
"Tuan suami, kau begitu sibuk hingga kau tak sempat untuk menghubungi ku. Tuan tampan, apa kau merindukan ku? Hmm? Aku akan mencekik mu jika kau bilang tidak, hahaaa. Tuan nyebellin, kau baik-baik saja bukan?" send.
Pesan ini masuk ketika Leo tengah menjalani pemeriksaan lanjut hingga, Leo tidak segera membalasnya. Dia hanya mengirim pesan pada Yuna, tidak pernah membuat panggilan telepon, tidak juga membuat panggilan video. Dia masih menatap rasa sakit pada punggung, lengan dan telinganya. Jika dia melakukan panggilan telepon maka Yuna pasti akan langsung menyadari suaranya.
Di sana. Mata itu tetap terjaga, menekan tombol pada ponselnya, sesekali menggoyangkannya juga untuk mencari sinyal. Mungkin saja karena sinyal di kamarnya sangat jelek hingga membuat pesan Leo tidak bisa masuk. Begitu pikirnya.
****@*****
Pagi hari di rumah keluarga Mahaeswara.
"Bagaimana hubungan mu dengan Neva?" Tanya Nyonya Mahaeswara pagi ini sebelum mereka memulai sarapan.
"Bagaimana apanya?" Jawab Vano rendah.
"Kamu suka sama dia atau tidak? Mama tidak memaksa. Itu terserah pada kalian berdua," kata Nyonya Mahaeswara sambil mengoles selai nanas pada rotinya. "Nyonya Nugraha juga begitu, dia menyerahkan semuanya pada kalian berdua," kalau cocok lanjut dan jangan tunda untuk bilang sayang padanya. Ntar keduluan orang lho...," Mama menatap putranya yang tengah menaruh serbet di pangkuannya. Nyonya Mahaeswara selalu mengikuti perkembangan gosip antara calon menantu cantiknya dan Raizel. "Apa kau tahu Artis Raizel? Sepertinya mereka tengah dekat," lanjut Nyonya Mahaeswara. Beliau menekankan kalimat terakhirnya.
Vano tidak memberi respon pada apa yang Mamanya ucapkan. Dia tahu gosip itu dan tidak memperdulikannya. Dia tahu, Neva mencintainya, Neva juga tahu jika Vano mencintainya. Masalahnya adalah tentang masa lalu yang menjadi bayangan. Dia ingat percakapan pada malam sendu itu.
*"Jangan lukai hati Kakak. Jangan berharap pada cinta yang begitu sulit untuk bersama. Aku tidak ingin kau berada di tempat yang membuat mu tidak nyaman. Aku tidak mau kau berada di tempat yang ada seseorang yang memandang mu dengan kebencian. Dan pandangan itu adalah milik Kakak ku sendiri."
"Aku mencintaimu. Aku ingin kau disukai semua keluarga ku, aku akan sakit jika melihat mu dipandang dengan kebencian oleh Kakak ku. Aku akan sakit jika Kakak ku memendam semua kegelisahan hanya demi aku. Kak Lee dan Kak Yuna telah bersama... biarlah mereka bahagia, biar aku yang mengalah dan menyerah. Kita belum memiliki ikatan apapun jadi ini akan mudah untuk saling melupakan."*
Vano menghela nafasnya dan kemudian mulai memakan sarapannya.
"Tuan muda, jika sayang, katakan," Nyonya Mahaeswara masih membahasnya, beliau menatap putranya dengan senyum manis dan perhatian, "Kalau cinta, kejar. Semangat dong," lanjutnya dengan mengangkat tangan kanan memberi semangat pada putra tercintanya.
Vano mengangkat wajahnya dan menatap Mamanya dengan tawa kecil.
"Sepertinya Mama sangat menyukainya," ujar Vano.
"Tentu saja," jawab Nyonya Mahaeswara. "Mama sih berharap kalian berdua jadian, hahaaa," lanjut Nyonya Mahaeswara.
__Di lokasi syuting film terbaru Raizel. Pukul 19.00. Syuting selesai. Adegan ciuman itu tetap ada hanya saja itu terlihat dari belakang, jadi... Raizel tidak benar-benar mencium lawan mainnya.
