Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 202_Gelang Couple


Yuna tidak pernah bisa benar-benar tidur, ketika matanya mulai lelah untuk tetap terjaga dan dengan perlahan kelopak matanya menutup, itu hanya beberapa menit, hatinya yang tidak tenang membuat dia kembali membuka matanya, lagi dan lagi. Ranjangnya terasa sangat dingin dengan hati yang begitu gelisah, ranjangnya terasa sangat luas dengan hati yang begitu merindu.


Dia selalu tertawa ketika bersama Neva dan Alea dan bahkan ketika dengan supir Albar tapi dia tidak benar-benar tertawa. Hatinya begitu menderita, fikirannya tidak tenang. Kau baik-baik saja bukan disana?


Yuna beranjak dari tempat tidurnya dan kemudian memakai jaket hangat, dia keluar ke balkon, duduk di kursi dan memperhatikan langit malam. Semenjak Leo pergi, kebiasaan ini yang sering dia lakukan.


"Aku tahu hubungan Kak Yuna dan Kak Vano," ucapan Neva terlintas dipikirannya. "Kak Lee yang tidak ingin mengakui ku sebagai adiknya."


Yuna menghela nafasnya. Dia tidak pernah menyangka jika kedekatannya dengan Vano membawa masalah yang begitu rumit, itu bahkan membuat tiga hati begitu tersakiti.


Dia ingat, pertama kali bertemu Vano, lalu menjalin persahabatan, saling memberi hadiah, dan Vano yang selalu ada untuknya, hingga ketika rasa yang tak teraba itu menyusup tanpa disadari.


Yuna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia yang salah.


"Maafkan aku sayang," gumamnya. Dia merasa sangat bersalah dan bahkan jijik dengan dirinya sendiri. Dia wanita yang telah bersuami tetapi memiliki hubungan dengan laki-laki lain dan itu yang membawa pada kesakitan yang seolah tak mau berhenti.


Rasanya, dia ingin kembali pada masa itu, masa dimana dia baru saja menginjakkan kaki di rumah ini. Dia akan memilih sendiri dan tetap sendiri ketika Leo belum mencintainya. Dia akan tetap memilih sendiri dan tetap sendiri, bagaimanapun Leo memperlakukan dulu. Namun, bukankah itu adalah keinginan yang mustahil? Waktu tidak bisa ditarik mundur. Manusia hanya bisa menyesali setiap perbuatan di masa lalu yang membawa luka pada masa ini.


Yuna membuka telapak tangannya, dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Vano, Neva.... hubungan kalian rumit karena aku."


***@***


Di tempat lain, sepasang remaja tengah tertawa dengan permainan yang mereka mainkan.


Raizel dan Neva. Mereka berdua bermain di tempat permainan di salah satu Mall. Sebenarnya area permainan ini sudah harus tutup satu jam yang lalu, tetapi Raizel menyewanya.


Dance Revolusion, mereka menari kekanan da ke kiri hingga loncat-loncat untuk mendapatkan skor tinggi. Yess... Raizel yang menang. Dan itu sudah berlangsung tiga kali, Neva belum pernah menang.


"Ah, sepertinya aku tidak akan menang. Aku meyerah," ucap Neva dengan putus asa. Raizel tertawa puas dan mengejeknya. Kemudian, mereka bermain  game Deep Sea Fishing, game yang seolah benar-benar memancing. Mereka dengan semangat melempar kail dan akan lebih semangat ketika pancingnya mendapatkan ikan.


Dan masih banyak lagi permainan yang mereka coba.


Setelah cukup puas, mereka berdua menyudahinya. Raizel duduk di bangku dan kembali memasang aksesoris gigi palsunya, kaca mata lucu dan meminta Neva untuk menyisir rambutnya.


Selesai.


"Kak Yuna, aku pulang terlambat. Aku bersama Raizel," Neva mengirim pesan pada Yuna.


"Jangan terlalu malam. Selamat bersenang-senang," balas Yuna.


"Baik Kakak," balas Neva.


Kemudian, mereka mulai berjalan menjauh dari area bermain itu. Mata Neva memperhatikan kanan kirinya, kedepan dan terkadang menoleh ke belakang. Serem, batinnya. Ternyata menyeramkan ketika di Mall malam hari. Hanya ada beberapa lampu yang menyala.


"Gelap dan menakutkan," ucapnya.


"Tenang, ada aku," ucap Raizel dengan gagah dan percaya diri.


"Kau lebih menakutkan," jawab Neva dengan tawa. Dan Raizel langsung berlari meninggalkannya.


