
Malam ini...
Adel sudah kembali tapi dia berjanji untuk datang lagi besok. Yuna sama sekali tidak mengaktifkan Hpnya. Dia ingin tenang saat ini... setenang ketika pernikahan itu belum dilaksanakan, setenang sebelum dia menginjak Ibu kota, setenang ketika dia menjadi gadis nakal karena sering kambur. Ternyata... hukuman dari Ayahnya lebih menyenangkan dari pada rasa patah hati dan kecewa. Dia ingin menjadi Yuna yang dulu... Yuna yang tidak mengenal siapapun selain Adel dan Karel.
"Kak er... dia menyakiti ku. Aku ingin kau menghajarnya. Menghancurkan wajahnya dan bahkan menghancurkan dirinya hingga dia tidak bisa lagi hadir di depan mata ku."
Yuna membuka jendelanya, merasakan kesejukan angin malam yang membelai wajahnya.
"Benar-benar sudah berakhir bukan? Aku tidak akan terluka lagi karena mu, tidak akan menangis lagi karena mu," Ia menatap lengkungan rembulan, sinar teduhnya membuat hati Yuna kembali terasa sakit. Cinta yang dia miliki dalam ribuan rasa ragu pada akhirnya berakhir dengan kekewaan.
Ungkapan cinta Leo hanya dibibirnya saja, bukan dari hatinya. Ungkapan cinta dibawah sinar purnama yang sempurnya... nyatanya hanya semu. Janji yang dia ucapkan di bawah sinar purnama yang sempurna, nyatanya hanya sebatas fatamorgana. Yuna tidak bisa lagi mempercayai apa yang keluar dari mulut Leo.
Kemudian, dia segera menutup jendelanya dan merebahkan dirinya di kasur. Menelentangkan tangannya lebar.
"Huwaaa... sangat menyenangkan...," dia menggerakkan tangannya seperti kepakan sayap kupu-kupu. "Benar-benar menyenangkan, tidak ada yang akan mengganggu ku, tidak ada yang membuat tempat tidur ku menjadi sempit."
Yuna kemudian guling-guling sendri di atas kasur beberapa kali sebelum akhirnya memeluk guling dan memejamkan matanya. Dia menghitung satu sampai seratus dan dia tidak bisa tidur. Satu sampai seribu dan masih tidak bisa tidur.
"Menyebalkaaaan.....," dia segera duduk dan beranjak. Dia duduk di sofa kamar dan menyalakan Tv, ia mengganti-ganti saluran Tv secara acak dan tidak benar-benar menontonnya. Dia terjaga sepanjang malam dan ketika jam di dindingnya menunjukkan pukul 04:00 dia segera berlari ke dapur dan mencoba membantu asisten rumah tangga untuk memasak, namun dia sama sekali tidak menyentuh pisau.
_Di sebrang sana, malam ini...
Leo masih sibuk dengan laptopnya, di kantor. Dia tidak ingin pulang, saat ini yang menjadi minatnya adalah bekerja. Dengan terus bekerja, ia tidak akan memikirkan apapun tapi tetap saja dia tidak bisa fokus, dia bahkan tidak makan apapun dari kemarin, dia hanya minum air putih hangat, itu saja.
Leo menunggu dan menahan rasa rindunya, dia tidak ingin Yuna meninggalkan dirinya, dia tidak ingin Yuna berbicara ketika dia masih di puncak amarahnya. Ia takut emosi akan membawa ucapan yang menyakitkan, karena... terkadang, emosi memang mampu mengalahkan logika.
"Lee, aku sakit, sangat sakit. Sekarang aku ada di rumah sakit. Aku menunggu mu, kau akan datang bukan? Aku pasti akan mati jika kau sampai tidak datang," pesan yang baru saja Leo terima, pesan dari Kiara.
"Jangan pernah menghubungi ku lagi Kiara. Kau sakit, kau bahagia, kau bersedih, apapun itu keadaan mu, itu tidak ada hubungannya dengan ku. Aku yang mencintai mu adalah aku yang dulu, sekali lagi... itu aku yang dulu. Saat ini dan selamanya, aku hanya mencintai istri ku. Ini pesan terakhir yang ku kirim untuk mu dan ku harap ini juga menjadi akhir dari semuanya. Aku tidak perduli lagi. Semoga kau lekas sembuh," send.
Setelah itu, Leo membuang ponsel miliknya dan tidak akan pernah menggunakan sim card itu lagi, dia tidak perduli dengan rekan bisnis dan semua yang dia kenal di sim card itu.
Leo, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya terasa sangat sakit, tersayat oleh milyaran pisau. Dadanya terasa sangat sesak, dia kembali menangis... menangisi kebodohannya.
"Sayang, aku merindukan mu." dia menggumam dalam isaknya.
_Di tempat lain, malam ini...
Vano... mengusap Hp miliknya, beberapa kali mencoba menghubungi nomor Yuna, namun tidak pernah tersambung. Ada apa dengan Yuna? Dia tidak pernah menonaktifkan Hp sebelumnya. Vano selalu memperhatikan setiap detik ketika Yuna online dan kapan dia offline.
Kenapa setelah pertemuan di malam itu... Yuna tidak mengaktifkan Hpnya? Vano takut terjadi apa-apa pada Yuna. Apa Leo mengurungnya? Apa Leo menyakitinya? Apa Leo merampas Hpnya? Vano sangat cemas. Banyak pesan yang dia kirimkan, namun tidak ada satupun yang terkirim.
"Gadis... kau baik-baik saja bukan?" dia menggumam sambil terus memperhatikan layar Hpnya.