Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 186_Malam Indah


Tap... tangannya tertahan oleh genggaman tangan Vano. Ia menoleh dan membawa pandangannya untuk menatap Vano. Mata mereka bertemu, saling menatap, saling menyapa dalam diam. Hanya pandangan mata yang mewakili semuanya. Jangan pergi... Sorot matanya seolah mengatakan itu. Neva diam, dan mengalihkan pandangannya, ia melihat kedepan dan kemudian mengangguk.


Sementara Arnis menatap mereka berdua dengan pandangan sendu. Genggaman tangan itu melukai hatinya, sorot mata mereka mengoyak hatinya, perih... Ia menunduk dengan rasa yang begitu rumit untuk dia pahami. Dia tidak tahu ini apa, yang jelas, rasanya begitu menyakitkan.


Vano melepaskan genggaman tangannya pada jemari Neva. Namun, ia masih menatap gadis itu.


Perlahan Neva kembali duduk di sebelah Arnis. Diam dalam hening, mereka bertiga seperti Rahul, Anjali dan Tina... Sebuah kisah legendaris tentang cinta dan persahabatan, tentang cinta segitiga, tentang cinta yang tak terbalas, tapi ini lebih dari itu. Rumit. Tidak bisa diterka.


"Vano, aku sudah tidak apa-apa," ucap Arnis ketika tangan Vano mulai kembali menyentuh pipinya. Ia segera menghindar.


"Wajah mu akan menjadi bakpao jika tidak segera diobati," ucap Vano. Arnis mengerucutkan bibirnya dan menahan senyumnya. Laki-laki ini semakin membuatnya tersiksa setengah mati. Ia kemudian memberikan wajahnya pada Vano dengan senyum tertahan di bibirnya. Dengan hati-hati, Vano mulai membersihkan luka di wajah Arnis.


"Aku bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku, meski kau tak cinta kepada ku. Beri sedikit waktu agar cinta datang karena telah terbiasa," Arnis bernyanyi pelan, pupil matanya terus menatap wajah tampan Vano. Bibir Vano berkedut menahan senyum mendengar lagu gombalan Arnis.


"Izinkan cinta ku berbunga di hatimu biar terus mekar jadi kenyataan," suara Neva menyahut membuat pandangan Vano beralih padanya. Pandangan mata mereka bertemu. "Telah lama ku dahaga belaian seorang insan, semoga bersama mu ceria hidupku," lanjut Neva. Vano tersenyum lebar mendengarnya, hingga membuat barisan giginya yang rapi terlihat


"Uhum," Arnis terbatuk dan menyentuh pipi Vano, ia membawa pandangan Vano padanya. "Jujur ku katakan aku tak rela, dia curi hati mu karena ku lebih dulu jadi kekasih mu dan dengan sungguh mencintaimu." Arnis menyanyi untuk Vano. Tak mau kalah... Neva menyentuh pipi Vano dan membawa pandangan Vano padanya.


"Banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan kepada diri mu. Aku ingin engkau selalu hadir dan temani aku, di setiap langkah yang meyakini ku, kau tercipta untukku, sepanjang hidup ku,"


Tak mau kalah... Arnis membawa pandangan Vano untuk menatapnya.


"Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu. Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia..."


Tak mau kalah, Neva membawa pandangan Vano untuk menatapnya.


"Cinta ku sedalam samudera, setinggi langit di angkasa. Kepada mu. Cinta ku sebesar dunia seluas jagat raya ini, kepadamu."


Tak mau kalah, Arnis membawa pandangan Vano untuk menatapnya.


"Apa salah dan dosaku sayang cinta suci ku kau buang-buang, lihat jurus yang kan ku berikan, jaran goyang-jaran goyang," Arnis bernyanyi dengan semangat. Lagu ini membuat Vano dan Neva memperhatikannya.


"Jaran goyang?" tanya Vano tidak mengerti. Neva mengangguk menyetujui pertanyaan Vano.


