
Waktu mulai beranjak siang.
Mentari bersinar dengan garangnya.
Di depan ruang guru, Hesti dan Tiara menunggu dengan gelisah. Sesekali Hesti mengipas wajahnya dengan buku tulis yang sedari tadi dipegangnya.
Gelisah yang dirasakan bercampur gerah menanti sahabatnya keluar dari ruangan di depannya. Waktu yang bergulir pun terasa lama.
" Ra' kamu tahu nggak ada apa sebenarnya?sampe dipanggil segala. Nggak biasanya kan?" tanya Hesti memecah sunyi yang tercipta di antara keduanya.
Dilihatnya Tiara yang terdiam sejak tadi. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
" Ra? denger nggak?" Hesti kesal dibuatnya.
" Eh sori, barusan ngomong apa?" tanya Tiara kikuk dengan tatapan kesal sahabatnya.
" Tadi aku nanya, ada apa sebenarnya dengan Dhilla sampe dipanggil segala?" tanya Hesti kembali.
" Oh itu, aku juga belum tahu ada apa. Sabar aja kita tunggu sampe selesai baru kita tanyain ke orangnya".
Kedua gadis itu kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Sekolah sudah mulai sepi karena siswa lainnya sudah pulang puluhan menit yang lalu.
Beberapa saat kemudian
Nampak Dhilla berjalan menuju ke arah mereka.
Kedua gadis itu serentak berdiri menyambutnya.
" Udah kelar la?" tanya Hesti tak sabar.
Dhilla mengangguk mengiyakan.
" Ada apa sih la? tadi kenapa dipanggil menghadap ke ruang guru?" Tiara mulai memberondongkan pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk di benaknya.
Mungkin juga sama dengan yang ada di benak Hesti terbukti iapun mengangguk tak sabar.
" Em . . . kita duduk di depan aja ya nggak enak di sini diliatin guru-guru". jawab Dhilla.
Ketiga gadis itu berjalan ke depan.
Setelah dirasa cukup aman, Dhilla pun mulai bercerita.
Tentang liburannya di jogjakarta.
Awalnya menyenangkan tapi semua berubah ketika tak sengaja ia bertemu dengan Wisnu di mall. Apesnya saat itu ia sedang bersama keluarga besarnya.
Karena keramahannya, Wisnu memberanikan diri menyapanya juga menyapa orang tuanya. Tak pernah terpikirkan kalau itu akan menjadi sebuah masalah besar di keluarganya.
Setelah pulang dari mall, kedua orangtuanya memanggilnya.
Menanyakan hubungannya dengan Wisnu juga tentang keluarganya.
Esoknya, Umi dan Abi kembali membahas tentang Wisnu. Keduanya juga melarangnya berhubungan dengan Wisnu. Walaupun Dhilla sudah tahu apa yang bakal terjadi, namun yang disampaikan oleh orangtuanya berhasil membuatnya sakit hati.
" Putusin Wisnu, kamu bakal Abi jodohkan dengan anaknya teman Abi di Jakarta. Orangnya pintar ngaji, tahun ini masuk perguruan tinggi terkenal di luar negeri. Kamu nggak bakal nyesel jadi istrinya nanti!". ujar Abi yang terasa menyakitkan bagi Dhilla.
" Aku nggak mau dijodohin kayak gitu Abi". jawab Dhilla berusaha sabar menghadapi permintaan abinya. Berusaha menahan tangisnya yang hampir pecah.
" Abi nggak mau dengar apapun lagi!" ujar abinya tak peduli. Seolah itu jalan yang terbaik untuk putri keduanya.
Dhilla menatap wajah umi meminta bantuan.
" Abi, Dhilla kan masih sekolah. Waktunya masih panjang untuk masalah jodoh. Biarlah dia memikirkan sekolahnya dulu". ucap umi dengan lembut berharap suaminya mengerti.
" Udahlah umi, Abi capek". balas suaminya seolah tak mau diganggu gugat lagi keputusannya.
Umi hanya bisa menghela napas panjang seraya memandang ke arah anaknya dengan lemah.
Sejak itu pikiran Dhilla tak pernah fokus. Dia selalu memikirkan perkataan abinya saat itu.
Akibatnya, nilai sosiologi kemarin hancur.
Nah itulah sebabnya ia dipanggil ke ruang guru.
*****