Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 183_Juliet Rose 2



"Sayang, berjanjilah untuk tidak ceroboh," Leo berkali-kali mengucapkan permintaannya itu sebelum berangkat kerja.


"Siap Bossque...," jawab Yuna sambil bergelayut manja di lengan Leo.


"Albar akan mengantar dan tetap mengawasi mu. Tidak boleh protes, kau tidak boleh menyuruhnya pergi dan akan kau hubungi jika kau butuh."


"Iyaaaaaaaaa...," Yuna mencubit pipinya. "Tuan cerewet."


Kemudian, Leo membungkuk dan mencium perut Yuna, "I love you," ucapnya dan mematuk bibir Yuna.


Mobilnya perlahan meninggalkan area. Yuna segera melambai pada Albar, memintanya untuk mendekat.


"Bisa minta tolong?" tanyanya setelah Albar sampai di depannya.


"Dengan senang hati Nyonya muda," jawabnya. Kemudian, Yuna memberinya beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu. Ia meminta Albar untuk membelikannya kopi sangrai.


Albar menaikkan alisnya, "Kopi sangrai?" tanyanya untuk memastikan. Yuna mengangguk membenarkan. "Jenis kopi apa yang Nyonya muda inginkan?" tanya Albar. Kini... Yuna yang menaikkan alisnya.


"Apa saja yang paling enak," jawabnya setelah diam beberapa saat. Albar mengangguk dan segera mengendarai mobilnya. Dia menjadi bingung, kopi jenis apa yang Nyonya mudanya inginkan? Yang paling enak? Bukankah selera masing-masing orang berbeda. Ia berpikir keras sebelum akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Leo.


Saat itu... Leo baru saja memasuki ruang meeting, dan duduk di kursi. Mendapat pesan dari Albar, ia segera membukanya. Ia menaikkan alisnya membaca pesan ini. Kopi sangrai? Sejak kapan Yuna menyukai kopi? Leo langsung membuat panggilan pada Yuna, dia takut Albar salah informasi.


"Sayang, apa kau menginginkan kopi sangrai?" tanyanya setelah terhubung.


"Ya, apa Albar memberi tahu mu?" jawab Yuna sekaligus bertanya.


"Iya, dia baru saja mengirimkan pesan. Jadi sungguh kau menyuruhnya membeli kopi sangrai?"


"Iya," jawab Yuna. Dan entah kenapa dia menjadi sangat kesal seolah Leo tidak mengizinkannya untuk membeli kopi sangrai. "Kenapa? Apa aku tidak boleh membeli itu? Apa ada yang salah dengan itu? Aku hanya ingin kopi sangrai bukan menyuruh mu untuk menyelam kedalam lautan dan mengambil mutiara untuk ku? Aku bahkan membelinya dari uang ku sendiri, apanya yang salah? Kau cerewet dan sangat menyebalkan," cerocosnya dengan kesal.


Leo menarik nafasnya panjang setelah mendengarkan semua omelan Yuna.


"Aku hanya bertanya pada mu, bukan melarang mu sayang. Jadi kopi apa yang kau inginkan?" tanyanya lembut penuh perhatian.


"Terserah," klik... Yuna memutuskan panggilan. Leo memejamkan matanya sebentar dan kemudian memperhatikan sekelilingnya. Semua mata yang berada di ruang rapat tertuju padanya. Pikiran mereka hampir semuanya sama. "Boss tanpa senyum ini begitu manis dan lembut." Selama ini, hanya Asisten Dion dan supir Albar yang mengetahui sisi manis dan lembut si Boss ini. Mereka berdua juga tahu bagaimana si Boss begitu frustasi jika Nyonya muda marah dengannya.


Leo hanya memutar matanya untuk menatap mereka satu persatu dan mereka langsung mendelik menyembunyikan wajah. Menunduk secara bersamaan.


"Finca El Injerto Coffe, Hacienda La Esmeralda Coffe, dan Luwak Coffe," Leo membalas pesan Albar. Dia juga tidak tahu, kopi apa yang Yuna inginkan jadi dia menyuruh Albar membeli ketiga yang dia sebutkan.


Sekitar pukul sepuluh pagi Albar baru kembali dengan pesanan Yuna. Dia dengan senyum semangat mengetuk pintu.


Bi Sri yang membukakan pintu.


"Nyonya muda pergi dari pagi," ucap Bi Sri yang langsung meruntuhkan dunia Albar. Si Boss pasti akan membunuhnya jika mengetahui ini... dia segera memberikan pesanan Yuna pada Bi Sri, Ia mencoba menghubungi ponsel Yuna, tapi hingga lima kali tidak ada jawaban. Dia segera membawa mobilnya dengan cepat sambil terus berusaha menghubungi Yuna. Dia cemas setengah mati dengan keadaan ini, pergi kemana Nyonya mudanya?