"Jaran goyang? Umm...," Arnis mengeluarkan ponselnya dan mengucapkan sesuatu pada sistem pencarian. "Ok, embah... apa itu jaran goyang?" katanya. Lalu si embah dengan suaranya yang khas memberi tahu apa itu jaran goyang. Jaran goyang adalah salah satu ajian pelet untuk memikat pujaan hati. Mereka bertiga jadi tertawa mendengar itu.


"Jadi kau akan memakai pelet?" tanya Vano dengan tawa.


Arnis mengangguk dengan tawa juga. "Ini terakhir cara tuk dapatkan kamu, jika ini gagal kan ku racuni diri mu," dia melanjutkan lagu itu dan membuat mereka bertiga tertawa lagi.


"Horror...," ucap Neva.


"Vano, jadi apa jawaban mu?" Arnis menatap Vano, begitu juga Neva. Mereka berdua menatap Vano yang tersenyum lucu.


"Uhum," Vano terbatuk sebelum memberi jawaban. Jawaban apa yang akan dia berikan? Pilih aku atau dia? Pilih dia atau aku? Mata Arnis dan Neva menatap Vano dengan tajam. Perlahan, mulut itu terbuka dan menarik suaranya untuk memberi jawaban.


"Senangnya dalam hati kalau beristri dua, seperti dunia ana yang punya," Ucapnya melafalkan sebuah lagu untuk memberi jawaban pada mereka berduam


"Yeachhhh..." Mereka berucap kompak. Neva memukul keningnya pelan sedang Arnis memukul ujung sofa berkali-kali. Vano menjadi tertawa melihat itu.


"Hei, Neva," Arnis menoleh kearah Neva.


"Ya?" Jawab Neva membalas tatapan Arnis padanya.


"Apa kau mau diduakan?"


"Nggak, kalau Kak Arnis?" Jawabnya sekaligus bertanya.


"Aku? Ogaaaahh....," Dan mereka melakukan toss.


"Jadi?" tanya Neva.


"Kita cincang dia jadi makanan ikan," jawab Arnis dengan serius dan melirik Vano dengan tajam.


"Cocok...," jawab Neva. Mereka tertawa dan melakukan toss lagi. Vano menjadi tertawa terbahak-bahak dengan tingkah mereka berdua.


"Sini diam, aku hanya tinggal mengoleskan salep," ucap Vano, kemudian Arnis dengan patuh mendekatkan wajahnya. Ia melirik Neva sedikit dan menjulurkan lidahnya dengan bercanda. Juluran lidah itu seolah bilang, 'Aku menang.'


Neva tertawa kecil dengan itu.


Setelah selesai, ia menutup kotak obatnya kembali.


"Jadi, apa yang terjadi?" Tanya Vano pada Arnis.


"Aku menghajar seseorang," jawab Arnis.


"Kau sungguh pandai membuat masalah Arnis."


"Aku hanya mencoba melindungi seseorang,"


"Melindungi seseorang?"


Arnis mengangguk. Kemudian, seseorang datang dengan sedikit berlari dan langsung menghampiri Arnis. Ia melirik Vano dan Neva sekilas lalu duduk di bangku sebelah Arnis.


"Kakak tenang saja, aku sudah melakukan Visum," ucapnya. Arnis mengangguk, ia menatap gadis di sebelahnya dengan sayu. Kasihan kamu... Batinnya. Orang yang membayar mu adalah orang hebat, kau tidak akan bisa memenjarakannya meskipun banyak bukti.


"Aku akan segera keluar dari sini gadis. Jangan mengkhawatirkan ku. Setelah ini... Kembalilah ke kampung halaman mu," Arnis mengeluarkan beberapa lembar pecahan ratusan ribu padanya. "Gunakan ini untuk membeli tiket, dan ini untuk ganti biaya visum mu, terima kasih sudah berusaha untuk mencari bukti. Sekarang pulanglah."


"Tapi Kakak...," Dia menatap Arnis dengan ragu.


"Tidak apa-apa, aku akan segera bebas. Lihatlah...," Arnis menunjuk Vano. "Dia adalah teman ku yang hebat," jelasnya. Gadis itu mengangguk.


