
Cahaya mentari menerobos masuk melewati kaca jendela perpustakaan menerpa wajah Tiara yang beberapa menit lalu ketiduran dengan kepala yang di sandarkan di atas meja. Buku yang dibacanya tergeletak begitu saja di depannya.
Ya, sudah beberapa hari ini Tiara selalu menghindar dari Ilham. Sebenarnya, alasannya untuk break sementara itu hanya akal-akalan nya semata. Ia hanya ingin mencoba membiasakan diri tanpa ilham di dekatnya seperti saat sebelumnya.
Tiara ingin bersekolah tanpa ada masalah di sekolah. Ia belum siap menghadapi masalah yang nantinya muncul di depannya.
Pesan dan panggilan teleponnya sengaja tidak ia balas. Dia selalu menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran yang terpajang di perpustakaan.
Tempat yang nyaman untuknya karena di jaman sekarang ini tak banyak siswa yang dengan senang hati melangkahkan kakinya ke tempat yang menurut mereka tak menyenangkan ini.
Hanya Tiara dan beberapa siswa yang betah berlama-lama di situ.
" Dasar tukang tidur ". desis Zian yang saat itu lewat, mendekatinya kemudian duduk di kursi yang bersebelahan dengannya. Sejenak dipandangi wajah gadis itu.
"Kenapa sih susah banget ngelupain lo ?" ucap Zian dalam hati.
Bahkan dalam keadaan tidurpun wajah polos nan manis itu terlihat banyak menyimpan beban.
Jemari Zian bergerak perlahan menyentuh helaian rambut yang menutupi pipi gadis itu. Sekilas Tiara nampak tersenyum senang. Entah apa yang dimimpikannya.
Setelah itu Zian beranjak pergi dari situ meninggalkan Tiara yang masih terbuai mimpi.
Kring ! kring ! kring !
Pekikan nyaring bel sekolah memaksa Tiara bangun dari mimpinya. Perlahan ia menggeliatkan tubuhnya, mengucek matanya beberapa kali tak lupa juga menyeka mulutnya khawatir masih ada liur yang mungkin saja menempel di sana. hehehe.
" Eh, tadi kayaknya aku mimpi kak Zian deh. Dia mendekat sambil tersenyum hangat, rasanya seperti nyata gitu ". gumamnya sambil berdiri.
" Sayangnya cuma mimpi ". tambahnya dengan wajah kecewa.
Entah kenapa mendadak ia merindukan sosok dingin itu. Sosok yang beberapa kali sudah menolongnya.
Setelah itu iapun beranjak pergi dari tempat itu untuk menuju ke kelasnya.
Nayla yang melihatnya melintas, tersenyum senang. Ia merasa menang karena berhasil membuat jarak antara Tiara dan Ilham.
" Emang udah seharusnya seperti itu. Nggak ada satu orangpun yang berhak dapetin Ilham. Ilham hanya milik gue". desisnya pelan. Seulas senyum terukir di sudut bibirnya yang berkilau oleh sapuan pelembab bibir merah muda.
Kemudian ia beranjak pergi ke kelasnya. Ia sudah bertekad untuk mengekang tali kebebasan tunangannya. Kemanapun Ilham pergi, ia akan terus mengikutinya agar ia tak leluasa lagi mendekati Tiara.
Sesampainya di dalam kelas, Tiara melihat Hesti yang sedang duduk sendirian dengan wajah sayu. Bergegas ia mendekati sahabatnya itu.
" Hes, kenapa lemes gitu sih ? kamu sakit ya ?" tanya Tiara menatap lekat wajah di depannya. Kebetulan guru yang ngajar jam terakhir ini, belum datang.
Hesti buru-buru menggelengkan kepalanya.
" Trus kenapa?"
" Bete aja, hampir tiap hari nggak ada yang temenin aku ke kantin atau kemana gitu". jawab Hesti pelan.
" Ya ampun, maaf bestie.. beberapa hari terakhir aku sengaja menghindar dari kak Ilham. Makanya aku nggak bisa temani kamu ke kantin maaf ya ".
" Dhilla?" tanya Tiara yang sejenak lupa dengan keberadaan Wisnu.
" Nggak usah ditanya deh orang yang lagi bucin gitu. Tiap istirahat, mas Wisnu sama mbak Dhilla nya nongkrong di kantin. Pokoknya sekarang ini kemana-kemana bareng Wisnu terus". Hesti memasang wajah sebalnya.
" Sabar ya kalau masalahku udah selesai, aku bakalan temani kamu lagi kok". bujuk Tiara.
Hesti hanya mengangguk mengiyakan.
\*\*\*\*\*