Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 167_Mari Berdamai Dengan Keadaan


Pukul 17.00 Leo sudah kembali ke rumah. Tepat ketika dia keluar dari mobil, pintu gerbangnya terbuka dan ada Neva yang melangkah masuk ke halamannya. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat Leo berdiri menatapnya, ia mengambil nafasnya dengan dalam dan menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia meninggalkan perasaannya untuk orang lain dan membawa perasaannya untuk Kakak yang dia sayangi. Ia berlari kecil dengan senyumnya dan langsung menghambur kedalam pelukan Kakaknya.


Leo langsung membalasnya, ia mendekap Neva dengan erat, mengusap punggungnya dengan lembut. Nafasnya masih sedikit terasa berat. Dia menyayangi Neva.


"Hmmm si pendek...," ucap Leo dengan senyum dibibirnya.


"Kakak... maafkan aku. Maaf sudah membuat mu marah. Aku adalah adik mu, kau tidak boleh mengingkari itu" Neva menyembunyikan wajahnya di dada Leo.


"Hhmm. Berhentilah jadi adik yang nakal," ucapnya dengan mengusap rambut Neva dengan lembut.


"Tentu saja," Neva melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Kakaknya. "Aku sudah melepas perasaan yang ku punya untuk dia, demi Kakak. Aku sudah merelakan perasaan ini pupus sebelum dia tahu perasaan ku padanya, demi Kakak. Aku tidak tahu kenapa Kakak tidak menyukainya dan bahkan hingga tidak ingin mengenal ku lagi... tidak masalah, aku tidak akan menanyakannya, aku hanya harus tahu bahwa Kakak akan kembali jadi Kakak yang manis untuk ku. Putra yang patuh untuk Papa dan Mama," ucap Neva, suaranya menjadi serak dan dalam. Leo merengkuh tubuhnya dan kembali memeluknya.


"Maafkan Kakak Neva. Maaf sudah membuat mu begitu terluka. Kakak minta maaf karena terlalu egois. Maaf telah mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati mu. Neva... kau adik Kakak, yang paling manis, yang tersayang. Bagaimana bisa aku menyerahkan mu pada laki-laki yang Kakak benci."


"Dia baik Kakak...,"


"Okey, dia baik dimata mu. Tapi tidak di mata ku."


"Itu karena Kak Lee belum mengenalnya,"


"Kau mau berdebat dengan ku lagi?" Leo melepaskan pelukannya.


"Ah, tidak. Mana berani," jawab Neva sambil memamerkan giginya.


"Kau akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari dia. Percaya," Leo mengusap pipinya.


"Hu'um, percaya," Neva mengangguk dengan yakin. 'Kenapa Kak Lee begitu membencinya?'


Neva jadi mengingat sebuah kejadian ketika dia menabrak mobil Vano, saat itu... ujung bibirnya Kakaknya terluka dan berdarah, begitu juga dengan ujung bibir Vano. Mungkinkah waktu itu mereka habis berkelahi. Dia sangat tahu Kakaknya, Leo bukan tipe laki-laki yang begitu mudah membenci seseorang hanya karena bisnis, bukan juga tipe yang begitu membenci seseorang karena menyinggungnya, bukan juga tipe yang begitu membenci seseorang yang menyakitinya, hanya ada satu yang membuatnya begitu membenci seseorang begitu dalam... itu karena seseorang itu pasti mengusik wanita yang dia cintai.


Neva berpikir dengan cermat.


Leo merangkulnya dan membawanya untuk masuk kedalam.


Yuna sudah berdiri didepan pintu menunggu mereka. Senyumnya mengembang dengan perasaan bahagia di hatinya. Neva langsung melompat kearah Yuna dan memeluknya.


"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Kak Yuna? Kak Lee tidak akan sampai hati begitu marah sama Mama jika tidak menyangkut wanitanya. Sungguhkah kebencian Kak Lee pada Kak Vano karena Kak Yuna?"


"Kak Yuna... ayo kita makan malam dirumah Mama saja," ucapnya.


"Huum, tentu," jawab Yuna menyetujui dan tersenyum pada Leo.


