
Acara pertunangan ini, sudah pasti diendus oleh awak media. Bersatunya dua konglomerat negara ini. Wartawan sedari siang sudah menunggu di depan gedung yang nantinya akan dipakai untuk acara lamaran Tuna muda Mahaeswara dengan Nona cantik dari keluarga Nugraha. Status sosial yang sama-sama tinggi membuat acara pertunangan ini mau tidak mau harus tersorot dan terekspos ke media.
Asisten keluarga Nugraha sudah bisa menebak akan hal ini. Keluarga Nugraha, sebagai tuan rumah menyediakan tempat khusus untuk mereka, di luar gedung. Acara ini hanya akan dihadiri oleh keluarga inti.
Keluarga Nugraha sampai pada pukul enam sore, Mobil Tuan besar Nugraha yang terlebih dulu sampai, lalu Dimas, Lalu Leo. Sementara Neva sudah berada di dalam gedung sedari sore. Wartawan sudah siap untuk membidikan kameranya pada keluarga ini.
"Selamat malam, Tuan besar Nugraha dan Nyonya," sapa mereka dengan ramah. Tuan besar Nugraha menyapa mereka dengan anggukan dan senyum.
"Malam," Nyonya besar Nugraha menjawab dengan seyum ramah. Tuan besar tidak menerima wawancara, asistennya yang akan mewakilinya. Lalu Dimas dan Nora, mereka pun sama menyapa dengan senyum dan lambaian tangan, Baby Dim ada bersama pengasuhnya. Kemudian, Leo dan Yuna yang berjalan di belakang keluarga Dimas. Leo dengan tangannya sendiri menggendong Baby Arai dalam dekapannya. Sementara Yuna berjalan dengan anggun disampingnya. Tangannya menggandeng Leo dengan romantis.
Mereka sama halnya dengan yang sudah-sudah, menyapa dengan senyum dan lambaian tangan. Yuna menoleh dan memperhatikan senyum yang menghiasi wajah Leo. Ini ajaib. Yuna berjalan dengan hati yang puas, Leo perlahan mulai berubah. Tangan Yuna semakin erat menggandeng tangan suaminya. Dunia ini ramah sayang, dengan cinta kasih, saling menghargai, dan menghormati. Yuna bahagia, Leo mulai membuka dirinya.
"Tuan muda Leo. Jika berkenan, izinkan kami berkenalan dengan putra anda," seorang wartawan laki-laki berkata dengan sopan. Leo tidak suka diekspos, apalagi istri dan anaknya. Dia tidak suka keluaga kecilnya menjadi bahan berita. Namun, dia menerima bisikan pelan di telinganya.
"Sayang, izinkan dunia berkenalan dengan putra kita yang tampan dan berhati lembut seperti dirimu."
Sebenarnya, kelahiran Baby Arai sudah menjadi sorotan media tapi tidak pernah berkesempatan untuk bisa bertemu dengan keluarga kecil Leo.
Pada akhirnya Leo mengangguk menyetujui Yuna. Kemudian, mereka bertiga berhenti di atas karpet merah. Asisten keluarga Nugraha menyarankan Leo untuk duduk di ruang konferensi agar nyaman tapi Leo menolaknya.
"Ini hanya sebentar," tolaknya halus. Para awak media semakin bersemangat karena pada akhirnya mereka akan membawa berita yang komplit. Acara live di salah satu stasiun televisi langsung mengarahkan kameranya pada keluarga kecil yang tengah bahagia dengan kelahiran putra pertamanya ini.
"Apa kabar semuanya?" Yuna bertanya dengan ramah pada awak media, dia membungkukkan badannya.
"Baik Nyonya muda," jawab awak media serempak. Kamera semakin berkerlip tak berhenti. Baby yang tidak tidur menggerak-gerakkan tangannya mungilnya. Dia sangat imut, bibirnya merah mungil, seksi dan menggemaskan. Hidung yang mancung dan mata yang indah. Ketika dia berkedip itu terlihat seperti bintang jatuh di angkasa. Ketika dia berkedip, itu seperti sorot purnama yang terang. Baby Arai memiliki mata yang tajam tetapi teduh. Dia mewarisi mata tajam Leo dan keteduhan pandangan Yuna.
Tangan kecil yang memakai sarung tangan itu bergerak dengan lucu dan menggemaskan, lidahnya kadang menjilat bibirnya.
"Siapa nama putra anda Tuan muda?" seorang wartawan mulai bertanya.
"Arai," jawab Leo. "Arai Ar Nugraha," lanjutnya menyebutkan nama lengkap sang putra dengan bangga, rasa bangga bahwa ia menjadi seorang Ayah sekarang. Ayah yang akan memberikan cinta luar biasa untuk keluarganya.
"Waahh, nama yang sangat bagus," puji wartawan yang hadir disitu. Leo sedikit menggeser posisi putranya untuk menghadap ke arah para awak media. Dia mempebolehkan dunia mengenal dan melihat wajah putra pertamanya.