"Si gila... kenapa kau meninggalkan ku," Neva berteriak dan langsung mengejar Raizel. Raizel tertawa dan semakin mempercepat langkahnya. "Sial... kenapa dia semakin cepat. Menakutkan, suara ku bahkan terdengar begitu menggema, hii serem," Neva mengoceh dengan terus berlari mengejar Raizel. "Hentikan langkah mu Raizel, atau aku akan memblok nomor mu," teriakannya. Dan Skak.... kalah.... laki-laki selalu kalah dengan ancaman wanita. Raizel berhenti dan menunggu Neva yang masih berlari menujunya.


"Kau...." Neva langsung melayangkan tinjunya pada bahu Raizel ketika dia sampai di depannya.


"Bukankah kau bilang aku menakutkan?" Raizel meledeknya.


"Ya, memang kau menakutkan," jawab Neva.


"Tinggal lagi nih," kini Raizel yang mengancamnya.


"Eit, jangan dong," jawab Neva. Kemudian, mereka berdua melangkah bersama. Raizel mengangkat tangannya dan meletakkannya di pundak Neva. Dia merangkulnya.


"Apa kau haus," tanyanya pada Neva.


"Iya, tentu saja. Kau harus mentraktir ku."


"Tentu dong, cowok apa-apaan yang nggak traktir ceweknya," jawab Raizel dengan santai dan senyum.


"Hahaa, dasar," Neva tertawa mendengar ucapan Raizel.


Kemudian, mereka kembali dengan berjalan kaki dengan mobil Raizel yang pelan-pelan membuntutinya. Mereka membeli minuman di sebuah cafe yang buka 24 jam. Mereka meminumnya sambil menyusuri jalanan malam.


"Aaaaa.... indahnya jalanan serasa milik berdua," ucap Raizel sambil menengadahkan wajahnya sebentar. "Rasanya lama sekali aku tidak jalan santai seperti ini," lanjutnya.


"Ternyata jadi publik figur ada nggak enaknya juga ya," sahut Neva. Raizel mengangguk dan kemudian menoleh kearah Neva, tanpa permisi, dia menyedot minuman milik Neva.


Neva membeku dan membiarkannya begitu saja namun setelah si gila menyudahi sedotannya, dia langsung memukul bahunya.


"Apa-apaan kau," ujarnya memelototi Raizel.


"Minuman mu akan terasa lebih segar setelah terkena air liur ku," jawab Raizel dengan tingkat kePeDe-an nya yang tinggi.


"Astaga, aku bahkan merasa sangat jijik dengan itu," ucap Neva dan Raizel langsung menangkapnya. Dia mendekatkan wajahnya. "Mau apa kau?" Neva berkedip dengan cepat saat nafas Raizel membelai wajahnya.


"Bilang sekali lagi jika aku menjijikan dan aku akan mencium mu saat ini juga, disini," ucap Raizel mengancam. Matanya menatap dan memberi tekanan pada Neva.


"Kapan aku bilang begitu? Kau.... sangat tampan, dan lagi.... kau sangat imut, emmm... kau juga begitu menawan," ucap Neva dengan senyum namun takut.


"Bagus," ucap Raizel dan melepaskan Neva. Kemudian, mereka berdua kembali jalan bersama.


"Kau membuat ku merinding," ucap Neva dan menyedot minumannya. Upss... dia lupa jika sedotan ini bekas Raizel.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?" Raizel menoleh menatap Neva.


"Apa?" Jawab Neva tanpa membalas tatapan Raizel.


"Tentang...." Raizel menggantung ucapnya. Dia sedikit ragu untuk menanyakannya. Neva menoleh membalas tatapan matanya dan menunggunya untuk bilang sesuatu. "Tentang, kau dan Tuan muda Vano," pada akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Dia penasaran setengah mati, hubungan Neva dan Tuan muda itu.


"Kenapa?" Neva terkekeh, dia berpaling, "Aku dan dia hanya sebatas adik dan kakak," lanjut Neva yang langsung membuat Raizel menghembuskan nafasnya dengan lega.


"Yess," ucapnya girang. Neva langsung menoleh ke arahnya lagi.


"Yess?" Dia mengerutkan keningnya menatap Raizel dari samping.


"Aku bersyukur kalian hanya memiliki hubungan itu," jawab Raizel. Dia menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" Tanya Neva. Dia juga menghentikan langkahnya mengikuti Raizel.


"Kau tahu jika aku menyukai mu," ucap Raizel. Di jalanan sepi yang panjang mereka berdua berdiri saling berhadapan. "Ayo kita pacaran," ucap Raizel tanpa basa-basi dan tanpa kata-kata indah.


"Pufffhh, kau sungguh lucu," ujar Neva menatap wajahnya.


"Lucu dari mana? Aku sungguh jatuh cinta pada mu."


"Raizel.... kau cowok paling keren dan paling terkenal dan paling di damba," ucap Neva


"Tapi aku menyukai mu," tukas Raizel.


