
"Dion," jawab Beliau cepat, "Dari Dion," ulangnya.
Leo mengerutkan keningnya. Dan menatap Dion yang berdiri di depannya dengan pandangan mencekam. Sementara Dion sedikit menatap Leo dengan tanda tanya. Dia tidak tahu dengan siapa Sang Boss berbicara disana dan apa yang tengah mereka bahas.
Setelah Leo memberi tahu pada Papa dimana Yuna dirawat, dia langsung memutuskan panggilan itu. Pena yang berada di tangannya dengan pelan mengetuk-ngetuk meja beberapa kali. Mata Leo masih memperhatikan Asisten Dion dengan mencekam.
Dion menyadari arti tatapan mata itu. Ada apa dengan Bossnya, kenapa tiba-tiba memandangnya dengan begitu mencekam. Asisten Dion mendelik, dia memikirkan kelakuannya yang kira-kira membuat sang Boss marah padanya tetapi tidak ada, dia merasa menjadi asisten yang sangat manis sepanjang hari ini. Lalu apa yang membuat Bossnya memiliki pandangan yang mencekam.
"Kau yang memberi tahu markas besar jika Yuna sakit?" Tanyanya dengan tatapan yang menakutkan.
Asisten Dion mengerutkan keningnya lalu segera menggeleng, "Tidak, saya tidak memberi tahu siapapun Boss," jawab Dion rendah. Dia menunduk, dapat kabar dari mana sang Boss hingga mencurigainya. Leo masih menatapnya, itu artinya dia meminta jawaban lebih. "Saya tidak memberi tahu siapapun Tuan muda, saya berani bersumpah akan bisulan seumur hidup jika saya membohongi Anda," ucap Asisten Dion lagi dengan sumpahnya.
"Pufh," Leo menahan senyum mendengar sumpah konyol asistennya ini. Dia berpaling dan kembali menandatangani dokumen yang ada di meja. Dion tidak memberi tahu siapapun? Apa itu artinya Papanya yang berbohong? Lalu, dari mana papa tahu tentang berita ini.
Setelah menandatangani semua dokumen yang dibawa Dion, Leo segera menyerahkannya kembali.
"Boss," panggil Dion pelan. Leo mengangkat wajahnya. "Aku tidak memberi tahu siapapun," ucap Dion. "Aku hanya akan patuh kepada mu dan semua perintah mu," lanjutnya.
"Bagus," ucap Leo. Kemudian dia beranjak.
"Anda percaya saya kan Boss?" Tanyanya dengan cemas. Dia takut jika bossnya ini tidak lagi percaya padanya. Kepercayaan Sang Boss adalah nilai penting dalam pekerjaannya.
"Ya," jawab Leo singkat. Dan melangkah menuju ranjang rawat Yuna.
"Terima kasih, Boss. Saya pamit," asisten Dion membungkukkan badannya. "Selamat siang," ucapnya. Kemudian, dia melangkah. Namun suara Yuna menahan langkahnya. Yuna memanggilnya.
Leo menyentuh keningnya, mengecek suhu tubuhnya. "Sayang, kau terbangun. Apa Dion membuatmu terbangun?" Tanya Leo.
Diujung pintu, asisten Dion menelan ludahnya. Aku lagi? Batinnya. 'Apa salah anakmu ini mak,' batin Dion menangis teraniaya.
"Tidak," jawab Yuna. Kemudian, dia melambai pada Dion. Meminta Dion untuk mendekat.
Dion ragu, sangat ragu. Dia mendekat, takut dibentak oleh Bossnya. Dia tidak mendekat, takut Nyonya muda kecewa. Dia harus bagaimana? Dia menelan ludahnya lagi. Dia diam di tempatnya seperti patung.
Yuna kembali melambainya dan bahkan saat ini memanggil namanya. Yuna sudah duduk di ranjang.
"Dion," panggil Nyonya muda padanya. Dia menatap Leo dan tidak berani untuk mendekat. Baru saja dia mendapat tatapan menakutkan, ia tidak ingin kena semprot lagi karena mendekati Nyonya muda. Dia hanya akan patuh pada perintah Bossnya.
"Dion, apa kau masih punya telinga?" Ucap Leo yang semakin membuat Dion ingin pingsan di tempat. Kenapa Sang Boss tidak memerintahkan nya dengan lembut. 'Dion, kemari,' Sepertinya itu lebih enak untuk di dengar, dan yang pasti tidak menakutkan, batin Dion. Akhirnya dia melangkah maju dengan pelan dan rasa takut. Dia berdiri di samping Leo.
"Bisa minta tolong sebentar?" Tanya Yuna pada Dion.
Dion mengangguk dengan pasti, "Siap Nyonya muda," jawabnya.
"Tolong belikan nasi goreng seafood," pinta Yuna.
"Baik, Nyonya muda," jawab Dion dengan patuh. Kemudian, dia segera keluar dari ruangan.
"Kau ingin makan nasi goreng? Apakah dokter membolehkannya?" Tanya Leo. Dia menatap Yuna.
