
Mobil Leo telah parkir di halaman kastil mereka. Langit sudah gelap ketika mereka sampai. Bulan terlihat begitu terang di atas sana, ditambah bintang-bintang yang berkerlip indah. Leo lebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Yuna. Kemudian, dengan memeluk pinggang Yuna, mereka berdua melangkah masuk ke dalam.
"Selamat malam Tuan muda, Nyonya muda," sapa asisten rumah tangga yang berbaris berjejer.
"Malam," jawab Yuna dengan ramah. Kemudian, mereka berdua langsung naik ke atas. Yuna membuka coat yang ia kenakan sementara Leo kembali turun ke bawah. Dia mengecek menu makan malam yang di siapkan oleh asisten rumah tangganya. Dia hanya meminta sup ayam dan bubur beras merah.
"Apa ada yang harus disiapkan lagi Tuan muda?" Asisten rumah tangga bertanya dengan sopan. Dia menunduk dan menyatukan kedua tangannya kedepan.
"Tidak ada, kau boleh pergi," jawab Leo.
"Baik Tuan muda," asisten rumah tangga membungkukkan badannya kemudian pergi. Leo kembali ke kamar dan duduk di sofa di samping Yuna didalam kamar mereka. Sejujurnya, Yuna ingin keluar dan duduk di bangku balkon, menikmati bulan yang bersinar terang malam ini, dengan ditemani suara debur ombak. Namun, dia ingat jika Leo tidak memperbolehkan dirinya untuk berada di sana ketika malam.
"Kau dari mana?" Yuna bertanya setelah Leo duduk di sampingnya. Dengan pelan, dia langsung menyandarkan kepalanya di dada Leo, melingkarkan tangannya di perut Leo.
"Dari bawah," jawab Leo. Tangannya mengusap rambut Yuna dengan lembut. "Kau mau makan di sini apa dibawah?" Tanyanya.
"Aku belum lapar," jawab Yuna. Dia mengendus aroma Leo.
"Kau harus segera istirahat. Ayo makan malam dulu. Kau mau aku membawanya kesini?"
Yuna menggeleng, "Tidak perlu, kita kebawah saja," jawabnya. Kemudian, mereka berdua turun ke bawah untuk makan malam. Leo dengan telaten menyiapkan bubur beras merah di piring Yuna. Lalu sup ayam di mangkuknya.
"Terima kasih," ucap Yuna. Dia mencium pipi Leo dengan lembut sebagai hadiahnya.
Seperti biasa, mereka berdua makan dengan tenang hingga makanan habis. Dan seperti biasa setelah sesi makan selesai, Leo menyeka bibirnya dengan anggun. Dia juga melakukannya untuk Yuna.
Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar. Yuna mengganti bajunya dengan piyama lalu ia membuka tirai kamarnya dan berdiri di depan dinding kaca. Sudut bibirnya terangkat, dia tersenyum. Dari sini, dia masih bisa menyaksikan bulan yang bersinar terang, sinarnya membuat air laut berkilauan. Yuna segera mengambil ponsel miliknya lalu mengabadikan bulan dan ombak malam ini dari tempatnya berdiri. Leo sedang berada di dalam kamar mandi saat ini. Dia membersihkan diri sebelum beranjak untuk tidur.
Sebelum Tuan suami menonaktifkan ponselnya, Yuna lebih dulu membuka chatnya. Ada pesan dari, Ayah, Adel, Papa, Mama, Karel dan Alea. Dia membuka satu persatu pesan itu. Nama terakhir, rasanya tidak ingin dia buka tetapi pada akhirnya dia membukanya.
"Bagaimana kabar mu Yuna?" pesan dari Alea. Yuna tersenyum dengan sinis, dia benci pesan ini, dia benci seseorang yang mengirim pesan ini. Kenapa, seseorang yang dia anggap sebagai saudaranya sendiri malah dengan lembut menusuknya dari belakang. Seseorang yang dijadikannya sahabat, malah mencintai suaminya. Jika mengingat semuanya, rasanya Yuna ingin berteriak. "Jangan dekati suamiku, jangan menyukai suamiku, jangan mengharapkan suami ku. Dia milikku, hanya milik ku" Yuna hanya mampu berteriak dalam hati. Matanya menjadi berkaca-kaca, hatinya terasa perih. Mengingat, dia sendiri yang memberi kesempatan pada Alea untuk bisa dekat dengan Leo.
Lalu pesan satu lagi masuk ke dalam ponsel Yuna, pesan dari Alea. "Mohon do'anya kawan. Papa lagi dirawat di rumah sakit," isi pesan dari Alea. Membaca pesan terbaru itu, ada rasa kasihan dalam hatinya. Dia tahu, kehidupan Alea tidak mudah. Haruskah dia membiarkan pesan itu, atau membalasnya.
Leo baru selesai mandi dan masih menggunakan jubah handuknya. Dia langsung memeluk Yuna dari belakang. Meninggalkan kecupan lembut di rambutnya.