Dalam bidikan kamera mereka menggumam betapa tampannya makhluk imut dalam dekapan Tuan muda Lee. Baby Arai dengan lucu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Semuanya mata yang melihatnya langsung jatuh hati padanya. Ini langsung menjadi trending di media sosial. Banyak sekali warganet yang memposting ulang foto Baby Arai di akun mereka masing-masing. Dan bahkan ada beberapa yang menjadikan foto Baby Arai sebagai foto profil mereka
_____
Keluarga Nugraha berdiri di depan ruangan saat tamu istimewa yang mereka tunggu telah datang. Mereka menyambut langsung tamu istimewa ini. Saudara laki-laki dari Tuan Nugraha yang paling depan, lalu saudara laki-laki dari Nyonya Nugraha. Kemudian Tuan besar Nugraha, Dimas dan Leo.
Vano dan keluarga besarnya berjalan menapaki karpet merah dengan Vano yang diapit oleh kedua orangtuanya. Mereka melangkah dengan hati yang begitu bahagia. Dibelakang mereka ada barisan keluarga yang lain membawa seserahan ditangan masing-masing. Dan yang paling belakang adalah sebuah mobil mewah yang dihias dengan pita terparkir di halaman. Spesial hadiah dari Nyonya Mahaeswara untuk calon menantu yang beliau idam-idamkan.
Di belakang Vano ada satu sosok yang sebenarnya sedang patah hati tetapi turut bahagia. Dia yang membawa cincin pertunangan. Sebuah benda berbentuk lingkaran yang ditata dengan epik didalam box kaca.
"Selamat malam Om," sapa Vano dengan ramah ketika ia berdiri di depan Tuan besar Nugraha. Ia bersiap membungkukkan badannya tetapi niat itu ter-urung saat rentangan tangan menyambutnya dengan hangat. Tuan besar Nugraha memeluknya dan perasaan haru. Laki-laki ini, yang nantinya akan membawa putri kesayangannya, laki-laki yang akan menggantikan dirinya untuk menjaga putri kecilnya. Seorang putri kecil yang sekarang telah dewasa. Tak lama, beliau melepaskan pelukannya.
Kemudian, Vano memberi salam pada Dimas. Dimas sama halnya dengan Tuan besar Nugraha, dia memeluk Vano dengan perasaan haru. Ia tersenyum, laki-laki ini yang memiliki hati adik tersayangnya. Laki-laki yang akan membuat adiknya bahagia. Tak lama, Dimas melepaskan pelukannya.
Kemudian, Vano memberi salam pada Leo. Mata mereka bertemu, saling menatap tanpa kata. Leo mengangguk dan ia memeluk Vano. Perasaannya tidak bisa digambarkan, ia tidak bisa mengutarakan apa yang ia rasakan. Ia bahagia. Laki-laki ini adalah pilihan adiknya, laki-laki ini yang mampu mengambil hati adiknya. Dia menerima, dia merestui dengan segenap hati untuk kebahagiaan mereka berdua.
"Ku harap kau mampu membuatnya terus bahagia," Leo berbisik pelan dengan rasa haru dalam hatinya.
Vano mengangguk, "Pasti, aku janji akan terus membuatnya bahagia," jawab Vano. Hatinya terasa sangat lega dengan Leo yang sungguh telah menerima dirinya. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya setiap kali dia bertemu dengan Leo ada penyesalan yang teramat dalam dirinya. Dia sadar dia salah dalam perasaannya dulu. "Terima kasih, Leo," ujarnya. Tak lama, Leo melepaskan pelukannya. Kemudian, Vano dan kedua orangtuanya melangkah untuk masuk ke dalam.
"Selamat malam Tuan muda Leo yang paling tampan," sapa Arnis bersahabat saat ia sampai di depan Leo.
"Malam," jawab Leo dengan anggukan dan senyum. "Hei, kau jadi rombongan keluarga laki-laki?" tanya Leo setelah ia melihat apa yang Arnis bawa.
Arnis sedikit mendekat dan berkata pelan, "Sejujurnya aku tidak ingin diposisi ini, hahaaa."
Leo sedikit menarik ujung bibirnya mendengar ucapan Arnis. Di masa SMA dia sempat tahu bahwa gadis tomboi ini menyukai Vano.
"Mungkin kau akan mendapatkan laki-laki mapan disini, nanti. Selain acara pertunangan, ini juga acara mencari jodoh," gurau Leo yang membuat Arnis melotot merasa tak percaya. Ia menatap Leo dengan pandangan kaget, seolah yang berdiri di depannya saat ini bukanlah Leo. Tuan dingin ini sungguh bisa bicara seperti ini? Batinnya. Arnis adalah salah satu orang yang jarang sekali mendengar Leo berbicara banyak. Apalagi jika yang dibahas adalah hal yang tidak penting. Masih dalam keterkejutannya, Leo berdehem.
"Nona, antrian dibelakang mu sangat panjang," ucap Leo yang langsung membuat Arnis tersadar. Ia langsung menoleh ke belakang. Aigo ... semua mata menatap dengan kesal. Arnis nyengir kuda melihat itu.
____
Catatan Penulis π₯°
Maaf Up nya sangat telat. π Terima kasih untuk sahabat semuanya yang ekstra sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Padamu kawan π₯°π Luv luv.
Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan tersayang π₯° Tengkyu π