
Zian bergegas mengambil kunci mobilnya saat ia tak sanggup lagi menahan gelisah yang merambat di hatinya.
Entah kenapa, sejak tadi ia tak bisa tenang sedikitpun.
Bayangan Tiara terus melintas di benaknya.
Ya Tuhan, semoga Ara baik-baik saja di sana, ucapnya dalam hati saat mulai menjalankan mobilnya menuju ke tempat camping.
Sepanjang perjalanan mulutnya tak henti komat kamit meminta perlindungan dari Sang Pencipta. Agar melindungi Tiara di sana. Langit yang mulai gelap semakin menambah kecemasan di hatinya.
Mobil yang dikendarainya melaju kencang membelah jalanan.
\*\*\*
POV # Tiara
" OMG . . . kenapa aku sampai kesasar gini sih? udah mulai gelap lagi. Aku nggak tahu rute yang benar di mana ". desah Tiara pelan.
Beberapa saat kemudian
Krak
Bunyi ranting kering patah dari arah belakangnya. Sontak ia menoleh melihat siapa yang datang.
Seorang cowok muncul dari belakang. Wajah yang asing karena belum pernah dilihat Tiara.
Tiara seketika bangkit berdiri, senyumnya mulai terukir lagi.
" Kakak dari kelompok mana ?" tanyanya sok akrab. Padahal itu bukan sifat gadis yang pemalu itu. Dalam hati ia berharap, sosok di depannya bisa membantu menemukan rute kembali ke tenda.
" Dari kelompok elang, lo ngapain sendirian di sini ?" tanya cowok di hadapannya datar.
" Oh itu, em aku tersesat tadi kak . Boleh nggak bantuin aku balik ke tenda ?" tanya Tiara dengan hati - hati.
" Oke, yuk !" ujar cowok itu membuat Tiara lega. Dengan bersemangat ia mengikuti langkah cowok di depannya, tanpa berpikir panjang lagi.
Waktu berselang,
Tiara merasa mereka telah berjalan agak jauh namun belum sampai juga di tempat camping mereka. Suara para siswa pun tak terdengar sama sekali.
" Iya ya padahal gue udah capek banget nih. Kita istirahat dulu, gimana?" tanya cowok itu masih dengan wajah datarnya.
" Tapi kak . . .
Tiara ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
Sebenarnya ia ingin terus mencari rute kembali, namun ia tak ingin membuat kesal sosok di depannya.
" Gue lelah, dan sekarang sudah gelap. Lo nggak mau kan kita tersesat lebih jauh lagi?" tanyanya.
Tiara terdiam mencoba mencerna kata-kata cowok itu.
Ada benarnya juga sih, ucapnya dalam hati.
" Baiklah kak, aku ikut kakak aja ". jawab Tiara akhirnya menyetujui saran darinya.
" Nah, di depan sana sepertinya ada pondok kecil. Kita istirahat di sana saja ".
Tiara mengangguk mengiyakan karena merasa tidak ada pilihan lain lagi. Keduanya mulai berjalan mendekati pondok itu.
Tiara mulai sibuk dengan pikirannya.
Sebenarnya, siapa cowok ini? apa benar dia siswa dari sekolah yang sama dengan aku? btw, pondok siapa ini ya? Oh, mungkin ada penduduk setempat yang berkebun di sini, karena di samping nampak sayuran yang ditanam.
" Permisi !" cowok itu mulai mengetuk pintu pondok itu.
" Permisi, apakah ada orang di sini ?" panggilnya lagi sambil mengetuk pintu kembali.
Namun tidak ada sahutan dari dalam.
Ia mencoba mencari ke sekitar pondok namun tak menemukan siapapun. Akhirnya ia memeriksa pintu yang ternyata tidak terkunci. Dari luar hanya dikaitkan dengan paku yang ada di dinding papan.
Perlahan ia mulai membuka pintu, mendorongnya perlahan dan berhasil.
Tiara mengikuti dari belakangnya, memandang sekeliling ruangan yang ada.
\*\*\*\*\*