"Sedang apa?" Tanyanya pada Yuna.
"Hmm?"
"Nyonya cantik, kau harus segera istirahat," ujar Leo. Tangannya mengusap perut Yuna penuh kasih.
"Lihatlah bulan itu," ucap Yuna dengan menunjuk bulan yang bersinar begitu terang. Namun Leo tidak mengikuti petunjuknya, dia malah menciumi pipi Yuna. "Hei," tangan Yuna mendorong wajah Leo untuk menjauh. Leo menurut, dia menjauhkan wajahnya dari Yuna. Namun sebenarnya itu tidak jauh, hanya mengganti posisi saja. Saat ini Leo berganti menyandarkan dagunya di pundak Yuna.
"Apa kau lihat bulan yang bersinar terang itu?" Tanya Yuna yang dijawab anggukan kepala oleh Leo. Yuna sudah mematikan ponselnya dan dia hanya mengenggamnya. "Apa kau juga bisa melihat bintang Sirius?" Yuna bertanya lagi. Dan Leo menjawabnya dengan anggukan lagi. "Aku tidak ingin kau menjadi keduanya," lanjut Yuna.
"Kenapa?"
"Kau begitu indah, hingga semua mata yang melihat mu begitu terpesona. Itu membuat ku cemburu," jawab Yuna. Leo terkekeh mendengar itu. Dia sangat suka ketika Yuna bilang dia cemburu padanya.
"Lalu?"
"Aku ingin kau menjadi bintang yang tak terlihat dan hanya aku saja yang mampu melihat mu," jawab Yuna. Sudut-sudut bibir Leo terangkat membentuk sebuah senyuman, dia membuat kecupan dipundak Yuna. "Sayang," panggil Yuna.
Yuna membelai ponselnya dan membuka chat dari Alea. Dia menunjukkannya pada Leo.
Leo membacanya sekilas.
"Menurut mu, apa aku harus membalas pesannya dan mendoakan kesembuhan Papanya?" Tanya Yuna meminta pendapat dari suaminya. Leo mengangkat kepalanya kemudian mengambil ponsel dari tangan Yuna.
"Kenapa kau belum memblokir nomor ponselnya?"
"Aku belum sempat," jawab Yuna. Tepat saat Yuna menyelesaikan kalimatnya, Leo telah selesai memblokir nomor ponsel Alea. Kemudian, dia mengangkat Yuna dan membawanya ke ranjang.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting," ucap Leo. Dia membaringkan Yuna dikasur. Lalu dia mengganti baju dan segera menyusul Yuna, menyusup ke dalam selimut lembut bersama istrinya. Yuna menyandarkan kepalanya di dada Leo, "Tidurlah," ujar Leo dengan mendekap hangat tubuh Yuna.
"Ceritakan sebuah kisah yang indah," pinta Yuna. Matanya mulai terpejam.
"Pada suatu hari, ada seseorang gadis Rapunzel yang terkurung di istananya," Leo mulai bercerita sebuah kisah. Tangannya mengusap rambut dan perut Yuna penuh kasih.
Yuna tersenyum lebar mendengar awalan kisah yang akan Leo ceritakan padanya.
"Lalu," katanya.
"Lalu, pangeran tampan datang untuk membawanya pergi, menyelamatkan gadis Rapunzel dari mantra yang membelenggunya selama ini," lanjut Leo. "Pangeran sangat mencintainya, meski gadis Rapunzel sering membantah titahnya."
Yuna tertawa kecil dengan kisah yang Leo ceritakan. Tangannya memeluk Leo dengan erat.
Leo melanjutkan kisahnya.
"Gadis Rapunzel begitu pandai membuat pangeran kalah dalam segala hal, dia juga sangat pandai merayu. Terkadang, gadis Rapunzel sangat nakal tetapi pangeran tidak kalah nakal darinya."
Yuna masih saja tertawa dengan kisah malam ini.
"Oh ya?" Tanyanya.
"Tentu saja. Pangeran lebih pandai dalam hal ini," jawab Leo. Dan dengan cepat tangan itu menyusup kedalam piyama Yuna dan dengan begitu lincah melepas kaitan pada bra yang Yuna kenakan.
"Aaaaaaaa ... kau memang sangat nakal," Yuna berteriak dengan kencang. Dia memukul dada Leo.
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Terima kasih untuk semuanya untuk dukungannya pada kisah ini.
Rate Sebenarnya Cinta π turun 4,8. Aku boleh minta tolong Yach dengan kerelaannya, yang belum ngasih bintang, tolong kasih bintang lima buat novel ini. Terima kasih π
Pada awalnya SC malah turun ke 4,7 lalu dibantu temen-temen SC buat naikin Rate lagi. Alhamdulillah naik satu jadi 4,8. Semoga bisa naik lagi ke 4,9 ya kawan. Terima kasih semuanya.
Mohon kerelaannya yach buat klik bintang lima.
Jempol digoyang yuuukkk... amboii... Terima kasih SSC πΉ aku padamu. Luv luv π₯°π