Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 338_Hanya Kamu


Vano akan berjuang untuk keluar dari belenggu gelap hatinya dan memusnahkan semua masa lalu yang tertinggal.


"Selamat malam Kak, aku pamit," ucap Neva. Dia berdiri dari duduknya. Tangan Vano langsung meraih tangannya.


"Ku antar pulang," ucapnya.


"Tap---"


"Tidak ada penolakan. Ayo," Vano langsung menyahut Neva. Dia membawa Neva ke mobilnya. Dan membuat Neva duduk di depan di sampingnya.


"Padahal Kakak tidak perlu mengantarku," ucap Neva setelah berada di dalam mobil Vano.


"Aku sudah bilang jika aku yang mengantarmu pulang," jawab Vano. Mobilnya melenggang meninggalkan lokasi dan menuju rumah besar Nugraha.


"Jadi sekarang kau punya asisten?" tanya Vano memulai kekepoannya tentang Joe.


Neva mengangguk, "Dia bodyguard tampanku," jawab Neva dengan sengaja. Yang membuat Vano langsung terbatuk.


"Dia tidak lebih tampan dari ku," tukas Vano. Dia dengan pede mengucapkan itu. Dia kesal mendengar Neva menyebut Joe tampan.


Neva tersenyum lebar dan mengangguk-angguk saja.


"Tidak bisakah kau tidak perlu memiliki Bodyguard?" tanya Vano lagi.


"Joe orang dalam Papa dan Papa sendiri yang mengutusnya," jawab Neva yang membuat Vano tidak bisa menawar lagi. Kemudian, Neva menguap. Dia merasa lelah hari ini. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya lalu matanya terpejam.


Vano menurunkan laju kendaraannya, lalu menepi untuk mengatur posisi Neva agar nyaman. Dia memberi bantal pada leher Neva. Lalu setelah itu, dia kembali melajukan mobilnya.


Hampir satu jam kemudian, mobil Vano melewati gerbang tinggi rumah Nugraha. Kemudian, dia menghentikan mobilnya dihalaman. Dia menoleh ke arah Neva yang masih terpejam dengan nyenyak. Tangan Vano dengan usil menganggu Neva.



"Lucunya," dia menggumam dengan senyum. Kemudian, dia keluar dari mobil dan menggendong Neva untuk masuk kedalam rumah. Asisten rumah tangga dengan sigap membukakan pintu untuknya dan langsung memberitahukan kepadanya bahwa majikannya sedang pergi keluar negeri.


Vano mengangguk, kemudian dia menaiki tangga dengan masih mendekap Neva dalam pelukannya. Membawa gadis itu ke kamarnya. Beruntung, kamar Neva tidak dikunci, ini memudahkan Vano untuk masuk tanpa membangunkan Neva.


Pelan, Vano membaringkan Neva di atas ranjang, lalu menaikkan selimut setelah ia mengatur suhu ruangan. Matanya menatap Neva dengan lembut, tangannya mengusap rambut Neva. Kemudian dia menunduk dan mencium kening Neva dengan halus.


"Terima kasih untuk cintamu yang tulus gadis. Aku janji akan terus mencintaimu, hanya mencintaimu. Aku pasti menghapus seluruh rasa yang mungkin masih tertinggal. Aku hanya akan mencintaimu. Hanya kamu."


_______________


Di Negara A


"Wanita kalau mandi sangat lama," ucapnya dengan senyum lebar. Dia menjatuhkan dirinya di ranjang dan mengambil ponselnya tapi kemudian, ia merasakan sesuatu yang keluar dari hidungnya. Darah.


Tangan Leo terangkat dan menyeka hidungnya pelan. Dia memperhatikan darah yang ada ditangannya. Dengan segera dia mendongak ke atas untuk mencegah darahnya menetes di seprei atau ke bajunya. Tangan sebelahnya meraba-raba meja disamping ranjang untuk mengambil tissue. Setelah mendapat tissue, dengan segera dia menyeka hidungnya lagi. Kemudian, dia berdiri dan beralih duduk di sofa, membersihkan hidungnya berkali-kali. Mata Leo terus menerus memperhatikan pintu kamar mandi, dia khawatir jika tiba-tiba Yuna keluar.


Tepat pada sekaan terakhir, pintu kamar mandi terbuka. Leo dengan segera membereskan tissue dan segera membuangnya ke tempat sampah.


