
Ilham tertunduk lesu mendengar permintaan Tiara. Itulah sebabnya ia memutuskan pembicaraan mereka di telepon tadi. Sebenarnya ia mengerti dengan perasaan Tiara saat ini tapi ia juga merasa berat untuk melepaskan gadis itu.
Ah, apakah aku terlalu egois? tanyanya pada diri sendiri.
Mencintainya sekaligus memberikan rasa sakit di hatinya. Walaupun sebenarnya aku nggak pernah ingin membuatnya terluka. Apakah ini yang dimaksud Zian waktu itu?
Oh iya aku baru ingat, jaket itu. . .
Jaket yang dipakai Tiara saat hujan kemarin, bukankah milik Zian?
Tapi kenapa ?
Apakah mereka punya hubungan ?
Pertanyaan-pertanyaan itu melintas begitu saja di benaknya membuatnya makin gusar.
Diusap rambutnya kasar. Susah payah ia memikirkan jalan yang terbaik untuknya dan Tiara eh, malah Zian masuk ke dalam hubungan mereka.
Tok tok tok
Terdengar ketukan di pintu kamarnya.
Membuyarkan semua lamunannya.
Disusul suara adiknya.
" Kak ! boleh masuk nggak ?"
" Masuk aja, nggak dikunci !" jawabnya.
Pintu terbuka.
Adik semata wayangnya langsung masuk.
" Kak, pinjam laptopnya dong".
" Emang punya kamu kenapa? udah dijual ya ?" tanya Ilham yang sengaja menggoda adiknya.
" Nggak tahu kenapa, tiba-tiba aja bleng gitu".
" Ya udah pake aja tapi jangan di rusak ya".
" Siap komandan !" balas adiknya seraya memberi hormat seolah kakaknya seorang komandan pasukan.
" Dih gayanya, awas aja ya kalau rusak".
" Nggak janji sih, hehehehe !" ujar adiknya seraya berlari keluar dari kamar kakaknya sambil terkekeh.
" Dasar bocah nakal !" ujarnya melihat tingkah adik kesayangannya.
Baru saja Ilham beranjak hendak menutup pintu kamarnya kembali, mamanya memanggilnya.
" Ilham, ada yang nyariin tuh !"
" Siapa ma?"
" Katanya sih namanya Hendra !".
" Oke ma !". jawab Ilham kemudian turun dari lantai dua menuju ke ruang tamu.
" Tumben bro". sapa Ilham lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Hendra.
" Lagi boring nih, jalan yuk !" jawab Hendra dengan entengnya.
" Maunya ke mana?"
" Terserah elo deh yang penting nggak boring lagi".
" Ya udah, bentar aku ambil kunci mobil dulu".
ujar Ilham seraya beranjak dari situ.
" Ma, aku jalan dulu ya bareng Hendra".
pamit Ilham saat melihat mamanya yang sedang duduk di ruang tengah sambil nonton Televisi.
" Hati-hati ya ". jawab mamanya.
" Iya ma, assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ".
" Yok, cabut ". ujar Ilham.
Hendra yang sudah menunggunya di teras depan rumah pun segera mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Ilham menyetel lagu-lagu pop Indonesia yang berbau galau.
Hendra melirik ke arah sahabatnya itu yang lagi pasang wajah mode serius.
" Lagi galau ya bro ? " ujarnya sambil tersenyum.
" Nggak". jawab Ilham malas.
" Ala . . masih mau ngelak lagi, dari mukanya aja udah kebaca hehehehe ". Hendra terkekeh tanpa merasa bersalah.
" Berisik !" balas Ilham dongkol.
Sejenak mereka terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
" Bro, lo lagi ada masalah ya sama Tiara?"
" Sebenarnya nggak sih, cuma . . . " Ilham menggantung kalimatnya karena fokus menghindari jalanan rusak di depannya.
" Cuma apa?" Hendra tak sabar menunggu lanjutannya.
" Woy sabar dong !"
" Hahahaha !"
Beberapa saat kemudian Ilham menepikan mobilnya di depan cafe langganan mereka.
Hari ini cafe nggak terlalu ramai seperti biasa.
Setelah mendapatkan tempat duduk keduanya segera memesan minuman kesukaan mereka yang non alkohol.
\*\*\*\*\*