Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 355_Kesal


Kemudian, seseorang dari kejauhan melambai. Dia bahagia melihat Yuna dan Mama yang membawa Baby Arai. Gadis berpenampilan cassual dengan sepasang bola mata berwarna coklat tersenyum melihat mereka datang. Kemudian, matanya tertuju pada sosok yang berdiri di samping Yuna. Dia melebarkan matanya dan menajamkan pikirannya untuk memindai wajah Leo dari kejauhan. Dia tersenyum bahagia saat Yuna, Mama, Baby Arai dan Leo telah sampai di depannya. Dia membungkuk menyapa Baby Arai dan mengusap tangannya lembut. Kemudian, dia kembali menatap Leo. Memperhatikan wajah halus Leo sekali lagi.


"Sir, do you remember me?" tanya sang gadis dengan senyum lebar. Dia bahagia melihat Leo. Dia melangkah satu langkah untuk lebih dekat dengan Leo. Yuna menatap gadis itu dengan jantung yang berdebar. Siapa gadis ini? Batinnya. Jangan sampai ada lagi wanita yang menginginkan suaminya.


Leo diam mengerutkan alisnya. Pertanyaan gadis ini seperti mereka pernah bertemu, tapi Leo merasa tidak mengenal gadis ini.


"Do you remember you once helped a girl?" tanya sang gadis lagi pada Leo. Dia yakin laki-laki malam itu adalah Leo. Melihat Baby Arai dipagi itu ... membuatnya mengingat sosok Leo. Ya, dengan sekuat pikirannya dia selalu mencoba mengingat wajah Leo.


Kemudian, Leo mengangguk. Ya, dia ingat gadis ini. Namun belum sempat dia berbicara Mama melepaskan stroller baby Arai dan maju, beliau menempatkan diri didepan sang gadis. Sementara tangan Yuna segera menggantikan tangan Mama untuk memegang stroller.


Mata Mama berkaca-kaca, dan genangan air mata itu menetes perlahan. Tangan beliau terangkat dan menunjuk gadis itu.


"So, you are that girl. The girl that has made my son suffer all this time," ucap Nyonya Nugraha dengan suara yang tinggi. Leo langsung menatap mamanya yang terlihat emosi, dia segera menghampiri Mama dan memeluknya dari samping.


Gadis itu diam menatap Nyonya Nugraha, kemudian dia menunjukkan wajahnya. Apa yang terjadi dengan Tuan muda ini, setelah malam itu? Batinnya.


"Bukan salah dia Ma," ucap Leo menenangkan mamanya yang menangis.


"Andai, malam itu kau tidak menyelamatkannya. Kau tidak akan seperti sekarang ini Lee. Kau tidak perlu mengalami ini," Mama menangis histeris. Beliau benci gadis itu.


Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Nyonya besar Nugraha, kemudian, dia memperhatikan Leo dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia tidak tahu apa yang Nyonya besar Nugraha ucapkan. Namun, melihat ekspresi dan amarah Nyonya besar Nugraha, dia tahu jika laki-laki yang menyelamatkannya malam itu mengalami cidera yang parah.


Leo masih menenangkan mamanya. Yuna diam terpaku beberapa saat menatap gadis muda itu. Gadis muda yang mungkin seumuran dengan Neva. Bahkan, gaya berpakaiannya hampir sama dengan Neva.


Gadis itu menatap Leo.


"I always pray to God that He will make us meet again. I always remember how you look, your face. I would like to thank you," ucap sang gadis dengan terus menatap Leo. "Thank you very much, sir." Dia mengambil nafasnya. "Could you tell me what actually happened on that night?" Tanyanya penasaran dan merasa bersalah. Setelah malam itu, dia mencoba mencari jejak Leo, tetapi tidak ketemu.


"Nothing happened. How are you doing, you're okay, right?" jawab Leo sekaligus bertanya. Sang gadis menjawab jika dia baik-baik saja, dan menceritakan jika dia mencari Leo setelah malam itu.


Mama masih kesal dengan gadis ini tetapi saat ini, mereka tengah ada dimuka umum. Jadi, beliau menahannya. Yuna ikut memeluk Mama dan mencoba menenangkannya.


"Tuan muda, Ayahku adalah seorang yang berpengaruh di negara ini. Jika anda menginginkan sesuatu, beliau pasti bisa memenuhinya. Bukan bermaksud lancang, hanya saja ... aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Tuan muda. Jadi, mohon terima ini," ucap sang gadis sopan dengan menggunakan bahasa Inggris. Dia memberikan sebuah kartu nama. "Ku tunggu pesan anda, Tuan."


"Thank you," ucap Leo menerima kartu nama yang gadis muda itu sodorkan.