"Kenapa kau menolak adegan ciuman dengan ku?" tanya si artis cantik lawan main Raizel. Raizel tidak menjawabnya, dia terus melangkah menuju mobil miliknya. "Apa aku tidak cukup cantik?" Lanjut si artis cantik. "Aku bahkan lebih cantik dari gadis yang jadi gosip dengan mu itu."
"Tutup mulut mu, jika kau masih ingin bermain film dengan ku," jawab Raizel dengan kesal dan segera masuk ke dalam mobilnya. Lalu disusul asistennya.
"Jalan," ucapnya pada Bro supir.
"Hai," Raizel mengirim pesan untuk Neva. Beberapa detik menunggu dan tak ada balasan. Saat itu Neva sedang mengobrol seru dengan Yuna di taman samping di rumah Yuna.
Kemudian, Raizel menghadiri undangan menjadi juri tamu pada acara pencarian bakat anak.
Kemudians, dia menghadiri undangan salah satu acara talk show di salah satu stasiun televisi. Dan berlanjut hingga hampir pukul 00.30.
Perjalanan pulang, di dalam mobil. Dia mengecek ponselnya dan ada balasan dari Neva.
"Hai," Balas Neva singkat. Mata lelah Raizel langsung berbinar dan langsung duduk dengan benar. Sementara asistennya sudah berada di alam yang berbeda.
Tanda pada chat Neva sedang online saat ini. Raizel membaca status terakhir Neva.
"Martabak telor kaya' nya enak nih." itu bunyi status Neva.
"Aku bisa membawakannya untuk mu," balas Raizel. Setelah membalas pesan, dia langsung meminta Bro supir berhenti dan membeli martabak telur.
"Hahaaa aku hanya iseng," balas Neva.
"Tapi aku sudah terlanjur membelinya," balas Raizel.
"Serius?"
"Yoi. Aku segera meluncur ke rumah mu."
"Tapi aku tidak sedang di rumah."
"Lalu?" Balas Raizel. Kemudian, Neva memberi alamat pada Raizel.
Hampir satu jam kemudian, mobil milik Raizel berhenti di depan gerbang rumah Leo.
"Hei, aku ada di depan gerbang," ucap Raizel setelah panggilannya pada Neva tersambung. "Kau mau mengambilnya ke luar atau aku yang masuk ke dalam?" Tanyanya.
"Diam di situ. Aku yang akan keluar," jawab Neva dan langsung memutus panggilannya. Dia segera keluar rumah dan melangkah untuk keluar. Yuna yang masih terjaga memperhatikannya dari layar kecil di kamarnya.
"Nona Neva, maaf mau kemana?" Tanya security setelah Neva mencoba untuk memencet sandi gerbang. Security menghalanginya.
"Emmm, itu ada teman ku di luar. Dia sedang menunggu ku," jawab Neva dengan senyum.
"Tapi ini sudah dini hari Nona. Tuan muda Leo pasti tidak akan mengizinkannya," ucap Security mencegahnya.
"Hei, kakak ku tidak ada di sini," jawab Neva.
"Tapi itu perintah dari Tuan muda Leo. Mohon Nona memahami," security masih mencegahnya.
"Ish. Kak Lee benar-benar keterlaluan," Neva menggumam kesal. Kemudian, dia membuat panggilan pada Raizel.
"Ya," jawab Raizel.
"Bisa kau mengantar martabaknya kesini? Hahaa security terlalu patuh pada Kakak ku, menyebalkan," ucap Neva.
"Haha... okey," jawab Raizel. Kemudian, dia membuka mobil dan keluar menuju Neva. Dia berdiri di depan gerbang.
Dua security saling pandang. Artis terkenal itu.... batin mereka sama. Raizel tidak memakai masker, tidak juga memakai kaca matanya.
Raizel dan Neva berdiri saling berhadapan dengan terhalang gerbang yang menjulang tinggi.
"Hai," sapa Raizel dengan senyum dan mata yang merah karena lelah dan mengantuk.
"Hai," balas Neva.
"Ini," Raizel memberikan martabak telur yang ada di tangannya.
