
"Kau hebat William," puji Leo.
William tersenyum mendengar itu. Dia ingat tulisan yang Leo tinggalkan dalam kardus itu.
"Hmmm, aku masih menyimpannya," ucap William. Dia menggerakkan jari telunjuknya.
"Menyimpan apa?" Yuna yang menanggapi. Dia sangat terkesan dengan kisah Leo dan William. Begitu indah, harmonis dan mengharu.
"Loe's Love Letter," jawab William dengan senyum.
Yuna sedikit melebarkan matanya, dia menoleh ke arah Leo, "Sayang, kau pandai menulis surat cinta?" tanyanya.
"Dia ngawur, aku masih normal. Mana ada kirim surat cinta untuknya," jawab Leo.
"Hmm, jika bukan untuk Willy. Apa kau pandai menulis kata cinta?" tanya Yuna cemberut. Pasalnya, dia tidak pernah menerima tulisan kata puitis dari Leo. Jadi dia merasa cemburu jika Leo hanya menulis kata cinta untuk Kiara dulu.
"Tidak. Kau tahu sendiri, aku bukan cowok romantis," jawab Leo.
"Tapi pernah menulis kata cinta?" tanya Yuna lagi.
Leo menoleh menatap Yuna, "Tidak pernah," jawabnya.
"Bohong," ucap Yuna. Dia membalas pandangan Leo.
Sudut bibir Leo terangkat dan dia mengangguk, "Iya, bohong," katanya. Dan itu membuat Yuna semakin cemberut.
"Tuuu ... kan, kau ...." Yuna memukul lengan Leo bertubi. "Berarti kau sering menulis kata cinta untuk Kiara? Menyebalkan ...."
William tersenyum lebar memperhatikan mereka, meskipun tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi dia bahagia melihat hubungan Leo dan Yuna. Yuna yang tepat untuk sahabatnya. Dia tahu bagaimana Yuna berusaha untuk mencari dia, memohon padanya dan tatapan ketakutan saat perlahan pintu ruang operasi itu ditutup.
"Uhum," William sengaja terbatuk.
Yuna menoleh ke arah William. "Dokter, apa kau kenal Kiara?" tanya Yuna penasaran.
"Jangan tanyakan jika jawabannya membuatmu cemburu," sahut Leo menanggapi pertanyaan Yuna.
William mengangguk, "Kiara, mantan pacar Leo? Ya aku mengenalnya," jawab William dengan semangat.
Dengan menggunakan bahasa Perancis, Leo langsung menyahutnya, "Dasar bodoh, kau harus berbohong untuk hal satu ini," kata Leo. "Tapi sepertinya kau sengaja menjawab dengan jujur."
William tertawa lebar mendapat omelan Leo, "Ya, kau harus merayunya setelah ini," jawab William dengan memakai bahasa Perancis juga.
"Apa yang kalian bicarakan?" Yuna menyahut.
"Nothing," jawab William dengan senyum. Kemudian, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kertas usang yang telah pudar warna putihnya. William meletakkannya di atas meja. "Aku masih menyimpan ini," ucapnya.
Leo dan Yuna diam memperhatikan kertas lipat yang tak lagi putih itu. Yuna mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas itu dari meja. Kemudian, dia membukanya.
Itu tulisan yang ada di kertas usang ditangan Yuna. Yuna menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kemudian dia membawa pandangannya pada William. Hatinya terharu, betapa sebuah kalimat ini mampu membangkitkan semangat dalam diri William.
"Kau seperti cewek yang suka menyimpan hal-hal konyol," komentar Leo. William tersenyum lucu, memperlihatkan barisan gigi putihnya. Tangannya terangkat dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Yuna menoleh ke arah Leo dan menjawabnya, "Laki-laki juga ada sisi melankolisnya, Tuan muda."
