
"Leo sakit, Pa," ucap Vano rendah. Mau tidak mau dia harus bilang tentang Leo pada papanya. Pandangan Tuan besar Nugraha langsung tertuju padanya, pun dengan mamanya. Jeruk ditangannya bahkan terlepas tanpa ia sadari.
"Sakit?" tanya Tuan besar Mahaeswara yang diikuti oleh rasa penasaran istrinya. Neva menoleh ke arah Vano dan mengulurkan tangannya. Dia menggenggam erat tangan Vano untuk memberi isyarat agar tidak melanjutkan ucapannya. Untuk tetap merahasiakan keadaan kakaknya. Vano menoleh ke arah Neva, ia membalas tatapan mata gadis itu. Dia harus bilang tentang Leo, atau hubungan mereka berakhir.
"Leo sakit apa?" Tuan besar Mahaeswara mengulangi pertanyaannya. Vano membalas genggaman tangan Neva dan kemudian menoleh ke arah papanya. Dengan pelan dia menjelaskan sakitnya Leo, bagaimana keadaan Leo saat ini, dan apa yang menjadi fokus keluaga Nugraha saat ini.
"Mari kita memberi dukungan pada mereka, Pa. Jika Leo sudah sembuh nanti baru kita bahas ini lagi," ucap Vano.
Tuan besar Mahaeswara dan Nyonya besar Mahaeswara termangu beberapa saat sebelum akhirnya mereka berdua mengangguk. Ya, saat ini yang harus mereka lakukan adalah memberi dukungan pada keluarga Nugraha.
"Baik," Tuan besar Mahaeswara menyetujui. Setelah menatap putranya, beliau kembali menatap Neva. "Tapi ... biarkan Papa bertanya sekali lagi pada Neva," ucap Tuan besar Mahaeswara. "Neva," panggilannya.
"Ya, Pa," jawab Neva. Tangan Vano masih menggenggam erat tangannya.
"Kau bersedia atau tidak untuk menikah dengan Vano? Jika kau bersedia, maka Papa akan membiarkan Vano untuk menunggumu lagi. Dengan satu permintaan dari Papa, setelah Leo sembuh, segeralah menikah jangan lagi ditunda. Namun, jika kau tidak ingin segera menikah dengan Vano, Papa mohon dengan kerelaan kalian berdua untuk mengakhirinya hubungan ini," ucap Tuan Mahaeswara. "Jadi, Neva ... apa kau bersedia segera menikah dengan Vano atau melepaskannya??"
Neva diam beberapa saat memikirkan semuanya dan merasakan degupan jantungnya. Kemudian, dengan pelan dia membuka mulutnya untuk menjawab.
"Aku bersedia menikah dengannya, Pa. Aku bersedia segera menjadikan hubungan ini menjadi ikatan suci," jawab Neva dengan kesungguhan. Vano menatapnya dari samping, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kebahagiaan. Jantungnya berdegup dan genggaman tangan semakin erat. Yess ... soraknya dalam hati. Akhirnya.
Mama Mahaeswara tersenyum dengan bahagia, beliau bernafas dengan lega. Neva, menantu yang ia harapkan.
"Baik, jika kau menyetujuinya. Papa mendukung hubungan kalian. Segera setelah Leo sembuh, mari bicarakan ini lagi," ucap Tuan besar Mahaeswara. Neva mengangguk.
"Bagaimana jika kita membesuk Leo Pa," Nyonya Mahaeswara berbicara. "Emm, dimana Leo dirawat, Neva?" tanyanya pada Neva.
"Di negara A, Ma," jawab Neva.
"Jadi keluarga Nugraha kesana untuk berobat Leo?" Mama Mahaeswara mengangguk paham. Beliau tahu jika keluaga Nugraha tengah berada di negara A tetapi beliau tidak tahu jika itu karena Leo tengah sakit.
"Setelah urusan diluar kota selesai, kita kesana," ucap Tuan besar Mahaeswara yang disetujui oleh Nyonya besar.
Vano bernafas dengan lega karena Papanya mau mengerti dan mau memberi waktu lagi untuk menunggu. Dan dia juga sangat bahagia karena pada akhirnya Neva menyetujui untuk menikah dengannya.
Kemudian, Tuan dan Nyonya besar pamit. Ada undangan pertemuan dari seorang teman.
"Sayang terima kasih," ucap Vano. Dia membawa tangan Neva pada bibirnya. Neva menatapnya dengan senyum dan mengangguk.
"Sebenarnya aku sudah memikirkan jauh hari yang lalu sebelum kepergianmu ke luar kota, sebelum kita sempat break. Aku telah berjanji pada hatiku akan bilang iya jika kau mengucapkan permintaanmu sekali lagi. Dan aku menunggu kau mengucapkannya lagi tapi ternyata kau malah bilang break," jawab Neva. Vano menatapnya dengan menyesal. Tangannya terangkat dan mengusap pipi Neva.
"Maafkan aku gadis," ucapnya. Neva mengangguk dengan senyum.
"Tidak apa-apa. Memang aku yang salah, itu hukuman untuk ku," jawab Neva. Vano mendekatkan dirinya. Jarak mereka berdua begitu dekat.