"Biar aku yang memesankan dia taksi," Neva menawarkan diri. Gadis itu pamit dan memeluk Arnis dengan tangis, ia berkali-kali mengucapkan kata terima kasihnya untuk Arnis. Entah apa jadinya jika Arnis tidak datang tepat waktu, ia pasti telah ternoda sekarang.


Kemudian, ia dan Neva berjalan keluar.


"Kau tidak apa-apa gadis?" Tanya Neva setelah mereka sampai di depan. Mereka duduk dikursi di pinggir jalan depan kantor polisi. Kemudian, Neva mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya. Kartu debit dengan saldo yang lumayan banyak.


"Apa ini Kak?" tanya si gadis saat menerima kartu itu dari tangan Neva.


"Ini namanya kartu beruntung. Di dalam kartu ini, ada sejumlah uang yang bisa kau gunakan untuk keperluan mu. Jika kau ingin kuliah... kuliahlah, nanti setiap bulan, kartu ini akan bertambah dengan otomatis untuk membayar biaya kuliah mu. Namun, jika kau tidak menggunakannya untuk kuliah maka kartu ini tidak akan bertambah saldonya. Tidak harus kuliah, kau bisa menggunakan kartu ini untuk membuka usaha," jelas Neva. Keluarganya memiliki banyak kartu ini, dia selalu membawanya beberapa. Ia akan memberikannya pada orang yang tepat yang ia temui. "Ini karti nama ku. Hubungi aku jika kau memutuskan untuk kuliah," Neva menggenggam tangannya. Si gadis menangis tersedu-sedu, ia mengucap syukur berkali-kali.


Kemudian, Neva menghentikan taksi dan meminta untuk mengantar gadis ini hingga sampai.


Neva tidak kembali kedalam. Ia masih duduk di pinggir jalan. Ia memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang, memperhatikan lampu jalan, memperhatikan langit dan semua yang terjangkau oleh pandangan matanya.


Sudut bibirnya terangkat namun sejujurnya ia bersedih. Keluar negeri... rasanya memang keputusan yang tepat. Dia dan Vano begitu rumit, alangkah lebih baik jika dia benar-benar melepasnya dan pergi jauh darinya.


Ada Arnis yang begitu asik dan sangat mencintai Vano. Vano pasti akan sangat bahagia bersamanya. Begitu pikir Neva. Mencintai seseorang sekian lama dan akhirnya menyerah, mencintai seseorang sekian lama dan pada akhirnya mengalah pada keadaan. Ia menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan lembut.


Ia memegangi hatinya dan mendongak menatap langit malam.


"Tuhan... terima kasih telah mengenalkan ku pada rasa ini." Ia mengeluarkan buku kecilnya dan menulis sesuatu.


"Sesuatu yang halus dan tak teraba


Menyusup dan menguasai seluruh jiwa


Ia tidak memberi kesempatan untuk menerka


Apa ini?


Sesuatu yang terasa sakit ketika merindu


Sesuatu yang terasa sesak ketika merindu


Apa ini?


Sesuatu yang tak teraba bernama cinta


Cinta yang membisu


Mengalun merdu tetapi sangat pilu


Cinta yang membisu


Bersyair indah tetapi penuh rasa gelisah


Ini bukan tentang apa


Bukan juga tentang siapa


Tetapi tentang ku


Aku yang mencintaimu dengan cara ku.


Malam indah di depan kantor polisi.


Selamat tinggal rasaku. Aku berhenti."


Ia menutup buku kecilnya dan kembali mendongak keatas. Semilir angin malam yang begitu lembut membelai rambutnya, menyentuh wajahnya, seakan berbisik... kau bisa melupakannya Neva.


_Mereka duduk berdampingan di bangku penumpang. Neva sibuk membalas pesan pada temannya dan ada satu pesan baru.


"Lagi apa?" Pesan dari Raizel.


"Jalan pulang," balas Neva.


"Aku berharap, kita bisa bertemu lagi."


"Semoga," chat berakhir. Raizel menyempatkan diri untuk sekedar mengirim pesan pada Neva ditengah padatnya jadwal yang dia jalani jam perjam.