"Aku hanya iseng, kenapa kau sungguh membelinya dan mengantar kemari?" Ucap Neva setelah menerima martabak dari Raizel.
"Agar aku bisa bertemu dengan mu," jawab Raizel yang langsung membuat Neva tertawa kecil.
Yuna menyaksikannya dan tersenyum melihat mereka berdua. Kemudian, dia memencet tombol yang berada di dinding.
"Biarkan dia masuk," katanya.
Kemudian, security membukakan gerbang untuk Raizel.
Neva menatap security dengan kesal. Dari tadi napa Pak, batinnya.
Neva melangkah keluar, namun security langsung mencegahnya.
"Nona Neva dan Raizel silahkan ngobrol di dalam saja," ucap Security. Neva menatapnya lagi.
"Terima kasih Pak," ucap Raizel sopan. Kemudian, dia beralih memandang Neva, "Neva, maaf, aku harus segera kembali. Besok pagi udah harus di lokasi lagi," kata Raizel.
Neva mengangguk dan menatap wajah lelah Raizel. "Terima kasih untuk ini Riazel," ucap Neva dengan sedikit mengangkat martabat ditangannya.
"Okey," jawab Raizel. Kemudian, dia membuat gerakan pada tangannya. Gerakan yang memiliki arti saranghaeyo. Kemudian, tangan itu berpindah ke bibirnya lalu menempelkannya di pipi Neva. Mata Neva langsung melotot selebar-lebarnya.
"Ciuman tak langsung," ucapnya. Neva masih mematung dan tak berkedip. "Bye...." Raizel pamit padanya. Neva masih diam ditempatnya.
"Apa-apaan itu tadi?? Ciuman tak langsung katanya? Ciuman? Astaga aku lupa jika dia adalah cowok mesum. Untung saja di pipi dan bukan di sini," Dia menyentuh bibirnya. "Huff, syukurlah kesucian bibir ku masih terjaga."
Dua security itu tersenyum menyaksikan dua remaja yang tengah kasmaran. Itu yang mereka pikirkan.
"Manisnya...." Yuna tersenyum di dalam kamarnya, menyaksikan acara live artis papan atas dan adik iparnya.
***@***
Hari minggu pagi....
"Kak Yuna, ayo," ucap Neva sambil memakai sepatunya. Pagi ini mereka berencana untuk lari pagi di kawasan Car free day, di pusat Ibu Kota.
Mobil melaju sedang. Supir Albar selalu hati-hati. Dia menjaga Nyonya muda dengan sangat baik. Dia juga yang membeli apa saja yang Nyonya muda butuhkan.
"Non Neva," supir Albar memanggil Neva pelan.
"Ya?" Jawab Neva. Dia melihat ke arah supir Albar.
"Non Neva cocok lho ama Raizel," ujar supir Albar yang langsung membuat Neva menepuk keningnya. Sementara Yuna langsung tertawa kecil.
"Kau menjadi terkenal Neva. Raizel keren juga," tambah Yuna.
"Hei, kenapa kalian ikut-ikutan?" Neva memprotes supir Albar dan Yuna. Matanya melihat supir Albar dan Yuna secara bergantian. "Aku dan dia hanya teman, okey," lanjut Neva.
"Teman rasa pacar kali ya Non," sahut supir Albar.
"Apaan itu?" Tanya Neva. Dan.... supir Albar langsung menyalakan Audio dan langsung memutar sebuah lagu dengan judul "Teman rasa pacar versi Nella Kharisma."
"Hahaa, sebagian liriknya aku ngga ngerti artinya," ucap Neva setelah mendengar lagu yang di maksud Albar.
"Iya, saya juga melihat mereka janjian ketemu di depan gerbang Nyonya muda," tambah Albar.
"Astaga.... jadi kalian adalah bagian dari mata-mata. Aku harus lebih hati-hati jika begitu," Neva kembali menepuk keningnya.
Mereka ngobrol receh di dalam mobil. Hanya bersama Tuan muda Leo saja, Albar menjadi kaku bak boneka kayu. Bossnya itu selalu serius dan tidak pernah mengajaknya bicara selain mengenai sesuatu yang penting.