__Mereka telah sampai di rumah Mama ketika waktu menunjukkan pukul 18.45. Mama dengan tergopoh-gopoh membawa langkahnya pada putra tercintanya. Beliau memeluk Leo dan mencium keningnya berkali-kali. Perasaan lega dalam hatinya membuat air mata terus berlinang.


Kemudian, Mama menatap Neva yang berdiri disamping Leo, Mama memintanya mendekat dan memeluknya juga. Tangisan bahagia memenuhi hati mereka.


"Sayang, kita adalah keluarga. Sampai kapan pun juga. Jangan pernah saling menyakiti. Jaga adik mu Lee. Patuhi Kakak mu Neva. Kalian adalah harta Mama yang paling berharga."


Malam ini mereka menginap dirumah Mama. Setelah menyelesaikan makan malam, mereka membuat panggilan video pada Papa yang saat ini tengah diluar negeri. Papa juga bahagia dan bernafas lega melihat Leo kembali kerumah. Teramat bahagia karena Mama kembali tersenyum.


_Di sofa, di kamar Leo.


"Sayang, apa kau ada motor?" tanya Yuna. Ia meletakkan kepalanya dipaha Leo.


"Ada. Kenapa?" jawab Leo. Ia menyaksikan siaran Tv tapi tangannya yang halus mengusap rambut Yuna dengan perhatian.


"Bagaimana jika besok kita berkeliling menggunakan motor?" ucap Yuna. Tangan Leo langsung terhenti, ia menunduk menatap wajah Yuna.


"Bukan ide bagus," Leo mencoba menolaknya. "Wajah mu akan terkena debu, hidung mu akan sesak karena asap kenalpot, dan...,"


"Sayang...," suara Yuna sangat merayu. Dia bangkit dari tidurnya dan berpindah dipangkuan Leo. Dia dengan manis menempatkan dirinya diatas paha Leo, ia duduk menghadap dan menatap wajah Leo dengan merayu. "Sayang...," panggilannya sedih namun manja, jurus yang sangat jitu untuk membuat sebuah penolakan menjadi persetujuan.


"Okey. Kau menang Nyonya." Leo dengan berat hati menyetujuinya.


Pagi harinya, dari rumah Mama. Mereka mengendarai motor. Yuna memeluknya dari belakang, ia menyandarkan kepalanya dipunggung Leo.


"Sayang, ini seru bukan?" tanya Yuna setelah motornya melewati kepadatan lalulintas dipagi hari.


"Tidak," jawab Leo. Yuna kemudian melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Leo. Tangannya beralih dikedua paha Leo, mengusapnya dengan pelan dan sangat lembut.


"Nyonya, jangan mencoba menggoda ku."


"Ini seru bukan?"


"Tidak," jawab Leo dengan senyum tertahan dibibirnya. Wajahnya menjadi memerah karena usapan lembut tangan Yuna dipahanya.


"Hei, kau jangan berbohong Tuan suami. Aku bisa melihat pipi merah mu dari spion," seketika Leo mengurangi laju motornya dan memperhatikan kaca spion. Dia bisa melihat Yuna yang tersenyum menggodanya. "Ini seru bukan?"


"Tidak," jawabnya lagi.


"Aaaa... aku tahu. Kau menunggu ku untuk menggoda mu lagi bukan?"


"Jangan. Baik aku tidak akan menggoda mu lagi," jawab Yuna. "Kau menang Tuan suami," Yuna kembali memeluk pinggangnya. Leo tersenyum puas karena berhasil dengan ancamannya. Tangan kirinya melepaskan stang motor dan berpindah menyentuh tangan Yuna yang melingkar di pinggangnya.


Kemudian, Leo menghentikan motornya disebuah taman. Yuna segera turun dan berdiri disampingnya.


"Sini," Leo memintanya untuk mendekat. Dia membuka helm yang Yuna pakai. "Lihatlah, kau berkeringat," Leo dengan perhatian mengusap keringat dikening istrinya. Mereka kemudian, duduk disalah satu bangku taman.


"Sayang, aku ingin bercerita. Apa kau mau mendengarkannya?" Yuna menyandarkan kepalanya di bahu Leo.


"Hu'um," Leo mengangguk. Dia sangat imut melakukan itu. Biasanya dia hanya akan mengangguk tanpa ada suara 'Hu'um'. Yuna menjadi sangat gemas dan mematuk pipinya sebentar. Kemudian, ia kembali bersandar di bahu Leo.