"Ya...," suara lembut milik Yuna langsung membuat Albar bernafas lega. Dia mengucap syukur berkali-kali dalam hatinya.


"Nyonya muda dimana?" tanyanya dengan nada gemetar. Semoga si Boss tidak tahu kejadian ini, dia pasti akan dipecat jika si Boss sampai tahu.


Albar segera melajukan mobilnya setelah Yuna mengatakan keberadaannya. Mulai saat ini, dia harus mencatat dan mengingat semua jadwal Nyonya muda.


Yuna masih mengikuti kelas kehamilan ketika Albar menghubunginya dan dia meninggalkan ponselnya di dalam tas.


Empat puluh menit kemudian, Albar telah sampai ditempat dimana Yuna menunggunya.


"Maafkan saya Nyonya muda," ucapnya sopan. Ia membungkukkan badannya.


"Haiii...," Alea menyambutnya dengan penuh senyum. Mereka melakukan cipaka-cipiki dan kemudian Alea mempersiapkan Yuna untuk masuk kedalam. Mereka duduk di berdampingan dan membicarakan apapun. Pembawaan Yuna yang bersahabat membuat Alea nyaman dengannya, Alea tidak sependiam biasanya. Dia mulai bercerita tentang pengalamannya dan menceritakan makna tiap-tiap bunga pada Yuna.


"Kenapa disini tidak ada Juliet Rose? Bukankah bunga itu sangat indah? Apa kau tidak tertarik untuk menjualnya?" tanya Yuna, ia menatap Alea.


"Juliet Rose?"


Yuna mengangguk, "Huum, Juliet Rose."


"Itu salah satu bunga paling mahal Yuna, aku tidak sanggup membelinya, kecuali ada pesanan" jelas Alea dengan tawa, dia tidak bisa membayangkan dia sanggup menjual jenis bunga itu. Yuna semakin menatap Alea.


"Mahal?" tanyanya menyelidik.


"Iya, mahal," jawab Alea.


"Seberapa mahal?" Yuna penasaran setengah mati ketika menanyakan ini pada Alea. Alea menaikkan sebelah alisnya, ia berpikir sejenak sebelum memberi jawaban.


"Juta-an."


"Juta-an?" Yuna memegang tangan Alea dengan kencang. Matanya membulat menunggu jawaban Alea.


"Ya .... " jawab Alea.


"Apa?" mata Yuna bertambah bulat dan melebar. Dia mengingat bunga-bunga itu begitu memenuhi kamarnya, bukan hanya kamar tetapi setiap pijakan lantai yang Leo pihak untuk membawanya ke kamar, dan bahkan memenuhi balkonnya. Itu ... pasti menghabiskan begitu banyak uang. "Bagaimana jika bunga itu memenuhi rumah mu?" Tanya Yuna lagi.


"Itu pasti menghabiskan hingga miliaran," jawab Alea. Yuna mengangguk, kemudian dia langsung mengambil ponsel dari dalam tas miliknya. Tak lama panggilannya tersambung. Suara di seberang sana begitu lembut dan sejuk penuh perhatian.


"Kenapa sayang?" tanyanya.


"Jam berapa kau akan pulang?" Yuna menjawab dengan kesal.


"Sembilan," jawab Leo masih dengan suaranya yang lembut.


"Sembilan? Tidak adakah waktu yang lebih malam dari itu Tuan?"


"Okey, jam lima."


"Okey," Klik... Yuna langsung mematikan ponselnya dengan kesal. Dia akan mengomeli si Boss ini karena membeli bunga yang tidak masuk akal. Sementara disana si Boss tersenyum dengan lebar, dia berpikir bahwa Nyonya sangat merindukannya, seperti saat ini, betapa dia merindukan Nyonya.


"Apa ada sesuatu Yuna?" tanya Alea pelan.


"Rasanya aku ingin memakan Leo hingga habis," Yuna menjawab dengan bersungut-sungut. Alea tertawa terbahak-bahak mendengar itu.


"Hahaa... kenapa Yuna?" tanyanya.


"Dia membeli bunga itu dalam jumlah yang sangat-sangat banyak," jelas Yuna dengan nada kesal. Mata Alea melebar mendengar itu...


"Wawww..." dia menjadi sangat takjub. Tidak heran juga... apa yang tidak bisa beli oleh Tuan muda Leo ?! "Bukankah itu bagus Yuna, bukankah itu sangat luar biasa. Kau pasti sangat bahagia...,"


"Ya... aku bahagia," Yuna menatap Alea, "Aku bahagia sebelum tahu harganya. Sekarang... rasanya dadaku terasa sesak," Yuna menjatuhkan kepalanya pelan di meja Alea. Alea tertawa kecil melihat Yuna.


"Itu karena dia sangat mencintai mu Yuna," ucap Alea.


"Dia keterlaluan...,"


"Hei, seharusnya kau bersyukur Yuna, tidak semua orang seberuntung kamu."