Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 378_Malam Pergantian Tahun


Pukul tujuh malam. Neva telah siap dengan gaun pilihannya. Ini ... adalah kencan pertamanya dengan Vano di negara A. Selama beberapa disini, mereka belum pernah berkencan sama sekali karena Neva yang tidak mau bersenang-senang saat kakaknya masih di rawat di rumah sakit.


Vano sudah menunggunya di bawah. Dia duduk di ruang tengah bersama Dimas.


Neva melangkah pelan menuruni tangga.


"Yuk," ucapnya setelah sampai dan berdiri di samping Vano. Vano membawa pandangannya pada Neva. Manik matanya berbinar dengan ketakjuban di hatinya. Cantik, dia menggumam pelan.


Vano tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian berdiri dan pamit pada Dimas.


"Sudah izin Papa, Mama dan Kak Lee?" tanya Vano. Dia menatap Neva.


"Emm, Mama dan Papa sudah tapi Kak Lee belum," jawab Neva. "Dia ada di kamarnya, tidak ada yang boleh mengganggu," lanjut Neva menjelaskan. Vano mengangguk.


"Dia sudah tahu jika kalian menghabiskan malam tahun baru di luar," sahut Dimas. "Pergi saja, selamat bersenang-senang," lanjutnya.


Neva tersenyum lalu pamit pada Dimas. Dia mencium pipi Kakaknya singkat lalu melangkah keluar bersama Vano.


Mobil melaju dengan sedang melewati jalanan yang ramai tetapi lancar. Vano mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Neva. Kemudian tangan itu turun kebawah untuk mengenggam jemarinya.


Neva membalas genggaman tangan itu. Genggaman hangat yang menggetarkan jantung.


Mobil melesat jauh menuju tempat yang ingin mereka datangi. Mereka sudah menyewa tempat jauh-jauh hari untuk malam ini.


Jalanan mulai padat, banyak pejalan kaki yang berlalu lalang menikmati malam tahun baru. Neva memperhatikan sekeliling.


"Berjalan kaki sepertinya seru?" ucapnya setelah memperhatikan sekitar.


"Jalan kaki?"


"Ya," Neva menoleh ke arah Vano.


"Tapi ini masih lumayan jauh dari tempat yang ingin kita tuju," ucap Vano.


"Tidak masalah. Masih ada banyak waktu sebelum pukul 00:00," jawab Neva. "Yuk, kita jalan saja," ajaknya.


"Sebentar, biar ku cari tempat parkir dulu," jawab Vano. Kemudian, dia masuk kesebuah gedung yang memang menyewakan parkir untuk pengunjung malam tahun baru. Vano memarkirkan mobilnya di basement. Kemudian mereka berjalan kaki menuju tempat yang memang menjadi tujuan utama mereka.


Tangan mereka saling bergandengan, melangkahkan kaki dengan pelan dan seirama.


Ketika bersamamu aku ingin waktu berjalan dengan sangat lambat.


Mereka berhenti sejenak untuk menyaksikan seniman jalanan yang begitu mahir memainkan alat musik tiup. Instrumen indah dengan paduan alam dan segala hiruk pikuknya. Setelah meninggalkan satu lembar uang pada seniman itu, mereka melanjutkan perjalanan.


"Ada ice cream, kau mau?" tanya Vano. Dia menunjuk penjual ice cream yang tak jauh dari mereka.


"Hu'um, ayo kita beli," Neva menyetujui. Kemudian mereka membeli dua. Dan hap ... Neva memakan ice cream yang ada di tangan Vano.



"Eh??" Vano terbengong karena ulah Neva yang tiba-tiba. "Kenapa kau memakan ice cream milikku, Nona?" tanyanya.


"Hahaaa ... ice cream yang kau bawa terlihat lebih menggiurkan," jawab Neva.


"Kita memesan ice cream yang sama," ucap Vano.


"Huum, tapi ice cream yang ada di tanganmu lebih lezat," jawab Neva lagi. Dan hap ... Vano memakan ice cream yang Neva bawa. Lalu menjulurkan sedikit lidahnya mengikuti Neva tadi.


Neva tertawa. Vano tidak bisa memakan ice cream tanpa sendok dengan benar. Ada lelehan ice cream yang tersisa di bibirnya. Namun Neva tidak berani untuk tiba-tiba mengusap bibir itu.


"Lezat bukan?" tanyanya yang dijawab Vano dengan anggukan. Kemudian, Vano menyuapi Neva ice cream yang ada di tangannya. Begitu juga dengan Neva. Dia menyuapi Vano ice cream yang ada di tangannya hingga habis.


"Umm sayang," panggil Neva. Dia mengambil tissue dari dalam tas miliknya.


"Ya," jawab Vano menatapnya.


"Ada sisa ice cream di bibirmu," kata Neva. Vano lalu sedikit menurunkan kepalanya dan menyodorkan wajahnya pada Neva. Jarak mereka menjadi begitu dekat. Tangan Neva perlahan mengusap bibir Vano dengan lembut.


"Sudah," ucap Neva.


"Terima kasih, gadis," ucap Vano dengan senyum. Kemudian mereka melanjutkannya perjalanan. Tangan kanan Vano memeluk pinggang Neva.


Mereka berhenti lagi saat menjumpai seniman jalanan yang memainkan musik tradisional angklung. Mereka terdiri dari dua belas orang dan berbaris enam, enam, depan belakang.


"Waaahhh kita bertemu saudara," seru Neva. Dia bertepuk tangan.


"Mereka masih sangat muda," ujar Vano. Neva mengangguk mengiyakan. Tangan Vano masih berada di pinggang Neva.


