
"Sangat mencintaimu," jawab Vano dan ia langsung mencium bibir Neva. Menciumnya dengan lembut.
"Kau tidak hanya sedang mencoba merayuku kan?" Neva bertanya setelah Vano melepaskan bibirnya. Wajah mereka masih sangat dekat, hidung mancung mereka masih menempel. Telapak tangan Neva masih berada di dada Vano.
"Aku mencintaimu sayang, tidak ada rayuan tapi ketulusan. Aku minta maaf untuk yang kemarin, maaf telah menyakitimu. Aku salah dan aku telah memikirkan semuanya. Kita mulai dengan perasaan baru tanpa keraguan dan kecurigaan sedikitpun, okey."
"Bolehkah aku kecewa padamu?" tanya Neva pelan.
Vano mengangguk, "Boleh," jawabnya. Sangat wajar jika Neva kecewa padanya. "Asal kau tetap bersamaku," lanjutnya.
"Bagaimana jika aku tidak ingin lagi bersamamu?"
"Aku akan memaksa untuk kau tetap ingin bersamaku," jawab Vano.
"Jadi sekarang kau menjadi pemaksa Tuan muda?"
"Hanya denganmu saja Nona muda," jawab Vano. Dia memeluk tubuh Neva. Memeluknya dengan kerinduan hatinya. Rasa rindu yang melebihi rindu saat mereka berjauhan. "Maaf telah membuatmu kecewa," ucap Vano lembut.
"Kau semaumu sendiri seolah tidak memikirkan bagaimana perasaanku," ucap Neva. Tangannya masih berada di dada Vano, merasakan detak jantung yang berdetak dengan cepat.
"Beritahu aku, bagaimana caranya untuk menebus rasa kecewamu?"
Neva menghembuskan nafasnya dengan halus. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Vano.
"Belikan aku ice cream," ucap Neva dengan candanya.
"Biar ku borong semua ice cream untukmu," jawab Vano. Neva tersenyum.
"Sekali lagi ada kata itu darimu, berarti kita putus," ucap Neva. Vano melepaskan pelukannya dan menatap wajah Neva dengan lembut.
"Tidak akan ada kata itu, hanya akan ada ucapan didepan penghulu dan walimu," ucap Vano. Bibir Neva melengkung dengan tatapan mata yang indah. Namun sebelum ia mampu menjawab apapun, ponselnya berdering. Vano segera mengambil ponsel itu dari saku jaketnya. Dia akan memperingatkan Joe untuk tidak lancang menelfon Neva, tetapi ternyata panggilan itu dari Nyonya besar Nugraha.
"Dari Mama," ucapnya setelah membaca nama yang tertera dilayar ponsel Neva. Dia memberikan ponsel itu pada Neva.
Neva mengangkat panggilan dari mamanya. Mereka bertukar beberapa kata selama sepuluh menit sebelum kemudian Mama menyudahi panggilannya.
Vano mengerutkan keningnya menatap Neva.
"Siapa yang sakit?" tanyanya. Dia dengan jelas mendengar percakapan Neva, dia juga dengan jelas melihat perubahan wajah murung Neva.
Neva menoleh ke arah Vano, menatap laki-laki itu sebentar lalu kembali berpaling.
"Kak Lee," jawab Neva pelan. Dan kesedihan langsung menguasai hatinya. "Kak Lee yang sakit," suara Neva parau. Dia menunduk. Hatinya menjadi sangat gelisah. Penyakit yang kakaknya derita bukanlah penyakit yang sederhana. Dia takut jika memikirkan keadaan kakaknya. Namun dia tetap optimis dan berpikir positif, kakaknya pasti akan sembuh.
"Sakit?" tanya Vano memastikan. Dia menurunkan kepalanya untuk sejajar dengan Neva. Leo sakit? Batinnya.
"Iya," jawab Neva dengan masih menunduk. "Dia keluar negeri bukan untuk sibuk dengan kantor barunya tetapi dia sibuk untuk berobat, dia sakit," suara Neva parau. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Sekilas terlintas bayangan saat dia berkejaran dengan kakaknya diwaktu kecil.
Vano langsung merengkuh Neva, mengusap lengannya dengan lembut. "Dia pasti sembuh," Vano mencoba menenangkannya. Neva masih terus menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Aku tidak ingin dia kenapa-napa. Aku tidak ingin Kak Lee kenapa-napa,"
"Bukankah kau tahu, jika kakak Lee sangat hebat, dia laki-laki yang kuat bukan? Kau tahu sendiri bagaimana dia. Leo pasti sembuh," ujar Vano mencoba menenangkan Neva. Dia tidak tahu sakit apa yang Leo derita tetapi dari kesedihan Neva, Vano bisa menebak jika penyakit Leo adalah penyakit yang serius.
Neva mengangguk, "Iya, aku yakin dia pasti akan sembuh," jawab Neva penuh harap.
___________
Yuna baru datang ke rumah sakit lagi setelah dia gantian dengan Nyonya besar Nugraha.
