Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 278_Sabar Menunggu


"Iya," jawab Vano. Tangannya mengulur dan menggenggam tangan Neva diatas meja. "Kau sudah siap bukan?" Tanya Vano. Suaranya lembut tetapi penuh keyakinan. Neva menunduk sebentar untuk berfikir, kemudian ia mengangkat wajahnya lagi dan membalas tatapan mata Vano padanya.


"Apa setelah tunangan akan ada pernikahan yang cepat?" Tanyanya. Vano tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Neva.


"Aku menunggu kau siap, aku sudah pernah bilang bahwa aku akan selalu menunggu mu," Vano menjawab dengan masih menatap mata Neva dengan lembut. "Aku tidak akan memaksamu, jika kau belum siap," lanjut Vano.


"Bulan depan, aku mulai masuk kuliah lagi," Neva mengalihkan pandangannya. Vano mengangguk mengerti. Ia tahu apa yang gadisnya pikirkan.


"Aku tidak melarang mu untuk meneruskan kuliah, aku sangat mendukung. Bahkan saat nanti kita telah menikah, kau masih boleh kuliah. Pun saat nanti kita memiliki baby," jawab Vano. Ibu jarinya masih mengusap lembut disana. Neva kembali menatapnya.


"Beri aku waktu untuk memikirkannya," jawab Neva. "Tidak lama, aku akan memberikan jawabannya esok," lanjutnya segera. Vano mengangguk.


"Apapun jawabanmu, aku pasti menerima dan akan selalu menunggu," tangan kanannya terangkat dan berpindah untuk mengusap rambut Neva.


"Terima kasih Kak," ucap Neva.


"Aku juga sabar menunggu mu memanggil ku sayang."


Neva langsung membatu beberapa saat mendengar itu. Tapi kemudian bibirnya tersenyum simpul.


"Terima kasih, s- sayang," ucapnya mengulang ucapan terima kasihnya. Sudut bibir Vano langsung terangkat dan tersenyum lebar.


"Sangat manis," ujarnya. Dia senang, tentu saja.


Kemudian, setelah mereka berdua selesai menikmati malam, Vano mengantar Neva untuk kembali kerumah. Sepanjang perjalanan, Neva diam. Ia memikirkan tentang menikah dan kuliah. Apakah itu akan mudah? Dia belum berfikir untuk memiliki anak. Bagaimana jika setelah menikah lalu keluarga Vano langsung menginginkan keturunan.


Vano mengulurkan tangannya dan mengambil tangan Neva. Ia menggenggamnya.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Vano bertanya setelah ia juga diam dan hanya memperhatikan Neva. Neva menoleh ke arahnya.


"Hmm?"


"Bisa kau bagi denganku?"


Neva menghela nafasnya. Membaginya? Membagi apa yang sedang ia pikirkan? Ia merapatkan bibirnya. Jika mereka berdua bersama, bukankah ada seseorang yang siap untuk berbagi apa yang kita pikirkan dan rasakan. Jika bersama, maka akan ada seseorang yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita. Batin Neva.


"Apakah setelah menikah, kita harus segera memiliki anak?" Neva bertanya dengan rendah. Pada akhirnya, ia mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan. Vano tertawa ringan mendengar itu.


"Tidak harus segera memiliki anak, tetapi bikin anak harus disegerakan," candanya dengan tawa. Neva mengerutkan bibirnya dan meninju bahu Vano dengan kencang.


"Kau ...." ujarnya. "Aku serius," lanjutnya dengan nada kesal tetapi sebenarnya ia merasa sedikit malu dengan kata 'bikin anak'. "Pertanyaan-pertanyaan pasti akan selalu ada nantinya. Kapan punya anak? Kapan? Kalian sudah menikah sekian bulan kenapa tidak kunjung hamil? Jangan ditunda, nanti keburu tua lho. Jangan ditunda, anak itu rejeki bla bla," lanjut Neva lagi. Ia menirukan suara ibu-ibu kepo tentang pertanyaan kapan dan wejangannya. Vano terkekeh mendengarnya, tangannya berpindah dan mencubit pipi Neva. Kemudian, ia membuka mulutnya untuk memberi jawaban atas pertanyaan kapan.


"Kemarin ada orang yang tanya pertanyaan seperti itu, besoknya dia bisulan."


"Puffhh," Neva langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Vano. Rasa tegangnya menghilang. Dia pikir, dia akan mendapatkan jawaban yang serius tapi ternyata, Vano menjawabnya dengan lucu.


Mobil Vano dengan perlahan parkir di halaman rumah keluarga Nugraha. Ia menoleh ke arah Neva.


"Ya," jawab Neva. Ia menoleh ke arah Neva. Mata mereka bertemu. Tangan Vano masih menggenggam tangan Neva.


