Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 169_Akhir Yang Indah


__Pagi harinya.


Yuna berdiri didepan Leo ketika dia tengah merapikan kerah kemejanya. Yuna dengan manja menginjak kedua kakinya, dia berdiri diatas kaki Leo dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Leo. Tangan Leo berpindah untuk memeluk pinggang istrinya.


"Kenapa?" tanyanya rendah.


"Tidak apa-apa," jawab Yuna. Leo kemudian bergerak kekiri dan kekanan, melangkah maju dan mundur. Mereka seperti sedang melakukan dansa.


"Sayang, apa kau mengganti parfum mu?"


"Hahh?"


"Apa kau ganti parfum?"


"Tidak."


"Oh ya? Tapi kenapa aku merasa bau parfum mu tidak enak. Menyebalkan... aku tidak suka," Yuna mendorongnya dan kemudian berbalik meninggalkannya. Dia keluar kamar dengan menggerutu karena aroma parfum Leo yang berubah dalam penciumannya.


Leo menatapnya bingung. Dia mencoba mencium kemeja yang dia kenakan tapi tidak ada yang berubah, aromanya masih sama, karena memang dia tidak mengganti parfum. Kemudian, dia segera mengganti kemejanya dan tidak memakai parfumnya.


Brak... pintu kamar terbuka dengan keras dan Yuna melangkah mendekatinya.


"Apa kau punya wanita lain? Kenapa kau mengganti parfum mu?" Yuna bertanya dengan marah.


"Pertanyaan macam apa itu?"


"Kenapa kau tidak menjawabnya dan malah balik bertanya?" Yuna bertambah kesal.


"Tidak, sayang. Kamu satu-satunya," Leo mendekatinya. Dia memiliki firasat pada istrinya. Dia telah membeli dan membaca banyak buku tentang kehamilan, itu setelah dia salah tebak dan membuat Yuna bersedih sepanjang hari. Dia mengingat jagung rebus malam itu dan pagi ini, si Nyonya mempermasalahkan aroma parfum.


"Kau mengganti kemeja mu?"


"Iya, aku menggantinya karena kau tidak suka aroma parfum ku lagi."


"Jadi, siapa perempuan yang membuat mu mengganti parfum?"


"Aku tidak menggantinya," Leo mengambil parfum dan memperlihatkannya pada Yuna."


"Kau tidak berbohong bukan?" Yuna mendekat dan memeluknya. Dia kembali mengendus aroma pada tubuh Leo.


Leo mencium rambutnya dengan sangat bahagia, namun dia tidak ingin menanyakannya. Ia takut jika salah tebak dan Nyonya menjadi tersinggung.


"Sayang, aku akan masak untuk mu pagi ini. Aku akan berangkat terlambat."


"Sarapan sudah siap di meja, Tuan suami. Kau tak perlu melakukan itu. Lagi pula, kau sudah rapi dan begitu tampan."


"Tapi aku ingin masak untuk mu. Kau harus makan makanan yang sehat dan bergizi."


"Makanan kita setiap hari juga sehat dan bergizi. Bi Sri begitu memperhatikan makanan kita, sesuai keinginan mu."


"Baiklah. Ayo kita sarapan." Leo dengan hati-hati menggandengnya untuk turun kebawah. 'Sayang, semoga firasat ku benar.' batinnya.


Siang harinya, Leo segera kembali kerumah dan menanyakan apa keinginan istrinya.


"Aku ingin kamu dirumah saja saat ini."


"Okey."


Kemudian, mereka menonton Tv bersama. Yuna tiduran dipaha Leo.


Leo menghubungi Asisten Dion untuk mengantarkan laptop miliknya yang masih berada di kantor dan beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangannya. Dia akan bekerja di rumah. Tiga puluh menit kemudian, Asisten Dion datang. Leo menandatangani semua dokumen diruang tamu.


"Sayang, apa itu Asisten Dion?" Yuna sedikit berteriak dari ruang tengah.


"Iya," jawab Leo.


"Sayang, aku ingin kebab. Bisakah Asisten Dion membelikannya?" tangan Leo berhenti dan dia meletakkan pena diatas meja. Dia berjalan kedalam menghampiri Yuna.


"Aku ingin Dion yang membelinya dan kamu tetap disini bersama ku."


"Tidak boleh, kau tidak boleh makan dari tangan orang lain. Aku akan membelinya untuk mu, sekarang."


"Tapi aku tidak mau jika kau yang membelinya."


"Isshh, Yuna... kau keterlaluan. Tanganku bahkan lebih bersih dari dia. Kenapa kau menolak ku dan malah meminta dia yang membelikannya untuk mu?"


"Itu hanya masalah membeli saja, kenapa kau terlalu berlebihan. Kau tinggal memberinya uang, itu artinya aku makan dari mu, bukan dari dia."


Leo kalah dalam perdebatan ini.


"Okey," dia dengan kesal kembali keluar dan memberi uang pada Asisten Dion. Dia menjadi cemburu pada Asisten satu ini.


"Boss, apa Nyonya muda sedang hamil?"


"Tutup mulut mu. Siapa yang mengizinkan mu untuk bertanya," Leo kesal dengan permintaan Yuna kali ini. "Belikan dan jangan pernah datang kesini lagi," ucapnya. Asisten Dion menjadi ketakutan karena bossnya membentaknya. Dia dengan patuh segera keluar dan mencari pesenan istri bossnya.


Leo kembali kedalam dan menaiki tangga, dia masuk kedalam ruang belajar. Namun, hanya selang tiga menit Yuna menyusulnya dan langsung duduk di pangkuannya.


"Aku harus bekerja, Yuna."


"Ini di rumah, kenapa masih bekerja?"


