Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 68. Sandaran ternyaman


Setelah Erwin terkapar lemah di lantai, Zian bergegas mendekati Tiara yang belum bisa berdiri karena masih merasakan pusing efek dari obat bius yang diberikan Erwin. Tak dipedulikan sudut bibirnya yang mulai berdarah.


" Ra' lo nggak apa-apa kan?" tanya Zian dengan wajah khawatir.


Rio yang tak mau jadi obat nyamuk di antara keduanya segera menuju keluar memberikan mereka waktu untuk ngobrol berdua.


" Nggak apa-apa kak, tapi bibir kakak berdarah tuh ". ucap Tiara seraya mengeluarkan sapu tangan di saku blouse yang dikenakannya.


" Sini biar Ara bersihin". kemudian ia mulai mengelap darah di sudut bibir Zian dengan perlahan khawatir akan menyakiti si pemiliknya.


Mata mereka beradu menimbulkan gemuruh aneh di dada keduanya.


Gerakan tangan Tiara terhenti di udara seketika saat pemilik mata indah itu menatapnya dalam - dalam. Mata biru itu seakan hendak menariknya dengan kuat bagaikan sebuah cermin berwarna namun tak berdasar. Tiara tak ingin tenggelam di dalamnya.


Gadis itu buru-buru menyelesaikan kegiatan tadi. Setelah itu iapun membuang muka ke sembarang arah.


Zian mengacak rambutnya lembut dan dengan cepat menarik gadis itu dalam pelukannya.


" Syukurlah lo nggak apa-apa". ucap Zian pelan.


Tiara hanya terdiam dalam pelukan Zian yang hangat. Dalam hati ia bersyukur sudah dipertemukan dengan sosok di depannya. Sosok yang selalu melindunginya selama ini.


" Kita pulang sekarang ya, kasihan kak Nia dari tadi khawatir banget sama lo". ucap Zian melepaskan pelukannya.


" Tapi kepala Ara masih agak pusing . . " balas Tiara. Namun gadis itu jadi tersentak saat merasakan tubuhnya terangkat.


Tanpa diduga Zian sudah menggendongnya dan mulai berjalan keluar dari toko itu. Serta merta kedua tangan Tiara melingkar di leher cowok tampan itu. Kepala mungilnya ia sandarkan di dada bidang Zian. Dihirupnya Aroma maskulin khas cowok yang menyeruak ke dalam rongga penciumannya. Sejenak membawa angannya ke tempat yang asing namun menenangkan.


Semua kekhawatiran seolah amblas begitu saja. Berganti kehangatan yang jarang ia temukan.


Ah, nyamannya bersandar di dada ini. Andai saja bisa lebih lama seperti ini. Ucap Tiara dalam hati.


Erwin yang mulai sadar hanya bisa menatap nanar keduanya.


" Maafin gue Tiara. Gue nggak pernah bermaksud nyakitin lo. Gue hanya ingin ngasih pelajaran ke Zian yang kemarin begitu angkuh di depan gue". ucapnya lirih hingga tak terdengar oleh siapapun.


Sungguh, kumpulan kata yang tercipta sia-sia, tertiup angin hingga menyisakan ngilu di dada.


Zian terus membawa Tiara masuk ke dalam mobilnya. Di dalam Rio sudah menunggu mereka.


Kali ini Rio yang menyetir karena ia sudah paham dengan seluk beluk jalanan kota itu. Mobil mewah itu mengantar Tiara sampai di depan rumah tempatnya menginap.


Kak Nia sudah berdiri di depan pintu rumah menyambut mereka.


Setelah memastikan keadaan Tiara sudah aman, barulah Zian dan Rio pamit pergi dari situ.


" Mau langsung pulang aja atau . . . ?" tanya Rio saat mulai menjauh dari tempatnya Tiara.


" Beli makanan aja dulu, lapar banget nih efek duel tadi". jawab Zian dengan lesu.


" Oke ". Rio melajukan mobil ke arah warung makan langganan mereka.


