Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 326_Sampaikan 4


Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar. Yuna memberikan asi terlebih dahulu sebelum dia ikut merebahkan dirinya di ranjang.


"Selamat malam, selamat istirahat baby tampannya mommy," Yuna mencium anaknya dan menidurkannya di box bayi. Kemudian, dia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di ranjang. Dia meletakkan kepalanya di bahu Leo.


"Apa kau akan sibuk minggu-minggu ini?" tanya Yuna. Tangannya memeluk Leo.


"Tidak. Kenapa?" jawab Leo sekaligus bertanya. Dia membalas pelukan Yuna.


"Ini hari minggu dan kau seharian sibuk dengan Papa," jawab Yuna.


Leo mengangguk, "Ya, hanya sehari saja. Besok aku libur lagi," jawab Leo.


"Libur lagi?" Yuna menatapnya.


"Ya. Perusahaan sedang stabil jadi aku boleh libur lagi," jawab Leo. Jawaban yang sebenarnya bohong. Dia libur bukan karena kondisi perusahaan yang stabil tetapi karena memang dia harus istirahat dengan tolal. Kondisi Leo sedang tidak baik, dan bahkan buruk. Dia tidak boleh lelah, tidak boleh setres dan tidak boleh mengangkat sesuatu yang berat. Tuan besar Nugraha sudah memerintahkan asisten pribadinya untuk memegang sementara kantor Leo.


"Yeyyy, bisa terus seharian bersamamu," Yuna yang tidak tahu apa-apa merasa senang dengan liburnya Leo. Dia tersenyum Lebar. Dengan Leo yang terus bersamanya sepanjang waktu, itu akan membuatnya benar-benar lupa dengan semua sedih yang ia rasakan.


"Apa ada rencana untuk menghabiskan hari esok?" tanya Leo. Dia tersenyum bahagia, melihat Yuna yang kembali tersenyum. Tangis Yuna beberapa jam yang lalu begitu menyayat hatinya.


"Bagaimana jika kita belanja?" usul Yuna yang langsung disetujui Leo.


"Siap Nyonya muda," jawab Leo.


Leo tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali, rasa nyeri yang begitu menusuk ia rasakan pada tulang punggungnya. Sejujurnya ia menahannya sedari tadi, dia menahan rasa sakit yang menyerangnya dan tetap tersenyum tanpa memperlihatkan ekspresi sakit diwajahnya. Beberapa jam yang lalu, dia baru saja menggendong Yuna dan itu adalah salah satu penyebab datangnya rasa nyeri itu.


"Sekarang tidurlah," ucapnya.


Yuna mengangguk. "Selamat istirahat sayang. Tuan tampan," ucap Yuna dan mencium pipi Leo sebelum dia memejamkan matanya.


"Selamat istirahat Nyonya cantik," balas Leo. Tangannya mengusap pipi Yuna. Hanya tangan saja yang ia gerakkan.



Leo menarik nafasnya dengan dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan dan teratur. Dia mengatur nafasnya. Matanya terpejam. Dia mengingat penjelasan dokter pada sore yang lalu. Kemudian, dia membuka matanya lagi dan memperhatikan Yuna yang terlelap dalam pelukannya. Memberi tahu Yuna tentang keadaannya? Leo menggeleng pelan. Tidak, dia tidak sanggup untuk menyampaikan itu. Tangis Yuna baru saja terhenti, kesedihan Yuna baru saja terlewati. Bagaimana bisa, dia kembali membuat Yuna menangis dan bersedih. Tidak. Bukan sekarang waktu yang tepat untuk memberi tahu Yuna. Mungkin besok, atau lusa atau tidak akan? Hati Leo berkecamuk, antara tega dan tidak tega.


__Sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah Leo. Seseorang yang sudah hafal sandinya memencet tombol dengan cepat, kemudian segera membawa mobilnya masuk.


Pada malam itu juga, Neva datang kerumah Leo. Matanya sembab, dia mengetuk pintu kakaknya dengan menunduk. Dan Bi Sri yang membukakan pintu untuknya.


"Kak Lee ada dirumah Bi?" tanya Neva pelan dengan suaranya yang masih serak, hidungnya merah dengan air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya. Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu pada Yuna, dia juga menangis di dalam kamarnya. Dia menyesalinya, dia merasa sangat keterlaluan pada Yuna.


"Ada Non. Tuan muda ada diatas," jawab Bi Sri. Neva mengangguk pelan dan melangkah untuk lebih masuk kedalam. Tepat ketika dia berada di ujung tangga Leo melangkah menuruni tangga. Neva menatap kakaknya dengan pandangan nanar. Dia menunduk sebentar mengambil nafasnya kemudian kembali menatap Leo dengan sedih.


"Ada apa?" tanya Leo. Dia menatap Neva dengan tajam.


"Aku ingin bertemu dengan Kak Yuna," jawab Neva serak, dia menahan tangisnya.


"Untuk apa?" tanya Leo dingin.


"Aku ingin meminta maaf padanya," jawab Neva.


"Kau menyakitinya."


"Jadi sekarang kau sadar jika ucapanmu menyakitinya?"


Neva mengangguk.


