Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 30. Galau


Selepas makan malam keluarga kemarin, sikap Ilham banyak berubah.


Ia jadi pendiam. Seolah banyak hal yang bergumul di benaknya. Semua jalan terasa buntu untuknya. Rasanya ingin kabur saja dari kota ini tapi ia tak tega meninggalkan mama dan adiknya.


Ya Tuhan, apakah takdir hidup ku harus seperti ini? keluhnya. Ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Pikirannya menerawang memikirkan nasibnya kelak.


Apakah aku harus menyerah dengan semua keputusan mereka? Tapi aku sangat mencintai Tiara. Aku sudah berjanji akan membahagiakan dia selama hidupnya. Aku nggak mungkin bisa melupakannya dengan mudah. Aku bisa merasakan dia juga memiliki rasa yang sama dengan aku. Tapi berusaha disembunyikannya karena nggak mau mengganggu pertunangan ku dengan Nayla.


Bayangan kebersamaan mereka terus menari-nari di pelupuk matanya. Kebersamaan itu terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Nggak. Pokoknya aku nggak mau melepaskan Tiara gimanapun keadaannya. Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan perusahaan terlebih dahulu agar terbebas dari jeratan bantuan keluarganya Nayla.


Setelah berputar-putar dengan pikirannya sendiri, iapun segera menarik jaket di gantungan plus kunci motornya. Ia berencana pergi ke counter untuk membelikan handphone buat Tiara. Selama ini ia kesulitan menghubungi gadis itu karena tidak memiliki handphone.


" Mau kemana nak ?" tanya mamanya saat melihat Ilham keluar tergesa-gesa.


" Ke rumah teman ma". jawabnya seraya terus berjalan keluar dari rumah.


Mamanya hanya bisa memandangi punggung anaknya dengan pasrah.


" Maafin mama nak, mama juga nggak bisa bantuin kamu saat ini". ucap mamanya pelan.


\*\*\*\*\*


Setelah selesai membeli handphone, Ilham segera menuju ke rumahnya Tiara. Kebetulan belum terlalu malam.


Tok tok tok.


" Assalamualaikum . . ." ucap Ilham yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


" Ra, ada tamu tuh kayaknya. Tolong bukain pintunya". Ujar kak Nia yang enggan beranjak dari depan televisi. Maklumlah film India kesukaannya sedang tayang.


Tiara membukakan pintu depan.


" Waalaikum salam". jawabnya.


" Eh kak Ilham?" tanyanya kaget melihat tamu yang berdiri di depannya.


" Maaf Ra, datang malam-malam".


" Nggak apa-apa kak, masuk yok".


" Aku ke sini, cuma mau ngasih ini". ucap Ilham sambil menyerahkan bungkusan yang dipegangnya.


" Untuk Ara?"


" Iya".


" Maaf kak, bukannya Ara nggak mau tapi Ara nggak pengen ngerepotin kakak".


" Makasih kak".


" Oke kalo gitu aku pulang dulu ya ".


" Baik kak, hati-hati di jalan yaa".


Ilham mengangguk kemudian mengacak lembut rambut Tiara.


" Assalamualaikum . ."


" Waalaikum salam . . "


Ilham kembali pulang dengan hati berbunga-bunga. Begitu juga dengan Tiara.


langsung masuk ke kamarnya untuk mencoba handphone barunya.


" Ra ! siapa yang datang tadi?" tanya kak Nia dari luar.


" Oh, temen Ara kak!" jawab Tiara.


Tiara sedang konsentrasi penuh mengutak-atik handphone barunya. Mendadak handphone yang dipegangnya berdering. Ia segera menerima panggilan masuk itu, saat di layar handphone itu tertulis nama Ilham. Ternyata Ilham sudah menyimpan nomornya di handphone Tiara.


Tiara sudah tidak terlalu asing dengan benda itu karena sering melihat kak Nia menggunakan handphonenya.


" Halo Ra ". terdengar suara kak Ilham di seberang sana.


" Iya kak . . "


" Kirain udah tidur".


" Belum kak, dari tadi utak-atik nih hape ".


" hehehehe ".


"Ya udah tidur sana, besok kan sekolah".


" Oke kak".


" Selamat tidur Ara, sampai ketemu besok ya. Bye".


" Bye ."


Tiara senyum-senyum sendiri di buatnya.


\*\*\*\*\*