"Bukankah kau mau Dion yang membelikannya untuk mu? Jadi untuk apa aku di rumah? Menyingkirlah, aku akan bekerja."


"Hhmm, kenapa itu membuat mu kesal? Bukankah bagus jika Dion yang pergi untuk membelinya dan kamu tetap disini bersama ku."


Leo menatapnya. "Tapi aku ingin membelinya untuk mu, y...," Cupp... Yuna mengunci bibir Leo agar tidak memprotes lagi.


"Kau sungguh pintar merayu, Nyonya." Leo mengusap rambutnya dengan perhatian. Kemudian, Yuna membuka laci meja di belakangnya. Setelah tangannya, mengambil sesuatu, dia menatap Leo dengan senyum mengembang dibibirnya. Tapi perlahan, dia menatap Leo dengan serius.


"Sayang, maafkan aku... karena aku harus membagi cinta ku," ucap Yuna dengan ekspresi yang rumit. Wajah Leo seketika berubah menjadi sangat gelap, matanya dipenuhi kesedihan.


"Taraaaa....," Yuna memperlihatkan Test Pack dengan garis dua ditangannya. Leo menunduk, mengatur nafasnya yang sempat tertahan. Dan ini menjadi kabar bahagia, sangat bahagia, teramat bahagia. Garis dua... iya... garis dua. Hatinya dibanjiri kebahagiaan yang luar biasa. Air matanya menetes, dia diliputi kebahagiaan yang sangat luar biasa. Yuna langsung memeluknya.


"Kau nakal Yuna," ucap Leo serak. Dia tidak habis pikir jika cara Yuna menyampaikan kabar bahagia ini dengan mengerjainya terlebih dulu. Nafasnya bahkan terasa sangat sesak ketika Yuna menguncapkan itu tapi pada akhirnya dia bernafas dengan lega dan teramat bahagia. Tangannya mengusap hidungnya yang berair karena tangisnya.


Dengan pelan, ia mengangkat wajahnya. Yuna melepaskan pelukannya. Leo menatapnya dengan penuh cinta.


"Maaf" Yuna memamerkan giginya. Tangan Leo terangkat dan mengusap rambut Yuna dengan lembut dan perhatian. Ia mengecup kening Yuna, kecupan dengan penuh kasih, penuh cinta, rasa syukur, kebahagiaan yang melimpah dan banyak do'a untuk istri dan untuk segumpal daging yang Tuhan titipkan pada rahim istrinya. Doa dan rasa syukur yang tak terbatas. Yuna menitikkan air matanya. Ia memejamkan matanya yang terus menangis bahagia.


"Selamat sayang," bisik Leo ditelinga Yuna. Yuna mengangguk dan langsung memeluknya. "Kita ke dokter, okey." ucapnya sangat lembut. Yuna mengangguk. Leo melepaskan pelukannya, dia memegang wajah Yuna dengan kedua telapak tangannya, mengusap air matanya.


Kemudian, Leo menyusupkan tangannya kedalam baju Yuna, menyentuh perut Yuna dengan lembut dan hangat. Yuna menatap Leo dengan kekaguman dimatanya.


"Selamat, Sayang," ucapnya mencium pipi Leo. Leo menatap matanya dengan penuh cinta yang sangat luar biasa dihatinya, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman indah, ia mencium bibir Yuna dengan lembut. Senandung bahagia dan syukur menggema di angkasa. Membuat awan seolah ikut bersyair tentang bahagia ini, membuat kupu-kupu seolah berterbangan menyampaikan pesan bahagia ini pada semesta dan bahkan kicauan burung-burung terdengar sangat merdu bernyanyi tentang rasa bahagia ini.


Leo dengan sangat lembut masih mengusap perut Yuna. Kemudian, dia mengingat sesuatu. Ia segera membuat panggilan pada Asisten Dion, memintanya untuk membagikan amal pada seluruh badan amal yang tersebar dibeberapa kota.


"Baik Boss," jawabnya dengan patuh, dan dia sangat bahagia setelah bossnya mengakhiri panggilan. Dia mengangkat tentengan yang berada di tangannya menjadi sejajar dengan matanya.


"Nyonya muda... aku merasa terhormat dengan ini." ucapnya dengan senyum dan segera masuk mobil. Ia membawa pesanan Nyonya mudanya dengan sangat bahagia, dia bahkan mengabadikannya dalam sebuah foto.


Leo sangat bahagia, hingga jantung begitu berdebar dahsyat, hingga hatinya penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga.


"Sayang, setelah ini kita ke dokter. Pesanan kebab mu sebentar lagi datang." ucap Leo. Yuna mengangguk. "Setelah dari dokter, baru nanti kita kabari Ayah dan Nenek. Lalu... kita beri kejutan pada Mama. Bagiamana?"


"Huum, tentu saja," Yuna mengangguk. "Sayang, kita bahagia saat ini. Tapi memikirkan Neva membuat ku merasa bersalah, kita yang membuat masalah, dan dia yang akhirnya mengorbankan perasaannya. Apa kita tidak terlalu jahat padanya?"


Leo mengusap pipinya dengan penuh kasih. "Aku akan membicarakan ini lagi dengannya. Nyonya, ku mohon jangan memikirkan hal yang macam-macam, jangan mengkhawatirkan apapun. Aku akan menuruti semua keinginan mu tapi kau harus janji tidak boleh ceroboh," Leo mengusap perutnya. "Ada baby kita disini. Kau harus selalu baik-baik saja, mengerti?"


Yuna mengangguk dengan senyum manis nun bahagia. Tuan suami pasti akan over protective padanya dari mulai detik ini, Tuan suami akan memanjakannya sepanjang waktu, dia pasti akan menjadi seorang Dewi yang paling bahagia yang ada dimuka bumi ini.