Lain halnya dengan Nyonya muda. Albar suka gayanya, ramah, bersahabat dan bahkan kadang bisa melucu. Pasangan yang serasi.... menurut Albar, Tuan muda yang pendiam mendapatkan Nyonya muda yang cerewet, saling melengkapi.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Albar segera membuka pintu mobil dan Neva menggandeng Yuna dengan hati-hati.
"Berapa lama Mama di Negara A?" Tanya Yuna. Mereka berdua jalan jalan santai. Neva mengangkat bahunya. Dan kemudian, dia melakukan selfie bareng Yuna.
"Aku akan mengirimnya untuk Kak Lee," ujar Neva dan langsung mengirim foto itu pada Leo.
Di antara banyak orang mereka berdua jalan santai dan sesekali berlari kecil.
"Ada acara live stasiun tv ya?" Tanya Yuna ketika mereka lewati kawasan food track.
"Mungkin, ramai sekali di sana," jawab Neva.
"Hai," sapa seseorang yang tiba-tiba datang dan ikut berjalan santai di samping Neva.
Neva dan Yuna menoleh secara bersamaan. Vano.
Seketika Yuna dan Neva saling berpandangan.
"Hai," jawab mereka berdua barengan. Neva dan Yuna saling menatap lagi.
"Kalian cuma berdua? Mana Leo?" Tanya Vano sambil memperhatikan sekeliling mereka.
Yuna diam, menyerahkan jawaban pada Neva. Sedangkan Neva juga diam, berfikir Yuna yang akan menjawabnya. Dan hingga beberapa menit pertanyaan Vano tidak mendapat jawaban.
Mereka menghela nafas panjang.
"Leo ada di luar negeri."
"Kak Lee ada di luar negeri," jawab mereka berdua barengan lagi. Yuna dan Neva saling menatap dan kemudian tertawa kecil.
"Hmmm," Vano mengangguk. Kemudian, mereka bertiga jalan santai beriringan. Canggung. Tiga puluh menit kita di sini tanpa suara. Lagu Jamrud mewakili keadaan ini.
"Emmm, apa kalian haus?" Tanya Vano. Dia sendiri tidak tahu harus berkata apa untuk membuat kecanggungan ini berakhir.
"Sedikit," jawab Neva.
"Kita duduk, di situ," Vano menunjuk sebuah tempat dan kemudian mereka bertiga menghampiri tempat itu. Yuna dan Neva langsung duduk bersebelahan sementara Vano membeli minuman untuk mereka berdua.
"Neva," Yuna menoleh ke arah Neva.
"Ya."
"Aku, ke mobil duluan, okey," ucap Yuna.
"Kenapa?" Neva membalas tatapan Yuna padanya.
"Aku tidak ingin berubah menjadi obat nyamuk, hahaaa....," jawab Yuna dengan tawa.
"Aku tidak setuju," sahut Neva, "Kak Yuna harus tetap di sini," lanjut Neva. "Kakak tahu kan, jika aku tidak mungkin bersamanya."
"Kenapa tidak mungkin? Kau menyukainya, dia menyukai mu," ucap Yuna. Dia tidak tahu jika Neva sudah mengetahui hubungan dirinya dengan Vano, dulu.
Vano kembali sebelum Neva memberi jawaban pada Yuna. Dia membuka air mineral dan memberikannya pada Neva, lalu membuka satu lagi dan memberikannya pada Yuna.
"Terima kasih," ucap mereka berdua. Kemudian, Vano duduk di samping Neva dan membuka air mineral untuk dirinya sendiri.
"Kak Vano sendirian?" tanya Neva setelah beberapa kali meneguk air mineral.
Vano mengangguk, "Iya," jawabnya. "Apa kau masih mimisan?" Tanyanya. Dia menoleh ke arah Neva. Tepat saat itu juga Yuna menoleh ke arah Neva, dia terkejut dengan pertanyaan Vano. Neva mimisan? Mata Yuna dan Vano bertemu dengan tidak sengaja. Vano menyunggingkan senyumnya, dan dibalas anggukan oleh Yuna. Tidak ada perasaan apa-apa, mereka adalah sahabat. Perasaan yang lalu telah musnah seiring berjalannya waktu.
