
Neva mencoba menghubungi Lula, namun Hpnya tidak aktif. Menghubungi supirnya, sama saja... sepertinya mereka sangat kompak dalam hal ini.
"Menghubungi Kak Lee? Iya sih dia pasti akan segera datang tapi setelah itu pasti akan mengomel sepanjang tahun, dan dia pasti akan langsung memecat supir yang dengan sengaja tak menjemput ku, lalu taruhannya adalah persahabatan ku dengan Lula."
Perlahan, langit mulai menjatuhkan rintik gerimis, kemudian, disusul hujan yang lebat...
"Sial, aku tidak akan memaafkan mu Lula, kau keterlaluan."
Tidak punya pilihan, Neva mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Leo. Tapi... tangannya terhenti untuk memencet ketika seseorang datang dan memayunginya. Pelan, dia mendongak untuk melihat sosok yang datang memayunginya. Matanya dan bahkan hatinya langsung meleleh. Vano. Sungguh ini seperti adegan-adegan romantis yang ada di drama Korea itu.
"Ayo," Vano meraih tangannya dan membawanya berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Genggaman tangan yang hangat dalam percikan dingin air hujan membuat jantung Neva memompa dengan cepat dan bahkan hampir keluar dari tempatnya. Dia menoleh memperhatikan sosok yang sebenarnya dia sukai diam-diam, wajahnya tenang dan lembut. Neva mengigit bibirnya dengan rasa bahagia dalam hatinya.
Sebenarnya Vano tidak benar-benar pergi, dia diam di dalam mobil dan memperhatikan Neva, Ia meminta supirnya untuk memarkirkan di seberang jalan agar bisa dengan jelas memperlihatkan adiknya ini.
Mereka duduk bersebelahan di bangku penumpang. Mereka diam, namun tiba-tiba, hidung Neva terasa gatal, dia menahannya, dan semakin gatal, dia menahannya, dan teramat gatal, dia menahannya, dan... Hachuum... akhirnya dia tidak tahan. Dia tertawa kecil sambil mengusap hidungnya.
"Hehee... Maaf ya," ucapnya pelan menahan malu. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah... Vano melepas jas miliknya dan dengan pelan meletakkan di pundak Neva. Ya Tuhan... ini sungguh tidak mimpi bukan? Aww... Neva ingin melompat-lompat dan berteriak karena sangat bahagia, bunga-bunga dalam hatinya bermekaran dengan indah. Pipinya merona, dia menggigit bibirnya dan menunduk menyembunyikan perasaan bahagia yang tak tertahan. Dia meletakkan kedua telapak tangan di wajahnya, menutupi senyum merona diwajahnya.
"Kau tidak apa-apa?" Vano bertanya dengan perhatian. Neva mengangguk dan masih menutup wajahnya.
"Berikan tangan mu," ucap Vano meminta tangan Neva. Dengan pelan wajah itu terangkat, telapak tangannya berpindah dan seperti terhipnotis, ia memberikannya begitu saja pada Vano. Tangan Vano meraih dan mengenggamnya.
"Ada seseorang yang bilang pada ku... ketika dia merasa dingin maka tangan ku yang mengenggam tangannya bisa membuatnya hangat," ucap Vano dengan senyum simpul di bibirnya. Dia mengingat itu, ingat ketika Yuna meminta tangannya dan mereka saling mengenggam.
Neva menatapnya dan terbengong, matanya tak berkedip, otaknya memproses. Dia... dia... apa dia adalah orang spesial dalam hatinya? Bunga di hatinya yang bermekaran itu seketika layu, senyum merona itu seketika memudar, wajah memerah itu seketika membeku. Harapannya menipis dan bahkan hampir hilang.
"Dia?" Neva menggumam dalam lidahnya yang terasa kelu.
****@****
Ke esokan harinya.
Semuanya sudah lengkap. Asisten Dion melakukannya dengan sangat baik, sesuai perintah bossnya.
Pagi ini, Leo memulai paginya dengan meeting dan memberikan perintah pada bawahannya. Dia meminta untuk segera di kerjakan dan hanya memberi waktu sepuluh menit. Meeting selesai. Dia kembali keruangannya dan menunggu keterkejutan seseorang.
Mahaeswara Property sedang menjalankan proyek besar di Kota tak jauh dari Ibu kota. Mereka membangun sebuah perumahan yang sebenarnya seperti membuat kota baru di negara ini. Salah satu pemegang saham terbesar adalah perusahaan milik keluarga Leo. Dia dalam sepuluh menit menarik semuanya, dia dalam sepuluh menit ini bahkan menolak dan membatalkan berkas-berkas calon pembeli yang berjumlah ribuan. Tentu sangat menyulitkan bagi perusahaan Vano.