"Aku serius Neva," Raizel memotong ucapan Neva, "Tolong sekali saja percaya pada ku. Kau selalu bilang jika ucapan ku pada mu adalah bagian dari teks. Teks dari mana? Ini dari hati ku, aku menyukai mu," ucap Raizel.


Neva menghela nafasnya. Saat ini mereka berada di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Dua manusia yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mobil senyum-senyum sendiri melihat tingkah dua remaja ini.


"Raizel, terima kasih untuk perasaan mu pada ku," ucap Neva. Dia menatap Raizel. "Tapi maaf, aku__"


"Sttt...." Raizel memotong ucapan Neva padanya, dia menghentikan ucapan Neva padanya. Jari telunjuknya menempel manis di bibir Neva. Sementara telapak tangan satunya menempel di pohon. "Jangan buru-buru menjawabnya," ucapnya dengan masih menempelkan jari telunjuknya di bibir Neva. Neva segera menarik mundur kepalanya agar jari itu tidak menempel di bibirnya tetapi yang terjadi adalah dia terlalu keras menarik mundur kepalanya hingga membuat kepalanya terbentur ke pohon di besar di belakangnya.


"Auu," dia memekik pelan. Raizel langsung menariknya dan mengusap kepala belakangnya yang terbentur.


"Apa ini sakit, sayang?" Tanyanya sambil terus mengusap kepala Neva. Sayang? Neva memelototinya. Pletak.... dia memukul kepala Raizel dengan keras.


"Auu," kini ganti Raizel yang memekik, dia langsung menarik tangannya dari kepala Neva dan berganti mengusap kepalanya sendiri.


"Seperti itu rasanya," ucap Neva.


"Terima kasih untuk pukulannya, sayang. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, bukankah itu cukup adil?" ujarnya.


"Percuma ngomong sama kamu," ucap Neva sambil melangkah. Namun, Raizel menahannya. Dia memegang pergelangan tangan Neva. "Apa? Ini sudah malam, lepaskan tanganku ku," Neva mencoba menarik tangannya.


"Aku ada sesuatu untuk mu," ucap Raizel. Kemudian, dia mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebuah aksesoris gelang berwarna coklat tua sedikit kehitaman. "Gelang ini adalah hadiah dari salah satu fans, ketika aku melakukan perjalanan ke Pulau PA. Dia memberi ku dua, gelang ini terbuat dari akar salah satu pohon yang terkenal di pulau PA. Kata dia, jika aku memberikannya satu pada orang yang aku suka maka dia akan menjadi cinta sejati ku," jelas Raizel.


"Itu mitos, kenapa kau mempercayainya?"


"Kenapa tidak? Aku percaya dengan hal-hal yang baik. Hal baik seperti ketika aku bertemu dengan mu," jawab Raizel. Kemudian, dia mengulurkan tangan Neva dan memakaikan gelang akar itu pada tangan Neva. Setelah itu, dia memakai gelang satunya lagi untuk dirinya. "Keren bukan?" ujarnya sambil menempelkan tangannya dan tangan Neva.


"Hahaha.... okey, okey," ucap Neva dengan tawa ringan. Kemudian, mereka kembali berjalan beriringan. Pelan, tangan Raizel meraih jemari Neva dan menggenggamnya.


"Hei," Neva segera menarik tangannya dari genggaman tangan Raizel, tapi Raizel menggenggamnya dengan kuat.


"Diamlah, ini hanya bergandengan. Tidak akan mengurangi jumlah jari mu," kata Raizel dengan masih menggenggam jemari Neva dan terus melangkah. Pada akhirnya, Neva membiarkan tangannya dalam genggaman Raizel. Mereka saling bergandengan tangan dan sesekali mengayunnya pelan.


***@***


Neva berangkat dari rumah Yuna, hari ini jadwal sidangnya.


"Mama, Papa, doakan anak mu," ucap Neva pada Mama dan Papanya. Dia melakukan video call. Kemudian, Mama dan Papa memberikan do'a yang panjang untuknya. Kemudian, Dimas yang memberi do'a untuknya.


"Terima kasih, Kak dim, i love you," ucap Neva. "Oh ya, mana Kak Lee?" tanya Neva. Yuna yang berada di sampingnya juga menunggu wajah Leo yang mungkin akan terlihat.


"Dia sedang ada rapat mendadak," jawab Dimas. Yuna kecewa mendengar jawaban ini. "Nanti Kak Dimas sampaikan padanya," lanjut Dimas.


"Okey, bye... Papa, Mama, Kak Dim...." Neva melambai kemudian memutuskan panggilan. Dia harus segera berangkat.


"Aneh," ucap Neva.


"Aneh kenapa?" Tanya Yuna.


