dia menjadi sangat sedih. Itu adalah Leo, Leo sahabatnya. Mereka dipertemukan dalam keadaan yang seperti ini. Leo yang terancam cacat permanen dan bahkan hampir kehilangan nyawanya. Dia terus memperhatikan Leo, mengamati wajah yang terpejam dengan rapat itu.


"Kawan, ini aku," ucap William dalam hati. Kemudian, ia membawa pandangannya pada Yuna. Menatap wanita yang tengah bersedih itu, wanita yang beberapa jam lalu membungkuk dan memohon padanya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


"Aku pasti akan memberikan yang terbaik," ucapnya dalam hati.


****@****


________________


Sore hari pada saat ini.


"Aku tahu kalian tidak minum wine jadi aku tidak memesannya," ucap dokter William.


"Nona apa kau ingin makan ini?" Willy menawari Yuna. Dia memesan makanan yang bagus untuk kesehatan dan menjaga berat badan ideal wanita.


"Tidak perlu basa-basi dengannya Willy, itu memuakkan," Leo yang menjawabnya.


"Aku tidak bisa memilikinya, jadi izinkan aku menggodanya."


"Musnah saja kau Willy, aku akan mengirimmu ke neraka jika kau berani menggodanya," ucap Leo dengan tatapan matanya yang tajam.


"Woohh, mengerikan," William bergidik. "Ok, silahkan layani ratumu, Tuan muda," ucap William. Kemudian mereka makan dengan tenang. William menjadi jomblo teraniaya melihat keharmonisan dua insan didepannya ini. Dia sengaja batuk berkali-kali untuk menyadarkan mereka bahwa ada dia disana, hallo ... aku bukan patung, rumput, pohon atau obat nyamuk. Batin William.


"Uhum, boleh tidak jika wanita memiliki dua suami?" ucap William tidak tahan berkomentar


"Tutup mulutmu Willy," Leo menyudahi sesi makannya. Kini bukan dia yang menyeka ujung bibir Yuna, tetapi Yuna yang menyeka ujung bibirnya dengan perhatian.


"Jadi sebenarnya kalian sudah saling mengenal," Yuna akhirnya berbicara setelah dari tadi hanya diam saja. "Kenapa dokter tidak memberitahu saya."


"Panggil Willy saja, Yuna, itu terdengar lebih akrab," sahut William.


"Panggil dia dokter," sahut Leo.


"Astaga ...." William menatap Leo.


"Jadi kau dan dokter William sudah saling kenal?" tanya Yuna lagi. Kali ini dia bertanya pada Leo.


"Dia pahlawanku, Yuna," William yang menjawab pertanyaan Yuna. Yuna mengalihkan pandangan dan menatap William.


"Pahlawan? Dokter yang pahlawan untuknya," kata Yuna.


"Bukan, itu tidak bisa dibandingkan dengan betapa baiknya dia padaku," jawab William. Dia mengalihkan pandangannya pada Leo. "Karena dia aku yang hampir putus asa mulai berani untuk bangkit, aku yang hampir tidak memiliki harapan mulai berani untuk memiliki sebuah mimpi. Aku adalah anak bodoh yang terpinggirkan tetapi aku mulai bangkit setelah Tuhan mempertemukan ku dengannya," ucap William.


"Jangan mengucapkan itu sambil menatapku, menjijikkan," Leo bergidik. Dia risih saat wanita menatapnya, apalagi laki-laki yang menatapnya.


William tertawa mendengar itu. "Aku tidak bisa memiliki Yuna yang cantik, jadi ... bagaimana jika aku memiliki mu Leo yang tampan," ucap William.


"Hmm mana boleh, dia milikku," kini Yuna yang menyahut. Dia memeluk Leo dari samping. William melebarkan matanya.


"Astaga, benar-benar pasangan kompak," komentar Willam.


"Sepertinya kalian memiliki cerita yang indah," ucap Yuna. William mengangguk dan menceritakan pertemuannya dengan Leo.


"Dan inilah bayaran yang ku inginkan," ucap William. Dia menatap Leo dan Yuna, "Bertemu kembali dengan Leo dalam keadaan sehat," lanjutnya.


Yuna mengangguk, "Tuhan telah mengatur semuanya."


"Rasanya sangat bahagia bisa mentraktir kalian disini," ucap William dengan senyum bangga.


"Kau hebat William," puji Leo.


William tersenyum mendengar itu. Dia ingat tulisan yang Leo tinggalkan dalam kardus itu.


_______________


Catatan Penulis πŸ₯°πŸ™


Waahhh Up hari ini panjang dan tengah malam 😍😍 Jangan lupa jempol digoyang ya kawan tersayang. Like koment πŸ₯°πŸ™ Terima kasih. Padamu.