Setelah itu, Neva memposting foto Raizel yang terlihat sangat tampan dengan kaca matanya. Hanya foto Raizel.


Setelah Neva memposting foto Raizel di akun sosial medianya. Foto Raizel sendirian dengan memakai kaca mata. Tak butuh waktu lama dan langsung di banjir like dan komen. Neva tertawa pelan membaca komentar teman-temannya. Pasti akan heboh lagi jika dia memposting dirinya bersama Raizel.


"Ku pikir dia tidak mengenal mu Vano," Arnis berbicara pada Vano.


"Kita beberapa kali bertemu. Aku tidak menyangka jika dia begitu menjijikan." ucap Vano dan bergidik ngeri namun jijik pada seseorang yang ia temui di kantor polisi tadi. Anak jendral yang tidak punya hati. Ia memakai anak di bawah umur untuk memuaskan nafsu bejatnya.


"Benar-benar menjijikan," Arnis juga bergidik dengan jijik.


"Apa kalian lapar?" Tanya Vano. Dia memperhatikan Neva dan Arnis secara bergantian dari spion.


"Tidak."


"Iya." Jawab mereka bersamaan. Tidak adalah jawaban dari Neva dan Iya adalah jawaban dari Arnis. Mereka berdua saling menatap.


"Jadi?" Tanya Vano.


"Makaaaan," jawab Arnis. "Kau harus setuju adik...," Lanjutnya. Dia menyenggol lengan Neva.


"Baiklah," jawab Neva menyetujui.


Kemudian, mereka berdua makan bersama di sebuah restoran Eropa. Setelah selesai makan malam. Vano mengantarkan Arnis kembali terlebih dahulu.


"Neva... kita bersaing secara adil untuk mendapatkannya," Arnis menepuk pundak Neva sebelum ia menutup pintu mobil. Neva membalasnya dengan senyuman tipis.


Saat ini... tinggal Neva yang berada di mobil Vano. Dia masih duduk bangku penumpang.


"Kak, aku pulang kerumah Kak Lee... bisa kau mengantarku kesana?"


"Tentu saja...," jawab Vano, "Pacar," lanjutnya yang langsung membuat Neva terbelalak dengan degupan jantung yang dahsyat. Apa? Apa yang dia bilang tadi? Pacar?


"Apa aku salah mendengar? Please...." Neva menatap Vano dari kaca spion.


"Kau tidak salah dengar. Bukankah tadi kita jadian?" Vano menggodanya.


"Apa? Kapan?" Neva menggeleng dan memikirkan kapan mereka jadian. Namun, dia tidak menemukan adegan yang menyatakan bahwa mereka jadian.


"Kau meminta izin pada ku untuk membiarkan hatimu yang berbunga dihati ku. Aku mengizinkannya," ucap Vano. Ia tersenyum dalam pantulan kaca spion. Wajah Neva seketika memerah, ia segera mengalihkan pandangan dan mengigit bibirnya untuk menahan senyumnya.


"Itu cuma lagu Kakak..., kau jangan menganggapnya serius," ucap Neva.


"Kau menggoda ku tadi, jadi kau harus bertanggung jawab."


"Aaa... itu bukan cuma aku, Kak Arnis juga."


"Yaa, dia juga harus bertanggung jawab."


"Dasar buayaaa....," ucap Neva dengan tawa.


__ Leo dan Yuna tengah menyaksikan televisi di ruang tengah ketika mobil Vano berhenti didepan gerbang mereka. Terlihat Neva memencet sandi dan mempersilahkan mobil Vano masuk ke halaman rumahnya. Leo dan Yuna saling menatap.


___


Cp...


Eh, ada yang sadar nggak sih kalau cover Sebenarnya Cinta berubah? Teman-teman suka cover lama apa yang baru? 😊


*Risalah Hati_Dewa


*Suara Hati_Nike Ardilla


*Jaran goyang_Nella Kharisma


*Aku Patut Membenci Dia_Tere


*Tercipta Untuk mu_ungu


*Separuh Aku_Noah


*Cinta Mati_Agnes Mo & Ahmad Dhani


*Madu Tiga_Triad