"Kau harus selalu ingat ini dengan baik. Bahwa aku akan selalu menunggu mu dalam hal apapun. Jadi ... singkirkan pikiranmu tentang pertanyaan yang akan orang-orang lontarkan padamu, pun jika itu terlontar dari orang orang tua ku. Kita akan bahagia dengan cara kita, bukan cara mereka. Aku menunggu kesiapan mu, tidak ada paksaan," ucap Vano dengan lembut penuh perhatian. Neva mengigit bibirnya, ia menatap kedalam mata Vano. Laki-laki yang begitu sabar untuk selalu menunggunya. Ia memejamkan matanya sesaat, kita akan bahagia dengan cara kita. Hatinya berbisik mengulangi kalimat Vano. Kemudian, ia membuka matanya dan kembali menatap Vano.


"Aku ...." ia membalas genggaman tangan Vano. "Aku siap menikah dengan mu," ucapnya dengan sungguh. Bintang-bintang seolah bertebaran dalam hati Vano. Ia sangat bahagia mendengar apa yang baru saja Neva katakan. Rasanya, ia ingin bersorak dan mengabarkan ini pada seluruh dunia.


"Terima kasih sayang," ucapnya dengan senyum lebar penuh kebahagiaan. Neva mengangguk.


****@****


Yuna dan Baby Arai sudah kembali ke rumah. Kamar Baby Arai sudah disiapkan. Kamar dengan hiasan mobil dan segala macam pernak-pernik tentang cowok. Namun kamar itu masih dibiarkan kosong karena Yuna dan Leo sepakat untuk membawa baby Arai bersama mereka. Box bayi di letakkan di samping ranjang raksasa mereka.


Pada malam hari, Leo tidak tidur ia menunggu bayinya sepanjang malam. Baby Arai harus minum asi dalam dua jam sekali. Dia takut terlewat, jadi dia memutuskan untuk tidak tidur. Mama sudah mengajarinya untuk mengganti popok, membersihkan pup, memakaikan baju dan sarung tangan.


Terkadang, dia tidak tega membangunkan Yuna saat wanita itu terlelap. Tapi tidak ada pilihan lain, tiap dua jam sekali Yuna harus bangun untuk memberikan asi.


Pukul tiga dini hari, baby Arai terbangun, mata indahnya terbuka. Ia menggerak-gerakkan tangannya dan menggeliat dengan imut.


"Hai ... pangeran. Kau bangun?" Suara Leo rendah menyapanya. Tangannya mengulur dan menggenggam tangan putranya lembut. "Belum dua jam dari terakhir kau asi. Mom baru saja tidur, biarkan Mom tidur sejenak, ok. Jagoan," lanjutnya. Suaranya lembut penuh cinta. Bibirnya terus tersenyum dan dia melakukan dialog-dialog lucu pada bayinya. Leo mengambil Baby Arai dari box bayi dengan sangat hati-hati, kemudian ia menggendongnya.


"Ternyata kau bangun lebih awal dari Daddy nak," ucapnya. Ia menunduk dan menciumi Baby Arai dengan gemas. "Masih sangat pagi, kau mau dibacakan dongeng?" Leo berjalan lalu duduk di sofa. Ia memangku Baby Rai dan membacakannya sebuah dongeng. Baby Arai terus menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan lucu. Terkadang, ia juga sedikit mengeluarkan suara. Suara kecilnya membuat hati Leo begitu bahagia.


Leo memegang kedua kaki anaknya dan mengusapnya dengan lembut. "Jagoan, tendangan mu begitu kuat," ujarnya dengan senyum. Ia mengingat, pipinya sering mendapatkan tendangan lucu saat baby Arai masih berada di dalam kandungan.


"Kalian sudah bangun," suara Yuna menyapa. Ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa.


"Aku bangun dari tadi Mom," jawab Leo mewakili suara baby Arai. Yuna tersenyum dan duduk di sampingnya.


"Hmm, rajinnya," Yuna menunduk dan mencium pipi anaknya. Menciuminya lagi dan lagi. Menciumnya terus dan terus.


"Mom, yang gede juga pengen dicium," Leo membuat suaranya menjadi imut. Yuna terkekeh mendengar itu. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan langsung mematuhi permintaan sang suami. Ia mencium pipi Leo.


"Mom, yang ini belum," Leo memanyunkan bibirnya. Yuna kembali terkekeh.


"Bayi gede," ujarnya dan langsung mencubit kedua pipi Leo.


_____


Catatan Penulis


Selamat hari raya idul Fitri πŸ₯°πŸ™ Mohon maaf lahir batin πŸ™ Nanas minta maaf untuk setiap kesalahan yang diperbuat. Bikin kesel, bikin gregetan... 😘


Jan lupa jempolnya di goyang ya kawan tersayang πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™ Like koment dan vote. Terima kasih kesayangan Nanas. luv luv πŸ₯°.