Vano segera menjalankan rapat dadakan begitu serangan itu datang, dia memberikan instruksi untuk tetap tenang dan mencari titik masalahnya. Tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh perusahaannya, dan akhirnya Vano tahu jika ini adalah keKreatifan dari Leo. Ini... adalah acaman tatapan matanya yang memperingatkannya malam itu. Vano memutar otak untuk menyelesaikan ini.
Sepuluh menit telah berlalu, Leo sedikit bernafas lega, paling tidak saat ini Vano sangat sibuk, jadi, dia tidak ada waktu untuk memikirkan Yuna, jadi dia tidak ada waktu untuk mengintai Yuna di tempat melukisnya. Dengan begini, dia akan sedikit tenang untuk terbang ke Pulau S untuk membantu Dimas dengan perusahaan baru mereka.
Pintu ruang Leo terketuk dan Yuna segera menampakkan senyum cantiknya.
"Kau kesini?" Leo segera berdiri dan menujunya. "Apa yang kau bawa?" tanya Leo setelah memperhatikan tentengan yang Yuna bawa. Mereka duduk di sofa.
"Mangga, jambu, kedondong, emm dan jeruk," Yuna mengeluarkan satu persatu dan menaruhnya di atas meja.
Leo menatapnya dengan gemas, bahagia dan penuh harap. Dia mendekatkan dirinya dan menyusupkan tangannya kedalam baju Yuna, tangannya menyentuh perut Yuna dengan hati-hati.
"Sayang, apakah disini ada baby?" tanyanya pelan sambil mencium pipi merah Yuna.
Yuna berkedip dengan cepat, dia tidak menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan ini. Tangannya memegang tangan Leo yang berada dalam bajunya.
"Ayo kita pulang," Leo membawa Yuna pulang dan dia memborong semua alat tes kehamilan.
"Waww... kau memborongnya?" Tanya Yuna dengan tawa ringan.
"Iya," Leo mengangguk. Kemudian mereka pulang dengan jantung yang berdebar penuh harap.
Leo duduk di sofa kamarnya dan menonton Tv. Dia menunggu Yuna yang berada di kamar mandi. Dalam hati... dia berharap ada garis dua.
Pelan, pintu kamar mandi terbuka dan Yuna keluar dengan menunduk dan sedih. Melihatnya, Leo segera berdiri dan berjalan kearahnya.
"Sayang, tidak apa-apa," ucapnya lembut dan langsung memeluk Yuna. Ekspresi Yuna menunjukkan bahwa hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan.
"Kau kecewa pada ku?" Yuna bertanya dengan sedih.
"Tidak," Leo menggeleng dan mengusap punggungnya dengan perhatian.
"Kau kecewa pada ku?" Yuna mengulangi pertanyaannya lagi.
"Tidak, sayang."
"Bohong, aku minta maaf, aku membuat mu kecewa," Yuna mendorongnya dan melangkah meninggalkannya. Dia merangkak naik ke atas tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut. Leo menjadi sangat sedih dengan ini.
Dia dengan pelan ikut naik keatas tempat tidur dan ikut bersembunyi di balik selimut bersama Yuna. Tangannya mengulur dan memeluk Yuna dari belakang.
"Sayang...," panggilannya pelan. Yuna berusaha menyingkirkan tangannya namun Leo dengan keras kepala semakin mendekapnya.
"Aku payah bukan? Aku mengecewakan mu, aku tidak bisa memberi apa yang kau inginkan saat ini. Sungguh menyedihkan. Kau pasti sangat kecewa pada ku bukan? Leo... aku minta maaf."
"Sayang, apa yang kau bicarakan?" Leo mendekapnya. Dia jadi menyesal karena telah menanyakan itu, dia jadi menyesal karena menyinggung itu.
"Aku ingin sendiri, tolong singkirkan tangan mu."
"Sayang, aku minta maaf jika aku menyinggung mu. Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak kecewa pada mu."
"Bohong, kau kecewa pada ku."
"Nggak."
"Iya."
"Tidak, sayang..." Leo mendekapnya dan mencium pundaknya. "Anak adalah titipan Tuhan, dia adalah rizki dariNya. Jika saat ini belum, mungkin memang belum saatnya. Kenapa aku harus kecewa pada mu? Jika aku kecewa pada mu itu sama saja aku kecewa pada Tuhan. Aku tidak mungkin menyalahkan Tuhan karena tidak segera menitipkan bayi pada kita, jadi... aku tidak mungkin kecewa pada mu," ucapnya penuh kasih. "Sayang, kita makan siang dulu, okey."
Yuna menggeleng. "Please, jangan begini. Besok aku terbang ke Pulau S. Aku tidak bisa tenang jika kau seperti ini." Yuna masih diam.
Tidak sabar menunggu Yuna untuk menyetujui, Leo membuka selimut dan langsung menggendongnya.
"Kau mau membawa ku kemana?"
"Jalan-jalan."