
Sementara itu..
di hotel tempat Reza menginap ia baru sampai rapat dengan kliennya, Reza merebahkan diri dan mengusap wajah kasar pikirannya kacau sekarang ini, yg ia rasakan hanyalah rindu dengan si gadis.
📱 mengirim pesan.
"lagi apa?"
saat Airin masuk ke kamarnya hp nya berbunyi menandakan ada pesan, saat ia membuka pesan itu senyum mengembang di bibirnya, tak butuh waktu lama ia membalas pesan itu.
"*habis makan eh Abang udah sampai?"
"udah dari siang tadi, kamu ga sibuk kan?"
"engga"
"Abang Video call ya?"
"belum mandi tadi abis sekolah langsung tidur"
"yaudah nanti malam kalo Abang ada waktu lagi aku hubungi, sekarang mandi terus belajar"
"Abang makan sana aku tau pasti belum makan sesampainya di sana"
"iya tuan putriku*"
hati Airin girang sekali sampai-sampai ia meloncat-loncat dikasur nya.
kembali ke Reza..
'dia sangat kekanak-kanakan tapi membuat ku tak bosan dengannya apalagi memandangi wajahnya, andai kamu tau aku yg sebenarnya Airin pasti kita akan melakukan hak kita masing-masing dengan rasa cinta, Sebenarnya Cinta ku ini sudah lama disaat kau berumur 3th dan aku berumur 7th' angan Reza dalam hati.
"tuan jam 9 malam ada makan malam bersama beberapa konglomerat dan tuan bisnis lainnya." pesan asisten Han.
kemudian Reza bergegas akan makan malamnya nanti ia dijemput supir sewa nya. sampai di restauran ternama Italia ia disambut oleh rekannya maupun konglomerat yg lain.
"apa kabar tuan Rezasyah." sapa Dani.
"baik tuan Dani, gimana dengan anda sekarang?."
"ya begitulah."
"perkenalkan dia adikku, cantik kan?." senyum seringai Dani.
"hay saya Zora Bittorre." tersenyum genit
"saya Rezasyah Adiguna." berwajah dingin
"jadikan dia istri kamu Za dia masih segar." rayu Dani.
"haha maaf kawan aku udah punya pacar."
mana mungkin Reza menyatakan kalo ia punya istri, kalo istrinya itu disimpan seperti harta Karun.
Dani dan Zora sedikit kecewa dengan penolakan Reza, padahal ia berharap bisa masuk ke dalam keluarga Adiguna yg kekayaannya melintir.
"wah-wah gue nusul deh." ejek Dani.
pukul 11 malam Reza memutuskan untuk kembali ke hotel dulu karena ia tidak ingin terbawa minum minuman beralkohol, ia sudah janji dengan orangtuanya bahwa setelah menikah tidak akan meminumnya lagi.
sebelum beranjak ke tempat tidurnya ia membersihkan diri setelah itu ia pun berbaring dan memainkan ponselnya.
'apa dia sudah tidur?'
tanpa ragu-ragu Reza menekan lambang video call itu..
beberapa kali Reza menekannya tapi tidak ada jawaban dari sana, satu kali ini Reza mencobanya kembali
terhubung..
tapi yg dibalik layar itu bukan gadisnya melainkan bi lina yg berada di kamarnya.
'*maaf tuan saya lancang mengangkat panggilan tuan karena sudah 12x tidak diangkat maka saya yg angkat'
'tidak apa bi, dimana Airin apa dia sudah tidur'
'iya tuan bahkan nona belum makan malam'
'kenapa bisa?'
'maaf tuan, sejak tadi saya mengingatkan nona untuk makan malam tapi nona bilang selesai mengerjakan sampai nona tertidur seperti ini*'
bi lina mengarahkan ponsel itu ke arah Airin.
Reza tersenyum melihatnya ia benar-benar gemas melihat gadisnya yg tidur dengan posisi tengkurap dan tangannya sebagai bantal, ingin sekali ia merapikan anak rambut yg sedikit menutupi wajahnya, ia pun tak lupa screenshot gadisnya.