"Selamat sore Pa," sapa Yuna sopan pada mertuanya. Dia membungkukkan badannya dan kemudian mencium tangan Tuan besar Nugraha.
"Sore nak," balas Papa. "Bagaimana kabar Baby Arai? Apa dia betah tinggal dengan suasana baru?" tanyanya kemudian. Dari awal Leo di rawat, beliau sama sekali belum pulang.
"Dia pinter Pa, tidak rewel. Dia anteng," jawab Yuna.
Papa mengangguk lega, "Hmm, syukurlah," jawab beliau. Kemudian, Yuna menoleh ke arah Leo dan melangkah menuju ranjang rawatnya. Papa mengikutinya.
"Dia baru saja tidur," ucap Papa dengan suara pelan. Yuna mengangguk dan kemudian duduk di kursi. Kedua tangannya menggenggam tnagan Leo dengan erat tetapi lembut. Matanya menatap wajah Leo yang terpejam dengan sedih. Hatinya dipenuhi warna kesedihan. Jantungnya terasa berhenti sejenak saat ia menyadari sesuatu.
"Pa, kenapa dia berkeringat dingin," tanya Yuna dengan khawatir. Dadanya berdegup dalam kecemasan yang luar biasa. Leo dalam keadaan terpejam dan mengigil. Tangan Yuna semakin menggenggam erat tangan Leo. Sesekali menggosoknya dengan halus.
"Tidak apa-apa. Itu hanya reaksi obat yang disuntikkan ke dalam tubuhnya. Nanti, setelah beberapa menit, dia akan membaik," jelas Papa dengan perhatian. Beliau mengusap punggung Yuna untuk memberikan kekuatan agar menantunya itu tidak terlalu khawatir dan cemas. Agar Yuna tidak terus berlarut dalam kesedihan memikirkan keadaan Leo.
"Dia tidak kenapa-napa kan Pa?" tanyanya masih sangat cemas.
"Lee baik-baik saja sayang," jawab papa pelan dengan penuh perhatian.
Yuna diam. Ia takut mereka membohonginya lagi, ia takut mereka menyembunyikan keadaan Leo yang sesungguhnya. Entahlah, dia merasa menjadi tidak percaya pada siapapun saat ini.
Yuna membawa tangan Leo ke pipinya, meletakkan telapak tangan Leo dipipi kanannya.
Air matanya jatuh begitu saja. Kenapa telapak tangan ini dingin? Kemana telapak tanganmu yang biasanya hangat. Kenapa telapak tangan ini dingin sekarang? Yuna mencium telapak tangan Leo dengan dalam, membiarkannya memenuhi rongga dadanya yang terasa begitu sesak. Menciumnya lagi dan lagi. Air matanya berlinang. Dia sakit melihat suaminya dalam kondisi seperti ini. Yuna kemudian, meletakkan kepalanya di samping kepala Leo.
"Sayang, segeralah lewati ini. Aku disini, masih disini menjagamu. Ku mohon teruslah berjuang, ku mohon segeralah sembuh," ucap Yuna dengan menahan isaknya.
Tuan besar Nugraha tidak kuasa melihat ini. Yuna bahkan tidak tahu jika Leo baru saja mimisan lagi untuk yang kesekian kalinya. Tuan besar Nugraha beranjak dan membawa langkahnya keluar ruangan, beliau menyeka air matanya yang hampir menetes.
Yuna masih terus menggenggam tangan Leo dan sesekali menggosoknya agar menjadi hangat. Kemudian dia beranjak dan mengambil handuk kecil di dalam lemari. Membersihkan wajah dan leher Leo yang basah karena keringat. Dia dengan telaten melakukan itu.
Dalam matanya yang terpejam bibir itu menggumam pelan, "Yuna," suaranya pilu dalam kesakitan yang terasa menyakiti seluruh tubuhnya.
Yuna segera menggenggam jemari Leo lagi.
"Sayang aku disini," ucap Yuna. Jantungnya semakin berdegup kencang dengan kecemasan. "Sayang, apa kau mendengarku?" Yuna mendekatkan wajahnya. Menempelkan bibirnya di kening Leo. Beberapa menit kemudian keadaan Leo mulai membaik tetapi dia masih terpejam.
Yuna tidak sebentarpun beranjak dari sisinya. Dia terus ada berada dekat dengan Leo. Hingga perlahan kelopak mata Leo terbuka dengan pelan.
Yuna menangis dalam senyum lega. Dia menunduk dan menyeka air matanya.
"Yuna," suara Leo pelan memanggil namanya.
"Hmm?" jawab Yuna. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Leo. "Sebentar, aku panggil Papa dulu. Agar dokter kembali memeriksamu," ucap Yuna.
___________________
Catatan penulis π₯°π
Yuuukkk digoyang jempolnya mbeb kesayangan π₯° Jangan lupa like koment vote ya kawan tersayang π₯° Terima kasih π Luv luv.