Yuna tersenyum dan menatapnya, "Sttt, ini rahasia. Jangan sampai dokter tahu," jawab Yuna dengan menempelkan jari di bibir.
"Sayang, ka .... " Mulut Leo langsung mendapat kecupan singkat agar tidak memprotes. "Jangan menggodaku Nyonya," ucap Leo dengan gemas. Dan langsung menangkap Yuna. Dia mengigit bibir Yuna dengan gemas.
"Auuu," Yuna memekik.
"Jangan akting," ucap Leo dengan masih memegang pipi Yuna dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tidak akting," jawab Yuna. Kemudian, dia merasakan gerakan janinnya. Dia segera mengambil tangan Leo yang berada di pipinya. Lalu meletakkannya di atas perutnya. Leo tersenyum dengan lebar. Dia membuka baju Yuna mencium perutnya. Menempelkan pipinya disana.
"Siapa yang bandel?" Yuna memprotesnya.
"Tuh, Mommy mau memperlihatkan kecanggihannya dalam mengomel," ucap Leo lagi.
Yuna tertawa dan memukul punggung Leo lagi.
"Kau .... " ujarnya. "Baby, jangan dengarkan," sahut Yuna. Mereka berdua tertawa dan saling menggoda. Tak lama, pintu di ketuk. Mereka berdua mulai diam. Asisten Dion sudah sangat hafal dengan Bossnya jika bersama Nyonya muda. Jadi, sebelum di persilahkan masuk. Dia akan terus berdiri di depan pintu dengan sesekali mengetuknya.
Setelah, Leo mengizinkannya masuk. Dion segera masuk dengan membawa pesanan Nyonya muda.
"Terima kasih Dion," ucap Yuna setelah menerima pesanannya. Asisten Dion mengangguk dan kemudian pamit pada Leo untuk kembali ke kantor.
"Sayang," panggil Leo rendah pada Yuna setelah Asisten Dion keluar ruangan. Yuna mengangkat wajahnya dan menatap Leo.
"Ya," jawabnya. Leo menatapnya dengan kasih. Dia tidak ingin Yuna Kenapa-napa. Kenapa dia masih saja bandel disaat dia sakit seperti ini.
"Bisakah kau mendengarkan ku sekali ini saja?" Tanyanya pelan. Dia ingin membujuk Yuna agar mengurungkan niatnya untuk memakan nasi goreng.
"Ya," jawab Yuna. Dia masih menatap Leo.
"Tolong patuhi dokter," pintanya, "Jangan makan nasi goreng itu," lanjutnya. Sorot matanya memohon pada Yuna.
Yuna tersenyum, lalu menyendok nasi goreng itu.
"Siapa yang bilang ini untuk ku? Ini untuk mu," jawab Yuna. Lalu mengangkat tangannya yang memegang sendok. "Aaaa, aku akan menyuapi mu," ujarnya. Tapi Leo menggeleng dan menyingkirkan tangannya. Yuna menatapnya dengan kecewa. "Kau belum makan apapun dari pagi," ucap Yuna.
"Aku tidak ingin makan," jawab Leo. Yuna meletakkan kembali sendoknya. Dia menatap Leo dengan sedih. Laki-laki ini bahkan lebih menderita dari pada dirinya saat ini. Yuna mengambil nafasnya dengan dalam. Dia berjanji akan selalu baik-baik saja, dia berjanji tidak akan ceroboh, dia berjanji tidak akan membuat Leo khawatir.
Yuna kembali menyendok nasi goreng. "Kau harus makan," Yuna mencoba membujuknya tetapi Leo masih menolaknya. Membujuk lagi, ditolak lagi. "Oke, kau tidak perlu makan ini Tuan suami, biar aku yang menghabiskannya," ucap Yuna dan langsung membawa sendok ditangannya menuju mulutnya.
"Stop," Leo mencegahnya. Yuna tersenyum. Ok, berhasil. "Berikan pada ku," pinta Leo.
"Tidak, aku akan menyuapi mu," jawab Yuna. "Jika kau tidak memakannya maka aku yang akan langsung memakannya," lanjut Yuna.
Leo lagi-lagi menatapnya dengan kesal tetapi gemas.
"Oke, kau menang Nyonya. Kau selalu memiliki cara untuk mengalahkan ku," ujar Leo.
"Sstt, aaa .... " Yuna meminta Leo membuka mulutnya. Dan dengan patuh, Leo membuka mulutnya. Yuna tersenyum dengan itu. Dia menyuapi Leo lagi dan lagi. Saat Leo menolak, maka mulutnya akan segera terbuka dan berbohong untuk memakan nasi goreng itu. Dengan begitu, Leo akan menghabiskan satu porsi nasi goreng. Yuna dengan perhatian, mengusap bibir Leo yang menjadi sedikit berminyak.
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Hallo... Pembaca kesayangan.
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini.
Terima kasih untuk Like koment dan vote temen2 semua.
Aku padamu... luv luv π₯°.
Jempol di goyang ya kawan.
SSC (Sahabat Sebenarnya Cinta π ) ihirr bagus g sih? π€π€πΉ