"Dulu... ketika aku masih SMP, aku merasa sangat iri pada teman-teman ku yang bersekolah dengan mengendarai motor dan juga sepeda. Mereka dengan penuh semangat dan terkadang kehujanan untuk sampai di sekolah. Kemudian, mereka akan berboncengan untuk pulang sekolah. Dalam pandangan ku, itu sangat menyenangkan. Aku tidak pernah melakukan itu, aku selalu diantar dan dijemput setiap hari, aku pulang kerumah dengan tepat waktu. Aku menjadi sangat iri pada kehidupan mereka yang penuh dengan perjuangan dan terlihat sangat menyenangkan.


Namun, pada satu kesempatan, seorang teman berkata padaku, bahwa dia sangat iri dengan kehidupan ku. Aku ingin menangis pada saat itu... kehidupan yang ku anggap menyakitkan dan sangat membosankan ternyata sangat diinginkan oleh orang lain, padahal justru aku tidak ingin menjadi diriku yang terus terkurung.


Ternyata... seperti itulah hidup. Sayang, Tuan suami... terima kasih sudah menemukan ku diantara milyaran makhluk indah di muka bumi ini. Aku tidak menginginkan kehidupan orang lain, aku ingin diriku sendiri karena aku memiliki mu. Kamu membuat ku tidak menginginkan apapun selain bersama mu, selamanya."


Leo mengusap rambutnya dan memeluknya dengan cinta yang sangat indah, cinta yang luar biasa yang dia miliki untuk Yuna. Yuna mendongak sedikit dan menatap wajah teduh nun rupawan milik Leo.


"Sayang, aku mencintai mu. Ku mohon jangan pernah ragukan itu," ucap Yuna. Leo membalas tatapan matanya dan mencium keningnya. "Sayang, berdamailah dengan keadaan. Berdamailah pada semua emosi yang membelenggu hati mu, berdamailah agar kita hidup dengan tenang tanpa memikirkan sesuatu yang membuat kita khawatir. Sayang, aku minta maaf karena aku pernah meninggalkan mu, aku minta maaf karena pernah begitu emosi dan pergi dari mu. Aku minta maaf karena pernah memiliki hubungan dengan Vano dibelakang mu. Kecemasan dan ketakutan mu, semuanya dari diri ku," Yuna mengucapkan kata demi kata dengan rasa yang bercampur, ia ingin Leo terbebas dari rasa khawatir dan takut yang membelenggu hatinya. Rasa itu yang membuat Leo menderita setiap waktu.


"Yuna, kamu tidak salah. Kamu bersama dia itu karena aku menepikan diri mu, karena aku yang tidak memperhatikan mu, karena aku yang dulu begitu fokus pada Kiara hingga menyakiti hatimu." Leo menatap kedalam matanya. Jika mengingat itu dia akan sangat menyesal.


"Okey, kita berdua salah. Kita adalah manusia yang memang tidak sempurna. Tapi sayang... itu sudah berlalu, mari berdamai dengan semua keadaan yang pernah kita lewati dimasa lalu." Yuna memeluknya. "Diri ku dan hati ku adalah milik mu, selamanya." Leo membalas pelukannya. Hatinya menjadi sangat tenang, Yuna menenangkan hatinya, Yuna mendamaikan hatinya. Yuna menghapus rasa gelisah dalam dirinya.


"Sayang, mencintai dan melupakan seseorang itu tidak bisa dengan mudah hadir dan pergi begitu saja. Jika Neva mencintainya... biarkan dia memiliki cintanya." ucap Yuna mencoba membujuk suaminya.


"Aku akan memikirkannya."


"Hmmm, kau adalah Kakak yang dia kagumi. Sayang... mari membuat dia bahagia."


__ Malam hari, mereka diruang tengah. Yuna duduk di sofa menyaksikan Tv dan Leo duduk disampingnya mengerjakan file-file yang belum selesai dia kerjakan.


"Sayang, apa kau mencium aroma jagung rebus? Apa barusan ada pedagang yang lewat didepan rumah?" Yuna bertanya sambil mengendus. Leo mengikutinya, dia ikut mengendus, namun dia tidak menemukan aroma itu. Ia beranjak dan melangkah keluar gerbang, mencari pedagang yang mungkin baru saja lewat. Tapi mustahil... tidak akan ada pedagang yang masuk ke area perumahan mewah. Dia sudah tahu itu... tapi ini hanya untuk memuaskan rasa penasaran istrinya. Leo kembali masuk ke dalam.