"Sudah, baru saja," jawab Leo. Dia dengan sembunyi-sembunyi mengecek hidungnya, takut jika masih ada darah yang keluar. Namun syukurlah darah itu sudah berhenti. Leo kemudian melangkah menghampiri Yuna dan membantu Yuna menata beberapa baju di lemari.


"Besok saja biar asisten yang bereskan," ujarnya. Kemudian, dia beralih untuk memeluk Yuna dari belakang. Menurunkan kepalanya dan mencium pundak Yuna. "Sekarang ayo tidur, kau pasti sangat lelah," lanjutnya.


Yuna mengangguk, "Huum. Aku sudah wangi, beri aku ciuman," kata Yuna dengan menyodorkan pipinya. Leo tersenyum lebar dan langsung menghujani pipi Yuna dengan ciuman lembut dari bibirnya. Yuna tertawa kecil mendapat ciuman bertubi di pipinya. Tangannya terangkat dan mengusap pipi Leo. Kalimat terakhir adalah kalimat yang sering Leo pakai untuk meminta ciuman, dan rasanya kini Yuna mulai terkontaminasi dengan semua tingkah dan ucapan Leo.


"Apa itu cukup sayang?" Leo bertanya setelah menghentikan ciumannya.


"Luberrrr," seru Yuna. Dia melepaskan pelukan Leo dan membalik badan untuk berhadapan dengan suaminya. "Umm ... tapi ada yang kurang," katanya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Leo. Dia menjinjit, "Ini," ucapnya dan langsung mengambil ciuman di bibir Leo. Hanya sebentar dan dia langsung memeluk suaminya.


Leo membalas pelukan Yuna. Mengusap punggungnya halus dan mengecup rambut Yuna dengan dalam.


"Maaf tidak bisa menggendongmu untuk naik ke kasur," ucapnya dengan sedih. Yuna menggeleng dengan cepat.


"Saat ini, kau memang tidak bisa. Hanya saat ini," ucap Yuna. Dia tidak ingin pesimis. "Kau harus mampu lagi menggendongku, atau aku akan tidur di lantai," ucapnya dengan ancaman.


"Hei, mana boleh begitu," jawab Leo. Yuna mendongak.


"Jika tidak ingin aku tidur di lantai, maka semangatlah dan kau harus sembuh," ucap Yuna dengan mengerucutkan bibirnya.


Leo mengangguk, kemudian menunduk dan mencium kening Yuna. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan membiarkan Yuna mengganti baju.


Mereka berdua saling berpelukan diatas ranjang.


Tak lama, mata Leo terpejam dan tertidur. Dia merasa sangat lelah, tubuhnya terasa sangat lemah.


Yuna memejamkan matanya tetapi tidak tidur. Jantungnya berdegup dalam kekhawatiran. Dia merenggangkan pelukan Leo dan memperhatikan wajah halus Leo dengan seksama. Alis tebal dengan jarak yang pas, mata Leo yang terpejam, hidungnya, pipinya, bibirnya, semua lekuk dalam wajah Leo. Dia memindai dan menyimpannya dalam pandangan mata, ingatan dan hatinya.


Wajah Yuna menjadi muram, kesedihan merayap pada hatinya.



Tentang kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan akan keadaan Leo. Dia tidak ingin memikirkan hal yang buruk, tetapi ketakutan ditinggalkan dalam dirinya membuat dia tidak bisa bernafas dengan benar belakangan ini. Tampilan senyum dan wajah ceria hanya ia tunjukkan pada Leo untuk menyemangatinya, sejujurnya dia sama rapuhnya dengan Leo.


Yuna selalu menangis di kamar mandi agar Leo tidak mengetahuinya. Yuna mencoba tegar, dan masih penuh dengan semangat. Dia harus kuat untuk selalu menguatkan Leo.


Pagi cerah dengan sinar matahari yang hangat tak mampu menghapus kesedihan dan kecemasan dalam diri dan hatinya. Yuna tidak bisa tidur, meskipun letih. Dia kembali memeluk Leo dengan erat.


"Berjuang dan sembuhlah sayang. Ku mohon jangan pernah mencoba untuk meninggalkanku," gumamnya dengan kepiluan hatinya.


_________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Seperti biasa ya kawan tersayang πŸ₯° Jempolnya digoyang kuy .... like koment dan vote Ya. Terima kasih. Padamu πŸ₯°πŸ™ luv luv.