"I wish i could repay your kindness, even a little," ucap sang gadis dengan kesungguhan. Dia membungkukkan badannya kemudian pamit. Sebelum dia pergi, terlebih dahulu dia menyapa Baby Arai yang menggemaskan dan meminta maaf sebesar-besarnya pada Nyonya Nugraha.


Yuna menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh dari mereka.


Pada akhirnya, mereka semua kembali. Mama masih belum tenang sepenuhnya. Beliau masih menyalahkan gadis itu. Leo mencoba menenangkan mamanya dengan perhatian. Menjelaskan bahwa segala yang terjadi adalah takdir. Dia yang menyelamatkan gadis itu telah tertulis pada jalan takdir yang harus ia lalui.


Beberapa hari kemudian, Leo dan papanya kerumah sakit untuk kontrol serta mengambil hasil tes punggungnya. Dengan senyum Sang dokter menjelaskan bahwa hasilnya sesuai yang diinginkan. Selnya normal, hanya saja memang harus menjalani operasi sekali lagi untuk memulihkan kondisi punggung Leo. Dokter mewanti-wanti dan mengingatkan jika Leo tidak boleh mengangkat beban berat dan jangan sampai terbentur, terlebih bagian punggungnya.


Operasi akan dijadwalkan beberapa hari kedepan.


Mama dan Yuna mengucap syukur dengan kabar ini, pun dengan Neva dan Dimas disana.


Sore hari, Leo asik dengan Baby Arai di ruang tengah. Baby Arai yang semangat merayap, dan Leo yang menggodanya. Terkadang Baby Arai berteriak kesal karena apa yang ingin dia raih dijauhkan lagi oleh Daddy-nya. Begitu, lagi dan lagi.


Baby Arai menatap kesal pada Leo. Mata indahnya berkedip dan langsung merayap kearah Leo. Dia tidak lagi menginginkan mainannya. Perlahan, kedua tangan mungilnya meraih kaki Leo yang bersila, tangan Leo langsung menyambutnya.


"Sini," ucapnya. "Hmmm pintar," dia mengangkat tubuh mungil anaknya dan kemudian dia merebahkan dirinya. Membuat Baby Arai tengkurap di atas tubuhnya. Baby Arai dengan semangat merayap diatas tubuh Leo hingga wajahnya berhadapan langsung dengan daddy-nya.


Leo menyambutnya dengan senyum lebar dan mencium pipi gembulnya. Namun Baby Arai seolah enggan untuk dicium. Dia yang malah mencium pipi Leo, menciumnya dengan kesal. Dia membuka mulutnya dan mengigit pipi Leo, gigitan imut dari mulut mungil yang belum tumbuh gigi. Leo tertawa terbahak-bahak dengan ulah anaknya. Baby Arai mengulanginya lagi dan lagi, bahkan hidung mancung Leo juga jadi sasarannya.


"Hahaa, kau kesal dengan Daddy karena mengerjaimu?" Leo tertawa dan membiarkan anaknya menggigitnya berkali-kali.


"Wahhh serunya ...." ujar Yuna yang ikut bergabung. Dia langsung mengambil Baby Arai dari atas tubuh Leo. "Jangan dulu menggendongnya," Yuna memperingatkan Leo.


"Hanya meletakkannya di atas tubuhku, bukan menggendongnya," jawab Leo. "Lagi pula, dia masih kecil dan tidak berat."


Yuna menatap Leo dengan kesal. "Terserah," ucapnya singkat. Kemudian, dia beranjak dan membawa anaknya ke luar. Dia menuju Mama yang berada di taman samping. Tak lama, dia kembali masuk.


"Hei," panggil Leo. Tak ada jawaban. Yuna cuek padanya. Dia berlalu begitu saja melewati Leo dan masuk kedalam kamarnya. Leo menyusulnya, dia membuntuti Yuna dari belakang tetapi Yuna langsung menghilang dibalik pintu kamar mandi. Dia tidak menyahut saat Leo memanggilnya, dia juga tidak membukakan pintu saat Leo bilang ingin mandi juga.


Tak lama Yuna keluar kamar mandi dan segera mengganti bajunya. Dia diam seribu bahasa.


"Sayang," panggil Leo. Tak ada jawaban. Yuna bahkan langsung kembali melangkah untuk keluar kamar setelah menyisir rambutnya.


"Kenapa?" tanya Leo. Dia menarik pelan lengan Yuna. Menahan agar wanita itu berhenti melangkah. "Kenapa?" Leo mengulangi pertanyaannya lagi setelah menunggu Yuna yang tidak segera memberinya jawaban. Namun, Yuna masih enggan untuk menjawab. Leo melepaskan tangannya kemudian berubah menjadi memeluk Yuna dari belakang. "Sayang, kenapa?" tanyanya lembut.


