
"Silahkan duduk, Vano," ujar Leo mempersilahkan Vano untuk duduk. Kemudian, mereka berdua duduk di sofa setelah sebelumnya Leo mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
"Terima kasih," ujar Vano. Dia membuka minuman kaleng itu dan menyesapnya sedikit. Sebenarnya dia tidak haus hanya saja itu untuk menghormati Leo yang sudah dengan rela mengambil minuman untuknya.
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Leo datar. Tapi itu sungguh luar biasa. Leo menanyakan itu pada Vano. Leo tidak lagi dingin padanya.
"Tidak, aku sudah menyelesaikan semuanya dan ikut Neva kesini," jawab Vano.
Mama meminta Neva untuk membuka makanan yang beliau bawa.
Kemudian, Neva menuju sofa dan duduk di samping Vano. Dia membuka kotak makan yang mama bawa dan menyiapkannya untuk Leo.
"Kak Lee, kau belum sarapan bukan?" ujar Neva.
"Simpan saja, aku tidak lapar," jawab Leo.
"Sarapan itu harus Kakak, wajib" kata Neva. Dan Leo masih menolaknya. Neva mulai memberikan banyak argumen untuk kakaknya, dia sudah seperti seorang spesialis yang menerangkan batapa pentingnya sarapan untuk makhluk hidup. Dia berbicara hingga berbusa tetapi jawaban Leo hanya satu.
"Tidak."
Neva menatapnya dengan kesal. Dia bahkan ingin melempar sendok ke muka kakaknya.
"Kak Vano, kau tidak akan seperti dia kan?" Neva berbisik pelan di telinga Vano.
"Tidak akan, aku akan rajin sarapan bersama mu," balas Vano berbisik. Mama yang sedari tadi duduk di samping Yuna, kini beranjak dan menghampiri mereka.
"Lee," suara Mama lembut memanggilnya. Beliau duduk di samping Leo.
"Ma," jawab Leo langsung menghentikan mamanya untuk tidak mencoba ikut membujuknya. Dia bukan anak kecil yang yang harus dibujuk, dirayu dan ditakuti hanya untuk menekan sesuatu.
"Neva," Yuna memanggil Neva pelan.
"Ya Kak," Neva langsung menoleh ke arah Yuna. Begitu juga dengan mama, Vano dan Leo.
"Tolong bawa sini masakan Mama, biar aku yang menghabiskannya," pinta Yuna.
"Yuna," Leo langsung menatap tajam kearah Yuna. Dia tidak suka ini. Yuna selalu mengancamnya dengan membahayakan dirinya.
"Neva bawa sini," Yuna dengan tidak patuh mengabaikan pandangan tajam dari Leo. Neva menjadi bimbang, dia menatap kakaknya lalu menatap Yuna. Mana yang harus dia patuhi? Yuna, masih harus makan makanan yang lembut. Nasi dengan lauk oseng kacang dan brokoli pedas, dua makanan yang seharusnya dihindari ketika sakit. Kacang yang tinggi lemak membuat tubuh harus bekerja lebih keras untuk mencernanya. Selain itu, kacang juga termasuk salah satu makanan yang bersifat pembebas histamin.
Ketika sakit, sebaiknya mengnkonsumsi makanan rendah serat atau makanan lain yang lebih mudah dicerna, untuk menghindari iritasi saluran pencernaan.
"Neva tolong bawa sini," pinta Yuna lagi. Neva mengangguk. Kemudian, dia mengambil kotak makan tetapi tangan Leo segera menahannya. Neva diam. Leo beranjak dan mengambil kotak makan itu. Dia berjalan kearah Yuna dan menyerahkan kotak makan itu padanya.
"Kau ingin makan itu bukan?" Ucap Leo. Yuna menatapnya. "Makan saja," ujarnya lagi.
"Lee, dia tidak boleh makanan yang kasar," tutur Mama khawatir.
"Biarkan saja Ma, dia selalu begitu. Dia selalu ingin membahayakan dirinya sendiri," jawab Leo tanpa melepas pandangan matanya pada Yuna.
Yuna mengangguk. Lalu dia menyendok makanan yang sekarang ada di pangkuannya. Dengan pelan, dia membawa sendok itu menyuap kedalam mulutnya.
Leo kesal setengah mati melihat itu, Yuna benar-benar memakannya. Dia segera membungkuk dan memegang tengkuk Yuna, mencium bibirnya dan mengambil makanan dari mulut Yuna.
"Astaga," Mama langsung mengalihkan pandangannya. Begitu juga Neva dan Vano. Neva menyembunyikan wajahnya di bahu Vano. Dia menempelkan pipinya disana.
"Pantas saja aku tidak berhasil membujuknya," gumam Neva. Vano terkekeh mendengarnya.
Leo menyudahi ciumannya, "Kau sangat menyebalkan Yuna," ucapnya.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membujuk mu, Tuan suami," jawab Yuna rendah.
"Kau selalu menggunakan dirimu untuk mengancam ku."
Tangan Yuna mengulur dan mengusap pipinya, "Diam dan habiskan ini."
"Tidak, berhenti mengancam ku," jawab Leo.
"Berhenti memintaku untuk melakukan apa yang tidak ingin ku lakukan," jawab Leo.
"Bolehkah aku menginginkan hal yang sama? Tuan suami ... aku ingin memakan ini dan jangan hentikan aku," ucap Yuna yang langsung membuat Leo kalah telak.
"Okey Yuna, kau sangat pandai membuat ku kalah," jawab Leo dengan kesal. Yuna tersenyum dengan puas.