Bukannya tidak mampu untuk makan di restoran mahal tapi begitulah seorang Zian yang sedari kecil sudah terbiasa dengan makanan rumahan yang selalu disajikan bibi Ratih untuknya.


Bahkan, makanan yang tersedia di hotel pun tak pernah disentuhnya.


Tak heran Rio begitu kagum dengan saudara angkatnya itu yang tetap hidup sederhana walaupun berlimpah harta.


Padahal Zian adalah pewaris tunggal di keluarganya. Tapi sikapnya amat berbeda dengan Nayla ataupun anak-anak dari keluarga kaya lainnya.


Selesai membeli makanan, keduanya pun kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Zian membuka pintu kamarnya kemudian masuk diikuti Rio dari belakang yang menenteng kantong berisi makanan dan minuman yang tadi dibeli.


Ia melepas jaket dan meletakkannya di atas sofa setelah itu berjalan ke arah kasur.


Rio meliriknya sekilas kemudian meletakkan kantong plastik tadi di atas meja.


" Jadi makan nggak nih?" Rio sudah selesai menata makanan. Ia menuju ke kran air untuk mencuci tangan.


Zian perlahan duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Rio selesai dengan urusannya.


Setelah itu iapun melakukan hal yang sama.


Kedua cowok tampan itu mulai menikmati makan malam mereka.


" Bro gimana kabarnya Erwin sekarang?" tanya Zian di sela-sela makannya.


" Mungkin saat ini dia sedang dihukum ayahnya karena udah bikin kekacauan di toko roti milik keluarganya. Gue udah atur semuanya sesuai dengan instruksi dari lo. Tenang aja, dia nggak bakalan gangguin Tiara lagi". jawab Rio dengan wajah yakin.


" Hem . . . lo emang yang terbaik". Zian memuji hasil kerja Rio.


Yang dipuji cuma tersenyum masam.


" Kenapa lo? nggak suka?"


" Hehehe . . . bu bukan gitu bro. Gue cuma . . .


" Apa?" Zian melotot.


" Lo mau duit?" tebak Zian lagi.


Rio menggeleng. Dia malu untuk mengatakan keinginannya.


" Nggak apa-apa, kasih tahu aja". desak Zian mulai kesal dengan sikapnya Rio yang biasanya tegas kini berubah seperti cewek yang malu-malu kucing. 🐈


" Hem . . gue maunya punya cewek". ucapnya dengan susah payah dan cepat-cepat memukul mulutnya sendiri seperti orang bodoh.


" Hah ?? itu kan urusan lo ngapain mintanya di gue? Rio . . Rio . . hahaha. . hahaha !" Zian tertawa mendengarnya.


Di depannya Rio jadi salah tingkah dan cepat-cepat menyelesaikan makannya. Bergegas ia pergi mencuci tangannya karena malu.


" Kalau lo mau yah cari aja sendiri bukannya minta sama gue. Bisa ngelawak juga lo ya !" Zian terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya yang tiba-tiba beranjak hendak pergi.


" Woy main pergi aja!" teriak Zian.


" Capek ah, mau ke kamar gue aja !" ujar Rio seraya membuka pintu kamar dan berlalu pergi setelah menutup pintu kembali.


" Rio . . Rio . . kalau duel jago banget, giliran cari cewek aja pusing gitu". ucap Zian geli.


Di kamar sebelah #


Rio mengacak rambutnya dengan gusar.


" Dasar bodoh, mau ngomong aja susah. Padahal kan tinggal bilang aja, Zian. . tolong bilangin ke Tiara dong bantu deketin gue sama Hesti. Gitu aja kok susah ya, bikin malu aja !". Rio mengumpat dirinya sendiri.


Rio membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang terletak di samping jendela kamarnya.


Ia mulai membayangkan gadis yang beberapa waktu lalu sudah berhasil mencuri hati dan pikirannya.


Gadis yang ceria, Rio memang penyuka tipe gadis periang seperti itu.


Matanya menatap ke luar jendela. Langit mulai berganti warna jingga.


Rupanya sudah sore.


Angin sepoi yang bertiup dari jendela yang terbuka, mulai membuat matanya terpejam.


\*\*\*\*\*