"Sepertinya mereka dari sekolah seni," sambung Neva. Kemudian musik angklung berhenti dan di susul tepuk tangan yang riuh dari penikmat musik mereka yang sengaja berhenti.


Lalu tangan-tangan itu menggerakkan angklung lagi hingga menciptakan alunan nada lembut yang merasuk ke dalam sanubari. Vano menarik tangannya dari pinggang Neva lalu meletakkannya di atas dadanya. Begitu juga dengan Neva, dia meletakkan tangannya di atas dadanya.


"*Tanah airku tidak kulupakan


Kan terkenang selama hidupku


Biarpun saya pergi jauh


Tidak 'kan hilang dari kalbu


Tanahku yang kucintai


Engkau kuhargai


Walaupun banyak negeri kujalani


Yang masyhur permai dikata orang


Tetapi kampung dan rumahku


Di sanalah ku rasa senang


Tanahku tak kulupakan


Entah kenapa saat Neva mendenger lagu itu ditanah yang ia pihak sekarang hatinya berdesir. Ada air di ujung matanya. Dia menatap mereka-mereka yang memainkan alat musik itu. Mereka yang memiliki jika nasionalisme tinggi meskipun saat ini mereka jauh dari tanah air.


"Tanah airku tidak kulupakan


Kan terkenang selama hidupku


Biarpun saya pergi jauh


Tidak 'kan hilang dari kalbu


Tanahku yang kucintai


Engkau kuhargai


Tanahku tak kulupakan


Engkau ku banggakan."


Neva menyeka air matanya saat lagu itu selesai dinyanyikan. Lalu ia ikut bertepuk tangan dengan senang. Dia memberikan dua jempolnya. Dan meminjam dua jempol Vano.


"Sangat-sangat keren," ujarnya. Tepuk tangan bergemuruh disana.


______________________


Sementara itu di rumah besar keluarga Nugraha. Mereka tengah berkumpul di taman samping. Baby Arai asik bermain dengan Kakak Zora.


"Tarrraaaaaa ...." Dimas dengan bangga membawa satu piring nasi goreng di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.



"Nasi goreng ala chef Dimas A Nugraha," ucapnya bangga. Semuanya bertepuk tangan untuknya.


"Wahhh sepertinya sangat lezat," komentar Mama. Beliau mencium aroma nasi goreng yang ada diatas meja.


"Nasi goreng spesial untuk adik tersayang," jawab Dimas dengan sedikit mengulurkan tangannya untuk menunjuk Leo. Tepuk tangan semakin kencang.


Leo tersenyum lebar dan merasa terkejut.


"Untuk ku?" tanyanya. Dia menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, untuk mu. Hanya untukmu," jawab Dimas.


"Buat Mama tak adakah Kak?" tanya Mama.


"Tidak ada Ma. Aku cuma membuatnya satu," jawab Dimas yang membuat Mama berpura-pura kecewa. Sebenarnya beliau tahu jika Dimas memang sengaja membuat nasi goreng spesial untuk Leo. Itu adalah janjinya saat Lee koma dulu.


"Waaah, aku merasa tersanjung dan terharu. Terima kasih Kak Dim," ucap Leo. "Ini pasti sangat lezat," ucapnya.


"Tentu saja. Makanlah," jawab Dimas. Kemudian Leo menyendok dan memakan nasi goreng spesial ala chef Dimas.


"Hmmm, benar-benar lezat," puji Leo menatap Dimas dan memberinya dua jempol. "Sepertinya Mama ngiler," goda Leo.


"Sangat," jawab Mama. Kemudian Leo mengambil satu sendok yang ada di meja dan menyendok nasi goreng untuk Mama. Dia menyuapi mamanya.


Mama menerimanya dan langsung mengacungkan dua jempolnya untuk Dimas. Beliau mengangguk-angguk tanda setuju dengan pendapat Leo jika nasi goreng ini sangat lezat.


"Dia hampir satu minggu belajar untuk membuat nasi goreng ini," ujar Nora.


"Keren Kak Dim," puji Leo. Dia menyendok lagi dengan sendok yang sama dengannya lalu memberikannya pada Yuna.


"Haha tentu saja. Aku sudah berjanji padamu saat kau koma, jadi aku menepatinya. Dan aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan," ucap Dimas.


Leo menatap kakaknya penuh haru.


"Terima kasih Kak," ucapnya sepenuh hati.


"Mama juga punya makanan lezat malam ini," ujar Mama. Semuanya antusias.


"Jangan bilang, kau masak sambal terasi," gurau Papa yang membuat tawa pada semua.


Mama menoleh ke arah Papa. "Bukankah itu kesukaan Papa?" ujar Mama.


Papa semakin tertawa, "Menghabiskan malam pergantian tahun di negara A, kenapa masih saja menu sambal terasi?" jawab Papa menggoda istrinya. Kemudian, dua asisten rumah tangga datang dengan menu yang Nyonya besar Nugraha maksud. Mereka berdua meletakkan menu itu di atas meja dengan hati.


Mama tersenyum dengan bangga.


"Tarraaaaaa ...."



"Nasi tumpeng ala chef Mama," ujar Mama dengan bahagia.


"Waahhh ...." seru Yuna dan Nora secara bersamaan. Mereka bertepuk tangan.


Kemudian seorang asisten rumah tangga datang.


"Maaf Tuan muda Leo, ada tamu untuk Tuan muda," ucapnya. Mereka saling diam dan menatap satu sama lain.


"Baik," jawab Leo.


___________________


Catatan Penulis 🥰


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 padamu luv luv 😘 Terima kasih.