"Uuhhh, manisnya mereka," ujar Neva. Vano mengangguk. Dia mengambil minuman kaleng miliknya dan menyesapnya sedikit, kemudian memberikannya pada Neva. Tangan Neva mengulur untuk menerimanya. Kemudian, dia menyesapnya.
"Manis bukan?" Bisik Vano pelan. Neva langsung menoleh ke arahnya dengan posisi minuman kaleng masih menempel di bibirnya. Vano berkedip indah menatap matanya.
"Sangat manis," jawab Neva dengan senyum malu. Ciuman tidak langsung.
****@****
Dokter membolehkannya pulang sore ini.
Leo tidak membawanya pulang ke rumah tetapi mobilnya langsung menuju kastil pinggir pantai.
"Kita ke kastil?" Yuna bertanya setelah mobil Leo belok arah dan menjauh dari jalan menuju rumah mereka.
Leo mengangguk. Tangannya mengulur dan meraih tangan Yuna, membawa tangan halus itu pada bibirnya. Dia mengecupnya dengan lembut. "Kita habiskan satu minggu ini disana. Tidak ada yang boleh menganggu mu, tidak ada yang boleh mengganggu kita," jawab Leo. Bibirnya masih membuat kecupan-kecupan romantis di tangan Yuna.
"Satu minggu?" Yuna mengerutkan alisnya, membuat alis dengan bentuk indah itu saling berdekatan. "Bagaimana dengan Ayah dan Nenek?" Tanyanya.
"Mereka akan datang setelah satu minggu itu," jawab Leo. "Boleh aku meminta sesuatu padamu Yuna?" Tanya Leo kemudian. Tangan Yuna tidak lagi berada dalam sentuhan bibir Leo tetapi tangan masih masih dalam kaitan tangan Leo. Dia menggenggamnya dengan lembut.
"Ya," jawab Yuna. Dia menoleh ke arah Leo.
"Ku mohon, menurutlah padaku," pinta Leo dengan sungguh. "Berhenti membantah ku," lanjutnya.
"Sayang, apa aku selalu membantah mu?"
"Ya, selalu."
"Aku minta maaf," tutur Yuna pelan.
"Jangan berusaha untuk membuat ku tersentuh,"
"Aku meminta maaf kenapa kau mengira yang lain," ucap Yuna.
"Kau selalu menggunakan cara itu untuk membuat ku tersentuh lalu pada akhirnya aku menyetujui apapun yang kau inginkan meskipun itu membahayakan mu," jawab Leo.
"Berikan contoh," pinta Yuna. Dia menatap Leo.
"Kenapa harus ada contoh? Kau selalu membantahku. Pikirkan saja sendiri."
"Aku minta maaf untuk semua sifatku yang mengecewakan mu. Aku minta maaf untuk semua sifatku yang membantah mu. Aku juga minta maaf untuk sifatku yang me .... "
"Aku tidak meminta mu untuk meminta maaf, Yuna," Leo memotong ucapan Yuna. "Aku hanya ingin kau menurut padaku, berhenti membantah ku. Entah aku lebay seperti apa yang kau pikirkan atau tidak, menurutlah. Entah aku terlalu berlebihan dalam segala hal seperti apa yang kau pikirkan atau tidak, menurutlah. Apa itu sangat susah Yuna," ujar Leo dengan teratur dan lembut. Intonasinya begitu halus karena dia takut Yuna salah paham dan akan tersinggung.
Yuna mengangguk, dia mengalihkan pandangannya. "Baik," jawabnya pelan lalu memperhatikan jalanan sebentar dan menunduk. Betapa dia sangat arogan pada suaminya selama ini, betapa dia menjadi istri yang tidak patuh selama ini, batinnya.
"Kau marah?"
"Hmm?" Yuna mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Leo, menatap wajah itu dari samping. Leo menoleh ke arahnya sebentar dan memperhatikan wajahnya. Kemudian, dia kembali fokus pada jalanan. "Tidak, aku tidak marah," jawab Yuna. "Aku hanya merasa merasa menjadi istri yang gagal untuk mu. Aku tidak menurut, aku mengecewakan mu, aku bahkan tidak pernah masak untuk mu. Aku minta maaf," ujar Yuna.
Leo diam, dia menarik nafasnya panjang dan menahannya sebentar dalam rongga dadanya sebelum akhirnya menghembuskannya dengan perlahan. Dia salah dalam menyampaikan apa yang dia inginkan. Atau Yuna yang tidak mengerti maksudnya. Tidak bisakah Yuna hanya bilang 'Iya, aku menurut,' tanpa kata-kata yang membuatnya malah merasa bersalah telah meminta sesuatu pada Yuna.
"Lupakan," ucap Leo pada akhirnya. Kemudian, mereka diam. Cinta itu tidak bersyarat bukan? Cinta itu tidak butuh perjanjian bukan? Iya. Dia bukan meminta syarat, bukan juga membuat perjanjian cinta. Dia hanya ingin wanitanya selalu baik-baik saja. Itu bukan syarat dan perjanjian bukan?
"Kau marah?" Kini Yuna yang melempar pertanyaan itu.
"Tidak," jawab Leo segera. Yuna menatapnya dan mendekatkan wajahnya. Cup, dia mencium pipi Leo dengan manis. Menggerakkan bibirnya dengan lembut di pipi Leo, hingga bibir itu menyentuh daun telinganya.
"Aku pasti memenuhi permintaan mu," bisik Yuna dengan desahan lembut, itu membuat Leo langsung membeku.