"Uhum," Nyonya Mahaeswara berdehem. Beliau telah selesai berdandan. Vano segera menarik tangannya dari pipi Neva dan menoleh ke arah mamanya. Dia nyengir kuda dengan lucu. "Jangan macam-macam anak muda," ujar Mama Mahaeswara menatap putranya dengan tajam. "Mama akan membunuhmu jika kau macam-macam," ancamnya.
"Tidak akan," jawab Vano dengan mengangkat kedua tangannya.
____________________________
Malam hari di negara A.
Leo masih bermain di atas karpet lembut dan anaknya. Dia melakukan cilukba, kemudian menggelikitik Baby Arai. Tawa menggemaskan dari bibir imut Baby Arai membuatnya ikut tertawa bahagia.
"Sayang sudah malam," ucap Yuna menyentuh pundak Leo. Dia duduk disamping Leo. Leo menoleh ke arahnya dan langsung menempatkan kepalanya di paha Yuna, melingkarkan kedua tangannya dengan manja.
Baby Arai heboh dan berteriak-teriak semaunya melihat itu. Dia langsung membalik badannya menjadi tengkurap dan dengan gerakan lucu dia ingin memprotes. Leo tertawa melihat anaknya sangat ekspresif.
"Ayo sini, semangat merayapnya," kata Yuna dengan senyum lebar.
"Ayo, ayo ... tampannya Daddy bisa," Leo menyambungnya. Tangan Yuna terangkat untuk diletakkan di atas kening Leo, mengecek suhu tubuhnya, kemudian dia mengusap rambut Leo penuh kasih.
"Apa ada yang kau rasakan?" tanya Yuna. Dia menunduk menatap Leo.
"Ada," jawab Leo. Dia mendongak membalas tatapan Yuna.
"Bagian mana yang sakit," tanya Yuna cemas. Dia menatap Leo dengan sedih. Leo mengambil tangan Yuna dan meletakan di atas dadanya.
"Disini," jawabnya. "Aku merindukan mu," lanjutnya dengan tatapan lembut dari mata indahnya. Yuna tersenyum dan membuat cubitan kecil di dada Leo. Dan itu membuat Leo memekik.
"Kenapa kau malah mencubitnya," protes Leo. Dia mengerucutkan bibirnya.
"Mammm ... ammm," Baby Arai berceloteh bahagia. Dia telah sampai pada Leo. Dan sebentar lagi sampai pada Yuna. Baby Arai perlahan mencoba naik ke atas tubuh Leo. Dan tangan Yuna dengan segera mengambilnya.
"Muach," Yuna mencium pipi menggemaskan milik Baby Arai. "Muach, muach ... selamat sayang kau sampai pada Mom, yeyyyyy," seru Yuna. Dia menciumi anaknya. "Ke kamar yuuk, bobo," ucapnya.
Kemudian, dia membawa Baby Arai kekamarnya sendiri. Yuna meninabobokan anaknya penuh kasih.
"Biar dia sama Mama," ucap Mama masuk ke dalam kamar Baby Arai.
"Sebentar lagi dia bobo, Ma," jawab Yuna dengan memelankan suaranya agar tidak membuat Baby Arai terbangun lagi. Mama mengangguk.
Setelan Baby Arai terlelap, Yuna memberikan pada Mama. Dan kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah tidur?" Leo menanyakan Baby Arai. Dia baru saja keluar kamar mandi.
"Baru saja. Dia tidur sama Omanya," jawab Yuna. Dia melangkah menuju Leo, berdiri di depannya dan mengambil handuk kecil dari tangan Leo.
"Sini, biar ku keringkan," ucap Yuna. Leo tersenyum dan membungkukkan badan agar memudahkan Yuna untuk mengeringkan rambutnya. "Beritahu aku apapun yang kau rasakan, sekecil apapun itu, sesederhana apapun itu, harus memberitahuku," ucap Yuna.
"Baik Nyonya," jawab Leo patuh.
"Awas jika kau bohong, aku akan menghukummu."
"Tidak berani," jawab Leo. Yuna dengan bibirnya yang terampil memberitahu batasan-batasan Leo sesuai instruksi dari Papa. Dan selesai, dia telah selesai mengeringkan rambut Leo.
"Kau harus selalu mengingatnya," ucap Yuna lagi.
"Iya, baik," jawab Leo patuh. Dia memeluk tubuh Yuna. "Aku akan menjaga diriku dengan sangat baik. Tidak akan lagi membuat semuanya cemas," lanjutnya. Yuna mengangguk dengan senyum. Dia membalas pelukan Leo.
Kemudian, Yuna masuk ke kamar mandi, sementara Leo mengganti bajunya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Taka lama, Yuna keluar kamar mandi dan mengganti baju.
"Sini," Leo mengulurkan tangannya. Dan Yuna langsung menyambutnya. Dia merebahkan dirinya di samping Leo dan langsung memeluknya.
"Setiap malam, peluk aku seperti ini," ucapnya. "Jangan pernah jauh lagi dariku. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku saat tengah malam aku terbangun dalam ketakutan dalam hatiku. Jangan mencoba untuk jauh lagi dariku," lanjut Yuna. Leo menundukkan kepalanya dan membuat kecupan kasih dikening Yuna.
__________
Catatan penulis
Kasih Sun Jempolnya jangan lupaaaaaa ... like komen yach kawan tersayang. Terima kasih ππ padamu π₯°
Maaf kalau ada typo-typo π