"Tidak ada yang lewat sayang," ucapnya dan kembali duduk disamping Yuna. Yuna menatapnya dengan kecewa. "Apa kau ingin jagung rebus?" tanyanya.


"Hu'um," Yuna mengangguk. "Sepertinya sangat enak. Air liur ku tiba-tiba menetes hahaa...,"


"Baik, tunggu. Aku akan mencarinya untuk Nyonya."


"Okey, kau terbaek sayang," ucap Yuna memberi dua jempol pada Leo. Leo segera berdiri dan mencium keningnya. "Tuan suami... pastikan kau membelinya dari penjual keliling ya," Yuna memberinya pesan.


"Siap."


Leo segera mengendarai mobilnya. Ia melihat jam didalam mobilnya, pukul 21.39 dimana dia akan mencari pedagang keliling? Dia tidak punya pengalaman dan tempat yang dia tuju. Ini akan mudah jika Nyonya meminta beli ditempat manapun. Kenapa harus di pedagang keliling? Dia menghubungi Asisten Dion dan menanyakan lokasi penjual jagung rebus.


"Boss, pedagang keliling tidak punya tempat tetap. Mereka berkeliling dari satu tempat ketempat lain," jawab asisten Dion sopan. Klik. Leo langsung memutus panggilannya. Asisten Dion mengangkat bahunya, tapi kemudian dia tersenyum senang.


Hingga hampir dua jam, dia berkeliling dan tidak menemukan penjual jagung rebus. Dia hampir putus asa. Tapi pesan Yuna pada ponselnya membutnya kembali bersemangat mencarinya.


"Sayang, masih menunggu mu," isi pesan Nyonya.


Leo memutar mobilnya dan menyusuri setiap jalanan, dan akhirnya ketemu. Dia seperti melihat harta karun ketika matanya melihat bapak-bapak penjualan jagung rebus mendorong gerobaknya. Ia segera memborong semuanya, dan memberi bonus pada penjual jagung rebus itu. Betapa bahagianya penjual ini, karena dari sore dagangannya sepi. Tuhan yang maha baik. Penjual jagung rebus itu tak henti-hentinya bersyukur melihat uang ditangannya.


Hampir pukul setengah satu dini hari Leo baru kembali kerumah, dan Yuna masih menunggunya dengan senyum bahagia.


"Taraaa...," Leo memamerkan dengan bangga dua kantong yang dia bawa.


"Waawww..." Yuna bertepuk tangan untuknya. Dia tersenyum dengan sangat bahagia. "Kenapa banyak sekali Big Boss?"


"Agar kau makan dengan puas," Leo duduk di sebelahnya dan mengupas satu untuk Yuna. "Nah, makanlah," ucapnya, ia memberikan jagung rebus yang telah ia kupas. Yuna menerimanya dengan senang, dia mengigitnya dengan perasaan bahagia. Jagung rebus ini membutuhkan waktu hampir tiga jam, dia tahu Tuan suami tidak mudah mendapatkan ini. Tapi pada gigitan ke-limanya dia tidak menginginkannya lagi. Dia memberikannya pada Leo.


"Kenapa? Apa tidak enak?" tanya Leo.


"Enak, tapi aku sudah tidak menginginkannya lagi, jadi aku tidak mau memakannya," jawab Yuna. Leo langsung lemas mendengarnya.


"Aaaahhhh, kau.....," Leo memperhatikan semua jagung rebus yang dia beli dengan frustasi. "Kau harus menghabiskannya, Nyonya," Leo menatap Yuna dengan tajam.


"Aku bilang, aku sudah tidak menginginkannya."


"Hei, aku mencarinya hingga hampir tiga jam dan kau hanya memakannya sedikit? Aahh, kau sungguh keterlaluan Yuna," Leo menggigit jagung bekas Yuna dengan kesal.


___


Catatan penulis.


Sahabat... yang udah ngikutin Matahari Tenggelam... hari ini Up Yach kawan. Cekedoot 😘😘