"Kau bilang apa padanya? Kau bilang apa padanya?" suara Leo tinggi. Bentakan menggema di penjuru ruangan. Dadanya dipenuhi amarah. Neva menunduk, bibirnya bergetar menahan tangis. "Kau memakinya? Kau menghinanya? Hhh?" Leo bertanya dengan nada yang masih tinggi.


"Kak Lee, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Pikiranku kacau, aku dikuasai sesuatu yang tidak ku mengerti," Neva menjawab dengan terbata. Dia mengigit bibir dengan kuat setelah mengucapkan itu. Dia tahu kakaknya pasti akan marah besar padanya. Dan dia sangat takut itu.


"Kau menyakitinya Neva. Itu artinya kau juga menyakitiku," kini suara Leo mulai merendah. Tetapi kemudian dia mulai menekankan suaranya. "Apa yang kau katakan padanya?"


Dalam tunduk wajahnya, Neva menggenggam jari-jarinya. Dia sangat menahan air matanya. Pelan, dia mengulangi apa yang tadi sore dia ucapkan pada Yuna.


Leo semakin meradang mendengarnya. Matanya memerah karena amarah. Dia tidak habis pikir jika kalimat itu keluar dari mulut adiknya sendiri. Pantas saja, Yuna sampai menangis dan begitu terluka. Neva yang Yuna sayangi malah mencerca dengan kalimat-kalimat hinaan yang menyakitkan.


"Suci dan tanpa dosakah kau Neva?" Leo mengeratkan giginya menahan amarah yang ada dihatinya. "Kau boleh membencinya, kau boleh tidak suka dengannya tapi kau tidak boleh menghakiminya dengan apa yang kau pikirkan. Sudah merasa sempurnakah perilaku mu hingga kau tega mengucapkan itu padanya? Apa kau adalah makhluk yang tanpa dosa di dunia ini, hingga kau berhak menghinakan orang lain?"


Neva diam. Air matanya menetes dan dia segera menyekanya. Dia sadar dia salah dengan kalimat-kalimatnya. Dia sadar telah melukai hati Yuna dengan lisannya. Sebuah arogansi sesaat yang membawanya pada penyesalan.


"Kenapa kau memaki dia? Kenapa kau tidak menanyakan langsung padaku atau pada Vano? Vano yang bahkan terang-terangan menyatakan perang padaku untuk mengambil Yuna. Kenapa kau memojokkan Yuna dan bukan bertanya langsung pada laki-laki kau cintai itu. Bagaimana dia bisa menantangku untuk mengambil Yuna," Leo mengambil nafasnya sejenak. "Aku yang salah dari awal karena begitu menyakitinya, membuatnya terluka, mencampakkannya hingga dia bisa dekat Vano. Jika kau ingin memaki, jika kau ingin marah. Maki dan marah saja padaku, jangan padanya. Jika kau ingin mencerca, cerca saja aku, jangan padanya. Ucapanmu sangat menyakitinya Neva. Aku tidak habis pikir jika kau mampu memaki kakak iparmu dengan sangat menyakitkan," ujar Leo dengan sangat teratur tetapi penuh penekanan.


Neva menangis. Air matanya semakin deras dan tak bisa ia bendung.


"Izinkan aku bertemu dengan Kak Yuna," pinta Neva lirih.


"Tidak perlu kembalilah. Dia sudah tidur," jawab Leo.


"Kak Lee aku minta maaf padamu," Neva mengangkat kepalanya dan menatap Leo. Menatap kakaknya dengan pandangan yang begitu sedih dan menyesal.


"Tidak perlu, kembalilah," jawab Leo.


Neva semakin menangis. Dia berlutut di depan kakaknya dengan tangis. Kedua tangannya memegang kaki Leo.


"Aku minta maaf Kak. Sungguh minta maaf. Aku salah, ucapanku salah. Tindakanku salah. Emosiku mengalahkan logikaku sesaat. Aku minta maaf, aku minta maaf Kak."


Leo menelan ludahnya dengan rasa sesak dalam dadanya. Kenapa jadi seperti ini? Yuna terluka karena Neva. Neva yang cemburu pada Yuna.


"Aku minta maaf Kak," Neva menangis dengan sesenggukan. Dadanya juga terasa sangat sesak, dia menyesal.


"Maafmu hanya mencabut sebuah pedang yang kau tancapkan pada hatinya. Luka karena lisan itu tidak terlihat tetapi begitu menyakitkan dan terus menganga. Tidak bisa kembali dengan begitu indah seperti sebelum kau merusakkannya. Ucapanmu akan terus melekat disana meskipun lukanya mengering. Jaga lisanmu dari mencela dan menghinakan orang lain. Pikirkan itu," ucap Leo menasehati Neva dengan sangat teratur. "Sekarang kembalilah," lanjutnya. Dia membungkuk dan mengambil tangan Neva dari kakinya. Kemudian, dia kembali menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dadanya sesak. Keringat dingin mengalir membasahi keningnya dan bahkan hingga wajahnya.



______________________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° padamu πŸ₯° Luv luv.


Like koment gratis.... 😘 Bikin othor semangat lagi. Ya kan πŸ˜‰ Terima kasih kawan tersayang πŸ₯°