Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 104. Perpisahan


Pukul sepuluh lewat lima belas menit.


Tiara berjalan tergesa-gesa ke ruang tunggu bandara. Padahal kemarin sudah diingatkan agar bangun cepat untuk mengantar keberangkatan Zian.


Tapi tetap saja bangun terlambat karena semalam sibuk video call sampai tengah malam, putus sambung berulang-ulang. Itulah salah satu kelemahan Tiara, suka telat bangun kalau malamnya begadang.


Sampai di ruang tunggu, ia tak menemukan sosok yang dicari.


Sebuah pesawat melintas, matanya mulai berkabut.


" Jangan bilang itu pesawat yang ditumpangi kak Zian ". gumamnya lirih.


Seketika ia berdiri terdiam. Mematung di tengah keramaian. Seolah lemas tak bertenaga. Tak dipedulikan lagi beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya saat lewat di depannya.


" Tiara !"


Seperti suara kak Zian atau hanya halusinasi aku saja ? bisik hatinya.


" Ara !" panggil suara itu lagi.


Seketika ia berbalik dan hampir berteriak saking girangnya melihat sosok yang berdiri di depannya.


Secepat kilat ia berlari memeluk Zian. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah seketika.


Zian balas memeluknya seraya mengelus lembut rambut gadis itu.


" Maafin Ara kak, tadi telat bangun, hiks . . hiks . . .


Gadis itu berucap sembari sesenggukan di dada Zian.


" Nggak apa-apa, gue masih ada di sini kan. Tadi barusan pergi beli tissue ".


" Ara kira kak Zian ikut pesawat yang tadi ". balas Tiara masih dalam pelukan Zian.


Zian tersenyum mengerti. Dibiarkan saja Tiara memeluknya sampai puas. Hingga akhirnya gadis itu perlahan melepaskan pelukannya sendiri.


Zian menyodorkan tissue di tangannya kemudian mengajak gadis itu duduk.


Sebenarnya ada rasa bersalah yang kini menggumpal di hatinya. Seolah memaksanya untuk membatalkan kepergiannya tapi


Ia masih diam menunggu gadisnya tenang.


Sungguh, baru kali ini ia merasakan sesak di dadanya saat menyadari bahwa beberapa saat ke depan ia sudah tidak bisa mengacak lembut rambut gadis itu seperti biasanya ketika bertemu.


Tak lama kemudian terdengar panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Jakarta. Zian salah satu di antaranya.


" Ra, gue udah boleh pergi nggak ?" tanyanya pelan seraya menatap lekat wajah lesu di depannya.


" Kakak janji ya sering - sering ngabarin Ara biarpun chat doang ". jawab Tiara masih memegang tangan Zian seolah enggan melepaskannya.


" Iya gue janji honey. Jaga diri baik-baik, jangan suka begadang dan keluyuran ya ".


" Iya, kakak juga ya. Ara doain kakak selamat sampai di tujuan ".


" Aamiin, makasih ya sayang. Gue pergi dulu nanti transit di Jakarta gue hubungi


ya ". ucap Zian bersiap pergi.


" Iya, hati-hati di perjalanan ". ucap Tiara melepaskan pegangannya.


Zian memeluknya erat, mengecup dahinya dengan lembut.


" Gue pergi ya ". ucap Zian setelah itu.


" Bye ". Zian melambai padanya kemudian berbalik pergi.


Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Tiara. Ia hanya bisa memandangi punggung Zian hingga menghilang di antara penumpang lainnya.


Ia masih juga berdiri di tempatnya hingga pesawat yang membawa Zian mengangkasa meninggalkan sesak di dadanya. Setelah tak terlihat lagi barulah ia beranjak pulang.


Sesampainya di rumah, ia mengurung diri di kamar. Menandai perpisahan mereka dengan menangis sepuasnya. Padahal ia sudah bersusah payah menguatkan hati agar tidak selemah itu tapi entah kenapa air matanya dengan lancangnya terus saja mengalir.


Hanya empat tahun Ara kamu harus kuat, hiburnya dalam hati.


\*\*\*\*\*