Yuna mengambil nafasnya dengan dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Terserah kau saja Leo," jawabnya. Dia mencoba melepaskan pelukan Leo padanya tetapi Leo tidak membiarkan itu. Dia semakin mendekap Yuna.


"Aku tidak akan ceroboh lagi," ucap Leo dengan suara yang sedih. Dia merayu agar Yuna tidak mendiamkannya.


"Aku tidak harus mengulanginya berkali-kali kan? Kau tahu apa batasanmu, kau tahu apa laranganmu," ucap Yuna.


"Baby Arai tidak berat sayang," jawab Leo. Jawaban yang membuat Yuna kesal. Masih saja dengan alasannya, batin Yuna.


"Terserah," ucap Yuna kesal. Dia mencoba melepaskan pelukan Leo lagi meskipun tidak berhasil lagi.


"Ok, aku tidak akan mengulanginya," ucap Leo patuh. Yuna diam tidak memberi jawaban. "Sayang, aku akan patuh. Janji," ucap Leo. Dia membalik badan Yuna untuk menghadap ke arahnya. "Janji," ucap Leo lagi dengan imut. Matanya menatap Yuna dengan imut, sementara kedua tangannya diletakkan di kedua telinganya. Pandangan imut yang membuat Yuna gemas.


"Jaga dirimu dengan sangat baik. Aku tidak harus mengucapkan itu lagi dan lagi kan?" Yuna menatap Leo. Dan menurunkan kedua tangan Leo. "Jangan merayu," ucapnya. Yuna menjadi merasa lucu dengan ini.


"Kau marah, jadi aku harus merayumu," jawab Leo. Yuna tersenyum dan langsung mencubit pinggang Leo. Ini ... seperti berkebalikan dengannya. Biasanya, Yuna yang ceroboh lalu Leo akan mengomelinya dan mendiamkannya. Yuna mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkan di pinggang Leo. Dia memeluk Leo, menyandarkan kepalanya di dada Leo. Sekarang, Yuna tahu, bagaimana rasanya memiliki kekhawatiran yang berlebih pada seseorang yang sangat berarti untuk kita.


Leo membalas pelukannya dan mencium rambutnya.


"Aku tahu batasan itu sayang. Aku sudah janji padamu untuk tidak lagi membuatmu cemas," ucap Leo.


"Tapi terkadang kau egois dengan dirimu sendiri, memaksa diri mu untuk kuat," sahut Yuna. "Hasil lab-nya sudah sangat bagus, perkembangan kondisi tubuhmu juga bagus. Kau hanya perlu berhati-hati dalam setiap gerakan dan menjaga keadaanmu sendiri," ucap Yuna dan dia masih ceriwis memperingatkan Leo. A sampai Z, kemudian balik dari Z sampai A. Bibirnya sangat terampil.


Leo mendengarkannya dengan patuh kemudian dia mengakhiri pidato Yuna dengan kecupan manis di bibirnya.


________________


Pagi hari di Ibu Kota. Di rumah besar keluarga Mahaeswara.


"Kau yakin tidak ingin bareng Mama kesana?" tanya Nyonya Mahaeswara pada Vano saat beliau bersiap untuk berangkat ke Negara A.


"Kenapa harus bersamamu? Dia akan menghabiskan liburan akhir tahun disana nanti bersama Neva," Tuan besar Mahaeswara yang menjawabnya. Beliau menepuk pundak Vano pelan. "Bukan begitu anak muda?"


Vano mengangguk dengan senyum.


"Hmm, Mama berdo'a untuk kalian berdua. Semoga Leo segera sembuh dan kalian berdua segera menikah," kini Mama Mahaeswara berbicara pada Vano.


"Aamiin," jawab Vano mengamini do'a mamanya.


Kemudian, dia sendiri yang mengantar orang tuanya ke bandara.


"Hati-hati Ma, Pa. Salam untuk semuanya yang disana," ucap Vano. Kemudian, setelah dari bandara dia membawa mobilnya menuju rumah besar keluarga Nugraha.


"Kak Dimas ada di rumah?" tanya Vano setelah ia duduk di ruang tengah.


"Kak Dim, tiga hari kembali dulu ke pulau S," jawab Neva.


"Kau dirumah sendiri?"


____________________________


Catatan penulis πŸ₯°


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih udah begitu sabar menunggu kelanjutan kisah ini πŸ₯°πŸ™ Padamu... luv luv.


Maaf kalau ada Typo-typo ya. πŸ™ Mohon dikoreksi.