Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 159_Kebohongan Itu 2


Setelah membersihkan dirinya, Yuna menuju ruang belajar dan dengan pelan membuka pintunya. Namun, dia tidak menemukan ada Leo didalam. Ia kembali menutupnya dan turun kebawah, menengok ke ruang tengah dan tidak ada Leo disana, dia kemudian menuju ruang makan, dan tidak ada Leo disana tapi matanya melihat kotak mewah di atas meja makan, kotak coklat berlapis emas. Tangannya mengulur untuk mengambil kertas yang tergeletak di samping kota itu.


"Maaf tidak bisa menemani mu sarapan, Yuna" tulisannya sangat rapi dan menawan. Yuna sedikit kecewa dengan ini, kenapa Leo tidak sarapan di rumah? Pelan, tangannya mengambil kotak coklat itu dan memperhatikannya. Dia tersenyum tipis dan mendekapnya.


Dia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Dia menarik nafasnya panjang dan kemudian dengan senyum ceria dia melakukan selfie, memamerkan kotak coklat ditangannya.


"Tuan suami tersayang, terima kasih untuk ini." Tulisnya dan mengirimkan foto dirinya pada Leo. Pesan itu langsung terkirim dan dengan cepat mendapat balasan.


"Selamat menikmati Nyonya," balasnya dengan emot cium. Yuna tersenyum membaca balasnya, dan kemudian memperhatikan kotak coklat di tangannya.


"Kau tidak sedang marah bukan? Kenapa kau tidak sarapan di rumah?" dia berbicara sendiri.


_Di sebrang sana, di kantor Leo.


Tangan itu begitu lincah menari diatas keyboard, pandangan matanya tak lepas dari layar tipis itu, tapi hatinya entah kemana. Dia bahkan tidak mendengar ketika Asisten Dion mengetuk pintunya hingga 12 kali, pada ketukan ke 13 dia baru menyadarinya.


"Boss ada pertemuan di luar kota. Apakah saya yang harus terbang kesana atau..."


"Aku yang akan kesana," jawabnya cepat.


"Oh, baik boss," asisten Dion mengangguk dan melirik bossnya. Tumben.... pikirannya.


"Apa ada yang ingin kau katakan lagi?" tanya Leo masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Jam keberangkatannya satu jam lagi Boss," ucapnya pelan. "Apa saya harus memesan tiket satu lagi?" tanyanya lagi dengan nada pelan tapi jelas. Satu tiket lagi untuk Nyonya muda, asisten Dion tahu jika Bossnya tidak bisa jauh dari Nyonya mudanya. Ponsel Leo bergetar dan mendapat pesan dari Yuna.


"Sayang, bolehkah aku bertemu Kak Er? Aku ingin memberinya oleh-oleh yang kemarin kita beli. Atau... kita memberikannya berdua."


"Lakukan semau mu Yuna," balasnya dan langsung membanting ponselnya. Asisten Dion terlonjak kaget dengan itu namun dia bisa menahannya sehingga dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Tidak perlu menambah tiket Siapkan semuanya, sekarang," perintahnya.


Leo merasa sangat sakit dalam hatinya, dia membuang semua yang ada dimeja kerjanya termasuk laptop miliknya. Berantakan... Vano, Karel... kenapa dia menciptakan situasi yang menyakiti dirinya sendiri, kenapa dia membuat keadaan yang menyakiti hatinya sendiri. Dia penyebab semua yang terjadi saat ini. Andai... dulu dia menjaga Yuna dengan baik maka tidak akan ada Vano dan Karel yang begitu dekat dengan Yuna, tidak akan ada Vano yang begitu menginginkan Yuna. Dia menyalahkan dirinya berkali-kali untuk setiap kesakitan yang hadir di hatinya.


Sejujurnya ini bukan tentang Karel, ini masih tentang pertemuan Yuna dan Vano dan kebohongan itu. Kenapa Yuna harus menyembunyikan fakta bahwa dia bertemu dengan Vano.


Yuna membaca balasan dari Leo di ponselnya dengan sedih, dia mengigit bibirnya.


"Lakukan semau mu Yuna."


Dia membacanya berkali-kali kemudian, ia segera membuat panggilan pada Leo tapi tidak terhubung, ponsel Leo sudah tidak aktif, ia mencoba lagi dan lagi tapi tetap tidak bisa. Dia menjadi sangat gelisah dengan ini. Ia segera menghubungi kantornya dan meminta Resepsionis untuk menyambungkannya pada Leo.


"Mohon maaf Nyonya muda, Direktur baru saja keluar dan melakukan perjalanan keluar kota," kata Resepsionis ramah dan sopan. Keluar kota? Kenapa Leo bahkan tidak mengabarinya terlebih dahulu? Dia sedang marah...


"Terima kasih," ucapnya pada resepsionis dan memutus panggilannya. Dia menggenggam ponselnya dengan sedih. Ada apa dengan Leo hari ini? Semalam... dia masih baik-baik saja. Yuna mencoba menghubungi ponsel Leo lagi tapi masih tidak tersambung, kemudian, dia menghubungi Asisten Dion. Tersambung.


"Boss, Nyonya Muda telfon kesini," ucapnya pelan sambil menunjukkan ponsel miliknya. Saat ini mereka tengah menuju bandara. Leo meliriknya kemudian tangannya mengambil ponsel dari tangan Dion, Asisten Dion sedikit tersenyum tapi itu hanya sebentar karena si boss menurunkan kaca mobil separo dan melempar ponsel ditangannya keluar.


"Ya Tuhan... ponselku..." dia berteriak dalam hati. Tentu dia tidak bisa memprotes kelakuan Bossnya.


"Kau akan mendapatkan ponsel baru mu," Leo berbicara padanya tanpa menoleh, dia tahu apa yang dipikirkan Asisten Dion. Asisten Dion mengangguk pelan dan sedikit melirik Leo. 'Sepertinya mereka sedang bertengkar, huff...' dia kemudian sedikit terbatuk dan memberanikan diri untuk bicara.


"Boss, suami istri bertengkar itu wajar, yang tidak wajar itu... bukan suami istri tapi romantis, hahaaa" Asisten Dion mencoba bercanda dengan bossnya, dia baru saja mendapatkan kata-kata itu sosial media, dia berharap si Boss akan tertawa. Tapi... yang ada, si boss menatapnya dengan tajam dan mencekam.


"Maaf Boss," ujarnya dan segera menunduk.


__________


JANGAN ADA YANG NYONTEK ATAU PLAGIAT TULISAN INI. DARI AWAL SAMPAI AKHIR. ATAU AKAN KUCABIK-CABIK HINGGA HANCUR.