"Boss besar bahkan bisa menerima panggilan video ku, Boss besar bahkan tidak rapat, Kak Dimas juga, kenapa dia sendiri yang rapat?" jawab Neva. Yuna mengangguk setuju dengan pendapat Neva. "Aku jadi curiga, jangan-jangan... dia tergoda bule cantik jelita di sana," lanjutnya dan dengan sengaja melirik Yuna. Yuna langsung memelototinya.


"Ya, mungkin," jawab Yuna. Dia tersenyum tipis.


"Hei, aku hanya bercanda," ujar Neva. Dia merangkul Yuna. "Kakak ku tidak mungkin seperti itu, dia laki-laki langka yang ada di dunia," lanjut Neva.


Bukan, bukan itu yang Yuna pikirkan. Dia tahu Leo bukan laki-laki yang mudah tergoda. Dia berpikir bahwa pasti ada sesuatu yang tidak biasa. Mereka seperti menyimpan dan menyembunyikan sesuatu darinya tentang Leo. Apa yang sebenarnya terjadi pada Leo. Yuna semakin gelisah.


***@****


Sidang telah selesai dengan baik dan lancar. Kini hanya tinggal menunggu wisuda.


"Hati-hati di perjalanan nanti," ucap Yuna setelah duduk di samping Neva di ruang tengah. Neva sedang berbalas chat pada Mama. Sore ini, dia akan terbang ke pulau s. Dia ingin mengunjungi Baby Dim, dan menginap beberapa hari disana.


"Kak Alea nanti malam menginap disini bukan?" Tanya Neva. Dia menghentikan chatnya pada Mama dan menatap Yuna.


"Tidak tahu, dia belum memberi jawaban," jawab Yuna. "Aku titip ini buat Baby Dim yach," ucap Yuna dan menyerahkan kado di tangannya.


"Siap," jawab Neva. Yuna melirik ponsel Neva, dia meliriknya berkali-kali. Harus meminjamnya atau dengan diam-diam?


"Neva," panggil Yuna. Dia menarik nafasnya.


"Ya?" Jawab Neva sambil memakan cemilan.


"Boleh pinjem ponsel mu?" Tanya Yuna dengan canggung. Dia takut Neva akan bertanya macam-macam. Tapi ternyata tidak, Neva langsung memberikan ponselnya. Yuna menerima ponsel dari tangan Neva, kemudian, dia segera membuka kontak pada ponsel Neva. Dia mencari nama kontak atas nama Vano. Tetapi tidak ketemu, dia mengetik dan mencarinya satu persatu, tetapi dia tidak menemukannya. Ishh... apakah iya, Neva tidak menyimpan nomor Vano.


Yuna mencari lagi.... dan dia menemukan kontak dengan nama. Cinta terpendam ku, mungkin ini.... batin Yuna. Dia segera menyalinnya. Dia memperhatikan foto profil pada kontak ini, hanya sebuah pena.


"Okey, terima kasih," katanya pada Neva sambil mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


"Okey," jawab Neva yang masih asik memakan cemilan.


Dan beberapa menit kemudian, dia pamit pada Yuna.


"Hati-hati, salam buat Kak Nora ya...." ucap Yuna setelah mereka cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri)


"Baik, bye Kakak, bye baby Lee.... muach muach."


Perlahan, mobil meninggalkan halaman rumahnya. Kemudian, Yuna segera melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tengah.


Dia membuat panggilan pada nomor ponsel yang dia yakini adalah nomor ponsel Vano. Sepertinya sih benar. Jika tidak salah ingat, nomor belakangnya sama dengan nomor Vano yang dia ingat dulu. Tidak ada jawaban, Yuna membuat panggilan lagi dan tidak ada jawaban. Pada akhirnya, dia membuat pesan.


"Selamat siang, apa ini benar Tuan muda Vano? ini Yuna," tulisannya. Tapi dia menghapusnya lagi. Terlalu kaku nggak sih.


"Vano?" ketiknya. Okey. Send. Yuna menunggu balasan dan cring.... balasan masuk.


"Yuna?" isi balasan dari Vano. Tentu saja Vano langsung mengetahui jika yang mengirim pesan padanya adalah Yuna, karena ada foto Leo pada kontaknya.


"Iya. Bisa bertemu?" Balas Yuna.


"Bisa, dimana?" Balas Vano. Dan kemudian Yuna menyebutkan alamat untuk mereka bertemu.


Supir Albar mengantar Nyonya muda ke sebuah restoran lokal di pusat Ibu Kota.


___


Catatan Penulis.


Up bonus nih...😘🥰


Likenya mana? (Harusnya nggak usah di minta pun, Thor di kasih sun jempol dong, ya kan?)


Tengkyu... muach.


Apa?? Yuna mau ketemu Vano?? Mo ngapain Thor?? Jangan aneh-aneh Thor.... 😡


Kabuuuurr.