"Kau mimisan?" Yuna bertanya dengan sedikit panik. Neva tidak terlihat sedang sakit, tapi apa sesungguhnya dia sedang sakit. "Kita ke dokter okey," lanjut Yuna. Dia menyentuh lengan Neva.
"Hahaa, tidak perlu Kak Yuna. Itu.... hanya karena aku sedikit lelah mengerjakan skripsi dan stres memikirkan sidang, heee" jawab Neva dan sedikit memamerkan giginya. Dia tidak mungkin bercerita yang sebenarnya bukan. Jika penyebab dia mimisan adalah karena melihat Vano yang begitu tampan yang membuat degupan pada jantungnya hampir meledak, yang membuat aliran darahnya menjadi mengalir lebih cepat dari biasanya.
"Sekarang, semuanya telah selesai. Kau harus istirahat dengan benar," ucap Vano dengan perhatian.
"Huum, tentu saja," jawab Neva sedikit menoleh ke arah Vano. Yuna tersenyum melihat mereka berdua. Kemudian, Neva mengeluarkan ponselnya. "Ayo kita foto bareng," ujarnya dengan semangat. Yuna Yess, begitu juga dengan Vano. Mereka bertiga saling mendekat dan....
"Say cheese...." seru Neva.
"Cheese...." Vano dan Yuna mengikuti. Satu foto telah terbuat pagi ini. Pagi dengan anginnya yang sejuk, langkah ringan dan senyum manis dari mereka bertiga.
"Raizel...." banyak suara berteriak namanya. Banyak orang bertepuk dengan sangat gembira. Neva mengikuti arah pandangan orang-orang dan dia menemukan Raizel tengah berjalan santai dengan beberapa aktivis, beberapa artis dan salah satu calon gubernur. Raizel dengan pesonanya menghipnotis hampir semua pengunjung car free day. Yuna memperhatikan Raizel, lalu memperhatikan Neva. Sedangkan Vano lebih memperhatikan Raizel.
"Tampannya, pangeran ku...." seseorang berkata dengan kekaguman. Dan masih banyak lagi suara-suara yang mengelu-elukan ketampanan Raizel.
Raizel bersama rombongan calon gubernur itu terus berjalan melewati banyak orang yang melambai pada mereka. Saat ini.... Raizel menarik senyum di bibirnya. Mata indahnya menemukan Neva berada diantara ribuan manusia yang berlalu lalang. Dia menemukan Neva tengah duduk bersama dengan Tuan muda Vano. Itu yang membuat senyumnya langsung sirna.
***@***
Di negara A.
"Ma... aku ingin melihatnya," Leo menoleh ke arah Mamanya yang tengah mengupas buah. Setelah insiden kecelakaan itu, dia sama sekali tidak pernah membuat panggilan video pada Yuna. Tentu saja, itu karena dia menyembunyikan keadaannya.
"Bagaimana jika dia melihat mu?" Mama meletakkan pisau di atas meja dan mencuci tangannya. Kemudian, beliau duduk di sofa disebelah kasur Leo. Mama menatap putranya, "Lihatlah dirimu, tangan mu bahkan masih kau gendong, telinga mu masih diperban," ujar Mama.
"Tapi aku merindukan dia Ma," Leo mencoba membujuk Mama. "Rasanya aku hampir gila karena tidak bisa melihatnya," lanjut Leo.
"Kau ini, selalu lebay," ucap Mama dengan tawa kecil.
Dan akhirnya, Mama menuruti keinginan putranya. Beliau melakukan panggilan Video pada Yuna setelah mencari tempat yang tepat. Yang bisa dilihat oleh Leo tetapi tidak terlihat oleh Yuna.
"Hallo, sayang," ucap Mama setelah panggilan videonya terhubung. Sudut-sudut bibir Leo terangkat membentuk senyuman, mata dan hatinya dipenuhi kelembutan melihat wajah yang cantik yang sangat dia rindukan.
"Mama," sapa Yuna sambil melambai ke arah kamera. Lalu disusul wajah yang langsung menyerobot begitu saja.