"Aku bersyukur pada Tuhan karena mempertemukanku denganmu, Leo. Aku seorang bodoh yang miskin lalu kau mengulurkan tanganmu untuk membawanya bangkit. Aku belajar dan terus belajar, aku datang keperpustakaan setiap sore dan berharap kau akan menemuiku lagi," tangan Willim kini turun. ia meletakkannya diatas meja. Matanya menatap Leo dengan rasa terima kasih dalam hatinya, "Kau membooking untuk ku sebuah tempat duduk ekslusif disana, itu pasti sangat mahal karena hingga aku tumbuh remaja, tempat duduk itu masih saja gratis. Dan kata petugas perpustakaan, kau bahkan membayar ganti rugi buku-buku yang bahkan belum ku coret. Setiap musim dingin datang, mereka akan memberiku jaket hangat dan bilang jika itu darimu."
Mata Yuna berkaca-kaca mendenger ucapan William, dia kemudian memeluk Leo dan menyandarkan kepalanya di bahu Leo dan kembali memperhatikan William.
"Jangan pikir laki-laki tidak bisa tersentuh dengan itu," ucap William. Dia tertawa kecil tetapi matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana ia dulu dengan segala kejutan yang Leo berikan. "Aku bahkan menangis saat menerima jaket itu setiap musim dingin. Aku sempat meminta alamat pada mereka tetapi mereka bilang, kau sudah pindah. Kau tahu ... aku selalu menempatkan tulisanmu ini saat aku belajar. Ya, aku harus sukses seperti apa yang kau tunggu, kawan," ujar William dengan emosi haru dan bahagia dalam hatinya. Dia menunduk sebentar lalu bangkit dari tempat duduknya.
Leo menatapnya. Sejujurnya, dia hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan saja. Dia tidak memikirkan bagaimana orang itu memandang dirinya. Dia juga tidak menyangka jika sebuah tulisan yang ia tinggalkan membuat motifasi tersendiri bagi William.
William berdiri di depan Leo dan dengan pelan ia membungkukkan badannya.
"Terima kasih, Leo," ucapnya.
"Jangan begini," jawab Leo. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak William. William kembali menegakkan punggungnya. Dia menatap Leo.
"Willy, aku bahagia dengan kesuksesan mu. Itu adalah hasil dari kerja keras mu sendiri. Dari awal menemukan buku yang kau pilih, aku yakin kau adalah orang hebat. Albert Einstein, Leonardo Da Vinci adalah salah satu dari orang hebat yang mengidap Disleksia. Tuhan tidak bermain dadu dalam ciptaannya, kata Albert Einstein. Ya, kau pasti tahu itu. Semesta dan seluruh isinya adalah penciptaan yang sempurna dengan semua takdir yang telah tertulis. Pertemuan kita adalah cara apik bagaimana Tuhan memberimu semangat," ucap Leo. Dia menatap William. Dalam hati Leo berkata bahwa William lebih beruntung darinya. William mampu melewati keterpurukan lalu melangkah dengan sukses, itu pasti sesuatu yang sangat membahagiakan dan membanggakan. Lain dengan dirinya yang sedari lahir sudah hidup dengan kemewahan tanpa kekurangan apapun.
Namun inilah cerita semesta. Mempertemukan dua insan yang sama-sama hebat dan membuat dirinya bermanfaat.
"Willy, aku juga berterima kasih padamu. Terima kasih sudah bersedia datang untuk melakukan operasi malam itu," ucap Leo.
William mengangguk dalam rasa haru. "Boleh aku memelukmu?"
Yuna melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Leo. Kemudian Leo mengangguk mengizinkan William untuk memeluknya.
Dua sahabat itu saling berpelukan dalam kekaguman masing-masing.
_____________________
Catatan Penulis π₯°π
Maaf kemarin nggak Up π€ Othor lagi kurang enak badan. Buat yang kangen Abang Vano mohon sabar ya ... tahan rindunya. π€π€π
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯° Padamu. Terima kasih ππ₯° Luv luv.
JANGAN ADA YANG NYONTEK ATAU PLAGIAT TULISAN INI. DARI AWAL SAMPAI AKHIR. ATAU AKAN KUCABIK-CABIK HINGGA HANCUR.