'*tidak perlu bi awasi terus gerak geriknya disaat aku tidak bersamanya dan taruh buku itu dimeja belajarnya, saya tutup dulu'
'baik tuan*'
Reza pun ikut terpejam..
sementara itu di kediaman keluarga Jackson kakak Airin pulang dari Bali semenjak dia SMK dulu, sang kakak hanya ingin mandiri se persisnya Reza.
"Airin kakak pulang, nih aku bawain oleh-oleh." teriak Saga.
tapi tidak ada jawaban dari kamar mami maupun Airin, tidak biasanya adiknya tidak keluar kamar disaat ia pulang, pasti Airin menyambutnya didekat pintu tapi ini tidak dan itu membuat Saga heran, yakan Airin dirumah si suami gimana si.
"Saga anak mami, malam gini baru sampai?." mami sarah.
"iya mi, oh ya dimana Airin? tumben dia ga nongol, kalo kakaknya pulang musti dia minta gendong." tawa Saga mengingat hal lucu adiknya. emang adik anda lucu haha.
"Ai sudah papi serahkan ke keluarga Adiguna." membuat Saga terkejut.
"beneran mi?." mami mengangguk.
"yah mi gimana oleh-oleh ini? padahal ini khusus untuk Airin."
"disimpan dulu besok kamu boleh bawain olehnya ke rumah Reza."
"iya mi."
Saga emang orang yg penyayang apalagi jika bersama adiknya tercinta itu.
Airin sudah bersiap untuk sekolah pagi ini ia sarapan tanpa bibi-bibi nya karena Airin hanya sarapan roti isi coklat.
"nona tadi malam tuan menelepon tapi nona sudah tidur." ucap bi lina yg mengantarkan Airin ke depan.
"kenapa ga bangunin aku? padahal aku kangen banget sama Abang ku." Airin melesu.
"yg kamu kangenin udah ada disini kenapa harus muram seperti itu." tiba-tiba Reza datang memang ia disana hanya satu hari untuk pertemuan saja, sesekali bohongi istri lah ya kalo bener bilang satu hari nanti merengek minta ikut kan istrinya lagi disembunyiin.
tapi Airin bukannya senang atau memeluk Reza malah ingin sekali ia menonjol wajah itu karena ia merasa dibohongi ia pun tidak bereaksi.
"kenapa?."
"kenapa apa?."
"kenapa diam? kata kangen kenapa ga dipeluk malah diam disitu."
"sekarang enggak."
"ayolah Airin peluk Abang."
"gggaaaaaakkkk."
Reza pun melangkah mendekat ke Airin dan langsung memeluk gadisnya tapi Airin tak membalas pelukan itu ia merasa jengkel karena kesal dengan Reza yg membohonginya.
lama Reza memeluk, ia rasa tidak ada balasan dari Airin sekarang ia longgarkan pelukan itu.
"Abang minta maaf karena udah berbohong ke kamu." ucap Reza mencubit hidung gadisnya pelan lalu memeluk lagi.
"gak dimaafin aku gak mau." masih terdiam.
"yaudah Abang harus apa biar kamu maafin Abang ha?." tawar Reza.
"Abang harus terkena hukuman." masih muram.
"katakan." bi lina yg dibuat senyum-senyum sendiri pun masuk ia tak mau ikut campur hal seperti ini dengan majikannya.
"aku mau nonjok perut Abang." Reza pun tergelak tawa atas hukuman gadisnya.
"baik ayo lakukan." tanpa basa basi Airin langsung menonjok perut kekar Reza.
bug.. bug.. bug..
terus dan terus Airin menonjoknya, tapi Reza tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak ya menurutnya itu lucu.
"hahahaha udah kan sekarang ayo sini peluk." Reza memeluk Airin kembali dan Airin pun membalasnya.
"Abang jahat, kata disana empat hari tapi ternyata satu hari hikss.." Airin memukul dada bidang Reza.
Reza tak mengaduh sedikit pun karena tangan Airin kecil untuk melawannya. malah ia mengecup kepala gadisnya itu terus menerus.
hai readers maaf author baru update kembali karena belakang ini author demam dan sekarang sudah lebih baik, jadi dukung author untuk terus update biar tambah semangat.
selamat membaca 🤗