"Mama...." Neva melambai pada Mama.
"Hai.... kau menginap di Rumah Kak Yuna?" Tanya Mama yang di jawab anggukan oleh Neva.
"Tidak cuma ada aku, tapi juga ada....," Neva mengarahkan kamera pada Alea, "Jeng.... jeng... ada Kakak Alea juga," lanjut Neva. Melihat dan mengetahui itu membuat Mama bernafas lega, begitu juga Leo. Dengan adanya mereka, Yuna tidak akan merasa kesepian.
Dan ponsel dikuasai oleh Neva dia bercerita apa saja, dan obrolan-obrolan Gaje.
"Neva, bisa berikan ponselnya pada Kak Yuna?" Ujar Mama pada Neva. Neva mengangguk dan langsung memberikan ponselnya pada Yuna.
"Kau sudah minum vitamin sayang?" tanya Mama dengan perhatian setelah Yuna terlihat di layar tipis yang berada di depan Mama. Leo menyaksikannya dari sana. Dari jarak yang dekat dengan layar tipis itu tetapi Yuna tidak bisa melihatnya.
"Sudah Ma," jawab Yuna. Matanya memperhatikan ruangan tempat Mama melakukan panggilan Video. "Mama ada di kamar Leo?" tanyanya. Meski tidak terlihat secara keseluruhan tetapi dia tahu jika itu adalah kamar Leo. Leo sering membuat panggilan video di dalam kamarnya.
"Iya, Mama di kamar Lee," jawab Mama sedikit kaget mendapat pertanyaan itu dari Yuna.
"Dia sangat sibuk," ucap Yuna dengan wajah yang langsung berubah. Melihat kamarnya saja membuat dirinya begitu sedih. Rindu, kenapa begitu menyakitkan. Dia menunduk sebentar dan kembali menatap layar, ia memandang ke arah Mama.
Dari sana... Leo memperhatikannya dengan pandangan yang nanar. Mata Yuna yang menatap Mama dan memperhatikan apa-apa yang berada di belakang Mama. Mata Yuna yang menyiratkan kerinduan. Leo, bahagia melihat wajah itu lagi meski hanya lewat layar ponsel.
"Mama..." suara Yuna pelan memanggil Mama.
"Iya," jawab Mama. Hati Mama menjadi tersayat melihat mereka berdua. Leo yang terbaring dan hanya mampu memperhatikan Yuna dan Yuna yang begitu merindukannya.
"Aku, titip salam padanya. Bilang padanya untuk selalu baik-baik saja, untuk tidak begadang, untuk selalu menjaga pola makannya dan tolong sampaikan padanya, jika.... aku merindukannya," ucap Yuna dan langsung mematikan panggilan video Mama. Dia beranjak dari duduknya dan menaiki tangga. Dia berlari ke kamar dan menuju balkon. Matanya menatap langit malam. Hanya ini..... yang bisa dia lakukan.
"Aku merindukan mu, aku merindukan mu, aku merindukan mu, aku merindukan mu, aku merindukan mu Leo," bibirnya menggumam dalam rasa rindu yang begitu menyakiti hatinya.
____
Catatan Penulis (Curhatan ๐ฅฐ )
Nggak nyangka... (kata ini yang mewakili) Kisah ini sampai pada bab 200.
Karena siapa?
Karena pembaca kesayangan.
Untuk siapa?
Untuk pembaca kesayangan.
Saya sebagai Author Sebenarnya Cinta ๐menguncapkan terima kasih yang luar biasa untuk sahabat semuanya. Yang mengikuti dari awal atau yang baru bergabung.
Sahabat yang luar biasa, sahabat yang indah, sahabat yang baik. Aku berterima kasih pada kalian semua. ๐๐ Maafkan jika terkadang aku bikin kesel kalian ya... Salam hangat dari ku ๐๐ฅฐ๐ Luv luv.
Eit... Like dan komen jangan lupa...๐ฅฐ๐ (Vote juga Hhaaa) Kasih sun manjaaah si jempol Yach kawan๐ฅฐ๐ muach.
Bab ini sama panjangnya seperti kemarin. Selamat membaca๐ฅฐ๐